"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERISAI YANG MEMILIKI HARGA
Griya tawang milik Wei Jun adalah mahakarya arsitektur modern. Terletak di lantai paling atas sebuah gedung elit di jantung Jakarta, tempat ini dikelilingi oleh dinding kaca setinggi lima meter yang menawarkan pemandangan cakrawala kota 360 derajat. Namun, bagi Alya, kemewahan ini hanyalah bentuk lain dari sangkar emas. Bedanya, sangkar ini lebih luas, lebih dingin, dan dikelilingi oleh pria-pria yang menatapnya seolah ia adalah pusaka yang harus diperebutkan.
Alya berdiri di balkon, memeluk perutnya yang kini terasa semakin berat. Di bawah sana, kelap-kelip lampu Jakarta tampak seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Ia menghirup udara malam yang segar, mencoba membersihkan paru-parunya dari sisa-sisa aroma obat-obatan rumah sakit.
"Jangan berdiri terlalu dekat dengan pagar, Alya. Angin malam ini tidak baik untuk bayi-bayimu."
Suara itu tenang dan terkendali. Wei Jun muncul dari balik pintu geser, membawa sebuah pashmina berbahan kasmir lembut. Tanpa menunggu persetujuan, ia menyampirkan kain itu ke bahu Alya. Sentuhannya singkat, namun meninggalkan sensasi panas yang membuat Alya sedikit tidak nyaman.
"Terima kasih, Wei Jun," ucap Alya pelan. Ia masih berusaha membiasakan diri memanggil pria berkuasa ini tanpa sebutan 'Tuan'.
"Sama-sama. Oh ya, aku punya kabar baik. Ibumu sudah selesai menjalani operasi di Singapura. Kondisinya stabil, dan dokter bilang dia bisa segera mulai rehabilitasi fisik."
Mata Alya berbinar. Ini adalah cahaya pertama yang menembus kegelapan hidupnya selama berbulan-bulan. "Benarkah? Bisakah saya bicara dengannya?"
Wei Jun tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang ia perlihatkan kepada mitra bisnisnya. "Han Zhihao sedang mengatur sambungan satelit yang aman agar tidak bisa dilacak oleh Liang atau keluarga Zhang. Besok pagi kau bisa melihatnya lewat panggilan video."
Alya merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Namun, tepat saat ia hendak mengucapkan terima kasih lagi, pintu masuk apartemen terbuka dengan paksa.
Zhang Liang melangkah masuk dengan langkah besar, diikuti oleh dua pengawal pribadinya. Wajahnya terlihat muram, matanya merah karena kurang tidur. Di tangannya, ia meremas sebuah amplop cokelat.
"Liang? Aku tidak ingat memberikanmu akses malam ini," ucap Wei Jun, suaranya berubah menjadi dingin dan defensif.
Liang mengabaikan Wei Jun dan langsung menatap Alya. "Alya, masuklah ke dalam. Aku perlu bicara dengan 'pelindungmu' ini."
"Mas Liang, ada apa?" tanya Alya cemas.
"Masuk, Alya!" bentak Liang.
Alya tersentak dan segera masuk ke ruang tengah, namun ia tidak benar-benar pergi. Ia berdiri di balik pilar besar, mendengarkan setiap kata yang keluar.
Liang melempar amplop cokelat itu ke dada Wei Jun. "Jelaskan padaku, Jun. Kenapa sertifikat tanah rumah ayah Alya ada di tanganmu? Bank menyitanya bulan lalu, dan kau membelinya secara rahasia melalui perusahaan cangkangmu di Cayman Islands. Kenapa kau tidak memberitahuku?"
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Wei Jun tidak terkejut. Ia perlahan mengambil amplop yang jatuh ke lantai dan merapikannya.
"Aku membelinya karena aku tahu kau akan menggunakannya sebagai senjata untuk mengontrol Alya selamanya, Liang," jawab Wei Jun tenang. "Kau ingin dia tetap menjadi tawanan kontrakmu dengan mengancam akan meratakan rumah masa kecilnya jika dia tidak patuh. Aku membelinya untuk melindunginya darimu."
"Melindunginya? Atau mengoleksinya?" Liang tertawa sinis. "Kau ingin Alya berhutang budi padamu. Kau ingin dia melihatmu sebagai pahlawan sementara kau memegang leher keluarganya dengan cara yang sama seperti yang kulakukan. Kau munafik, Jun!"
"Setidaknya aku tidak meniduri sekretarisku saat dia sedang berjuang melahirkan anak-anakku!" balas Wei Jun, suaranya mulai meninggi.
Alya, yang mendengarkan dari balik pilar, merasa lemas. Jadi, rumah orang tuanya—satu-satunya tempat ia merasa memiliki kenangan manis—kini telah berpindah tangan lagi. Dari bank, ke Wei Jun. Tidak ada yang benar-benar memberikan bantuan tanpa pamrih. Semuanya adalah tentang kepemilikan.
Di markas komandonya, Han Zhihao melihat seluruh pertengkaran itu melalui kamera tersembunyi. Ia melihat wajah Alya yang pucat di balik pilar. Hatinya teriris, namun ada bagian dari dirinya yang merasa puas melihat Liang dan Wei Jun mulai saling menghancurkan.
Zhihao menyentuh layar monitor, mengusap wajah digital Alya. "Mereka semua hanya ingin mengendalikanmu, Alya. Hanya aku yang benar-benar tahu apa yang kau rasakan. Setiap detak jantungmu, setiap tarikan napasmu... aku memilikinya di dataku."
Zhihao kemudian membuka sebuah berkas terenkripsi berjudul 'Proyek Kelahiran'. Di dalamnya, terdapat rencana detail untuk melarikan Alya ke luar negeri sesaat setelah persalinan, tanpa sepengetahuan Liang maupun Wei Jun. Zhihao telah menyiapkan identitas baru untuk Alya sebagai warga negara Swiss. Ia ingin memiliki Alya sepenuhnya dalam sebuah dunia digital dan fisik yang ia bangun sendiri.
Tiba-tiba, telepon di apartemen Wei Jun berdering. Itu adalah Luo Cheng.
"Kalian berdua benar-benar bajingan!" suara Luo Cheng terdengar dari speakerphone yang diaktifkan Liang. "Aku baru saja mendapatkan informasi dari mata-mataku di bandara. Chen Yiren sudah tertangkap, tapi dia tidak sendirian. Dia bersama Madam Liu Xian, ibumu, Liang!"
Liang terperanjat. "Apa maksudmu? Ibu tidak mungkin terlibat dalam pelarian Yiren."
"Ibumu yang membiayai Yiren untuk menyewa Dr. Kelvin! Dia ingin memastikan Alya mati setelah melahirkan agar dia bisa mengambil bayi-bayi itu dan mengklaimnya sebagai anak dari pernikahan sahmu dengan Mei Hua!" teriak Luo Cheng. "Keluarga Zhang busuk sampai ke akarnya, Liang! Dan kau masih ingin membawanya kembali ke sana?"
Liang menjatuhkan ponselnya. Kenyataan bahwa ibunya sendiri berencana membunuh Alya menghancurkan sisa-sisa pertahanannya. Ia menoleh ke arah pilar tempat Alya bersembunyi.
"Alya... keluarlah," bisik Liang, suaranya hancur.
Alya melangkah keluar dengan air mata yang membasahi pipinya. Ia menatap tiga pria paling berpengaruh di hidupnya—Liang yang penuh dosa, Wei Jun yang penuh rencana, dan melalui bayangan, ia tahu Zhihao sedang mengawasi.
"Kalian semua menakutkan," ucap Alya. "Kalian bicara tentang cinta, tentang perlindungan, tapi kalian memperlakukan saya seperti piala. Mas Liang, Nyonya Besar ingin saya mati? Wei Jun, Anda membeli rumah saya tanpa memberitahu saya?"
"Alya, aku bermaksud memberikan sertifikat itu padamu di hari ulang tahunmu," Wei Jun mencoba membela diri.
"Sudah cukup!" Alya berteriak, suaranya menggelegar di griya tawang yang luas itu. "Mulai sekarang, saya tidak ingin bicara dengan siapa pun. Wei Jun, saya akan tinggal di sini hanya karena dokter ada di sini. Mas Liang, jangan temui saya sampai bayi-bayi ini lahir. Dan untuk siapa pun yang mendengarkan melalui kamera di rumah ini..." Alya menatap langsung ke arah salah satu lensa tersembunyi yang ia curigai. "...berhenti memperlakukan saya seperti barang."
Alya berbalik dan masuk ke kamarnya, mengunci pintu dengan keras.
Di dalam kamar, Alya terduduk di lantai. Ia tidak lagi menangis. Ia menyadari satu hal: kepolosan tidak akan menyelamatkannya. Jika ia ingin menyelamatkan anak-anaknya dan dirinya sendiri, ia harus menjadi lebih pintar dari mereka semua.
Ia mengeluarkan ponsel yang diberikan oleh Liyun. Ia mencari nomor yang selama ini ia ragukan untuk dihubungi. Nomor milik seorang pengacara wanita terkenal yang spesialis dalam kasus hak asasi manusia dan kontrak ilegal, yang pernah ia dengar dari percakapan Liyun.
"Halo?" suara di seberang sana terdengar tegas.
"Nama saya Alya Pramesti," bisik Alya. "Saya ingin menggugat pembatalan kontrak pernikahan... dan saya butuh perlindungan saksi yang tidak bisa dibeli oleh uang keluarga Zhang atau Wei."
Malam itu, Alya bukan lagi gadis lugu yang menunggu diselamatkan. Ia mulai menenun jaringnya sendiri di tengah badai para naga.