NovelToon NovelToon
Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."

Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.

"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."

Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.

---

Suara Nurani Halimah

Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.

"Suamiku... kau membunuh ayahku?"

Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:

"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"

Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.

"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: SETELAH TATAPAN ITU

Halimah berjalan di belakang Mak Ijah, tetapi pikirannya tertinggal di bangku kayu dekat sumur.

Setiap langkah menjauh justru membuat kata-kata Datuk Maringgih semakin dekat di dadanya.

"Saya tidak mau nama Neng tercoreh karena saya."

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari makian ayahnya.

Karena untuk pertama kalinya, Halimah sadar:

ia dilindungi dengan cara yang menyakitkan.

 

Halimah tidak marah.

Ia tidak patah.

Tapi ia mulai berubah.

 

Langkah kaki Halimah mengikuti bayangan Mak Ijah di bawah rembulan. Jalan setapak dari mushola menuju rumahnya terasa lebih panjang dari biasanya. Atau mungkin hanya perasaannya yang membuat setiap jengkal terasa berat.

Di sampingnya, Mak Ijah berjalan tenang. Sesekali ia menoleh, memastikan Halimah baik-baik saja.

"Neng, capek?" tanya Mak Ijah.

Halimah menggeleng. "Tidak, Nyai. Hanya... banyak pikiran."

Mak Ijah menghela napas. "Neng, apa yang terjadi di mushola tadi? Kalau Neng mau cerita, Nyai siap dengar."

Halimah diam. Ia tidak tahu harus mulai dari mana.

Ia hanya ingat tatapan Datuk Maringgih—sekejap, lalu menjauh. Ia ingat kata-katanya yang lembut tapi tegas. Ia ingat bagaimana Maringgih menjaga jarak, bukan karena jijik, tapi karena peduli.

Saya tidak mau nama Neng tercoreh karena saya.

Kalimat itu berputar di kepalanya.

"Mak Ijah," bisiknya pelan. "Apa rasanya dilindungi oleh seseorang yang bahkan tidak berani menatap kita?"

Mak Ijah tertegun. Ia memandang Halimah lama.

"Neng, laki-laki sejati tidak perlu menatap untuk menjaga. Mereka cukup tahu batas."

Halimah tersenyum tipis. Pahit. "Tapi rasanya... seperti ditolak, Nyai."

"Justru sebaliknya, Neng. Kalau dia mau, dia bisa mendekat. Tapi dia memilih menjauh—demi Neng. Itu bukan penolakan. Itu kehormatan."

Halimah diam. Tapi di dalam hatinya, sesuatu mulai mengendap.

 

Sesampainya di rumah, Halimah masuk dengan langkah pelan. Rumah sudah sunyi. Lampu di ruang tamu sudah padam. Hanya kamar Usman dan Hasan yang masih mencorong cahaya kecil—mungkin mereka masih membaca buku.

Halimah melewati kamar ayahnya. Pintu tertutup rapat. Dari dalam terdengar suara dengkur pelan. Ayahnya tidur.

Ia masuk ke kamarnya. Menutup pintu. Bersandar di daun pintu.

Lama.

Lalu ia berjalan ke meja belajarnya. Menyalakan lampu minyak. Kertas kosong di depannya.

Tangannya gemetar.

Haruskah aku menulis?

Pertanyaan itu bergulir di kepalanya. Tapi jawabannya sudah ada di hati.

Ya. Aku harus.

Ia mengambil pena. Menarik napas panjang.

Lalu ia mulai menulis.

 

Kepada Datuk Maringgih,

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Datuk, ini Halimah. Anak kecil yang dulu sering Datuk tolong. Yang dulu jatuh dari sepeda di depan rumah Datuk. Yang dulu Datuk antar pulang waktu senja. Mungkin Datuk ingat, mungkin juga tidak. Tapi saya ingat. Saya ingat semua.

Maaf kalau surat ini lancang. Maaf kalau seharusnya saya tidak menulis. Tapi saya tidak tahu harus bicara pada siapa lagi.

Datuk, setelah pertemuan di mushola kemarin, saya pulang dengan perasaan yang tidak bisa saya jelaskan. Bukan marah. Bukan kecewa. Tapi... hampa. Seperti ada yang hilang.

Saya tahu Datuk menjaga jarak. Saya tahu Datuk melakukan itu untuk melindungi saya. Mak Ijah sudah jelaskan. Tapi kenapa rasanya seperti ditolak? Kenapa rasanya seperti saya tidak pantas untuk sekadar ditatap?

Datuk, saya bukan anak kecil lagi. Saya tujuh belas tahun. Saya tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Saya tahu Datuk bukan orang jahat seperti kata ayah. Saya tahu Datuk tetap sama seperti dulu—baik, lembut, dan selalu melindungi.

Tapi ada satu yang berubah, Datuk. Bukan Datuk. Bukan juga saya. Tapi perasaan saya.

Saya ingin bertanya sesuatu, Datuk. Mungkin ini lancang. Mungkin ini di luar batas. Tapi saya harus tahu.

Apa yang sebenarnya terjadi antara Datuk dan ayah saya? Kenapa ayah saya tiba-tiba memusuhi Datuk? Dulu ayah selalu bilang Datuk baik. Dulu ayah selalu tersenyum setiap kali nama Datuk disebut. Tapi sekarang... sekarang ayah meludahi nama Datuk di depan kami semua.

Saya tidak mengerti, Datuk. Saya bingung. Saya ingin tahu kebenarannya.

Dan satu lagi, Datuk... ini yang paling sulit saya tulis.

Kenapa Datuk tidak halalin saya saja?

Maaf, Datuk. Minta maaf sebesar-besarnya kalau kata-kata ini keterlaluan. Tapi saya pikir-pikir, kalau Datuk halalin saya, saya bisa ngobrol langsung dengan Datuk tanpa takut fitnah. Saya bisa bertanya apa pun tanpa harus sembunyi-sembunyi. Saya bisa... dekat dengan Datuk tanpa merusak nama siapa pun.

Saya tahu umur saya masih tujuh belas. Saya tahu saya belum pantas memikirkan hal ini. Tapi hati saya tidak bisa bohong, Datuk.

Setiap kali ingat Datuk, jantung saya berdebar. Bukan karena takut. Tapi karena rindu. Rindu pada masa kecil yang damai. Rindu pada sosok yang selalu melindungi.

Saya tidak minta Datuk membalas surat ini. Saya tidak minta apa-apa. Saya hanya ingin Datuk tahu perasaan saya.

Tapi kalau Datuk mau menjawab... saya akan tunggu.

Saya titip surat ini lewat Mak Ijah. Beliau yang akan menyampaikan. Saya tidak berani datang sendiri. Bukan karena takut, tapi karena tidak ingin Datuk susah menjaga jarak lagi.

Terima kasih sudah mau membaca surat ini, Datuk. Apa pun balasannya, saya terima.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Halimah,

Yang dulu kecil, kini mencoba dewasa.

 

Halimah meletakkan pena. Tangannya gemetar hebat.

Ia membaca ulang surat itu. Sampai di kalimat "Kenapa Datuk tidak halalin saya saja?" ia berhenti. Wajahnya merah padam.

Ya Allah, apa aku keterlaluan?

Tapi tidak ada yang bisa ia tarik kembali. Kata-kata itu sudah tertulis. Tinta sudah mengering.

Ia melipat surat itu hati-hati. Tidak diberi amplop—hanya dilipat rapi, dengan namanya di bagian luar.

Untuk Datuk Maringgih.

Ia menatap surat itu lama. Tangannya masih gemetar.

Lalu ia bangkit. Membuka pintu kamar. Rumah masih gelap. Ia melangkah pelan menuju dapur.

 

Di dapur, Mak Ijah belum tidur. Ia sedang membereskan perabotan, bersiap untuk istirahat.

"Nyai," panggil Halimah pelan.

Mak Ijah menoleh. "Neng? Belum tidur?"

Halimah mendekat. Surat itu ia genggam erat.

"Nyai... tolong saya."

Mak Ijah mengerutkan dahi. "Tolong apa, Neng?"

Halimah menyerahkan surat itu. Tangannya gemetar.

"Ini... tolong sampaikan ke Datuk Maringgih."

Mak Ijah terkejut. Ia menerima surat itu, membaca tulisan di bagian luar.

Untuk Datuk Maringgih.

Ia menatap Halimah dengan pandangan campur aduk—terkejut, iba, dan sedikit khawatir.

"Neng, Neng yakin?"

Halimah mengangguk. Air matanya jatuh.

"Aku tidak tahu, Nyai. Tapi aku harus. Kalau tidak, aku akan terus menyesal."

Mak Ijah diam lama. Ia memandang Halimah—gadis yang diasuhnya sejak kecil. Yang kini tumbuh dengan perasaan yang rumit.

"Neng, Nyai akan sampaikan. Tapi Neng harus siap dengan apa pun jawabannya."

Halimah mengangguk. "Aku siap, Nyai."

Mak Ijah menyimpan surat itu di balik bajunya. "Besok pagi, Nyai ke rumah Datuk Maringgih. Neng tenang, istirahat."

Halimah memeluknya. "Terima kasih, Nyai."

 

Halimah kembali ke kamar. Ia berbaring, tapi matanya tidak bisa terpejam.

Pikirannya melayang pada Maringgih. Membayangkan ia membaca surat itu. Apa yang akan ia rasakan? Apa yang akan ia pikirkan?

Semoga ia tidak marah. Semoga ia mengerti.

Tapi di dalam hati kecilnya, ia berharap lebih. Berharap sesuatu yang tidak berani ia ucapkan.

 

Di dapur, Mak Ijah duduk termenung.

Surat itu ia keluarkan, ia pandangi lama.

Halimah, Halimah... kau benar-benar berani.

Ia tahu, surat ini bisa mengubah segalanya. Bisa jadi awal dari kebahagiaan. Bisa juga jadi luka baru.

Tapi ia tidak bisa menolak. Ini amanah.

Besok pagi, pikirnya. Besok pagi akan kusampaikan.

 

Pagi datang. Matahari baru naik setinggi tombak.

Mak Ijah sudah bersiap. Ia berpamitan pada Siti—alasan mau ke pasar.

"Belanja apa, Mak?" tanya Siti.

"Sayur, Neng. Nanti siang mau masak kesukaan Neng Halimah."

Siti tersenyum. "Baik, Mak. Hati-hati."

Mak Ijah pergi. Tapi langkahnya tidak menuju pasar. Ia menuju ke arah yang berlawanan—menuju rumah Datuk Maringgih.

 

Di rumah Maringgih, suasana tenang.

Maringgih baru selesai sholat dhuha. Ia duduk di beranda, membaca catatan dagang. Tapi pikirannya tidak fokus.

Sejak pertemuan di mushola, ia merasa gelisah. Sesuatu yang tidak biasa.

Ketika melihat Mak Ijah datang, ia terkejut.

"Mak Ijah? Ada apa?"

Mak Ijah mendekat. Wajahnya tegang.

"Datuk, maaf mengganggu. Ada yang harus saya sampaikan."

Maringgih mengerutkan dahi. "Silakan, Mak."

Mak Ijah mengeluarkan surat dari balik bajunya. Menyerahkannya pada Maringgih.

"Ini dari Neng Halimah. Titipan. Minta disampaikan ke Datuk."

Maringgih membeku.

Ia menerima surat itu. Melihat tulisan di bagian luar.

Untuk Datuk Maringgih.

Tangannya gemetar. Ia tidak perlu membuka untuk tahu bahwa ini akan mengubah segalanya.

 

[Bersambung...]

1
Ayaelsa
/Smile//Silent//Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!