NovelToon NovelToon
Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.

Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.

Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.

Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.

Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Niat Membunuh dan Kasih Sayang

Sesuatu yang dingin menyentuh pergelangan tangannya saat Mu Qingxue membuka mata.

Adapun lampu minyak sudah padam meski rembulan cukup terang untuk membuat segalanya terlihat dalam warna perak kelabu.

Butuh satu detik untuk otaknya yang masih setengah tidur mengenali siapa yang berdiri di sana sampai sosok yang paling memungkinkan hadir di situasi ini mulai terpampang dengan jelas.

Bocah itu berdiri di samping tempat tidurnya dengan bahunya terlalu terangkat dan kepala miring ke sudut yang tidak wajar layaknya boneka yang tidak semua sendinya terpasang dengan benar. Lebih parahnya lagi, sebilah pisau dapur tergenggam kuat di tangan kecilnya.

Mu Qingxue hendak bangkit, tapi tubuhnya tidak merespons dengan kecepatan yang seharusnya.

Matanya menatap wajah bocah itu. Tidak ada putih maupun coklat. Hitam pekat dari tepi ke tepi, seperti lubang yang berpura-pura jadi mata, dan mulutnya menganga lebih lebar dari ukuran yang wajar, cukup lebar untuk menunjukkan gigi di baris paling belakang sekalipun.

Hingga pisau itu terangkat.

"Nyonya Mu... ." suara yang keluar bukan satu suara.

Lapisan pertama adalah suara bocah itu yang sudah dia kenal, namun diikuti suara lain, yang tidak pernah belajar bagaimana manusia seharusnya berbicara. Dan di bawah itu lagi ada lapisan yang ketiga, keempat, semuanya berbicara sekaligus dalam ritme yang berbeda-beda.

"Nyonya... marah... lapar... benci... maaf… ."

Racauan itu keluar dari satu mulut tapi terdengar seperti dari banyak arah sekaligus.

Mu Qingxue melihat pantulan cahaya bulan di permukaan pisau.

Melihat mata hitam yang tidak menyisakan anak yang pernah melambaikan tangan dari balik pagar dengan senyum yang tidak mengenal malu.

Lantaran itulah seluruh tubuhnya berhenti.

Hingga pisau itu mulai turun tepat sesudah pintu kamar terbuka.

Cukup keras untuk memecah udara yang sudah terlalu padat di dalam ruangan itu, cukup untuk membuat semua lapisan suara di dalam bocah itu berhenti sekaligus di tengah kalimat.

Huang Shen berdiri di ambang pintu.

Matanya merahnya menyala penuh, seperti bara yang sudah ditiup terlalu lama, dan Qi yang keluar dari tubuhnya mengisi seluruh ruangan dalam sekejap seperti tekanan yang datang dari semua dinding sekaligus.

Bocah itu lantas menoleh.

Dan untuk pertama kalinya sejak ruh itu mengambil alih sepenuhnya, ada sesuatu di balik mata hitam itu yang terlihat seperti takut.

Mulutnya mengeluarkan suara, tapi kali ini bukan campuran yang teratur. Lebih seperti semua lapisan suara itu terpotong tengah jalan dan dipaksa keluar sekaligus dalam satu jeritan yang tidak punya nama yang tepat untuk menggambarkannya. Melengking tapi juga berat. Tinggi tapi juga dalam. Sampai bocah itu melompat mundur dengan kecepatan sesuatu yang sudah lama menggunakan tubuh manusia sebagai kendaraan dan tiba-tiba memutuskan bahwa kendaraan ini perlu bergerak secepat mungkin untuk menjauh dari ancaman. Kakinya mendarat di atas kasur, lalu melompat ke arah jendela.

Adapun Huang Shen tidak langsung melompat keluar.

Dia menoleh ke arah Mu Qingxue yang masih terduduk di tempat tidur dengan selimut yang sudah jatuh ke lantai dan kedua tangannya menekan permukaan kasur di sisinya seperti orang yang perlu meyakinkan diri bahwa ada sesuatu yang solid di bawahnya.

"Diam di sini," tukas Huang Shen. Suaranya datar seperti biasa. "Jangan keluar sebelum aku kembali."

Mu Qingxue tidak mampu menjawab apapun.

Sementara Huang Shen sudah melompat keluar melalui jendela yang sama.

1
black_rose
Thor mau nanya levelnya kok gk ditampil?
black_rose: makasih Thor
total 2 replies
Tonton Sitohang
lanjutkan updet terus mase. mantap jiwa
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Kecoa Laut
apakah ini tipe cerita yang mc-nya langsung op?
DanaBrekker: tipe Xianxia gelap dan tokoh utamanya memang op sejak awal, kelanjutannya belum tentu 😄
total 1 replies
Bg Gofar
manteb gan
DanaBrekker: Terima kasih 👍
total 1 replies
MuhFaza
menariknya novel ini sejauh yang aku baca ada sisi gelap dari fantasi timur, malah lebih mirip genre horor menurutku
Kecoa Laut: horor dengan bumbu ehem2 lebih tepatnya 🤭
total 2 replies
YunArdiYasha
coba baca karya bru. semangat
DanaBrekker: Terima kasih semoga menghibur 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!