Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.
Besoknya, kontrak miliaran gol.
Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.
Rahimnya diangkat.
Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.
Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.
Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.
Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.
Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.
Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.
Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Selesai Sudah
Jerit rem beradu aspal. Hantaman keras mendesak dada.
Klakson tronton memekakkan telinga. Dunia Sukma Evalina Anggraini berputar terbalik.
Bau karet terbakar bercampur amis darah pekat memenuhi hidung.
Layar ponselnya yang masih menyiarkan live streaming obral baju vintage terlempar ke kolong jok.
Gelap.
Namun, kesadarannya justru meronta hebat.
Pikiran Sukma tersedot mundur. Rentetan kegilaan beberapa minggu terakhir berputar bagai kaset rusak. Semuanya bermula dari iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Jembatan Tanah Abang sepulang kerja.
"Ruwat sengkala, Neng. Cuma sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu. Di jamin rezeki nomplok, anak kumpul, umur panjang!" kakek tua bersorban lusuh itu menyodorkan mangkuk kuningan.
Sukma tahu itu omong kosong, meski dia akhirnya setuju, ya hitung-hitung buang sial.
Tapi besoknya, kontrak proyek miliaran beneran gol. Sialnya, belum kering tinta di kertas MoU-nya, truk kargo meremukkan mobilnya di tol sepulang dari tempat klien.
Meski akhirnya Sukma selamat dari maut, tapi rahimnya harus diangkat.
Rezeki nomplok? Betul. Ganti rugi kecelakaan ditambah kompensasi asuransi kantor, total satu koma enam miliar mendarat mulus di rekening.
Umur panjang? Mungkin.
Anak kumpul? Rahim saja sudah masuk ruang limbah medis!
Namun, semesta ternyata punya selera humor sinting.
Pulang dari rumah sakit, kepalanya pening luar biasa. Ruang spasial seluas sepuluh hektar lengkap dengan kolam air jernih mendadak bangkit di dalam kesadarannya.
Bersamaan dengan itu, mimpi-mimpi keparat datang menggerogoti kewarasannya tiap malam.
Mimpi tentang Malang diawal tahun 1990.
Tentang seorang perempuan bernama Sukma Ayu. Perempuan kurus kering yang hidupnya jadi pesakitan keluarga suaminya.
"Aku sudah bilang, dia itu bukan perempuan bener."
"Iya, Yu. Satu keluarga itu memang bibit bebet bobotnya nggak karuan. Si Sukma itu biang keroknya. Untung akhirnya dia mati kesruduk sapi gila punyanya Pak Kades. Coba lihat suaminya sekarang, mesakne, kasihan. Dulu dia itu priyayi baik-baik, lha kok malah ketiban sial nikah sama perempuan macam itu."
"Anak-anaknya juga, naudzubillah! Nggak ada yang bener. Yang sulung kerjanya nyolong ayam sama berantem, yang nomor dua lebih parah, ketangkap gara-gara ikut-ikutan jadi penadah barang curian. Kualat kabeh! Kasihan si ragil, anak perempuan kok ya hidupnya hancur-hancuran begitu."
"Halah, biarin saja. Memang sudah nasibnya. Udah, ibu-ibu, bubar, bubar!"
Sukma terganggu oleh suara bising itu. Pandangannya kabur. Di alam bawah sadarnya, ia tahu ini hanya mimpi.
Dalam mimpinya kali ini, dadanya terasa ditusuk ribuan jarum. Ia melihat pria itu, suaminya, pria bernama Sutrisno mendekap erat sebuah kebaya hijau lusuh yang sering Sukma pakai sebelum kematiannya.
Pria itu menatap kosong ke arah sungai beraliran deras, lalu menjatuhkan dirinya ke dalam air yang sedingin es.
Di tengah musim bediding di Malang yang menusuk tulang, saat warga desa menemukannya, tubuhnya sudah membeku kaku.
Sukma terbangun dengan napas memburu. Saat ia meraba wajahnya, air mata sudah membasahi pipinya. Ia terdiam. Hatinya hancur melihat tragedi keluarga itu. Terlebih saat rentetan cibiran tentang anak-anak itu terngiang di telinganya.
Sebagai pembaca setia novel fantasi, insting Sukma langsung menyala.
Apakah ini plot perjalanan melintasi waktu? Apakah ia akan masuk ke dalam tubuh wanita malang di mimpinya itu?
Jika iya, ia tak sudi pergi dengan tangan kosong. Uang miliaran ini tidak akan laku di era itu, apalagi apartemen dan mobil HRV miliknya. Ia harus mengisi ruang spasialnya dengan logistik!
"Gila lu, Sukma! Rumah di Kemang laku tiga miliar lu minta cash keras? Rugi bandar lu!" jerit agen propertinya di telepon minggu lalu.
"Urus secepatnya, Mas. Potong harga nggak masalah. Gua butuh duitnya sekarang juga! Transfer malam ini!"
Uang cair. Kegilaan hoarding Sukma dimulai.
"Pak, beras, kedelai, jagung, gandum, masing-masing seratus karung! Minyak goreng seratus jerigen. Bumbu dapur, bibit sayur, borong semua!" Sukma menggedor meja agen sembako di Pasar Induk Kramat Jati. Keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Neng, banyak bener. Buka agen grosir di mana nih?" Bapak berkaus kutang itu melongo menatap kalkulatornya.
"Kiamat bentar lagi, Pak. Kirim ke gudang sewaan saya di Cibubur sekarang juga. Sini bagi noreknya, saya tf sekarang juga!"
Setelah Mobil pick-up bolak-balik menyelesaikan bongkar muatan.
Sukma mengunci pintu gudang dari dalam. Tangannya menyapu udara. Puluhan karung lenyap seketika, masuk ke ruang spasialnya.
Tanah di dimensi itu ajaib. Sayur tumbuh kilat hitungan jam, kolam airnya tak pernah surut.
Target selanjutnya: protein.
"Mas, sapi potong hari ini borong semua ya. Ayam juga. Jeroannya sekalian bersihin, masukin boks es!" Ia merangsek masuk ke area jagal di peternakan Bogor. Bau kotoran hewan bercampur darah tak dihiraukannya.
"Wah, hajatan gede ya, Mbak?" Penjual daging sibuk membungkus potongan paha sapi.
"Hajatan seumur hidup, Mas."
Apotek diborong habis. Obat demam, antibiotik, perban, betadine.
Sukma juga mengosongkan lima minimarket di sepanjang jalan pulang, berbagai cemilan, roti, Frozen food, susu, kopi, teh, mie instan dengan berbagai varian, coklat, perlengkapan mandi, cuci dan rumah tangga serta make-up dasar semua ia kosongkan raknya.
Pasar loak disapu bersih keesokan harinya. Baju jadul era 90-an, kain jarik, kebaya lawas, cangkir blirik enamel hijau, termos air panas bergambar bunga, lampu teplok, petromaks, hingga sepeda onthel, radio usang, tv tabung dan setrika areng berjejal di bagasi.
Uangnya sisa satu koma dua miliar.
"Mas, joglo Jeparanya preteli. Bongkar habis. Kirim kayunya ke gudang saya!" Ia membayar ratusan juta demi rencananya membangun fondasi di dalam dimensi spasialnya.
Otaknya memutar cara agar rumah itu bisa dipindahkan utuh. Berhasil. Entah bagaimana begitu kayu-kayu itu berpindah keruang spasial nya, rumah kayu berdiri kokoh tak lama setelahnya.
Genset menyala terang. Dua mobil jip modifikasi lawas dan dua puluh drum bensin kapasitas 200 liter berjejal di halaman joglo dalam kepalanya.
Semua persiapan rasanya sudah tuntas. Ia sedang duduk di atas ojek siang ini, menyusuri jalanan Jakarta sambil menekan tombol keranjang kuning di TikTok untuk memborong kain meteran murahan.
Lalu, seperti adegan yang di putar ulang, lagi tronton keparat yang berbeda dari yang baru-baru ini menabraknya itu menghantam dirinya, kali ini tepat di punggungnya.
Ngilu. Tulang-tulangnya serasa digiling mesin giling aspal.
Samar-samar, bau apek jerami dan debu kapur menggantikan aroma tajam aspal terbakar.
"Kalian satu keluarga manis di bibir doang! Ngelihat anakku gampang ditindas, kalian jadikan babu! Dulu pas anak-anak nikah, janjinya mau dianggap anak sendiri!"
Suara lengkingan perempuan paruh baya menembus telinga Sukma.
"Sekarang dia diseruduk sapi malah kalian biarkan tergeletak di sini! Nggak punya hati koen semua!"
Telunjuk Marni bergetar hebat di udara, menunjuk tepat ke hidung besannya.
Napasnya memburu, dadanya naik turun cepat di tengah ruang tamu berdinding anyaman bambu.
Lasmi menarik napas panjang. Tangan keriputnya pura-pura mengusap sudut mata yang sama sekali tidak berair.
"Ya Allah, Besan... kok ngomongnya gitu toh. Jahat banget mulutnya." Suara Lasmi mendadak serak.
Wajahnya memelas ke arah ibu-ibu tetangga yang berkerumun di pintu depan. "Semenjak Sukma masuk keluarga sini, kami ini pantang ngomong kasar lho. Ipar-iparnya juga hormat sama dia."
"Hormat gundulmu!" Marni meludah ke lantai tanah.
"Ibu Marni ini kalau marah mbok ya sadar diri toh!" Jamilah, adik ipar Sutrisno maju selangkah, menepis tangan Marni kasar. Pinggulnya bersandar angkuh di kusen kayu lapuk.
"Mbakyu Sukma itu diseruduk sapi, bukan salah keluarga sini! Sapinya Pak Kades yang gila! Orang sekampung juga tahu! Nggak usah cari gara-gara di sini lah!"
"Heh, Jamilah! Mulutmu itu dijaga!" Marni menghentakkan kaki. Urat lehernya menonjol.
"Kalau memang kecelakaan murni, kenapa anakku ditinggal sendirian di dalam kamar?! Kenapa nggak koen panggilkan mantri?! Suaminya ke mana?! Kalian malah enak-enakan makan siang di depan. Kalian nunggu anakku mati, iya?!"
Kasak-kusuk tetangga mulai berdengung, menyebar ke seluruh penjuru teras.
"Dasar Marni cari muka..." bisik seorang perempuan berjarik cokelat di ambang pintu, menyenggol bahu temannya.
"Anaknya yang apes, kok keluarga besannya yang dilabrak."
"Sst, diam toh. Nanti kamu ikut diamuk lho. Lagian orang sini kan juga tahu Lasmi itu pelitnya minta ampun. Mana mau keluar uang buat panggil mantri."
"Iya juga sih. Tapi wajar toh kalau keluarga Priyanto marah. Anak lelakinya Marni kan bentar lagi mau dikawinkan. Pasti ini akal-akalan Marni cari gara-gara biar bisa meres duit besan sama mantunya!"
Marni memutar tubuh. Matanya menatap tajam ibu-ibu tukang gosip di luar pintu. Tangannya mengepal kuat.
Suaminya, Pak Purnomo, hanya bisa menarik ujung baju Marni, berusaha meredam amarah istrinya.
"Sudah, Bu. Malu dilihat tetangga. Kita lihat Sukma dulu." Tarikan tangan suaminya lemah.
Marni menyentak tangan suaminya.
Tatapannya kembali menghunus Lasmi dan Jamilah bergantian.
"Kalau sampai ada apa-apa sama anakku, aku bakar rumah ini!" ancamnya.
Marni berbalik, menerobos masuk ke kamar sempit di sudut ruangan yang pengap.
Di dalam sana, di atas dipan kayu beralas tikar pandan tipis, Sukma membuka mata perlahan.
Retakan tanah liat di dinding. Jendela kayu yang bolong-bolong ditambal kertas koran lusuh.
Laba-laba gemuk asyik merajut sarang di sudut langit-langit berjelaga. Bau pesing tikus menyengat hidung.
Selesai sudah. Kemang lenyap. Saldo sisa ratusan juta rupiahnya tertinggal di aspal Jakarta berlumur darah.
Ia benar-benar masuk ke tubuh Sukma Ayu.
Tubuh ini hancur lebur. Dadanya sesak parah, bekas hantaman sapi gila milik kepala desa yang sengaja dilepaskan saat Sukma Ayu dipaksa Jamilah memotong rumput di lahan sengketa ujung desa.
Perutnya melilit hebat menahan lapar.
Pintu kayu berderit kasar. Engselnya nyaris copot.
Marni ambruk di lantai tanah samping dipan. Bau keringat bercampur minyak telon dan debu jalanan menguar dari baju kebayanya yang basah. Wajah tuanya berkerut menahan tangis.
" Nduk..."
Sukma mencoba mengerang. Tenggorokannya kering kerontang seperti habis menelan pasir panas.
"Bu..."
"Anakku! Gusti Pangeran, kamu sadar, Nduk?!"
Marni menerjang maju. Tangannya yang kasar mencengkeram tubuh ringkih Sukma.
Ia menarik paksa tubuh yang penuh memar itu ke dalam pelukan. Sangat erat. Meluapkan jerit tangis histeris yang tertahan sejak tadi.
Krek. Mata Sukma melotot. Napasnya putus seketika.
Sialan. Tulang rusuknya yang patah baru saja remuk sepenuhnya!
Kegelapan kembali datang menjemputnya.