NovelToon NovelToon
Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Rania Wiratama seorang gadis yang dipaksa menikahi pembully-nya di Masa lalu atas keinginan terakhir Eyang Kartika, Rania bekerja sebagai Photography dan penjual foto lewat website.
Arga Prananda seorang pria yang bekerja di anjungan laut lepas, nampak menyesali perbuatannya pada Rania. Rasa bersalah selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi obsesi sekaligus cinta. Rania yang sudah memendam rasa benci dan trauma tak mampu menatap apalagi bersama Arga. Tapi Arga selaku suami dan Imam bagi Rania berjanji untuk membimbing dan menuntun istrinya ke jalan agama, sekaligus mencintai Rania. Bagaimana akhir pernikahan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Rania duduk di depan layar laptopnya, di dalam kamar.

Matanya menatap deretan foto yang baru saja dirinya unggah, potret langit mendung dengan pelangi, bayangan cahaya di balik tirai, dan potret kupu-kupu di atas bunga sepatu.

Menjual foto secara daring adalah caranya bertahan hidup, sekaligus caranya menghindari dunia luar yang menurutnya sangat menakutkan---Karena terbayang masa lalu.

Tak lama pintu kamarnya di ketuk pelan oleh sang ibu.

Tok...Tok...Tok.

"Rania makan malam sudah siap," ujar sang ibu lalu menutup pintu.

"Aku kesana Bu," jawabnya.

Rania segera mematikan laptopnya, lalu dirinya akan melayani pembeli lagi nanti---setelah makan malam.

Flashback Masa lalu.

Rania tengah berjalan di lorong sekolah, nyaris tak bersuara dan berharap dunia lupa pada keberadaanya.

Tas ransel yang warnanya hitam mengkilap, tengah di punggungnya.

"Eh Rania...Si Cewek Boyott lewat," ejek salah seorang laki-laki yang terkenal keren.

Tawa meledek di belakangnya, Rania nampak tak bergeming---Sudah hafal dengan suara itu, disertai dengan ejekan, dorongan, dan rasa yang menyesakan dada.

"Kenapa sih pala lu nunduk?

"Biasa, kebanyakan mahkluk gaib makannya nunduk."

"Iya lah si cupu pakai kacamata, auranya gelap kaya dukun."

Langkah Rania terhenti saat seorang menghadangnya, sepatunya hitam berdiri di depannya---Arga Prananda si ketua geng, tampan dengan mata yang indah dan perawakan yang tinggi.

Nampak Arga sangat tampan, cewek-cewek di sekolah nampak kagum dengan ketampanannya. Wajahnya tampan dengan senyum mengejek yang membuat siapapun terbuai.

"Arga...," ujar Rania dengan lirih menelan salivanya.

Arga si Pangeran sekolah---Para gadis menyebutnya dengan sebutan si cowok cool.

Rania sendiri amat terpukau dengan ketampanannya, dan jatuh cinta tapi dirinya pendam dalam hatinya.

Gadis ini malah melangkah ke samping, namun di halangi oleh Arga.

"Wiss...nenek sihir mau kemana?" tanya Arga menghalangi jalan Rania.

"Guyss...geledah!" titah Arga.

"Lo pada mau ngapain?!" tanya Rania, saat tasnya mau di rebut oleh geng dari Arga.

Tasnya di angkat setinggi mungkin lalu di geledah, di sana ada selembar foto yang belum selesai di edit---Potret langit senja.

"Wahh, apaan ini?" ucap Arga melihat foto itu, lalu dengan sengaja merobeknya di depan wajah Rania.

"Jangan mimpi lu mau jadi Ansel Adams!" tunjuk Arga di depan wajah Rania.

Rania darahnya sudah mendidih.

Karena gadis ini merasa tak pernah menganggu Arga atau siapapun, setiap tawa dan hinaan mereka terdengar seperti pisau kecil yang menggores hatinya berulang kali.

PLAK.

Satu tamparan membuat wajah Arga terbalik ke samping, mata Rania sudah berkaca-kaca.

"Salah gua ama lu tuh apaan sih!!" marah Rania menatap Arga.

Arga menatap Rania, tangannya mencengkram kerah baju gadis malang itu.

Hari yang tak pernah di lupakan Rania seumur hidupnya, sejak hari itu Arga selalu membully dan menindasnya.

Bahkan yang Rania ingat Arga dan gengnya yang rata-rata pria pernah memukul perutnya.

Air mata jatuh tanpa bisa di tahan, Rania pulang dengan tubuh yang sakit. Bahkan di tubuh Rania ada yang sampai lebam di buat oleh Arga.

Masa lalunya nampak kelam, Rania harus menerima rasa sakit.

Saat jam istirahat pun Rania tak luput dari bullying, bahkan Arga menyandung kakinya.

Selain itu, teman-teman Arga juga memukulinya.

Entah salah apa gadis ini pada mereka semua, mungkin dulu Rania cuek dengan penampilannya.

Rania mengenakan seragam atasan putih dan bawah biru, mau berjalan keluar gerbang sekolah. Lalu dirinya saat mau melangkah ke gerbang sekolah malah di dorong sampai terjatuh.

"Karin...kasian," ujar anak-anak yang lain melihat Rania jatuh.

"Rasain lo, itu akibatnya lo deketin cowok gua!" marah Karin menunjuk Rania.

"Argh...," dengus Rania yang lutut berdarah.

Tiada yang mau menolongnya, karena takut jika menolong Rania mereka juga yang terseret dalam masalah---Karin adalah anak kepala sekolah yang suka bersikap seenaknya.

"Karin Lo apa-apaan sih?" marah Rania.

"Yah lu tuh udah berani deketin cowok gua!" marah Karin pada Rania.

Rania amat kaget mendengar penuturan Karin karena dirinya sendiri juga tak mengerti, kadang Arga sendiri yang membullynya.

Hari-hari pun berlalu baik Arga terus membully Rania, entah salah apa Rania pada Arga sehingga pria itu tega melakukan ini padanya.

Sampai titik terendah, Rania yang memiliki darah Ambon dan Papua dari sang ibu mengamuk di kelas, apapun barang di kelas di lempar.

Arga melihat pertama kali Rania mengamuk, hingga tanpa sadar gadis ini mencekik leher Arga.

"Eh panggilin guru!"

"Iya Rania kaya orang kesurupan," ungkap teman-teman yang lain.

Arga Prananda.

Bisa melihat bagaimana jika Rania marah, matanya melotot dan bahkan terlihat jika itu bukan Rania, Arga di suruh pergi dan jangan mendekat lagi.

Flashback Off.

Ingatan itu menjadi luka yang serius bagi Rania, sungguh malang gadis ini. Dirinya memendam trauma ini selama bertahun-tahun.

Rania sekarang menjadi photographer dan penjual photo lewat media sosial, yang penghasilannya juga lumayan, bahkan gadis ini pernah bikin website.

Dengan penghasilan itu, gadis ini mulai merawat diri.

Terlihat Rania ingin menikmati penghasilannya terlebih dahulu, dari penghasilannya dirinya melakukan backpacker.

Backpacker ke tempat sejarah, hutan, dan Tracking hanya untuk mengambil foto lalu di jual.

Malam ini keluarga itu duduk di meja makan, ayah Rania melihat anak perempuannya melamun. Kedua orangtua itu saling memandang putrinya heran.

Rania makan tapi wajahnya nampak murung, di sana sang ayah menatap putrinya.

"Rania...," panggil sang ayah dengan lirih.

"Iyaa," jawabnya.

"Makanlah jangan mikirin yang nggak-nggak," kata sang ayah.

"Iya Nak," ucap sang ibu.

"Jangan mikir yang nggak-nggaklah, apa yang kamu pikirkan? Setelah menikah nggak bisa backpacker?" tanya sang ayah.

Ayahnya berdarah Jawa, jadi jika pada sang suami masih mengandalkan jangan berani atau bahkan membantah.

"Kamu bisa melakukan itu lagi, ayah lihat calon suamimu sangat baik," ujar sang ayah.

"Iya Rania," Timpal sang ibu yang menyuapkan nasi ke mulutnya.

"Dan jangan pikirkan soal besok kamu tunangan, karena MUA dan kebaya sudah ibu siapkan," kata ibunya dengan senyum manis khas orang indonesia timur.

Rania hanya menghela napas, lalu menatap kedua orangtuanya.

"Besok jam berapa mau diadakan tunangan?" tanya Rania menyuapkan ikan cakalang ke mulutnya.

"Abis zuhur, keluarga calon suamimu akan datang," kata sang ibu.

Rania menatap heran.

Kenapa calon suaminya tak di beritahu, minimal harus di sebut namanya.

Ah masa bodo yang terpenting besok dirinya akan bekerja di pagi hari dan zuhur MUA akan datang.

*

*

*

1
DewiKar72501823
kak putri cerita mu bagus sekali..the best 👍🏻🥰
Putri Sabina: makasih kakak udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!