Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24.Janji
Sorak-sorai di Alun-Alun Kota Karasu perlahan mulai menyurut seiring dengan tenggelamnya matahari di cakrawala, meninggalkan semburat warna lembayung yang tenang di atas panggung yang kini berantakan oleh sisa-sisa perjuangan. Para kru mulai membongkar peralatan, namun di sudut stasiun nomor satu, waktu seolah berhenti bagi empat orang yang masih berdiri di sana.
Ren melepaskan topi kokinya, membiarkan rambut putihnya berantakan tertiup angin laut yang kini terasa lebih bersahabat. Ia menatap telapak tangannya yang masih memerah karena panas wajan, lalu beralih menatap Hana yang masih sesenggukan kecil di sampingnya. Hana tampak jauh lebih tenang sekarang, meskipun hidungnya masih kemerahan.
"Berhenti menangis, Hana. Kamu merusak riasan tipis yang dipaksakan Yuki tadi pagi," ucap Ren pelan. Nada suaranya tidak lagi tajam, melainkan memiliki kehangatan yang hanya ia tunjukkan pada orang-orang terdekatnya.
Hana mendongak, menyeka sisa air mata dengan punggung tangannya. "Aku tidak peduli. Aku hanya... aku tidak menyangka kita benar-benar bisa melakukannya. Saat Ryuji mengeluarkan nitrogen itu, aku pikir jantungku akan berhenti."
Yuki mendekat, ia meletakkan tangannya di bahu Hana dan tangan satunya lagi menyentuh lengan Ren. "Kita melakukannya karena kita saling mengisi, Hana. Ren dengan visinya, kamu dengan semangatmu, dan aku... dengan kenanganku. Kota Karasu baru saja menyaksikan sesuatu yang lebih dari sekadar masak-memasak."
Bu Keiko berdiri beberapa langkah di belakang mereka, memperhatikan interaksi itu dengan senyum yang tidak pernah pudar sejak pengumuman tadi. Ia melihat bagaimana ketiga muridnya itu telah melampaui batasan diri mereka masing-masing. Ren yang mulai membuka hatinya, Hana yang menemukan keberaniannya, dan Yuki yang berdamai dengan masa lalunya.
"Kalian harus segera pulang dan beristirahat," ujar Keiko lembut, ia melangkah maju dan merapikan kerah seragam Ren yang sedikit miring. "Tapi jangan harap besok adalah hari libur. Sebagai wakil Kota Karasu di tingkat nasional, persiapan kalian akan jauh lebih berat. Asuka Jaya mungkin kalah di sini, tapi di ibu kota, mereka punya sekutu yang jauh lebih kuat."
Ren mengangguk. "Saya tahu, Bu. Ryuji hanya puncak gunung es. Tapi untuk malam ini... bolehkah kami merayakannya secara sederhana?"
Kudo, ayah Ren, tertawa menggelegar sambil menepuk pundak anaknya hingga Ren sedikit terhuyung. "Tentu saja! Malam ini Ren's Cuisine tutup untuk umum. Hanya ada pesta pribadi untuk sang juara! Aku sudah menyiapkan daging terbaik yang bisa kubeli di pasar subuh tadi!"
Perjalanan pulang menuju restoran di pinggiran Kota Karasu terasa sangat berbeda. Di dalam mobil, Hana tertidur dengan kepala bersandar di bahu Ren. Ren tidak bergerak sedikit pun, takut membangunkan gadis yang telah berjuang mati-matian di sampingnya itu. Ia menatap wajah tidur Hana yang tenang, menyadari bahwa tanpa gadis ini yang terus mendorongnya, ia mungkin masih menjadi koki dingin yang hanya memasak untuk membalas dendam.
Yuki yang duduk di kursi depan sesekali melirik melalui spion tengah. Ia melihat cara Ren menatap Hana—sebuah tatapan protektif yang tulus. Yuki tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kedewasaan. Ia menyadari bahwa perasaannya pada Ren mungkin akan selalu ada, namun melihat Ren mulai "menjadi manusia" kembali adalah kemenangan terbesar baginya.
Sesampainya di depan Ren's Cuisine, suasana sudah meriah. Tetangga sekitar telah memasang spanduk kecil bertuliskan "Selamat Tim Sakura Harapan". Bau tumisan bawang putih dan aroma arang kayu menyambut mereka.
Ren turun dari mobil, membantu Hana yang masih setengah mengantuk untuk berdiri tegak. Saat mereka berdiri di depan pintu restoran, Ren berhenti sejenak. Ia melihat papan nama restoran itu yang sudah mulai kusam, namun kini terasa begitu megah di matanya.
"Hana, Yuki," panggil Ren.
Kedua gadis itu menoleh.
"Terima kasih," ucap Ren singkat, namun matanya memancarkan ketulusan yang mendalam. "Tanpa kalian, teripang itu hanya akan menjadi makanan mati. Kalian yang memberikan nyawa padanya."
Hana tersenyum lebar, ia meraih tangan Ren dan tangan Yuki, menggenggam keduanya erat-erat. "Kita adalah satu, Ren. Selamanya."
Malam itu, di balik pintu kayu Ren's Cuisine, tawa pecah dan aroma kebahagiaan memenuhi ruangan. Mereka makan bukan sebagai koki dan asisten, tapi sebagai sebuah keluarga. Ren sesekali menggoda Hana tentang caranya memotong wortel yang sempat berantakan karena gugup, membuat Hana mengerucutkan bibirnya dan memukul lengan Ren pelan.
Namun, di tengah kemeriahan itu, Ren sempat melirik ke arah jendela yang menghadap ke jalanan gelap Kota Karasu. Di seberang jalan, sebuah mobil sedan hitam terparkir diam dengan mesin yang masih menyala. Ren tahu, kemenangan ini barulah babak pembuka dari sebuah drama yang lebih besar.
Mulai saat ini, identitas Ren sebagai pewaris Reina telah meledak di seluruh penjuru kota. Dan di kegelapan sana, mata-mata lain mulai mengintai.