NovelToon NovelToon
SI IMUT MAFIA

SI IMUT MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saerin853

Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.

Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.

Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.

"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."

Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Malam semakin larut, menyisakan suara deburan ombak yang secara ritmis menghantam tiang-tiang dermaga. Di dalam vila, keheningan akhirnya turun menyelimuti setelah drama panjang yang menguras emosi.

Di salah satu kamar tamu di lantai bawah, Keira duduk di tepi ranjang. Tangannya dengan ritme konstan menepuk-nepuk pelan (memuk-puk) bahu lebar pria yang berbaring meringkuk di bawah selimut tebal itu.

Milo sudah tertidur pulas. Napasnya teratur, dan wajahnya terlihat sangat damai, seolah teror suara tembakan dan darah yang menghantuinya beberapa jam lalu hanyalah mimpi buruk yang sudah lewat.

Keira tersenyum lembut. Ia menarik selimut itu hingga menutupi dada Milo, lalu mengecup pelan dahi pria raksasa yang memiliki jiwa anak-anak itu. "Mimpi indah, Milo," bisiknya.

Setelah memastikan Milo benar-benar lelap, Keira berdiri dan berjalan berjinjit keluar dari kamar. Ia menutup pintu tanpa menimbulkan suara decit sedikit pun.

Meski tubuhnya lelah setelah penerbangan panjang dari Paris dan rentetan kejadian mengejutkan hari ini, mata Keira sama sekali tidak bisa dipejamkan. Pikirannya dipenuhi oleh banyak hal. Tentang Anya yang luar biasa berani, tentang Kaelan yang akhirnya menemukan rumahnya, dan tentang dirinya sendiri yang tiba-tiba merasa... kosong.

Tugasnya sebagai "tempat berlindung" Kaelan sudah usai. Ia merasa lega, namun di saat yang sama, ia merasa kehilangan arah.

Mencari udara segar, Keira melangkah melewati ruang tengah yang sepi dan membuka pintu geser kaca yang menuju ke teras belakang. Angin malam yang dingin langsung menerpa wajahnya, membuat rambut cokelat panjangnya berkibar pelan. Ia melingkarkan kedua lengannya di tubuh, merapatkan cardigan tipis yang ia kenakan.

Saat matanya mulai terbiasa dengan kegelapan, Keira menangkap sebuah titik cahaya merah kecil yang menyala redup di sudut teras kayu yang menghadap ke laut. Samar-samar, tercium aroma tembakau yang khas bercampur dengan udara asin lautan.

Seseorang sedang merokok dalam diam.

Keira melangkah mendekat. Di bawah bayangan atap teras, berdirilah Rico. Pria yang selalu tampil rapi dengan setelan jasnya itu kini hanya mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, kerahnya dibiarkan terbuka, dan dasinya sudah entah ke mana. Ia bersandar pada pagar kayu, menatap kosong ke arah samudra yang gelap gulita.

Mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Rico refleks menoleh. Tangan kanannya dengan cepat bergerak ke arah asbak di atas meja kecil, berniat mematikan rokoknya karena tidak ingin mengganggu Nyonya atau tamu bosnya.

"Lanjutkan saja, Rico. Aku tidak keberatan dengan asapnya," sapa Keira pelan, menghentikan gerakan pria itu.

Rico sedikit terkejut, namun ia mengangguk sopan. Ia kembali bersandar, menjauhkan rokoknya agar asapnya tidak tertiup ke arah wanita itu. "Belum tidur, Keira? Angin malam di sini cukup tajam. Anda bisa masuk angin."

Keira tersenyum tipis dan ikut bersandar di pagar kayu, berjarak sekitar satu meter di sebelah Rico. "Aku tidak bisa tidur. Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini. Lagipula, aku sudah lama tidak menghirup udara pulau ini."

Rico menyesap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan ke udara. "Hari yang sangat panjang dan gila. Saya harus menahan Nyonya Anya agar tidak nekat pergi ke kota dengan speedboat, lalu melihat Anda menenangkan Tuan Milo... Anda selalu memiliki sentuhan ajaib itu, Keira."

"Anya wanita yang hebat, Rico," gumam Keira tulus, menatap lautan. "Kaelan sangat beruntung memilikinya. Dia persis seperti yang Kaelan butuhkan. Seseorang yang tidak takut pada kegelapannya."

Rico menoleh, menatap profil samping wajah Keira yang diterangi cahaya bulan. Wajah yang selama bertahun-tahun hanya berani ia pandangi dari kejauhan. Wajah wanita yang selalu merawat bosnya, sementara Rico hanya bisa berdiri di sudut ruangan sebagai pengawal yang setia.

Rico berdeham pelan, mencoba menutupi kegugupan yang mendadak menyergapnya. Sesuatu yang sangat jarang terjadi pada seorang mafia pembunuh bayaran.

"Berapa lama kau akan mengambil cuti kali ini?" tanya Rico, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya.

Keira menghela napas. "Mungkin... dua atau tiga hari? Aku harus kembali ke Paris minggu depan. Ada peluncuran koleksi busana musim gugur di butik tempatku bekerja yang harus kuurus. Ayah juga bilang sebaiknya aku tidak terlalu lama di sini agar tidak mengganggu Kaelan dan Anya."

Mendengar kata 'kembali ke Paris', rahang Rico mengeras. Jantung pria itu berdetak memburu. Rokok di tangannya tiba-tiba terasa hambar.

Selama bertahun-tahun, Rico selalu mengalah. Ia memendam perasaannya dalam-dalam karena ia tahu Keira sangat mencintai Kaelan (meski itu hanyalah Kaelan versi Milo yang mencari sosok ibu). Rico merasa dirinya tidak pantas bersaing dengan bosnya sendiri. Ia hanyalah tangan kanan, seorang bawahan.

Namun malam ini, semuanya telah berubah. Kaelan telah menemukan Nyonya Obsidian yang sesungguhnya. Milo telah mengakui bahwa ia hanya menyayangi Keira sebagai pelindung, bukan sebagai wanita.

Keira kini bebas. Dan Rico tidak ingin melepaskan kesempatan ini untuk kedua kalinya.

Dengan gerakan cepat, Rico menekan ujung rokoknya ke dalam asbak hingga mati. Ia memutar tubuhnya, menghadap sepenuhnya ke arah Keira.

"Jangan kembali," ucap Rico tiba-tiba, nada suaranya tegas namun penuh dengan permohonan yang mendalam.

Keira terkesiap. Ia menoleh, menatap Rico dengan kening berkerut bingung. "Maksudmu? Aku punya pekerjaan di sana, Rico. Karirku—"

"Aku bisa membelikanmu butik di kota ini. Sepuluh butik, kalau kau mau. Kau bisa meluncurkan koleksi apa pun di sini," potong Rico cepat, melangkah maju hingga jarak mereka terkikis.

Mata Rico yang biasanya tenang dan penuh perhitungan kini memancarkan intensitas emosi yang membuat Keira menahan napas.

"Rico... kau kenapa?" bisik Keira, sedikit mundur karena terkejut melihat sisi agresif pria yang selalu bersikap sopan padanya itu.

"Aku sudah diam terlalu lama, Keira," Rico mengulurkan tangannya, dan dengan ragu namun pasti, ia meraih salah satu tangan Keira yang dingin karena angin malam, lalu menggenggamnya erat. Tangannya terasa kasar karena sering memegang senjata, namun sangat hangat.

"Dulu aku diam karena aku pikir hatimu hanya untuk Tuan Kaelan. Aku mundur karena aku menghormati bosku dan aku menghormati perasaanmu," suara Rico sedikit bergetar, membiarkan semua pertahanannya runtuh di hadapan wanita itu. "Tapi malam ini... melihat Tuan Kaelan sudah bahagia bersama Nyonya Anya, dan Milo hanya menganggapmu sebagai kakak... bolehkah aku bersikap egois?"

Mata bulat Keira membelalak lebar. Jantungnya berdebar kencang, nyaris melompat dari dadanya. Selama ini, ia selalu menganggap Rico sebagai pengawal yang kaku. Ia tidak pernah menyadari tatapan pria itu yang selalu mengikutinya setiap kali ia datang ke markas.

"Rico... kau..." Keira kehilangan kata-kata.

"Aku mencintaimu, Keira. Sejak kita masih remaja. Sejak kau pertama kali mengobati luka tembakku karena aku menutupi Tuan Kaelan," aku Rico jujur, menatap lurus ke dalam mata cokelat wanita itu. "Tolong. Jangan kembali ke Paris. Jangan tinggalkan aku lagi. Tetaplah di sini... denganku."

Angin malam kembali berhembus, menerbangkan beberapa helai rambut Keira. Wanita itu terdiam membeku. Ia menatap mata Rico yang memancarkan ketulusan dan keputusasaan yang luar biasa.

Selama bertahun-tahun, Keira selalu menjadi pihak yang merawat dan melindungi Milo. Ia tidak pernah memiliki seseorang yang benar-benar siap melindungi dan memanjakannya sebagai seorang wanita. Dan kini, pria yang paling kuat dan paling setia di klan Obsidian itu berlutut di hadapan perasaannya.

Perlahan, rasa kosong di dada Keira menghilang, digantikan oleh kehangatan yang sangat manis.

Sebuah senyum lembut, yang jauh lebih tulus dari senyum yang biasa ia tunjukkan pada Kaelan, terukir di bibir Keira. Ia memutar telapak tangannya, membalas genggaman tangan Rico dengan tak kalah erat.

"Dua butik di pusat kota. Dan kau harus menemaniku mencari bahan kain setiap akhir pekan," tawar Keira dengan nada menggoda, pipinya merona merah di bawah cahaya bulan. "Bagaimana? Sepakat?"

Mata Rico melebar tak percaya selama sedetik, sebelum akhirnya wajah kaku sang tangan kanan itu merekah dalam sebuah senyuman yang luar biasa lega dan bahagia.

Rico menarik tangan Keira pelan, membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Ia memeluk Keira dengan sangat protektif, menyandarkan dagunya di puncak kepala wanita itu.

"Sepakat," bisik Rico, suaranya serak karena kebahagiaan. "Aku akan membelikanmu seisi kota jika itu bisa membuatmu tetap berada di pelukanku, Keira."

Malam itu, di teras belakang vila yang menghadap laut, sebuah kisah cinta baru akhirnya berlabuh. Rico si tangan kanan yang setia akhirnya mendapatkan hadiah terindah atas kesabarannya selama bertahun-tahun, dan Keira akhirnya menemukan pria yang benar-benar menjadikannya sebagai satu-satunya ratu di hatinya.

1
supermine
💪
supermine
🤭
supermine
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!