Inara Zahra Putri seorang siswi SMA kelas XI, ia pandai dalam seni lukis dan memiliki bakat bernyanyi.
Namun ia selalu menyembunyikan kemampuannya dari keluarganya Karena sang ayah ingin ia menjadi seorang dokter.
ia merasa dilema!!!
Apakah ia tetap memenuhi harapan keluarga menjadi dokter...?
Atau memberitahu ayahnya bahwa ia menyukai bidang seni lukis...?
•• Inara juga memiliki rahasia kecil yang selalu ia simpan dalam hatinya, ia menyukai seseorang secara diam-diam...!
karena kesalah pahaman mereka terpaksa berpisah!
inara tetap menyimpan rasa cintanya dalam hati, tanpa memberitahunya?
bagaimana lanjutan kisah mereka, apakah Inara bertemu lagi dengan cintanya selama ini ia sembunyikan atau tidak...?
☆☆Dalam cerita mengacu pada paduan budaya Minang kabau dan kehidupan perkotaan modern.
●● Cerita ini hanya fiktif belaka murni karangan author yang masih belum sempurna, dalam cerita tidak sesuai dengan sejarah..!!!
❤️ 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. semakin jauh!!!
Karena sebelum mengambil Rapor kepala sekolah juga menyampaikan sepatah kata kepada wali murid yang hadir sesuai undangan.
☆☆☆☆
Waktu berlalu begitu cepat, tiga bulan telah berlalu.
Selama tiga bulan ini hubungan inara dan Kenzo merenggang karena kesibukan Kenzo, untuk mempersiapkan ujian akhir juga mengalihkan tugas kepada ketua osis baru, jadi ia sibuk antara osis dan waktu belajarnya lebih padat.
Begitu pula dengan Inara ia juga sibuk dengan kegiatannya, jadi ia tidak masalah Kenzo sibuk karena ia paham dengan kesibukannya Kenzo, tapi yang membuat sedih mendengar gosip yang bahwa Kenzo sudah memiliki pacar dengan siswa baru, dia cantik juga pindaham dari kota Jakarta.
Saat mendengar kabar itu Inara hanya bisa menangis diam-diam, dan menyibukkan diri dengan kegiatannya supaya bisa melupakan Kenzo.
Inara sekarang juga jarang ngechat Kenzo, karena ia takut mengganggu hubungkan Kenzo dengan pacarnya.
Saat ini Inara sedang dalam kelas sambil menunggu guru datang untuk memberikan pelajaran. Ia hanya membaca buku dengan serius tidak ikut ngobrol dengan teman-temannya.
"Nara,! Napa kamu jadi rajin sekarang? Yuk ikut dengan kita ngobrol." Panggil Naura ia hanya lihat akhir-akhir ini sangat serius belajar.
"Kamu masih memikirkan gosip itu ya! Jangan terlalu sedih lupakan saja lelaki seperti itu, lihat tuh Hasna dia santai saja." Ucap Aira ia menghampiri Inara lalu duduk disampingnya.
Ya hubungannya Hasna dengan Gilang juga renggang karena kesibukan Gilang dan dia juga pernah melihat Gilang jalan dengan perempuan lain.
Inara melihat Hasna yang hanya tersenyum padanya.
"Apa kamu udah tanya padanya siapa gadis itu, siapa tahu saja teman sekelas atau apalah." Ucap Inara kepada Hasna, ia yakin Hasna pasti sedih.
"Tidak perlu ditanya di lihat aja udah jelas, ia sangat akrab dengan gadis itu, dah lah tidak usah dibahas, lagian hubungan kami baru belum lama, rasa cintaku belum sedalam itu padanya, jadi hatiku tidak terlalu sakit." Ucap Hasna dengan santai.
"Yang aku khawatirkan itu kamu, apakah kamu baik-baik saja, apakah Kenzo ada menghubungimu." Ucap Hasna lagi kepada Inara.
"Ia dia memang tidak pernah Absen menghubungiku, saat waktu senggang, tapi aku tidak terlalu menanggapinya." Ucap Inara karena ia ingin melupakan Kenzo, jadi ia jarang membalas chat Kenzo dan juga tidak mengangkat telpon dari Kenzo.
Disekolah pun saat bertemu ia menghindari Kenzo, supaya tidak sering ketemu, karena saat melihat Kenzo dan anak baru itu yang selalu mengikuti Kenzo hatinya sakit.
Dari pada ia menangis di depan Kenzo lebih baik dia yang menjauh.
"Bagus, lelaki seperti itu untuk apa ditanggapi, sudah punya pacar masih menghubungimu apa maksudnya." Ucap Naura lagi.
"Iya, lupakan seperti ia tidak pantas untukmu, kamu baik cantik, cari lelaki lain yang lebih tampan darinya." Ucap Aira dengan semangat.
"Ya benar kata Aira, Kamu itu lebih cantik dari wanita itu, aku heran apa yang dilihat kenzo dari wanita itu, padahal didepannya sudah ada wanita super cantik dan cerdas." Ucap Hasna lagi, dengan raut wajah lucu.
"Kalian itu ya, masalah hati tidak dilihat dari penampilan, lagi pula apa hubungannya denganku jika Kenzo memiliki pacar! Terserah dia jika mau pacaran atau apa karena kami tidak memiliki hubungan special, buat apa aku mengaturnya." Ucap Inara dengan sedih, air matanya jatuh, lalu ia menghapus air matanya.
"Sedangkan kamu sudah memiliki hubungan dengan Gilang, bagaimana rencanamu kedepannya? Pa kamu ingin putus?" Tanya Inara kepada Hasna.
"Benarnya juga kamu Nar, lebih baik di selesaikan dengan cepat dari pada berlarut-larut, ia aku ingin putus dengannya, aku tidak bisa melanjuti hubungan ini lagi, jika ada wanita lain dihatinya." Ucap Hasna dengan semangat.
"Nah gitu dong, mulai sekarang lupakan masalah cowok-cowok itu tidak ada gunanya, tidak ada mereka pun kita tetap happy." Ucap Aira dengan semangat.
Inara hanya tersenyum karena baginya melupakan Kenzo adalah hal yang sulit perasaannya sudah mendalam dia udah lama memendam rasa cintanya.
Tapi bagaimanapun dia memang harus melupakam Kenzo, perjalanannya masih panjang dia tidak mau hanya gara-gara kenzo yang bukan siapa-siapa baginya menghambat perjalanannya.
"Yah, kalian benar buat apa buat apa pusing, dengan adanya kalian aku juga happy!." Ucap Inara sambil menyemati dirinya.
Tidak lama setelah itu guru masuk, yang masuk adalah bu Siska selaku wali kelas mereka.
"Selamat pagi semua? Bagaimana apakah sudah siap belajar? " tanya bu siska sambil memperhatikan semua muridnya.
Para siswa-siswi menjawab pertanyaan buk Siska dengan semangat mereka udah siap untuk belajar.
"Bagsu! Tapi sebelum belajar ibu akan menyampaikan sesuatu terlebih dahulu?." Ucap Bu Siskawati lagi.
"Masalah apa buk Siska, apakah ini menyangkut nilak fisika kami." Ucap salah satu murid untuk mewakili yang lainnya, mereka mulai cemas.
Bu Siska hanya tersenyum ia senang keantusiasan siswa-siswa nya untuk belajar fisika dengannya.
"Kalua nilai fisika dikelas ini tidak ada yang masalah, justru saya bangga pada kalian, karena belajar dengan semangat!." Ucap Bu siska lagi.
"Hah, kami kira apa, menegangkan aja! Bu siska kalau ngomong jangan gantung-gantung dong!." Ucap Salah satu murid lagi.
"Maka dengarkan saya selesai berbicara baru jawab." Ucap Bu siska lagi dengan tegas lalu melanjutkan berbicara.
"Ini masalah pentas seni yang diadakan satu bulan lagi juga acara perpisahan anak-anak kelas XII."
"Setiap kelas harus menampilkan bakatnya tidak boleh tidak ikut serta, kalau tidak kena denda." Ucap Bu siska lagi.
"Saya ingin kelas kita menampikan beberapa penampilan diatas panggung." Ucap Bu siska dengan tegas lalu melanjutkan.
" dari hasil rapat kami bersama denga para guru-guru lainnya, juga hasil cabut log kelas kita terpilih dengan beberapa tampilan, yaitu tari piring, tari payung, melukis dan seni suara." Ucap Bu siska lagi.
"Banyak sekali bu!, mana kami sanggup waktunya juga udah mepet mana sempat untuk kami latihan!." Keluh semua siswa.
"Tidak dapat menolak lagi, semua nya sudah ditentukan! dengan waktu sebulan sudah cukup untuk latihan." Ucap Bu Siska dengan tegas.
" kalian tentukan dan atur sendiri siapa yang pantas untuk pameran tersebut." Ucap Bu Siska lagi dengan tegas.
"Baik bu!" Ucap mereka dengan lemas yang kurang semangat.
"Baiklah kita lanjutan mateti fisika! Hey... mengapa kalian kurang semangat seperti itu, semangatlah!!! untuk pentas seni kami para guru tidak menekan kalian yang penting setiap kelas harus ikut serta, bagus tidak bagus nya penampilan kalian itu urusan nanti, yang penting kalian harus tampil untuk melatih keberanian kalian!" Ucap Bu siska lagi.
.
.
.
terima atau tidak masalah nanti?