NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Benda yang paling sulit disembunyikan di istana ini bukanlah rahasia negara atau pengkhianatan politik, melainkan noda. Di tempat di mana segalanya harus terlihat cemerlang dan tanpa cela, setitik noda putih di ujung kemeja sutra atau sedikit debu kapur yang menyangkut di sela kuku adalah pernyataan perang terhadap keteraturan.

Arlo Valerius menatap kemeja putihnya yang tergeletak di atas lantai kamarnya. Noda cat dari tangan Kalea semalam sudah mengering, meninggalkan tekstur kaku yang kontras dengan kelembutan serat sutra. Ia tidak memanggil pelayan untuk membereskannya. Ia tahu, jika kemeja itu masuk ke ruang cuci, kabar tentang "Pangeran yang kotor" akan sampai ke telinga ayahnya dalam hitungan jam. Dengan gerakan yang tidak terbiasa, Arlo melipat kemeja itu dan menyusupkannya ke dasar peti kayu yang terkunci.

Di luar kamar, dunia berjalan dengan kecepatan yang menyakitkan. Suara langkah kaki para dayang yang tergesa-gesa, denting peralatan perak yang sedang dipoles, dan sayup-sayup suara tawa Putri Helena yang sedang berbincang dengan ibunda ratu di taman. Segalanya terdengar seperti simfoni yang sudah diatur nadanya, namun Arlo merasa dirinya adalah instrumen yang sumbang.

Arlo berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke arah Sayap Barat. Dari sini, bagian istana itu tampak seperti luka yang sedang diperban—tertutup perancah kayu dan kain-kain pelindung debu. Ia meraba lecet di telapak tangannya. Rasa perih itu nyata. Jauh lebih nyata daripada rasa hormat yang ia terima setiap kali melewati lorong istana.

"Yang Mulia, jadwal hari ini adalah mengunjungi gudang persenjataan bersama Jenderal Marcus, lalu makan siang resmi dengan utusan Vandellia," Lord Cedric masuk tanpa mengetuk, suaranya terdengar seperti ketukan palu hakim.

Arlo berbalik, tangannya masuk ke dalam saku celana. "Batalkan kunjungan ke gudang persenjataan. Katakan pada Marcus aku punya urusan mendesak dengan tim renovasi."

Cedric mengerutkan dahi, matanya yang tua memicing di balik kacamata tipis. "Renovasi? Bukankah itu urusan departemen logistik, Yang Mulia? Lagipula, Putri Helena mengharapkan Anda hadir di latihan dansa siang nanti."

"Dia bisa berdansa dengan manekin kalau dia mau," Arlo melangkah melewati Cedric, sengaja menyenggol bahu pria tua itu agar dia minggir. "Jangan ikuti aku, Cedric. Dan pastikan tidak ada pengawal yang membuntutiku dalam jarak sepuluh meter."

Langkah kaki Arlo membawa dirinya kembali ke wilayah yang mulai terasa seperti rumah kedua. Sayap Barat. Begitu ia melewati batas koridor yang bersih dan masuk ke area yang berdebu, paru-parunya seolah baru bisa bernapas dengan benar. Ia tidak lagi memakai jubah kebesarannya. Ia memilih kemeja linen biasa yang lengannya sudah ia gulung hingga siku, berusaha menyamar meski wajahnya terlalu sulit untuk dilupakan.

Aula besar itu jauh lebih ramai hari ini. Beberapa tukang sedang mengangkut kayu, dan suara gergaji membelah keheningan. Arlo mencari sosok itu di tengah kekacauan. Ia menemukannya sedang berdiri di atas tangga kayu yang jauh lebih tinggi dari kemarin, tangannya bergerak cepat memoles sudut-sudut ornamen langit-langit.

"Kau akan jatuh kalau terus memiringkan tubuhmu seperti itu," suara Arlo rendah, namun cukup kuat untuk menembus suara bising di dalam ruangan.

Kalea Elara membeku. Kuasnya berhenti di udara. Ia tidak segera menoleh. Sebaliknya, ia memejamkan mata sejenak, seolah-olah kemunculan Arlo adalah cobaan yang harus ia hadapi setiap hari. Ia perlahan memutar tubuhnya, menatap ke bawah dengan tatapan yang bisa melubangi dinding.

"Demi segala batu di Aethelgard, apakah Anda tidak punya kerajaan lain untuk diurus?" Kalea bertanya, suaranya serak karena debu. "Atau setidaknya, apakah Anda tidak punya tunangan cantik yang butuh perhatian?"

Kalea menuruni tangga kayu itu dengan gerakan kasar. Setiap anak tangga berderit di bawah kakinya yang hanya beralas sepatu kain kusam. Begitu kakinya menyentuh lantai, ia menyeka peluh di dahinya dengan lengan baju yang sudah dipenuhi noda berbagai warna.

"Kau berantakan," Arlo berkomentar sambil melipat tangan di depan dada.

Kalea mendengus, tawa pendek dan sinis keluar dari bibirnya. Ia melangkah mendekati Arlo, tidak peduli dengan jarak kasta yang seharusnya memisahkan mereka. Bau kapur dan keringat yang bercampur dengan aroma tajam cat menguar dari tubuhnya.

"Tentu saja saya berantakan. Saya bekerja, Yang Mulia. Saya tidak duduk di atas kursi emas sambil menunggu orang lain menyuapi saya dengan anggur," Kalea menunjuk ke arah tumpukan kaleng cat di sudut. "Dan berkat perintah tunangan Anda semalam, saya harus mengulang bagian utara karena dia bilang putihnya 'kurang bercahaya'. Dia pikir cat ini punya lampu di dalamnya?"

Arlo menoleh ke arah bagian utara yang ditunjuk Kalea. Dinding itu tampak sempurna di matanya, namun ia bisa melihat kelelahan di mata Kalea yang kecokelatan. "Dia tidak tahu apa-apa soal pekerjaan ini."

"Dan Anda pikir Anda tahu?" Kalea menyambar sebuah sikat kecil dari dalam sakunya. "Jangan berpura-pura menjadi teman rakyat, Pangeran. Itu terlihat menyedihkan. Anda datang ke sini hanya karena Anda bosan dengan kehidupan sempurna Anda, kan? Anda menggunakan tempat ini sebagai pelarian, sementara bagi saya, tempat ini adalah penjara yang harus saya hias agar Anda bisa tinggal dengan nyaman."

Arlo terdiam. Kalimat Kalea tajam, tanpa basa-basi, dan yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa kalimat itu benar. Ia memang melarikan diri.

"Aku membantumu semalam," Arlo mencoba membela diri.

"Dan itu membuat lantai saya jadi belang karena Anda menggosok terlalu keras di satu titik!" Kalea menunjuk sebuah bercak di lantai marmer yang warnanya sedikit lebih terang dari sekelilingnya. "Anda tidak membantu, Anda hanya merusak ritme kerja saya. Jadi, silakan pergi. Pergilah ke pesta mawar atau apa pun itu namanya."

Arlo justru melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. Ia bisa melihat butiran debu yang menempel di bulu mata Kalea. "Aku tidak akan pergi sampai aku melihat kau menyelesaikan bagian atas itu. Kau terlihat tidak stabil di atas tangga tadi."

Kalea tertawa, kali ini lebih keras. "Oh, jadi sekarang Anda jadi penjaga keselamatan kerja? Luar biasa. Berapa gaji yang harus saya bayar untuk seorang Putra Mahkota?"

"Tutup mulutmu, Kalea," Arlo berkata pelan, namun nadanya memerintah.

Kalea mendengus, namun ia tidak membantah lagi. Ia berbalik, memungut kaleng catnya, dan kembali menaiki tangga. Ia sengaja membuat gerakan-gerakan yang kasar agar tangga itu bergoyang, seolah ingin memancing reaksi Arlo. Arlo tetap berdiri di bawah, tangannya memegang kaki tangga kayu itu dengan erat agar tidak bergeser.

Hening mulai merayap di antara mereka, hanya diisi oleh suara kuas yang bergesekan dengan batu. Arlo memerhatikan setiap detail gerakan Kalea. Bagaimana jemari gadis itu yang mungil namun kuat memegang gagang kuas, bagaimana ia menyipitkan mata saat menilai rata tidaknya cat yang ia poles, dan bagaimana ia sesekali meniup rambut yang jatuh ke matanya.

"Kenapa kau membenciku?" tanya Arlo tiba-tiba. Pertanyaan itu sudah menggantung di lidahnya sejak pertemuan pertama.

Kalea berhenti memoles. Ia menatap dinding di depannya, punggungnya menghadap Arlo. "Saya tidak membenci Anda, Pangeran. Saya tidak punya waktu untuk emosi semewah kebencian."

"Lalu kenapa setiap kata yang keluar dari mulutmu terasa seperti belati?"

Kalea perlahan menoleh, menatap Arlo dari ketinggian tangga. "Karena Anda adalah pengingat akan ketidakadilan. Anda lahir dengan sendok emas di mulut, sementara saya lahir dengan sikat di tangan. Anda bisa memilih untuk tidak menikah jika Anda mau, tapi Anda memilih untuk tetap di sana, mengeluh tentang mahkota Anda sambil menikmati fasilitasnya. Sementara orang-orang seperti saya... kami tidak punya pilihan untuk mengeluh. Kami hanya punya pilihan untuk bekerja atau kelaparan."

Ia menunduk, matanya bertemu dengan mata biru Arlo yang biasanya dingin namun kini terlihat bingung. "Anda datang ke sini, melihat retakan dinding, dan merasa itu puitis. Bagi saya, retakan itu adalah udara dingin yang masuk ke dalam rumah saat musim dingin karena kami tidak mampu memperbaiki atap. Itulah bedanya kita, Arlo."

Arlo melepaskan tangannya dari kaki tangga. Kalimat itu lebih berat daripada mahkota mana pun yang pernah ia pakai. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang bersih, lalu menatap tangan Kalea yang kotor.

"Bagaimana jika aku bilang aku juga tidak punya pilihan?" bisik Arlo.

"Semua orang punya pilihan," Kalea kembali bekerja, suaranya terdengar lebih jauh. "Hanya saja, pilihan Anda melibatkan nasib kerajaan, sedangkan pilihan saya melibatkan nasib perut saya."

Tiba-tiba, suara derap sepatu bot yang teratur terdengar mendekati aula. Suaranya bukan seperti pengawal Arlo yang biasanya, namun lebih ringan dan berirama.

"Pangeran Arlo? Apakah Anda di dalam?"

Itu suara Helena.

Wajah Arlo menegang. Ia melihat ke arah pintu masuk, lalu ke arah Kalea yang kini juga tampak panik. Kalea segera menuruni tangga dengan tergesa-gesa.

"Jangan biarkan dia melihat saya di sini dalam kondisi begini," bisik Kalea, suaranya kini benar-benar terdengar ketakutan. "Jika dia tahu saya yang membuat Anda membolos, saya bisa dipecat atau bahkan diusir dari istana."

Arlo menyadari posisi sulit Kalea. Kehadiran Helena bukan hanya gangguan, tapi ancaman nyata bagi gadis ini. Tanpa pikir panjang, Arlo menarik tangan Kalea, membawanya ke balik tumpukan kayu besar dan kain penutup debu yang menjuntai dari langit-langit.

"Diam di sini," perintah Arlo pelan.

Kalea merapatkan punggungnya ke dinding kayu yang kasar. Jarak antara dia dan Arlo kini hanya beberapa sentimeter. Bau cat dari tubuh Kalea terasa begitu tajam di hidung Arlo, namun anehnya, itu tidak terasa mengganggu. Arlo bisa merasakan napas Kalea yang pendek dan cepat mengenai lehernya.

Pintu aula terbuka lebar. Cahaya matahari dari luar menerobos masuk, membentuk siluet seorang wanita yang berdiri dengan anggun di ambang pintu. Helena melangkah masuk, memegang saputangan sutra di depan hidungnya seolah-olah udara di aula itu beracun.

"Arlo? Aku tahu kau ada di sini. Lord Cedric bilang kau tertarik pada... urusan renovasi," suara Helena terdengar merdu, namun ada nada kecurigaan yang terselip.

Helena berjalan memutar, sepatu hak tingginya berdenting di atas lantai marmer. Ia melewati tangga kayu tempat Kalea bekerja tadi, lalu berhenti di depan kaleng cat yang masih terbuka.

"Kotor sekali," gumam Helena sambil menatap sekeliling dengan jijik. "Aku tidak mengerti apa yang menarik dari tempat ini. Debu, bau kapur, dan... tikus-tikus kecil yang merangkak di dinding."

Arlo merasakan tubuh Kalea menegang di sampingnya saat mendengar kata 'tikus'. Arlo secara refleks menggenggam tangan Kalea, berusaha menenangkannya. Jemari Kalea terasa kasar dan kapalan, sangat berbeda dengan jemari Helena yang lembut seperti mentega. Namun, genggaman Kalea justru terasa lebih nyata, lebih hidup.

Helena berjalan mendekati tumpukan kayu tempat mereka bersembunyi. Arlo menahan napas. Ia bisa melihat bayangan Helena yang memanjang di lantai.

"Arlo, keluarlah. Aku tahu kau bersembunyi. Ini bukan waktunya bermain petak umpet. Perancang busana sudah menyiapkan setelan untuk makan siang kita," Helena bersuara lagi, kali ini nadanya lebih menuntut.

Arlo memutuskan untuk muncul sebelum Helena melangkah lebih jauh dan menemukan Kalea. Ia melepaskan tangan Kalea perlahan, memberikan isyarat agar gadis itu tetap diam, lalu ia keluar dari balik kain penutup.

"Aku di sini, Helena," ucap Arlo datar.

Helena tersentak kecil, lalu senyum manis yang terlatih segera muncul di wajahnya. "Astaga, Arlo! Kau membuatku terkejut. Lihat dirimu... kemejamu kotor terkena debu. Kenapa kau betah sekali di sini?"

Helena mendekat, jemarinya yang mengenakan sarung tangan renda menyentuh bahu Arlo, berusaha membersihkan debu yang menempel. Arlo segera menghindar dengan gerakan halus.

"Aku hanya ingin memastikan pilar-pilar ini cukup kuat untuk menahan beban aula dansamu nanti," jawab Arlo, matanya melirik sekilas ke arah persembunyian Kalea.

Helena tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat palsu bagi Arlo. "Itu tugas para arsitek, sayangku. Bukan tugas seorang Putra Mahkota. Ayo, tinggalkan tempat kumuh ini. Udara di sini merusak kulitku."

Helena menarik lengan Arlo dengan posesif. Arlo membiarkan dirinya ditarik, namun sebelum ia melangkah keluar, ia menoleh sekali lagi ke arah tumpukan kayu. Ia tidak melihat Kalea, namun ia tahu gadis itu sedang menatapnya dari balik bayangan—mungkin dengan tatapan benci yang sama, atau mungkin dengan sesuatu yang baru.

Begitu mereka keluar dari aula dan pintu tertutup, Kalea perlahan keluar dari persembunyiannya. Ia jatuh terduduk di atas lantai yang dingin, napasnya terasa sesak. Ia melihat ke arah tangannya yang tadi digenggam oleh Arlo.

Masih ada sedikit kehangatan di sana.

Kalea menutup wajahnya dengan telapak tangan yang belepotan cat. "Pangeran bodoh," bisiknya lirih, suaranya bergetar antara marah dan sesuatu yang tidak sanggup ia definisikan.

Di koridor utama, Arlo berjalan di samping Helena yang terus berceloteh tentang pesta dan gaun. Pikirannya tidak ada di sana. Pikirannya masih tertinggal di balik tumpukan kayu, di mana ia baru saja merasakan detak jantung seorang gadis yang membencinya namun membuat dunia sutranya terasa tidak berarti.

Retakan itu tidak hanya ada di dinding Sayap Barat. Retakan itu kini mulai merambat ke dalam fondasi kehidupan Arlo, dan ia tahu, tidak ada cat mana pun yang sanggup menutupinya lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!