Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: PERANG BINTANG DELAPAN YANG AKAN DATANG
Setelah lebih dari seminggu berlalu sejak Rara mengetahui rahasia bahwa dunia cerita yang dia tulis benar-benar ada, kehidupannya menjadi dua bagian yang tidak bisa dipisahkan lagi. Pagi hari dia menjalani kehidupan seperti biasa—kuliah pagi, membantu ibunya di warung makan kecil yang mereka kelola di kawasan Pasar Turi Surabaya, dan berbicara dengan teman-temannya yang sering heran kenapa Rara sering melihat ke arah laptopnya dengan ekspresi yang sangat serius. Tapi ketika malam tiba dan semua orang sudah tidur, Rara akan berlari ke kamar atas yang dulu jadi kamar penyimpanan, membuka laptopnya, dan memasuki "ruang temu" yang bisa dia akses setelah Pak Joko memberinya sebuah aplikasi khusus yang hanya bisa berjalan di laptop lamanya yang dulu milik neneknya.
Di ruang temu itu, dia bisa bertemu langsung dengan Dika dan Pak Joko dari dunia pararel untuk merencanakan strategi menghadapi bahaya yang semakin dekat. Menurut catatan-catatan tua yang mereka temukan di dalam lemari besi di istana kerajaan, setiap seratus tahun sekali akan terjadi "Gerhana Bintang Delapan"—suatu fenomena alam yang membuat semua pintu antar dunia terbuka lebar selama tiga hari penuh. Dan dalam waktu kurang dari dua minggu lagi, gerhana itu akan terjadi. Yang lebih mengkhawatirkan adalah, kelompok jahat bernama "Pasukan Bayangan" yang ingin menguasai semua dunia pararel sudah mulai bergerak dan menyerang beberapa desa kecil di dunia Dika untuk mencari sumber kekuatan yang bisa membuat mereka menjadi tidak terkalahkan.
Saat ini, Rara sedang duduk di ruang temu yang tampak seperti ruang perang dengan peta besar semua dunia pararel di dinding depan. Dika berdiri di samping peta, menunjukkan lokasi-lokasi yang sudah diserang oleh Pasukan Bayangan dengan tangan yang masih sedikit gemetar—karena baru saja mereka berhasil menyelamatkan desa Wonosari dari serangan besar yang hampir menghancurkan seluruh pemukiman penduduknya. Pak Joko sedang duduk di sudut ruangan, memperiksa senjata-senjata kuno yang bisa digunakan untuk melawan Pasukan Bayangan, sambil menjelaskan bahwa senjata itu hanya bisa bekerja jika digenggam oleh orang yang memiliki hubungan darah dengan penjaga pintu antar dunia—yaitu Rara dan Dika.
"Kita sudah kehilangan tiga desa dalam seminggu terakhir," ujar Dika dengan suara berat. "Mereka tidak hanya mengambil sumber daya alam, tapi juga menculik anak-anak muda yang mereka anggap punya potensi kekuatan khusus. Menurut informasi yang kita dapat dari seorang mata-mata yang berhasil menyelinap ke dalam pangkalan mereka, mereka sedang merencanakan serangan besar ke Istana Utama pada malam gerhana dimulai. Jika mereka berhasil menguasai istana, mereka bisa mengendalikan semua pintu antar dunia dengan mudah!"
Rara mendengarkan dengan seksama, sambil mencatat setiap poin penting di buku catatannya. Tiba-tiba saja, layar ruang temu mulai berkedip dan muncul wajah seorang wanita cantik dengan rambut pirang panjang yang mengenakan baju besi perunggu—dia adalah Putri Lila, putri dari kerajaan tetangga yang dulu berseteru dengan kerajaan Dika, tapi kini bersedia bekerja sama karena mereka menghadapi musuh yang sama.
"Maafkan saya datang secara mendadak," ujar Putri Lila dengan sopan. "Saya punya berita penting untuk kalian semua. Pasukan Bayangan sudah mulai menyerang wilayah kami juga, dan kami menemukan sesuatu yang sangat mengkhawatirkan di dalam gua tua yang dilarang masuk di pegunungan Semeru Pararel—mereka sedang membangun sebuah mesin raksasa yang mereka klaim bisa menghancurkan semua penjaga pintu antar dunia sekaligus!"
Kabar itu membuat semua orang terkejut dan diam sejenak. Pak Joko langsung berdiri dan mendekati layar dimana wajah Putri Lila muncul. "Apakah kamu bisa memastikan informasi itu benar, Putri Lila?" tanya Pak Joko dengan suara tegas. "Jika benar, maka kita tidak punya banyak waktu lagi untuk bersiap."
"Saya sendiri sudah melihatnya dengan mata kepala saya sendiri," jawab Putri Lila dengan wajah yang serius. "Mesin itu dibuat dari logam langka yang hanya bisa ditemukan di dunia ini, dan mereka menggunakan darah dari anak-anak yang mereka culik untuk mengisi sumber daya mesin itu. Saya sudah mengirim pasukan terbaik saya untuk mengawasi gerakan mereka, tapi kita tidak bisa menghadapinya sendirian. Saya ingin mengusulkan agar kita membentuk aliansi besar antara semua kerajaan di dunia pararel dan juga mendapatkan bantuan dari dunia kamu, Rara."
Rara mengangguk dengan cepat. "Tentu saja! Saya akan berbicara dengan Pak Joko tentang apa yang bisa kita lakukan dari dunia saya. Mungkin ada teknologi atau ilmu pengetahuan yang bisa kita gunakan untuk membantu kalian. Selain itu, saya juga bisa menulis bagian cerita yang membuat kalian memiliki kekuatan tambahan—karena seperti yang kita ketahui, setiap kali saya menulis sesuatu yang baru di cerita, itu akan menjadi kenyataan di dunia kamu!"
Setelah itu, mereka sepakat untuk membuat rencana aksi yang terbagi menjadi tiga bagian utama. Pertama, Dika akan memimpin pasukan gabungan dari kerajaan nya dan kerajaan Putri Lila untuk mengawasi gerakan Pasukan Bayangan di sekitar gua Semeru Pararel dan mencegah mereka menyelesaikan pembuatan mesin raksasa. Kedua, Pak Joko akan kembali ke dunia nyata bersama Rara untuk mencari benda-benda kuno yang pernah dimiliki oleh nenek Rara—yang dipercaya bisa meningkatkan kekuatan penjaga pintu antar dunia hingga sepuluh kali lipat. Dan ketiga, Rara akan menulis cerita baru yang membuat munculnya sekelompok pendukung baru yang siap membantu mereka dalam perang yang akan datang.
Beberapa hari kemudian, Rara dan Pak Joko pergi ke desa kecil di daerah Malang dimana nenek Rara dulu tinggal. Mereka masuk ke dalam rumah tua yang sekarang sudah dikelola oleh pamannya yang masih tinggal di desa itu. Di dalam kamar bawah tanah yang sudah terkunci selama bertahun-tahun, mereka menemukan sebuah kotak kayu besar yang penuh dengan barang-barang kuno—seperti kalung tambahan dengan simbol bintang delapan, pedang kecil yang bisa berubah bentuk, dan sebuah buku catatan yang lebih lengkap tentang sejarah penjaga pintu antar dunia. Dari buku catatan itu mereka mengetahui bahwa "Perang Bintang Delapan" sudah terjadi tiga kali sebelumnya, dan setiap kali itu penjaga pintu harus bekerja sama dengan semua dunia pararel untuk menghentikan kekuatan jahat yang ingin menguasai semuanya.
Saat mereka sedang memeriksa barang-barang itu, tiba-tiba ada suara ketukan di pintu rumah tua. Pak Joko dengan cepat menyembunyikan kotak kayu dan mengambil senjatanya, sementara Rara bersembunyi di balik rak buku tua. Tapi ketika pintu terbuka, mereka melihat seorang lelaki tua dengan janggut putih panjang yang mengenakan baju petani—dia adalah Kakek Sastro, teman masa kecil nenek Rara yang juga tahu tentang rahasia dunia pararel.
"Aku sudah menunggu kedatangan kalian berdua," ujar Kakek Sastro dengan senyum hangat. "Aku tahu bahwa gerhana akan datang dan perang besar akan terjadi lagi. Aku punya sesuatu yang harus kuberi kalian—sesuatu yang bisa membantu kalian mengalahkan Pasukan Bayangan dan mesin mereka yang mengerikan."
Kakek Sastro kemudian membawa mereka ke belakang rumah, ke bawah pohon beringin tua yang dulu jadi tempat Rara bermain dengan Dika saat kecil. Di bawah akar pohon yang besar itu, mereka menemukan sebuah lubang kecil yang mengarah ke ruang bawah tanah lain yang lebih besar. Di dalam ruangan itu, ada sebuah batu besar berbentuk bintang delapan yang bersinar dengan cahaya keemasan lembut.
"Ini adalah Batu Hati Bintang Delapan," ujar Kakek Sastro sambil menyentuh batu itu dengan penuh hormat. "Batu ini memiliki kekuatan untuk menghubungkan semua hati dan pikiran dari penjaga pintu antar dunia di semua dunia. Dengan batu ini, kalian bisa berkomunikasi secara langsung tanpa perlu melalui ruang temu, dan juga bisa menggabungkan kekuatan kalian menjadi satu. Tapi ingat, batu ini hanya akan bekerja jika kalian menggunakan kekuatannya dengan niat yang benar dan tanpa rasa tamak atau dendam."
Rara dan Pak Joko sangat senang mendapatkan benda ajaib itu. Mereka berterima kasih kepada Kakek Sastro dan langsung bergegas kembali ke Surabaya untuk segera mengirim batu itu ke dunia Dika melalui pintu antar dunia yang bisa diakses dari kamar atas rumah Rara. Saat batu itu sampai di dunia Dika, Dika dan Putri Lila langsung merasakan getaran kekuatan yang sangat kuat dari batu itu. Mereka segera mengumpulkan semua pemimpin kerajaan untuk melakukan upacara pemilihan pemimpin aliansi yang akan memimpin perang melawan Pasukan Bayangan.
Setelah melakukan diskusi yang panjang dan penuh dengan perdebatan sehat, akhirnya mereka sepakat untuk memilih Rara sebagai pemimpin aliansi—meskipun dia berasal dari dunia yang berbeda, tapi mereka tahu bahwa Rara adalah satu-satunya yang bisa melihat seluruh gambaran perang dan memiliki kekuatan untuk mengubah jalannya cerita sesuai dengan kebutuhan mereka. Rara merasa sangat terkejut dan sedikit takut, tapi dengan dukungan dari Dika, Pak Joko, dan Putri Lila, dia menerima tanggung jawab itu dengan penuh keberanian.
Beberapa hari sebelum gerhana dimulai, semua pasukan aliansi berkumpul di sekitar Istana Utama untuk melakukan latihan terakhir dan mengatur posisi pertahanan. Rara menghabiskan waktu sebagian besar malamnya untuk menulis cerita yang membuat pasukan mereka memiliki perlengkapan perang yang lebih kuat dan juga membuat munculnya rute-rute rahasia yang bisa digunakan untuk menyerang pangkalan Pasukan Bayangan dari belakang. Saat dia mengetik setiap kata dengan teliti, dia bisa merasakan bahwa dunia cerita nya sedang berubah sesuai dengan apa yang dia tulis—langit menjadi lebih cerah, angin membawa harapan, dan semua prajurit merasa lebih kuat dan penuh semangat.
Pada malam pertama gerhana bintang delapan, langit di dunia pararel menjadi sangat gelap kecuali untuk delapan bintang yang bersinar sangat terang membentuk simbol yang sudah dikenal semua orang. Pasukan Bayangan muncul dengan jumlah yang sangat banyak dari arah gunung Semeru Pararel, membawa dengan mereka mesin raksasa yang sudah selesai dibuat dan siap digunakan. Pimpinan Pasukan Bayangan yang dikenal sebagai "Kepala Bayangan" muncul di atas mesin itu dengan wajah yang tertutup helm hitam dan suara yang menyeramkan.
"Sekarang waktunya kita menguasai semua dunia!" teriak Kepala Bayangan dengan suara yang terdengar di seluruh penjuru kerajaan. "Tidak ada yang bisa menghalangi kita sekarang!"
Tapi sebelum mereka bisa menyerang, Rara muncul di atas tembok pertahanan istana bersama dengan Dika, Putri Lila, dan Pak Joko. Rara mengangkat Batu Hati Bintang Delapan yang sekarang sudah terpasang di atas pilar besar di tengah istana, dan dengan suara yang kuat dan jelas dia berteriak, "Kita tidak akan pernah membiarkan kamu menyakiti orang-orang yang kita cintai dan menguasai dunia-dunia yang penuh dengan kehidupan ini! Mari kita tunjukkan padanya bahwa kekuatan persatuan jauh lebih kuat dari kekuatan keinginan untuk menguasai!"
Saat kata-kata itu keluar dari mulutnya, Batu Hati Bintang Delapan mulai bersinar dengan sangat terang hingga hampir tidak bisa dilihat. Cahaya itu menyebar ke seluruh pasukan aliansi, membuat setiap prajurit merasa kekuatan yang luar biasa mengalir di dalam tubuh mereka. Dika mengambil pedang kuno yang diberikan oleh Pak Joko dan mulai memimpin pasukan untuk menyerang dari depan, sementara Putri Lila memimpin pasukan lain untuk menyerang dari sisi kiri dan kanan. Pak Joko mengendalikan pasukan pengawal untuk melindungi istana dan penduduk yang tidak bisa berperang, sementara Rara tetap berada di atas tembok untuk terus menulis cerita yang membantu mereka mengalahkan musuh-musuh yang datang dengan jumlah yang terus bertambah.
Perang berlangsung selama berjam-jam tanpa ada tanda-tanda akan berakhir. Pasukan Bayangan memang sangat kuat dan memiliki senjata yang canggih, tapi pasukan aliansi memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh Pasukan Bayangan—semangat juang yang kuat dan rasa persatuan yang mendalam. Setiap kali ada prajurit aliansi yang terjatuh, yang lain akan segera menggantikannya dan terus berjuang dengan penuh semangat. Rara menulis dengan tangan yang cepat dan penuh fokus, membuat munculnya medan perang yang menguntungkan mereka, membuat senjata musuh menjadi tidak berfungsi, dan membuat munculnya bantuan dari makhluk-makhluk ajaib yang dulu tinggal di hutan misterius dan sekarang bersedia membantu mereka.
Saat mendekati fajar hari kedua gerhana, akhirnya mereka berhasil mencapai mesin raksasa yang dibuat oleh Pasukan Bayangan. Dika dengan keberanian yang luar biasa berhasil mencapai bagian mesin yang menjadi sumber kekuatannya dan menghancurkannya dengan pedangnya yang sudah diperkuat oleh kekuatan Batu Hati Bintang Delapan. Saat mesin itu hancur dengan suara ledakan yang sangat besar, sebagian besar pasukan Bayangan menjadi lemah dan mulai mundur. Kepala Bayangan mencoba untuk menyerang Rara secara langsung, tapi sebelum dia bisa mencapai nya, Pak Joko muncul dan menghalanginya dengan senjatanya. Mereka bertarung dengan sangat sengit, dan akhirnya Pak Joko berhasil mengalahkannya dengan bantuan dari Putri Lila yang datang tepat waktu.
Dengan kepemimpinannya yang hilang dan mesin raksasanya yang hancur, sisa-sisa pasukan Bayangan akhirnya menyerah dan dikirim ke penjara khusus yang dibuat untuk mereka di dalam gua tua yang dulu mereka gunakan sebagai pangkalan. Saat gerhana bintang delapan mulai mereda dan matahari mulai muncul lagi di langit dunia pararel, seluruh kerajaan meriahkan kemenangan mereka dengan tarian, musik, dan makanan yang berlimpah. Rara diangkat sebagai pahlawan besar di dunia pararel, dan dia dijanjikan bahwa dia selalu akan punya tempat di sana kapan pun dia mau datang.
Namun Rara tahu bahwa tugasnya belum selesai sepenuhnya. Dia masih harus terus menulis cerita untuk menjaga keseimbangan antara dunia nya dan dunia pararel, dan juga harus siap menghadapi bahaya yang mungkin muncul di masa depan. Tapi dia tidak merasa takut lagi—karena dia tahu bahwa dia tidak sendirian. Dia punya teman-teman sejati di kedua dunia, dan mereka akan selalu siap bekerja sama untuk melindungi apa yang mereka cintai.
Saat malam hari tiba dan Rara kembali ke dunia nya, dia duduk di depan laptopnya dengan senyum bahagia di wajahnya. Dia membuka file cerita nya dan mulai menulis bab baru dengan judul "Keseimbangan yang Harus Dijaga", karena dia tahu bahwa cerita mereka masih panjang dan masih banyak hal menarik yang akan terjadi di dunia pararel yang penuh dengan misteri dan keajaiban tersebut.