NovelToon NovelToon
BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: SANG PENGAWAL BERMATA ELANG

​Pagi itu, mansion Adiguna terasa lebih dingin dari biasanya. Bagi orang luar, Gwen Adiguna masihlah sosok nona besar yang malang—duduk di kursi roda dengan mata tertutup kain kassa, meraba-raba meja hanya untuk meraih segelas air. Namun, di balik kain itu, sepasang mata Gwen menatap tajam setiap gerak-gerik pelayan di rumahnya.

​"Gwen, Sayang," suara Reno terdengar masuk ke ruang makan. "Aku sudah memanggilkan pengawal pribadi baru untukmu. Sejak kecelakaan itu, aku merasa keamananmu harus lebih dijaga. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi padamu."

​Bohong, batin Gwen pedih. Kamu hanya ingin seseorang memata-matai setiap gerak-gerikku agar aku tidak menghalangi perselingkuhanmu.

​"Terima kasih, Mas. Kamu memang sangat perhatian," jawab Gwen dengan nada lemah yang dibuat-buat.

​Pintu besar ruang makan terbuka. Langkah kaki berat dan mantap menggema di lantai marmer. Suasana seketika berubah mencekam, seolah-olah ada pemangsa yang baru saja masuk ke ruangan itu.

​"Ini Elang. Dia akan menjagamu 24 jam," kata Reno.

​Gwen mendongak, berpura-pura menatap ke arah suara itu dengan pandangan kosong. Namun, dari celah tipis di bawah perbannya, Gwen sempat tertegun. Pria di hadapannya ini bukan pengawal biasa. Tubuhnya tinggi tegap, dibalut setelan jas hitam yang sangat pas di badannya yang atletis. Wajahnya tegas, dengan rahang kokoh dan sepasang mata yang sangat tajam—persis seperti namanya.

​"Saya Elang. Mulai hari ini, keselamatan Nona adalah tanggung jawab saya," suara pria itu berat dan dingin. Tidak ada nada ramah sama sekali.

​Reno menepuk bahu Elang. "Jaga istriku baik-baik. Dia sangat rapuh sejak kehilangan penglihatannya."

​Gwen merasakan tangan Elang meraih jemarinya untuk sekadar bersalaman sebagai tanda perkenalan. Namun, saat kulit mereka bersentuhan, Gwen merasakan sengatan aneh. Genggaman Elang tidak lembut; itu adalah genggaman pria yang bisa mematahkan leher orang dengan tangan kosong.

​"Tentu saja, Tuan Reno. Saya akan menjaga Nona Gwen... sampai ke tempat yang seharusnya," ucap Elang. Kalimatnya terdengar ambigu di telinga Gwen.

​Setelah Reno pergi ke kantor, suasana mansion menjadi sunyi. Siska, wanita ular itu, juga sedang pergi berbelanja menggunakan kartu kredit Gwen. Kini, hanya ada Gwen di taman belakang dan Elang yang berdiri mematung di belakangnya seperti bayangan maut.

​Gwen mencoba mengetes pengawal barunya. Ia sengaja menggerakkan tangannya untuk mengambil cangkir teh, namun dengan gerakan yang seolah-olah salah sasaran hingga cangkir itu hampir jatuh dari meja.

​Set!

​Sebelum cangkir itu menyentuh lantai, tangan Elang sudah menangkapnya dengan kecepatan kilat. Ia meletakkan kembali cangkir itu di depan tangan Gwen.

​"Lain kali, berhati-hatilah, Nona," bisik Elang tepat di samping telinga Gwen.

​Gwen terlonjak sedikit. "Maaf, aku tidak bisa melihat posisinya."

​Elang tidak langsung menjauh. Ia justru membungkuk, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Gwen yang tertutup perban. Gwen bisa merasakan hembusan napas pria itu di pipinya.

​"Benarkah Anda tidak bisa melihat, Nona Gwen?" tanya Elang dengan nada penuh selidik.

​Jantung Gwen berdegup kencang. Apakah dia ketahuan secepat ini? "Apa maksudmu? Kamu tahu kecelakaan itu merenggut penglihatanku."

​Elang terkekeh pelan, suara tawa yang tidak terdengar ramah. "Insting saya mengatakan hal yang berbeda. Orang buta biasanya memiliki pendengaran yang tajam, tapi Anda... Anda memiliki ketenangan yang hanya dimiliki oleh orang yang sedang mengamati."

​Gwen mengepalkan tangannya di balik gaun. "Kamu tidak sopan untuk ukuran seorang pengawal."

​"Dan Anda terlalu tenang untuk seorang istri yang sedang dikhianati," balas Elang telak.

​Gwen membeku. Apakah Elang tahu soal Reno dan Siska? Ataukah pria ini adalah mata-mata yang dikirim Reno untuk mengujinya?

​"Pergi! Aku ingin sendiri!" perintah Gwen, mencoba mengakhiri konfrontasi ini.

​Elang mundur selangkah, namun auranya tetap mendominasi. "Saya akan pergi ke sudut taman. Tapi ingat satu hal, Nona. Saya berada di sini bukan karena saya setia pada suami Anda. Saya di sini karena ada utang yang harus dibayar oleh keluarga Adiguna."

​Gwen tersentak. Utang? Apa maksud pria ini?

​Saat Elang menjauh, Gwen segera membuka sedikit perbannya untuk memastikan pria itu benar-benar tidak melihatnya. Namun, dari kejauhan, Elang tiba-tiba menoleh. Gwen dengan cepat menutup kembali matanya, tapi ia sempat melihat seringai tipis di bibir pria itu.

​Siapa sebenarnya Elang? tanya Gwen dalam hati.

​Malam harinya, Gwen terbangun karena suara bisikan di balkon kamarnya. Ia tidak memakai kursi roda, ia berjalan pelan menuju arah suara. Ia mengira itu Reno, tapi saat ia sedikit mengintip dari balik tirai, ia melihat Elang sedang berdiri di kegelapan malam sambil memegang sebuah foto tua yang sudah kusam.

​Wajah Elang terlihat sangat benci saat menatap foto itu. Ia kemudian mengeluarkan sebuah belati kecil dan menggoreskan ujung tajamnya tepat di atas wajah seorang pria paruh baya dalam foto tersebut.

​Gwen menutup mulutnya dengan tangan agar tidak berteriak. Pria di foto itu... adalah almarhum ayahnya.

​Elang tidak di sini untuk melindungiku, Gwen menyadari kenyataan pahit itu. Dia di sini untuk menghancurkanku sebagai pembalasan dendam pada ayahku.

​Gwen berbalik, hendak kembali ke ranjangnya sebelum ketahuan. Namun, kakinya tidak sengaja menyenggol vas bunga kecil di dekat meja rias.

​Prang!

​Dalam hitungan detik, pintu balkon terbuka. Elang sudah berdiri di depan Gwen, menatapnya dengan mata elang yang seolah bisa menembus perban putih yang menutupi mata Gwen.

​"Nona? Kenapa Anda bangun di jam sepert ini?" suara Elang sangat rendah, penuh ancaman.

​Gwen berdiri mematung, jantungnya berpacu gila-gilaan. Ia harus tetap berakting. "Aku... aku haus. Aku ingin mengambil air tapi aku tersandung."

​Elang mendekat, tangannya meraih dagu Gwen dan mengangkatnya ke atas. "Berjalan dengan sangat lurus di dalam kegelapan tanpa meraba dinding? Anda sangat hebat dalam menghafal jalan, Nona Gwen. Atau... memang sebenarnya kamar ini tidak pernah gelap bagi Anda?"

​Gwen merasakan ujung belati yang tadi dipegang Elang kini menyentuh lehernya yang mulus. Dingin dan mematikan.

​"Siapa kamu sebenarnya, Elang?" bisik Gwen, kini suaranya tidak lagi terdengar lemah.

​"Orang yang akan menjadi mimpi burukmu, atau... satu-satunya penyelamatmu. Tergantung sejauh mana kamu mau jujur padaku, Nona 'Buta'," jawab Elang dengan senyum misterius.

1
Anonymous
Semakin seru dan misterius
Anonymous
Semakin komplek dan misterius
Anonymous
Paman ?Memang harta lebih agung dan sangat berharga apalagi hanya sekedar ponak'an
Anonymous
Reno "I B L I S "
Anonymous
Reno kurang bersyukur dengan kehadiran Gwen dalam hidupnya seorang istri yang csntik punya harkat martabat dan derajat
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia
Anonymous
Mulai membaca dan larut di dalamnya
Anonymous
Tegar dan percaya diri Gwen tidak mudah terbawa perasaan
Anonymous
Masih misterius semua
Anonymous
Sip.....aku suka karakter Gwenn👍
Leebit
siap!! makasih ya udah berkunjung ke karyaku😊
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!