Berawal dari utang panci 1.500 koin emas, Feng—murid "sampah" Level Nol tanpa sihir—justru memutarbalikkan tatanan tiga alam semesta!
Bersenjatakan Sistem Dewa Asal Mula yang menukar kalori makanan menjadi kekuatan fisik pembelah surga, serta ditemani Buntel, naga buncit yang menjadikan pedang pusaka dan zirah dewa sebagai camilan renyah, Feng memulai perjalanan kultivasi paling brutal.
Dari meratakan Balai Penegak Hukum sekte, mengacaukan turnamen elit demi akses kantin gratis, merampok gudang senjata di Alam Dewa, hingga akhirnya meninju Sang Pencipta Kosmos di ujung semesta. Semuanya membuktikan satu hukum mutlak: Sihir paling sakti sekalipun akan hancur lebur di hadapan tamparan sandal jepit orang yang sedang kelaparan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PATRIARK SAKTE MULAI SAKIT KEPALA
Gemuruh di langit Puncak Utama terdengar seperti ribuan genderang perang yang ditabuh serentak. Awan emas kemerahan bergulung-gulung, menciptakan tekanan gravitasi yang membuat udara terasa setebal lumpur. Ribuan murid yang tadi sudah lemas kini benar-benar bertumbangan, pingsan dengan mulut berbuih karena tidak sanggup menahan aura dari sang Kaisar Pedang.
Bahkan Tetua Agung Yue, seorang kultivator tingkat tinggi, harus mengerahkan seluruh Qi sucinya hanya untuk tetap berdiri dengan lutut yang sedikit gemetar.
Di tengah tekanan yang bisa menghancurkan tulang manusia biasa itu, Feng berdiri dengan postur tubuh yang sedikit membungkuk. Bukan karena tertekan, melainkan karena dia sedang sibuk mengikat kembali tali sandal jepitnya yang putus menggunakan seutas rumput spiritual yang dia cabut dari sela-sela ubin.
"Mas... eh, Bapak Patriark," ucap Feng tanpa menoleh ke atas. "Bisa tolong kecilkan sedikit efek suaranya? Gendang telinga saya berdengung ini. Dan anginnya bikin rambut saya berantakan, padahal saya belum keramas tiga hari."
Hening. Suara gemuruh di langit mendadak berhenti, seolah-olah awan itu sendiri bingung harus merespons apa.
Sosok agung berjubah emas itu perlahan turun dan memijakkan kakinya di tanah, tepat tiga langkah di depan Feng. Patriark Sekte Pedang Langit menatap murid luar yang mengenakan jubah kusam itu lekat-lekat. Matanya yang berwarna emas tajam memancarkan kebingungan yang sangat dalam.
SISTEM MENGELUARKAN NOTIFIKASI MERAH BERKEDIP: TEKANAN AURA TINGKAT KAISAR PEDANG TERDETEKSI. TINGKAT ANCAMAN: FATAL. BIAYA KALORI UNTUK MELAWAN TEKANAN INI SECARA AKTIF: SEPULUH JAM WAKTU HIDUP PER DETIK.
"Sepuluh jam per detik?!" Feng nyaris tersedak ludahnya sendiri. "Sistem! Aktifkan mode hemat daya! Lemaskan semua otot, biarkan auranya lewat seperti angin! Jangan dilawan sama sekali!"
SISTEM: MODE RELAKSASI MUTLAK DIAKTIFKAN. TUBUH TUAN SEKARANG MEMILIKI KEPADATAN SEPERTI BATU KOSONG.
Patriark mengernyitkan dahinya. Dia baru saja sengaja menembakkan seutas 'Niat Pedang Kaisar' langsung ke dada Feng. Serangan mental yang seharusnya membuat Daulat Pedang sekalipun muntah darah itu, justru menembus tubuh Feng seolah-olah pemuda itu hanyalah ruang hampa. Tidak ada Qi yang berbenturan, tidak ada penolakan. Hanya... ketiadaan.
"Anak muda," suara Patriark terdengar berat dan dalam, menggetarkan sisa-sisa batu di sekeliling mereka. "Kau menghancurkan Balai Penegak Hukumku. Kau menampar Ketua Balai di depan umum. Dan sekarang, kau berdiri di depanku, memegang taring monster yang bahkan membuatku harus mundur seratus tahun yang lalu. Siapa kau sebenarnya?"
Feng akhirnya selesai mengikat sandalnya dan berdiri tegak. Dia menepuk-nepuk tangannya yang kotor.
"Nama saya Feng, Pak. Murid Asrama Luar yang kebetulan lagi banyak utang," jawab Feng santai. "Dan soal taring babi itu, sungguh, itu murni kecelakaan. Babi itu yang nyundul duluan, naga saya cuma membela diri dengan cara memakan giginya. Hitung-hitung perawatan gigi gratis."
Urat nadi di pelipis Patriark berkedut keras. Dia mengangkat tangan kanannya yang dibalut sarung tangan sutra emas, lalu memijat pangkal hidungnya dengan kuat.
"Kepalaku..." gumam Sang Kaisar Pedang, mendadak merasakan sakit kepala yang luar biasa. Selama tiga ratus tahun dia memimpin sekte, belum pernah ada orang yang berbicara padanya seperti sedang mengobrol dengan penjaga warung kopi.
"Patriark," Tetua Agung Yue segera melangkah maju, menangkupkan kedua tangannya. "Mohon ampunkan ketidaksopanan Feng. Anak ini memang tidak memiliki Qi dan tata kramanya sangat buruk, tetapi dia memiliki kekuatan fisik yang belum pernah ada dalam sejarah. Saya percaya dia bisa menjadi kartu as kita di turnamen besok."
Patriark menurunkan tangannya, menatap Feng dengan pandangan menilai. Dia melirik Buntel yang sedang duduk bersila layaknya manusia, membersihkan sela-sela gigi peraknya menggunakan patahan tombak eksekutor.
"Tanpa Qi... tapi bisa membunuh Raja Babi Besi Kuno," gumam Patriark. Sakit kepalanya belum hilang, tapi otaknya yang licik mulai bekerja. "Tetua Hu!"
Tetua Hu yang sedari tadi meringkuk sambil memeluk taring babi langsung melompat berdiri tegak. "S-Saya di sini, Yang Mulia Patriark!"
"Bawa taring-taring itu ke Gudang Pusaka Utama. Nilainya cukup untuk membangun tiga Balai Penegak Hukum yang baru," perintah Patriark. "Dan potong seluruh utang bocah ini. Berikan dia Medali Akses VIP."
Tetua Hu mengangguk cepat bak burung pelatuk, langsung memasukkan keempat taring raksasa itu ke dalam cincin penyimpanannya sebelum berlari pergi meninggalkan area tersebut.
Feng tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Wah, Bapak Patriark memang pemimpin yang adil dan bijaksana! Kalau begitu, saya langsung menuju kantin VIP sekarang ya? Perut saya sudah keroncongan minta diisi sup kerbau langit."
"Berhenti di sana," cegah Patriark dingin, membuat langkah Feng terhenti di udara.
Patriark melangkah maju, jaraknya kini hanya satu jengkal dari wajah Feng. Aura Kaisarnya ditarik sepenuhnya, namun tatapan matanya jauh lebih menakutkan daripada tebasan pedang.
"Makan gratis itu ada harganya, Feng," bisik Patriark dengan nada yang sangat rendah. "Kau kuizinkan masuk Turnamen Sekte Jalur Orang Dalam besok pagi. Medali VIP yang diberikan Tetua Hu akan membawamu langsung ke babak enam belas besar tanpa harus melewati penyisihan."
"Berarti, tidak perlu repot-repot buang kalori," sahut Feng lega.
"Tapi..." Patriark menyeringai tipis. "Ada syaratnya. Lawan-lawanmu besok adalah para jenius dari faksi dalam, termasuk Long Chen. Jika kau kalah di satu pertandingan saja, atau jika kau berani menyerah di tengah pertarungan..."
Patriark melirik ke arah Buntel.
"...Aku akan secara pribadi menguliti nagamu itu untuk dijadikan sarung pedang baruku, dan kau akan kujadikan pupuk abadi untuk Pohon Teh Spiritual di halaman belakangku. Paham?"
Suasana di Puncak Utama mendadak membeku. Ancaman seorang Kaisar Pedang adalah hukum mutlak. Tetua Agung Yue menahan napasnya, menatap Feng dengan cemas.
Feng terdiam sejenak. Dia menatap mata emas Patriark, lalu beralih menatap Buntel. Naga buncit itu balas menatap Feng, memiringkan kepalanya, lalu bersendawa mengeluarkan percikan api perak yang tidak sengaja membakar ujung jubah kebesaran Patriark.
*Wussh.*
Asap tipis mengepul dari jubah emas sang Kaisar Pedang. Patriark menunduk menatap ujung bajunya yang hangus, lalu menatap naga itu dengan urat dahi yang nyaris pecah.
"Buntel! Jangan sembarangan bakar baju orang!" tegur Feng sambil memukul pelan kepala naganya. Dia lalu kembali menatap Patriark sambil tersenyum tanpa dosa. "Maaf, Pak. Dia agak sensitif kalau ada yang bahas soal menguliti. Tapi tenang saja, kesepakatan diterima. Saya akan menangkan turnamen Bapak, asalkan porsi daging di kantin VIP tidak dibatasi."
Sakit kepala Patriark semakin menjadi-jadi. Dia menyadari bahwa mengintimidasi murid ini sama sia-sianya dengan menceramahi batu.
"Bawa dia pergi dari pandanganku, Tetua Yue. Sebelum aku berubah pikiran dan membelahnya sekarang juga," perintah Patriark sambil membalikkan badan, memijat pelipisnya kuat-kuat.
"Baik, Patriark," jawab Tetua Agung Yue lega. Dia segera menarik lengan Feng. "Ayo, Feng. Kita harus segera pergi ke Asrama Puncak Utama untuk mendaftarkan medali VIP-mu."
Patriark Sekte Pedang Langit melesat ke udara, kembali ke istananya untuk mencari pil pereda sakit kepala tingkat Dewa, meninggalkan Feng dan Buntel yang kini resmi terdaftar sebagai peserta paling berbahaya di turnamen esok hari.
---
Tiga puluh menit kemudian, Feng dan Tetua Agung Yue berjalan menyusuri koridor pualam putih di area terdalam Puncak Utama. Koridor ini sangat sepi dan dijaga oleh formasi energi tingkat tinggi.
"Kau benar-benar tidak tahu diuntung, Feng," omel Tetua Agung Yue sepanjang jalan. "Patriark itu bisa membunuhmu hanya dengan satu hembusan napas. Kenapa kau malah memancing amarahnya?"
"Tetua, kalau saya takut, kalori saya terbakar sia-sia karena detak jantung yang meningkat. Jadi lebih baik santai saja," jawab Feng beralasan. Dia membolak-balik Medali Emas VIP di tangannya. "Ngomong-ngomong, ini kantin VIP-nya masih jauh? Saya sudah tidak sabar mau—"
Tiba-tiba, Buntel yang bertengger di bahu Feng berdiri tegak.
Kuping naga perak itu bergerak-gerak cepat. Lubang hidungnya mengembang. Mata peraknya yang tadi terlihat malas dan mengantuk kini mendadak melebar, memancarkan cahaya yang menyilaukan.
"Kyuk... KYUUUK!"
Suara Buntel kali ini bukan suara lapar biasa. Ini adalah suara rintihan penuh nafsu, mirip seperti pria yang menemukan sumber air di tengah gurun pasir.
SISTEM MENGELUARKAN PERINGATAN KILAT DENGAN WARNA UNGU: PERINGATAN! SENSOR NAGA MENDETEKSI KUMPULAN LOGAM SPIRITUAL TINGKAT TINGGI DALAM RADIUS DUA RATUS METER! KANDUNGAN ENERGI SETARA DENGAN SERATUS RAJA BABI BESI!
"Hah? Seratus?!" Feng membelalakkan matanya. "Tunggu, di mana ada besi sebanyak itu di Puncak Utama?!"
Tetua Agung Yue yang mendengar raungan Buntel langsung menghentikan langkahnya. Wajah cantiknya seketika berubah sepucat kertas beras. Dia menoleh ke arah sebuah gerbang baja raksasa bermotif sembilan naga yang terletak tidak jauh dari ujung koridor mereka.
"Astaga... Feng!" jerit Tetua Agung Yue panik. "Itu adalah Gudang Senjata Pusaka Sekte! Malam ini, panitia sedang mengeluarkan semua pedang pusaka leluhur untuk dibersihkan sebelum dijadikan hadiah utama turnamen besok!"
Feng langsung merasakan firasat yang sangat, sangat buruk. Dia menoleh ke bahunya, tapi... bahunya sudah kosong.
WUUUSSHH!
Buntel melesat dengan kecepatan supersonik, meninggalkan jejak api perak di udara, meluncur langsung menuju gerbang raksasa yang kebetulan sedang dibuka sedikit oleh para penjaga gudang.
"BUNTEL! JANGAN DIMAKAN! ITU BUKAN PRASMANAN!" teriak Feng dengan suara melengking, berlari sekuat tenaga mengejar naga peliharaannya.
Namun terlambat. Suara cengkeraman rahang naga yang menggigit logam mulia, disusul oleh jeritan ngeri para penjaga gudang, langsung menggema memecah kesunyian malam di Puncak Utama. Bencana baru saja dimulai.