Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.
Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.
Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."
Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Sisa Saldo di Celengan Ayam
## Bab 1: Sisa Saldo di Celengan Ayam
Kamar itu terasa lebih sempit dari biasanya. Di sudut ruangan, sebuah meja kayu dengan permukaan yang sudah mengelupas menjadi saksi bisu betapa kerasnya pikiran Rafi bekerja malam ini. Sebuah lampu belajar 15 watt berpijar redup, memberikan bayangan panjang pada dinding yang catnya mulai menggelembung karena lembap.
Rafi menarik napas dalam-dalam. Di tangannya, ada sebuah benda yang selama enam bulan terakhir menjadi benda paling berharga di hidupnya: sebuah celengan plastik berbentuk ayam berwarna merah yang catnya sudah mulai kusam di bagian paruh.
"Malam ini harus jelas," gumamnya pelan. Suaranya serak, tenggelam oleh deru knalpot brong anak-anak motor yang sesekali melintas di jalanan Tanjung Balai di luar sana.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah benda itu terbuat dari kaca yang mudah pecah, Rafi mengambil pisau lipat kecil. Ia menusuk bagian bawah celengan itu. Suara plastik yang tersayat terdengar nyaring di keheningan malam. Perlahan, isi perut si ayam merah itu tumpah ke atas kasur tipis yang sprainya sudah mulai pudar warnanya.
*Klining. Klining. Klining.*
Suara logam beradu dengan logam. Rafi mulai memilah. Tangannya yang sedikit kasar karena sering membantu di bengkel tetangga bergerak telaten. Ia mengelompokkan uang-uang itu dengan rigoritas seorang akuntan. Di sisi kanan, ia menumpuk koin lima ratusan perak. Di sisi kiri, koin seribuan. Dan di tengah, ada beberapa lembar uang kertas dua ribuan dan lima ribuan yang sudah sangat kumal, lecek, dan beberapa di antaranya bahkan harus disambung dengan isolasi bening.
"Seribu, dua ribu, tiga ribu..." Rafi menghitung dengan suara berbisik. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang setiap kali tumpukan itu meninggi.
Ini bukan sekadar uang bagi Rafi. Ini adalah manifestasi dari rasa lapar yang ia tahan setiap jam istirahat sekolah di SMA 3. Ini adalah hasil dari keputusannya untuk selalu berjalan kaki sejauh dua kilometer pulang sekolah alih-alih naik angkot. Ini adalah wujud dari "nasi garam" yang ia telan diam-diam di pojok perpustakaan agar teman-temannya tidak melihat betapa mengenaskannya bekal yang ia bawa.
Setelah sepuluh menit yang terasa seperti satu jam, Rafi menatap hasil perhitungannya.
"Seratus delapan puluh lima ribu," bisiknya.
Ia terdiam. Kepalanya tertunduk. Tangannya merogoh saku celana sekolah yang tersampir di kursi, mengambil sebuah dompet kulit imitasi yang permukaannya sudah retak-retak. Ia mengeluarkan isinya: satu lembar lima puluh ribu dan dua lembar sepuluh ribu.
Total di atas kasur kini berjumlah dua ratus lima puluh lima ribu rupiah.
Rafi mengambil secarik kertas buram dan sebuah pulpen yang tintanya hampir habis. Secara analitis, ia mulai membuat simulasi biaya. Ini adalah "proyek" terbesarnya tahun ini: Mengajak Nisa, gadis dari SMK Bisnis yang selama ini ia kagumi lewat layar HP, untuk jalan-jalan ke Kisaran.
* **Bus Tanjung Balai - Kisaran (PP untuk 2 orang):** 40.000
* **Makan & Minum (Food Court Irian / Ayam Penyet):** 90.000
* **Tiket Bioskop 5D Irian (2 orang):** 80.000
* **Total Sementara:** 210.000
Melihat angka itu, Rafi memijat pelipisnya. Secara teknis, uangnya cukup. Namun, perhitungan di atas kertas sering kali dikhianati oleh realitas di lapangan. "Cuma sisa empat puluh lima ribu untuk cadangan?"
Logikanya langsung berputar cepat. Empat puluh lima ribu itu sangat rawan. Bagaimana kalau tarif bus tiba-tiba naik karena sopir beralasan setoran sedang sepi? Bagaimana kalau Nisa ingin jajan camilan tambahan atau minuman botolan di mall yang harganya bisa berkali lipat dari harga kedai biasa? Bagaimana kalau mereka harus naik becak motor karena hujan deras mengguyur terminal Kisaran?
Di kondisi masyarakat saat ini, membawa uang pas-pasan adalah resep untuk bencana harga diri. Rafi tidak ingin terlihat gagap di depan kasir saat membayar pesanan ayam penyet. Ia tidak ingin wajahnya memucat hanya karena kurang seribu perak untuk biaya parkir atau retribusi terminal.
Ia menatap kembali ke tumpukan uang lecek itu. Secara struktural, rencana ini butuh pengamanan finansial yang lebih kuat. Targetnya harus ditingkatkan menjadi minimal 300 ribu rupiah agar ia memiliki "margin keamanan" yang cukup.
"Kurang empat puluh lima ribu lagi," Rafi menghitung dengan skeptis.
Ia memandangi dompetnya lagi. Dompet itu benar-benar kempis. Bahkan kartu pelajar di dalamnya terlihat lebih tebal daripada tumpukan uang kertasnya sendiri. Kondisi ekonomi keluarganya yang sedang terguncang karena ayah yang baru saja dirumahkan dari gudang ikan membuat Rafi tahu ia tidak bisa berharap pada uang saku tambahan dari rumah.
Tanjung Balai malam itu terasa sangat gerah. Kipas angin kecil di atas meja hanya berputar malas, menyemburkan udara hangat yang tidak membantu mendinginkan pikiran Rafi. Ia kembali menatap layar HP-nya yang retak di bagian sudut—sebuah Android lama yang responsnya mulai lambat.
Ia membuka aplikasi galeri, melihat satu-satunya foto Nisa yang ia ambil dari status WhatsApp gadis itu. Nisa tampak cantik dengan seragam SMK-nya, tersenyum lebar. Senyum yang membuat Rafi merasa bahwa menabung hingga kelaparan adalah investasi yang logis.
Namun, sisi analitis di otaknya segera memukul balik. Nisa anak SMK Bisnis. Dia pasti terbiasa melihat realitas yang lebih mapan; cowok-cowok dengan motor sport yang sering nongkrong di depan sekolahnya. Sementara Rafi? Ia hanya anak SMA 3 yang untuk mengajak jalan ke kota tetangga saja harus membedah isi perut ayam plastik.
Rafi menarik laci mejanya, mengambil sebuah buku tabungan kecil yang ia buat sendiri dari buku tulis bekas. Di sana ia mencatat setiap rupiah yang masuk secara detail:
* **15 Februari:** Jual botol bekas - 5.000
* **16 Februari:** Sisa uang jajan - 10.000
* **17 Februari:** Upah mengetik tugas - 2.000
Catatan itu adalah bukti perjuangan kelas bawah yang nyata. Di saat remaja lain di media sosial pamer *healing* atau membeli barang bermerek, Rafi harus berjibaku demi koin lima ratusan. Budaya *gadget* saat ini memang kejam; setiap kali ia membuka Instagram, ia disuguhi standar hidup yang tidak mungkin ia jangkau, membuatnya merasa semakin kecil secara sosial.
"Tiga ratus ribu," ulang Rafi, mempertegas targetnya. "Besok aku harus cari tambahan. Apa pun caranya."
Ia mulai memasukkan kembali uang-uang itu ke dalam celengan. Karena celengannya sudah rusak, ia menutup bagian bawahnya dengan selotip hitam yang sangat tebal. Ia memeluk celengan itu sebentar. Dinginnya plastik ayam itu terasa kontras dengan telapak tangannya yang hangat oleh keringat kecemasan.
Rafi tahu, perjalanan ke Kisaran bukan sekadar perjalanan fisik sejauh 50 kilometer. Itu adalah pertaruhan harga diri. Ia ingin membuktikan bahwa meski rumahnya bocor saat hujan dan sepatunya sudah mulai menganga, ia tetap bisa memberikan hari yang "manusiawi" untuk orang yang ia sukai.
Ia mematikan lampu belajar. Kegelapan segera menelan kamar kecil itu. Rafi berbaring di kasur, menatap langit-langit kamar yang terlihat samar. Di telinganya, suara detak jam dinding seolah berubah menjadi suara deru mesin bus yang akan membawanya ke Kisaran minggu depan.
"Satu minggu lagi," bisiknya sebelum memejamkan mata.
Pikirannya masih sibuk melakukan kalkulasi. Di dunia Rafi, tidak ada ruang untuk variabel *error*. Satu kesalahan kecil dalam perhitungan biaya bisa berarti ia harus menelan malu di depan Nisa. Dan secara logis, itu adalah risiko yang tidak boleh terjadi.
---