NovelToon NovelToon
Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.



Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Kedatangan Rafa dan Dara langsung disambut hangat oleh Ibu Erina. Wanita paruh baya yang terlihat masih sangat cantik seperti namanya pun langsung memeluk putri semata wayangnya dan membiarkan Rafa mencium punggung tangannya.

"Ayah di mana?" tanya Dara.

"Ada di kamar, barusan habis minum obat juga. Kayaknya lagi tidur," jawab Ibu Erina.

"Kamar kamu udah bibi beresin tadi. Ranjangnya juga udah diganti sama yang lebih besar. Takutnya gak leluasa gerak," ucap Ibu Erina sambil tersenyum penuh arti.

Rafa yang paham pun hanya tersenyum saja. Berbeda dengan Dara yang nampak kebingungan.

"Gak leluasa gerak gimana? Kan cuman tidur doang. Ibu juga tau aku tidurnya gak muter."

Rafa tersenyum tipis sedangkan Ibu Erina mencubit kedua pipi Dara yang nampak lebih berisi dengan gemas.

"Ya kan tidurnya berdua. Gimana sih," sahut Ibu Erina.

Padahal maksudnya tadi bukan kayak gitu. Tapi melihat wajah polos putrinya, Ibu Erina jadi mengira, kalau Rafa dan Dara belum melakukan itu, ngadon calon dedek bayi alias calon cucu untuknya.

Entah kenapa Ibu Erina merasa tenang dan lega andai memang Rafa belum menyentuh putrinya. Dara masih sekolah, sebagai seorang ibu, jelas wajar kalau Ibu Erina takut Dara hamil dan harus melewati berbagai tekanan nantinya. Ya ... meski Dara hamil karena ada suami.

"Ajak suami mu untuk istirahat dulu. Nanti Ibu panggil kalau Ayah sudah bangun."

Dara mengangguk, dia mengajak Rafa untuk naik ke lantai atas di mana kamarnya berada.

Ini adalah kali pertama Rafa menaiki tangga rumah mertuanya. Dulu, pas menikah dengan Dara, dia hanya sampai di ruang keluarga saja. Pas nganterin makanan pun hanya sampai di ruang tamu.

"Emm ... ini kamar aku," ucap Dara saat dia sudah membuka pintu kamarnya.

Benar saja, ranjang yang awalnya memang muat untuk dua orang tapi bakal berdesakan itu jadi besar dan mungkin muat untuk tiga orang.

Dara tersenyum lebar, rindu sekali dia pada kamarnya itu. Dara menyimpan tasnya di atas meja belajar dan langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang.

Rafa tersenyum tipis dan duduk di samping Dara. Diam melihat Dara yang memejamkan mata namun bibirnya tetap mengulas senyum.

"Seneng banget?" tanya Rafa.

Masih sambil memejamkan matanya, Dara mengangguk sebagai jawaban.

"Kenapa gak pernah bilang kalau kangen rumah waktu di sana?" tanya Rafa lagi. Dia ingat waktu hari pernikahan, Dara menangis saat dia membawanya pergi dari sana.

Dara langsung membuka matanya. Dia duduk dan berhadapan dengan sang suami.

"Gak apa-apa sih. Kan sekarang mah udah beda lagi."

"Beda gimana? Kalau kamu kangen mau nginep di sini, tinggal bilang. Tapi jangan ngarep bakal nginep sendirian, aku pun bakal ikut," sahut Rafa.

Dara mendengus, memanyunkan sedikit bibirnya. Iya, dia tahu kalau Rafa pasti bakal ikut. Orang sekarang tiap malam pun pria itu mau tidur sambil pelukan.

"Aku ke kamar mandi dulu," ucap Dara kemudian bergegas masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar.

Rafa memindai isi kamar istrinya. Dia bangun dan melihat-lihat piagam, piala yang berjejer rapi di atas meja. Dara memang sudah cerdas sejak kecil, dan piala serta piagam itu adalah bukti prestasinya dalam berbagai lomba pengetahuan.

Atensi Rafa beralih pada bingkai foto di mana ada Dara dan kedua orang tuanya. Dara tampak sangat cantik di sana. Lalu ada pas foto Dara yang sepertinya saat Dara masih SMP. Istrinya itu menggunakan kacamata besar dan rambutnya juga dikepang dua tanpa poni di depannya.

Rafa mengambil foto itu dan memasukkannya ke dalam dompet. Tersenyum agak lebar saat foto itu kini akan selalu dia lihat saat dia membuka dompet.

"Apa itu?" tanya Dara yang ternyata sudah ada di belakang Rafa.

Rafa buru-buru menutup dompetnya dan menggelengkan kepalanya. "Bukan apa-apa."

Dara memicingkan matanya, dia melirik ke arah meja. Ingat betul kalau di sana ada pas foto dia yang masih culun. Kedua matanya melebar saat pas foto itu tinggal sisa dua dari yang awalnya ada tiga.

"Mas ambil ya?" tanya Dara.

"Ya emangnya kenapa? Kan foto istriku," jawab Rafa.

Pria itu kemudian mengangkat tinggi tangannya yang memegang dompet saat Dara berusaha mengambilnya.

"Iih. Siniin! Kalau mau jangan yang itu!" seru Dara.

"Aku lebih suka yang ini. Unik."

Makin merengeklah Dara. Dia terus berusaha mengambil dompet sang suami hingga Rafa pun terus berjalan mundur.

Rafa mundur hingga mentok dan jatuh ke ranjang dengan Dara yang ikut tertarik hingga istri kecilnya itu kini berada di atas tubuhnya.

Kedua mata Dara melebar, dia ingin bangun tapi sebelah tangan Rafa malah menahan tubuhnya.

"Mau ke mana?" tanya Rafa.

"A-aku mau bangun," jawab Dara gugup.

"Begini aja."

"Tapi nanti Mas Rafa jadi eungap."

Rafa menggeleng. "Enggak sama sekali. Kamu gak berat."

Tangan kanan Rafa yang tadi memegang dompet pun kini ikut berada di punggung Dara. Dara merasa posisi seperti itu amat membuatnya canggung, berbeda dengan Rafa yang terlihat tenang dan biasa-biasa saja padahal benda di dalam dada nya saja seperti sedang bersalto ria.

Dara kesulitan menelan ludahnya, dia menunduk namun dagunya langsung diangkat oleh Rafa. Dara memekik pelan saat Rafa merubah posisi jadi Dara di bawah dan dia di atas.

Bola mata Dara bergerak-gerak mungkin dia sedang menelisik ekspresi Rafa. Buat jaga-jaga dan mengingatkan suaminya itu kalau dia sedang datang bulan.

Cup!

Rafa mencuri kecupan di bibir Dara. Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali. Iya, hanya kecupan. Rafa sadar, kalau melakukan hal yang lebih dari itu, posisi dia dan Dara juga akan sangat membahayakan. Miliknya bisa protes nanti.

"Cantik," puji Rafa.

Hidung Dara langsung kembang kempis, kedua pipinya merona padahal Dara jelas tidak memakai blush on.

"Cantik mana? Aku yang sekarang atau aku yang ada di foto barusan?" tanya Dara.

"Dua-duanya cantik." Rafa menjawab dengan cepat.

Takut istrinya merasa sesak, Rafa pun bangun dan menarik tangan istrinya juga agar ikut bangun.

"Bohong. Waktu pertama kali ketemu pas akad, Mas Rafa kayaknya jijik banget ngeliat aku," kata Dara.

"Itu beda lagi suasana nya."

"Beda gimana?" tanya Dara.

Rafa melengos. "Kamu sudah tau jawabannya dari sikap dan ucapan pedasku dulu."

Suasana langsung hening. Baik Dara maupun Rafa tidak ada yang berani bersuara. Hingga akhirnya terdengar suara pintu diketuk, Dara pun gegas membuka pintu kamarnya.

"Ayah udah bangun dan langsung cariin kamu," ucap Ibu Erina.

Dara mengangguk. "Bentar lagi aku sama Mas Rafa turun."

Dara menutup lagi pintu kamarnya. Saat berbalik, alangkah kagetnya dia karena Rafa ternyata sudah berdiri di belakangnya.

Refleks tangan Dara memukul pelan dada sang suami. "Ngagetin aja."

Rafa tersenyum tipis. "Yuk temuin Ayah dulu."

"Mas Rafa duluan aja. Aku mau ganti baju dulu," ucap Dara.

"Oh, baiklah." Bukannya keluar, Rafa malah kembali duduk di ranjang, melipat kedua tangan di dada, menyaksikan istrinya yang masih diam di dekat pintu

"Katanya mau ganti baju," celetuk Rafa dengan santainya.

"Ya Mas Rafa keluar dulu."

"Kenapa emangnya?" tanya Rafa.

Dara memberengut, dia mengambil baju ganti dan hendak pergi ke kamar mandi namun Rafa langsung menahan tangannya.

"Di sini aja, aku turun duluan." Rafa mulai tahu kebiasaan Dara yang tidak suka ganti baju di kamar mandi.

"Kunci pintunya," pesan Rafa sebelum benar-benar keluar dari kamar.

Dara menghembuskan napas lega dan buru-buru mengunci pintunya. Resiko punya suami yang lebih tua, usianya beda 7 tahun dengannya, bikin Dara was-was terus bawaannya.

"Yah, gimana keadaannya sekarang?" tanya Rafa setelah mencium punggung tangan Ayah Aldi.

"Sudah mendingan. Paling bekas operasinya masih kerasa dikit. Kamu gimana kabarnya? Dara mana?"

"Baik, Yah. Dara katanya mau ganti baju dulu barusan," jawab Rafa.

Ayah Aldi mengangguk paham, dia menoleh ke arah tangga di mana putri kesayangannya turun sambil agak berlari.

"Hati-hati!" seru Rafa dan Ayah Aldi bersama.

Ibu Erina yang mendengar seruan menantu dan suaminya dari dapur pun tersenyum. Kedua pria itu amat menyayangi Dara, apalagi Rafa. Dia merasa lega karena melihat Rafa yang sepertinya memperlakukan Dara dengan baik meski mereka menikah karena terpaksa.

"Kangen sama Ayah," ucap Dara dengan nada manja.

"Ayah juga kangen sama putri Ayah yang cantik ini," sahut Ayah Aldi mencubit gemas pipi Dara.

Dengan manja nya, Dara memeluk sang ayah bahkan seakan lupa dengan kehadiran suaminya.

"Malu sama suami mu," ucap Ayah Aldi.

"Biarin," sahut Dara dengan cuek.

"Maaf ya, Nak Rafa, Dara emang deket banget sama ayahnya sejak kecil. Jadi yah ... begitulah." Ibu Erina datang dan menyajikan kudapan yang baru matang di atas meja.

Rafa hanya tersenyum dan mengangguk saja. Dia tidak masalah sama sekali, sadar betul kalau istrinya itu masih remaja, usianya baru 17 tahun juga. Jadi ... wajar rasanya kalau Dara masih bersikap seperti itu kepada orang tuanya.

Ke empatnya mengobrol banyak hal. Termasuk rencana Dara setelah lulus sekolah nanti.

"Emm ... aku mau lanjut kuliah. Gak apa-apa, 'kan?" tanya Dara.

Rafa langsung mengangguk cepat. "Ya gak apa-apa. Aku bakal dukung."

Ingat ya, meski Rafa ini profesinya bisa bilang masih guru honorer, gaji nya juga tidak seberapa, tapi dia punya penghasilan lain dari saham yang dia punya di perusahaan sang oma. Jadi untuk membiayai kuliah Dara doang mah, tentu dia sanggup.

Ayah Aldi tersenyum lega. Dia merasa sangat tenang karena putrinya berada di tangan yang tepat. Setidaknya, bisa mengurangi rasa bersalahnya karena harus mengorbankan Dara demi hutangnya.

Sorenya, Dara dan Rafa berada di ayunan besi yang ada di belakang rumah. Keduanya hanya memakai sandal rumahan karena tanahnya pun tertutup rumput sintetis berwarna hijau.

Rumah kedua orang tua Dara ada taman kecil di belakang, tempat Ibu Erina menyimpan beberapa pot kecil yang ditanami berbagai bunga.

Di pinggir ayunan, ada pohon buah cermai yang sudah dipapas bagian atasnya. Keduanya berbincang dan Rafa membahas tentang acara kemping yang sudah dia dengar dari guru yang lain.

"Mau ikutan?" tanya Rafa.

Dara langsung mengangguk cepat. "Mau banget."

"Ya sudah. Aku juga ikut kalau gitu," putus Rafa.

Dara menoleh cepat, menatap suaminya dengan lekat. "Emangnya Mas Rafa awalnya gak bakal ikut?" tanyanya.

Rafa menggeleng. "Kurang suka tidur di alam terbuka. Berbaur dengan orang banyak. Lebih nyaman tidur di rumah."

Dara mengangguk paham. Pantas saja selama ini dia bahkan tidak pernah melihat Rafa bepergian dulu setelah dari sekolah, selalu langsung pulang dan jarang keluar lagi.

"Ya udah, gak jadi ikut kalau gitu."

"Kenapa? Kalau emang mau ikut ya ikut aja. Acaranya juga masih sebulanan lagi."

"Tapi nanti Mas Rafa gak nyaman," ucap Dara.

"Gak apa-apa. Asal kamu senang, aku bisa menyesuaikan nanti."

Dara terenyuh, dia terharu sampai kedua matanya berkaca-kaca. Entah karena moodnya yang belum stabil akibat sedang datang bulan, mendengar ucapan Rafa yang seperti itu saja terasa langsung kena ke hati.

"Hei, kok sedih?" tanya Rafa, memegang kedua pipi Dara dengan kedua tangannya.

Dara menggeleng, dia membiarkan Rafa mengusap air matanya yang jatuh di pipi.

"Gak apa-apa. Cuman terharu aja."

Rafa berdecak pelan. Dia mengacak rambut istrinya. Sempat kaget dan khawatir, tapi ternyata Dara menangis karena perhatiannya.

Tiba-tiba hujan turun, Rafa langsung berdiri dan menarik tangan istrinya untuk masuk ke dalam rumah. Namun, Dara melepaskan pegangan tangan sang suami dan menengadahkan kepalanya, menikmati setiap tetes air hujan yang mengenai wajahnya.

"Dara, kamu ngapain?" tanya Rafa yang sudah berdiri di teras.

Dara malah merentangkan kedua tangan. Dia yang sangat menyukai hujan pun malah tersenyum senang meski bajunya mulai basah karena hujan turun langsung deras.

"Dara! Nanti kamu sakit!" seru Rafa.

"Mas Rafa sini deh. Seger tau!" seru Dara.

Rafa menelan ludahnya, kedua tangannya memegang erat kain celana yang dipakainya. Dia masih merasa takut kalau berhubungan dengan hujan.

Ingin menarik Dara dan membawanya masuk, tapi dia ragu. Kakinya seakan berat meski untuk melangkah sedikit pun.

Ingatan saat dia dan Khaylila kecelakaan saat turun hujan malah kembali lagi datang. Belum lagi saat kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan dan saat sedang hujan tiba-tiba turut muncul.

"Dara! Kebiasaan deh suka main hujan-hujanan. Ayo masuk!" dari ambang pintu kaca sana, Ibu Erina berteriak memanggil putrinya. Dia heran karena Rafa diam namun dengan kedua tangan yang nampak mencengkram kuat kain celana.

Rafa terkesiap saat Dara menarik tangannya. Tiap tetesan air hujan yang mengenai tubuhnya membuat semua kenangan mengerikan itu seakan terputar ulang di kepalanya. Jantungnya berdebar kencang, napasnya sesak dan kepanikan mulai melanda dirinya.

"D-Dara, ayo kita masuk," ucap Rafa dengan suara bergetar.

Dara langsung memandang ke arah suaminya. Dia melihat ketakutan di mata Rafa, sesuatu yang tentunya pernah dia lihat beberapa kali.

"Mas Rafa kenapa?" tanyanya dengan nada khawatir.

"Aku ... aku ...." Rafa tergagap dia terjatuh dan duduk di atas rumput sambil memegang dadanya yang terasa sesak.

Bukan lagi karena perasaan bersalah yang menghantuinya seperti yang sudah-sudah. Kali ini lebih ke dia seakan tercekik saat mengingat kenangan pahit tersebut. Bukan lagi fokus ke saat dia kecelakaan bersama Khaylila, tapi lebih ke ingatan saat kedua orang tuanya meninggal.

Dara ikut berjongkok sambil memegangi lengan sang suami yang terasa bergetar. Dia langsung membantu Rafa berdiri dan membawa suaminya itu masuk ke dalam rumah.

"Rafa kenapa?" tanya Ibu Erina ikut cemas.

"Bu, boleh minta Bibi siapin teh hangat dan bawain ke kamar?" pinta Dara, tidak dulu menjawab pertanyaan ibunya.

Meski bingung, Ibu Erina mengangguk dan bergegas ke dapur. Tidak menyuruh bibi, tapi dia sendiri yang membuatkan.

Rafa duduk di kursi dengan Dara yang langsung memasangkan handuk besar ke suaminya itu. Dara memeluk Rafa, mengusap punggung sang suami dengan lembut.

Perasaan bersalah menyelimuti hati Dara, dia kira Rafa sudah tidak akan lagi mengalami trauma seperti sekarang. Karena seingatnya, saat hujan malam itu pun, Rafa yang biasanya gelisah hanya dengan mendengar suara hujan pun baik-baik saja.

Sepertinya trauma itu belum hilang sepenuhnya. Apalagi saat air hujan langsung mengenai Rafa.

"Maafin aku," ucap Dara penuh sesal.

Rafa yang merasa sudah jauh lebih baik setelah Dara memeluknya pun menggelengkan kepalanya. Detak jantungnya berangsur normal, dia juga sudah bisa bernapas seperti biasa sekarang.

"Gak apa-apa. Aku udah gak apa-apa," sahut Rafa. Dia tidak ingin Dara merasa bersalah atas apa yang terjadi padanya barusan. Karena semua itu juga di luar kendalinya. Rafa seakan tidak bisa mengendalikan rasa takutnya sendiri.

Tidak berselang lama, Ibu Erina datang dan mengantarkan teh hangat untuk menantunya. Ingin bertanya kenapa, tapi sepertinya kondisi sang menantu belum terlihat begitu baik. Wanita paruh baya itu memutuskan untuk keluar dan akan bertanya nanti saja.

Rafa sudah baik-baik saja sekarang. Dia mendongak, menatap Dara yang masih berdiri di depannya.

Dara terlihat menggigil karena belum sempat mengeringkan baju dan tubuhnya sendiri. Rafa langsung berdiri, melepas handuk yang dipakainya dan memakaikannya pada Dara.

"Mas Rafa udah gak apa-apa?" tanya Dara

Rafa mengangguk sebagai jawaban, pandangannya kini fokus pada tubuh Dara bagian depan yang kaosnya menerawang karena basah.

Dara tadi menggunakan kaos putih polos. Hingga akhirnya kaos yang basah itu mencetak jelas dua bukit yang ada di dalamnya.

"Maafin aku. Aku gak tau kalau bakal jadi kayak gini," ucap Dara. Dia kemudian memukul kepalanya sendiri, sangat merasa bersalah kepada suaminya itu.

Sedangkan Rafa memalingkan wajah, dia menelan ludahnya lalu menarik tiap ujung handuk agar menutupi bagian depan Dara yang tercetak jelas itu.

"Kamu duluan ke kamar mandi. Mandi air hangat dan ganti bajunya," ucap Rafa.

Melihat Rafa yang tidak mau melihat ke arahnya, malah membuat Dara berpikir kalau Rafa marah padanya. Kedua matanya pun kini terlihat berkaca-kaca.

"Mas Rafa marah ya sama aku?"

"Gak. Aku gak marah, kamu cepetan ke kamar mandi."

"Kalau gak marah, kenapa gak mau ngeliat wajah aku?" tanya Dara.

Rafa menghela napas pelan, dia menoleh dan menatap wajah cantik Dara. "Bajumu basah, du-dua bukitmu jadi kelihatan."

Kedua mata Dara melotot, dia menunduk dan buru-buru menutup bagian dadanya dengan handuk lalu berbalik dan berjalan cepat masuk ke kamar mandi.

Rafa menghembuskan napas lega, dia kembali duduk di kursi dan mengusap wajahnya kasar.

Sama seperti Dara, dia juga tidak mengira kalau kenangan mengerikan itu akan kembali bermunculan meski tidak separah dan selama dulu.

Penyembuhan trauma itu biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama. Tergantung pada seberapa dalam trauma tersebut dan berbagai faktor lainnya.

Dukungan juga sangat dibutuhkan bagi seseorang yang memiliki trauma seperti Rafa. Dan Rafa baru mendapatkannya semenjak ada Dara.

Meski selama ini sang oma juga terus menemannya, tapi rasanya tetap beda. Dulu, hati Rafa tetap terasa kosong, berbeda dengan sekarang yang sudah terisi oleh sosok Dara.

Rafa kini rebahan bersama Dara di ranjang. Rafa tiba-tiba demam, bahkan makan malam pun dia di kamar saja karena kepalanya terasa berat.

"Mau ke kamar mandi dulu," ucap Dara saat Rafa tidak mau melepaskan pelukannya.

"Ck. Cepetan," ujar Rafa cemberut.

"Iya."

Rafa merentangkan kedua tangannya saat Dara keluar lagi dari kamar mandi. Rafa merasa sangat kedinginan dan dia ingin terus memeluk Dara.

Untung untuk pelajaran besok, Dara tidak ada tugas. Jadi bisa terus menemani Rafa yang mendadak seperti bayi besar itu.

"Katanya, kalau skin to skin bakal bikin demam cepet turun," ucap Rafa dengan suara serak.

Dara memicingkan matanya. Iya sih, badan Rafa terasa panas, tapi sudah tidak seperti tadi. Itu karena Rafa sudah minum paracetamol juga tadi, mungkin sekarang demamnya agak turun. Malah bisa Dara rasakan kalau punggung suaminya mulai berkeringat.

"Kita cek dulu suhunya," ucap Dara hendak mengambil thermometer yang ada di atas meja tapi Rafa menahannya.

"Gak usah. Demamnya pasti masih tinggi ini."

"Tapi Mas Rafa kayaknya udah keluar keringat."

"Bukan berarti demamnya sudah turun. Coba skin to skin ya," bujuk Rafa.

Dara kembali memicingkan matanya. Sepertinya dia merasakan ada niat terselubung dari ucapan suaminya itu.

 

1
falea sezi
enak bgt si aldi najis pas sakit ke istri pas seneng2 ke. selingkuh an jangan. bego erina np erina di buat bloon sih
falea sezi
erina mending cerai duda tua banyak ngapain suami mu bekas. jalang lu mau
Ikky
dipersilahkan
Ikky
3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!