Seorang Kaisar pengendali petir menyamar menjadi kuli bangunan demi membangun kembali bangsanya, namun ia justru menemukan cinta yang memaksanya meruntuhkan tradisi kuno demi seorang pria biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anton Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: KELAHIRAN SANG PUTRA PETIR
Sembilan bulan setelah pernikahan agung yang mengguncang sendi-sendi tradisi Kekaisaran Ser, langit di atas Ibukota Arrinra kembali menunjukkan tanda-tanda yang tidak biasa. Bukan badai kehancuran, melainkan formasi awan kumulonimbus yang berkumpul dalam bentuk spiral raksasa, dengan warna keperakan yang memantulkan cahaya matahari sore. Energi statis memenuhi udara, membuat bulu kuduk siapa pun yang berdiri di luar istana meremang.
Di dalam kamar persalinan kerajaan yang harum akan aroma kayu cendana dan mawar, Serena Arrinra sedang berjuang. Keringat membasahi dahi sang penguasa 2.001.103 Km^2 wilayah tersebut. Di sampingnya, Anton Firmansyah tidak melepaskan genggaman tangannya sedetik pun. Wajah Anton tampak lebih pucat daripada Serena; ia terlihat seperti pria yang siap pingsan kapan saja, namun ia tetap bertahan demi istrinya.
"Tarik napas, Serena... pelan-pelan," bisik Anton, suaranya gemetar.
Serena meremas tangan Anton dengan kekuatan yang hampir mematahkan tulang pria itu. "Anton... kau... kau tidak tahu rasanya... ini lebih sakit daripada tertusuk pedang beracun di Puncak Ijen!"
"Hamba tahu, hamba tahu—maksudku, aku tahu, Sayang! Maafkan aku!" Anton panik, ia bahkan lupa protokol bahasa istana yang sudah diajarkan Paman Bram selama berbulan-bulan.
Tabib Agung Kerajaan, seorang pria tua dengan janggut putih panjang, sibuk menginstruksikan para asistennya. "Yang Mulia, energi petir dalam tubuh Anda bereaksi dengan kehadiran sang pangeran. Kami mohon, kendalikan aliran listriknya sedikit saja, atau seluruh peralatan medis dari perak ini akan meleleh!"
Memang benar, percikan listrik biru mulai meloncat-loncat dari ujung jari Serena ke arah tiang-tiang ranjang.
"Aku... aku mencoba menahannya!" Serena berteriak, diikuti dengan jeritan kesakitan saat kontraksi hebat menyerang kembali.
Guncangan di Luar Kamar
Di luar kamar, Paman Bram mondar-mandir dengan gelisah. Di koridor itu, beberapa menteri bangsawan tua masih berdiri dengan wajah skeptis. Mereka menunggu dengan niat terselubung, berharap bayi yang lahir tidak memiliki kekuatan apa pun sehingga mereka bisa mempertanyakan legitimasi takhta masa depan.
"Jika anak itu lahir tanpa bakat Petir Langit, maka darah kuli itu memang telah mencemari garis keturunan Arrinra," bisik Menteri Laksmana yang kini sudah pulih, meski jalannya masih sedikit pincang.
Paman Bram berhenti melangkah dan menatap tajam ke arah Laksmana. "Tuan Menteri, saya sarankan Anda berdoa untuk keselamatan sang bayi dan ibu kaisar, daripada sibuk menghitung murni atau tidaknya darah seseorang. Karena jika terjadi sesuatu pada mereka, saya pastikan petir Serena akan menjadi hal terakhir yang Anda lihat sebelum menjadi abu."
Laksmana terdiam, namun matanya tetap memancarkan kebencian.
Tiba-tiba, suara guntur yang sangat keras meledak tepat di atas atap istana. DUAARRRR! Getarannya meruntuhkan beberapa vas bunga porselen di koridor. Dan tak lama kemudian, terdengar suara tangisan bayi yang melengking kuat, menembus tebalnya pintu jati kamar persalinan.
Sang Putra Pertama
Di dalam ruangan, suasana mendadak hening setelah tangisan itu pecah. Cahaya biru yang tadi memenuhi ruangan perlahan memudar, menyisakan kehangatan yang menenangkan. Tabib Agung mengangkat seorang bayi laki-laki yang berkulit bersih, namun yang paling mengejutkan adalah matanya. Saat bayi itu membuka mata untuk pertama kali, ada kilatan cahaya perak yang jernih di sana.
"Seorang putra, Yang Mulia," ujar Tabib Agung dengan suara bergetar karena haru. "Dan dia... dia membawa anugerah langit."
Anton menerima bayi itu dengan tangan gemetar. Ia membawanya ke pelukan Serena. Air mata jatuh dari mata sang kuli bangunan yang kini telah menjadi Konsorsium Kekaisaran.
"Lihat, Serena. Dia tampan sepertimu," bisik Anton.
Serena tersenyum lemas namun penuh kebahagiaan. Ia menyentuh pipi mungil bayinya. Saat jarinya bersentuhan dengan kulit sang bayi, sebuah percikan listrik kecil—sangat lembut seperti elusan angin—terjadi di antara mereka.
"Namanya... Arya Arrinra," ucap Serena dengan suara serak. "Arya, yang berarti mulia. Aku ingin dia memiliki kemuliaan hati ayahnya dan kekuatan batin ibunya."
"Arya Arrinra," ulang Anton. "Selamat datang di dunia yang luas ini, Nak. Ayah janji, Ayah akan mengajarimu cara membangun jembatan sebelum Ayah mengajarimu cara memegang pedang."
Tahun-Tahun yang Penuh Warna
Waktu berlalu seperti kilat di atas Arrinra. Kelahiran Arya disusul oleh kelahiran putra kedua, Bima, dan putra ketiga, Cakra. Kehidupan istana yang dulunya kaku dan dingin berubah menjadi tempat yang penuh dengan suara tawa dan derap kaki anak-anak yang berlarian.
Namun, Serena dan Anton tidak berhenti di sana. Lima tahun setelah pernikahan, lahir putri pertama mereka, Dara, dan setahun kemudian putri bungsu, Eka. Total lima anak menghiasi kehidupan mereka.
Suatu sore di taman belakang istana, Serena duduk memperhatikan Arya (sekarang berusia 8 tahun) yang sedang berlatih mengendalikan percikan listrik di ujung jarinya, sementara Anton sedang sibuk membuatkan rumah rumahan dari kayu untuk Dara dan Eka.
"Arya, fokuskan energimu ke telapak tangan, bukan ke ujung jari. Jika kau menyebarkannya terlalu luas, energinya akan terbuang percuma," nasihat Serena.
Arya mengangguk patuh. "Tapi Ibu, Ayah bilang kekuatan sejati bukan dari seberapa besar petirku, tapi seberapa besar aku bisa menggunakannya untuk menolong orang."
Serena menoleh ke arah Anton yang bajunya sudah kotor terkena serutan kayu dan debu—kebiasaan lama yang tidak pernah hilang meski sudah jadi bangsawan. Serena tersenyum. "Ayahmu benar. Tapi untuk menolong orang, kau harus bisa mengendalikan dirimu sendiri terlebih dahulu."
Anton berdiri, menyeka keringatnya. "Hei, jagoan! Sini bantu Ayah memaku bagian atap ini. Kau harus tahu cara kerja palu sebelum kau tahu cara kerja guntur."
Arya berlari menghampiri ayahnya. Kontras antara keduanya sangat menarik; Arya mengenakan pakaian sutra pangeran namun tanpa ragu duduk di tanah, memegang palu kayu dengan antusias di bawah bimbingan ayahnya yang mantan kuli.
Dialog di Balik Tirai Kekuasaan
Malam harinya, setelah kelima anak mereka tertidur pulas, Serena dan Anton duduk di ruang kerja pribadi. Serena sedang memeriksa tumpukan laporan agraria dari wilayah tengah yang mencapai 500.000 hektar.
"Anton, Menteri Laksmana dan kelompoknya masih mencoba mempengaruhi pendidikan anak-anak kita," ujar Serena sambil menghela napas. "Tadi siang dia datang padaku, menyarankan agar Arya dikirim ke akademi khusus bangsawan tinggi untuk 'memurnikan' tata kramanya."
Anton yang sedang menyesap teh melati mendengus. "Dia masih belum menyerah juga? Apa dia tidak lihat Arya lebih senang bermain dengan anak-anak penjaga gerbang daripada duduk mendengarkan puisi kuno yang membosankan itu?"
"Mereka takut, Anton. Mereka melihat Arya, Bima, dan Cakra tumbuh dengan kekuatan petir yang luar biasa, namun memiliki mentalitas rakyat jelata sepertimu. Mereka takut jika anak-anak kita naik takhta nanti, hak-hak istimewa bangsawan akan dihapus total."
Anton meletakkan cangkirnya dan mendekati istrinya. Ia memijat bahu Serena yang kaku. "Bukankah itu tujuan kita? Menciptakan Arrinra di mana tidak ada lagi sekat kasta yang menghambat kemajuan?"
"Iya, tapi jalannya masih panjang. Aku khawatir dengan Dara dan Eka. Mereka tidak memiliki kekuatan petir sebesar kakak-kakak mereka. Para bangsawan mulai berbisik bahwa mereka adalah 'produk gagal' karena darahmu lebih dominan pada mereka."
Anton terdiam sejenak, matanya menatap tajam. "Jika ada yang berani menyebut putri-putriku gagal, mereka akan berhadapan dengan linggris lamaku. Serena, dengarkan aku. Dara mungkin tidak bisa memanggil guntur, tapi dia memiliki kecerdasan dalam berhitung yang luar biasa. Eka punya empati yang bisa meluluhkan hati yang paling keras sekalipun. Itu bukan kegagalan. Itu adalah keberagaman."
Serena menggenggam tangan suaminya. "Kau selalu tahu apa yang harus dikatakan untuk menenangkanku."
"Karena aku melihat dunia dari bawah, Serena. Di bawah sana, kita tidak peduli kau bisa terbang atau tidak. Yang penting adalah apakah kau bisa membantu tetanggamu saat rumahnya bocor."
Ancaman yang Tumbuh Kembali
Di tengah kebahagiaan domestik itu, sebuah laporan rahasia sampai ke meja Serena. Paman Bram masuk dengan wajah serius.
"Yang Mulia, maaf mengganggu waktu istirahat Anda," ujar Bram sambil memberikan gulungan pesan terikat segel hitam. "Ada pergerakan di wilayah perbatasan Utara. Sisa-sisa loyalis Jenderal Karsa yang melarikan diri sepuluh tahun lalu mulai membangun kekuatan kembali. Dan yang lebih mengkhawatirkan... mereka memiliki kontak dengan beberapa menteri di dalam istana kita."
Serena membuka pesan itu. Matanya menyipit saat membaca nama-nama yang terlibat. "Laksmana lagi?"
"Belum ada bukti langsung untuk Laksmana, tapi jalurnya mengarah ke sana. Mereka menyebut gerakan mereka sebagai 'Pemurnian Arrinra'. Mereka menargetkan anak-anak Anda sebagai alasan untuk melakukan kudeta."
Serena berdiri, aura petirnya terpancar pelan, membuat lampu minyak di ruangan itu bergetar. "Mereka ingin menyentuh anak-anakku?"
Anton ikut berdiri. Wajahnya yang biasanya ramah kini berubah menjadi sangat protektif. "Serena, kita tidak bisa membiarkan ini. Jika mereka ingin perang, mereka akan mendapatkan perang. Tapi kali ini, mereka tidak hanya melawan seorang Kaisar. Mereka melawan sebuah keluarga."
"Paman Bram, siapkan pasukan bayangan," perintah Serena. "Tapi jangan lakukan pergerakan terbuka dulu. Aku ingin tahu seberapa jauh pengkhianatan ini merambat ke dalam birokrasi yang baru saja kubersihkan."
Sebuah Janji di Kamar Anak
Sebelum tidur, Serena dan Anton berkeliling ke kamar anak-anak mereka. Di kamar putra-putra mereka, Arya tampak tertidur sambil memeluk buku tentang arsitektur jembatan—pemberian ayahnya. Di kamar putri-putri mereka, Dara dan Eka tidur berpelukan.
Serena mengusap rambut Arya dengan lembut. "Anakku, kau adalah masa depan kekaisaran ini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun memadamkan cahaya yang ada padamu."
"Apa yang kau pikirkan, Serena?" tanya Anton pelan saat mereka berjalan kembali ke kamar mereka.
"Aku berpikir bahwa kekuasaan ini benar-benar sebuah kutukan jika kita tidak hati-hati, Anton. Aku ingin anak-anak kita tumbuh tanpa harus takut pada santet atau pengkhianatan menteri. Tapi kenyataannya, mereka lahir di atas gunung emas yang diperebutkan banyak orang."
Anton merangkul pinggang istrinya. "Itu sebabnya kita ada di sini. Kau dengan petirmu, dan aku dengan caraku. Kita akan membangun Arrinra yang begitu kuat, sehingga saat anak-anak kita dewasa nanti, mereka tidak butuh mahkota untuk dihormati, tapi mereka dihormati karena siapa diri mereka."
Malam itu, Kekaisaran Ser tetap tenang di bawah naungan awan keperakan. Kelahiran Sang Putra Petir dan saudara-saudaranya bukan hanya menambah jumlah anggota keluarga kerajaan, tapi juga memperkuat fondasi perubahan yang sedang diusahakan Serena. Meskipun bayangan pemberontakan mulai muncul di ufuk, cinta di antara sang mantan kuli dan sang kaisar ninja tetap menjadi mercusuar yang paling terang di seluruh daratan Arrinra.