Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.
Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.
Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.
Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Detak Jam dan Badai Kemurkaan
Perjalanan kembali menuju penthouse malam itu terasa seperti perjalanan panjang menuju blok eksekusi mati bagi Nadin Kirana.
Di dalam kabin mobil Maybach yang melaju menembus kemacetan ibu kota, Nadin duduk membeku. Tas tangan kulitnya dia pangku erat-erat di atas paha, seolah tas itu adalah satu-satunya perisai yang dia miliki. Di dalam saku rahasia tas tersebut, sebuah flashdisk hitam kecil tersembunyi dengan aman. Benda sekecil itu kini memuat rahasia triliunan rupiah milik kerajaan bisnis Gilang Mahendra, sekaligus memegang kunci atas nyawa ayah dan adik Nadin.
Gilang duduk di sebelahnya dengan mata terpejam, menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi. Pria itu terlihat sangat kelelahan setelah berhadapan dengan para birokrat yang keras kepala. Meskipun matanya terpejam, tangan kanan Gilang yang besar dan hangat menggenggam erat telapak tangan kiri Nadin. Jemari pria itu mengusap pelan cincin ruby yang melingkar di jari manis Nadin, sebuah gerakan tidak sadar yang menunjukkan betapa posesifnya pria ini.
Kehangatan dari genggaman tangan Gilang itu justru membuat Nadin merasa mual karena rasa bersalah. Pria ini baru saja mengatakan bahwa Nadin aman bersamanya. Pria ini memeluknya saat dia gemetar ketakutan di ruang kerja tadi. Dan sebagai balasannya, Nadin telah menancapkan belati tajam tepat di punggung pria itu.
Mobil akhirnya memasuki area parkir bawah tanah apartemen. Gilang membuka matanya. Rasa lelah di wajah pria itu menguap seketika, digantikan oleh ketajaman seorang pemangsa yang sudah menjadi sifat dasarnya. Gilang melepaskan genggaman tangannya, keluar dari mobil, dan menunggu Nadin.
Mereka naik lift dalam keheningan yang mencekik. Setibanya di penthouse, Gilang langsung melepaskan jas dan dasinya, melemparkannya ke atas sofa di ruang tengah.
"Aku akan mandi air hangat. Kepalaku rasanya mau pecah," ucap Gilang sambil melonggarkan kancing kemejanya. Pria itu menoleh menatap Nadin yang masih berdiri kaku di dekat pintu masuk. "Minta pelayan menyiapkan makan malam untuk kita berdua di meja makan. Aku ingin kau menemaniku makan malam ini. Jangan membantah."
"Baik, Gilang," jawab Nadin pelan.
Gilang berjalan menuju kamar utama, meninggalkan Nadin sendirian di ruang tengah. Begitu pintu kamar utama tertutup, Nadin menghembuskan napas yang sedari tadi dia tahan. Kakinya terasa selembek jeli. Dia bergegas berjalan menuju kamar mandi tamu yang ada di dekat lorong dapur.
Nadin mengunci pintu kamar mandi tamu itu. Dia membuka tasnya dengan tangan yang gemetar hebat, mengambil flashdisk hitam itu, dan menatapnya. Dia tidak mungkin menyembunyikan benda ini di tasnya selamanya. Gilang memiliki kebiasaan memeriksa barang-barangnya tanpa izin. Nadin harus mencari tempat yang tidak akan pernah disentuh oleh pria itu.
Pandangan Nadin jatuh pada kotak ventilasi udara di sudut atas dinding kamar mandi. Dengan menggunakan kursi kecil, Nadin memanjat naik, membuka penutup ventilasi itu sedikit, dan meletakkan flashdisk tersebut di celah gelap di dalamnya. Dia menutupnya kembali dengan sangat hati-hati. Benda itu aman untuk sementara waktu.
Pukul tujuh malam, Nadin sudah duduk di kursi meja makan panjang berbahan marmer hitam. Dia telah mengganti pakaian kerjanya dengan sebuah gaun rumah berbahan katun lembut berwarna putih pucat. Di hadapannya, tersaji hidangan daging panggang mewah dan sebotol anggur merah yang harganya setara dengan gaji tahunan seorang manajer.
Gilang melangkah keluar dari kamarnya. Pria itu terlihat jauh lebih segar. Dia hanya mengenakan kaus oblong hitam polos dan celana pendek kain yang santai, namun auranya tetap terasa mendominasi seluruh ruangan. Rambutnya masih sedikit basah, menyebarkan aroma sabun mandi maskulin yang sangat khas.
Gilang duduk di kursi utama, tepat di sebelah kanan Nadin. Pria itu menuangkan anggur merah ke dalam dua gelas kristal, menyorongkan satu gelas ke arah Nadin, lalu mulai memotong daging di piringnya.
Dentingan pisau dan garpu yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara di ruangan itu. Nadin menatap makanannya dengan pandangan kosong. Perutnya melilit hebat. Dia melirik jam dinding besar di ruang tengah. Pukul tujuh lewat lima belas menit. Empat puluh lima menit lagi sebelum Bastian mengeksekusi rencananya.
"Kau tidak makan, Nadin," tegur Gilang, menghentikan gerakan pisaunya. Pria itu menoleh dan menatap Nadin dengan kening berkerut. "Wajahmu pucat sejak kita pulang dari kantor tadi. Apakah kau sakit?"
Pertanyaan itu terdengar sangat tulus, dan itu membuat hati Nadin semakin tersiksa.
"Saya hanya merasa sedikit lelah, Gilang. Hari ini terlalu banyak hal yang terjadi," jawab Nadin, memaksakan diri untuk memotong secuil daging dan memasukkannya ke dalam mulut, meskipun rasanya seperti mengunyah serbuk gergaji.
Gilang meletakkan alat makannya. Pria itu memutar kursinya sedikit agar bisa menghadap Nadin sepenuhnya. Tangan Gilang terulur, menyentuh kening Nadin dengan punggung jarinya untuk mengecek suhu tubuh wanita itu.
"Suhumu normal," gumam Gilang pelan. Pria itu lalu membelai rahang Nadin, menatap langsung ke dalam mata wanita itu. "Setelah urusan perizinan Menara Selatan ini selesai minggu depan, aku akan mengosongkan jadwalku selama beberapa hari. Aku akan membawamu pergi dari kota ini. Kita bisa pergi ke pulau pribadiku di utara. Hanya kau dan aku. Kau bisa beristirahat di sana tanpa harus memikirkan rumah sakit atau gambar arsitektur."
Nadin memejamkan matanya mendengar rencana itu. Liburan berdua ke pulau pribadi. Gilang benar-benar sedang membangun masa depan untuk mereka berdua, sebuah masa depan di mana Nadin menjadi ratu di dalam sangkar emasnya. Jika saja Nadin tidak pernah melihat foto ayahnya yang disiksa, dia mungkin akan mulai luluh pada perhatian posesif pria ini.
"Terima kasih, Gilang," bisik Nadin. Dia membuka matanya dan memaksakan sebuah senyuman.
Gilang membalas senyuman itu dengan tatapan yang sangat dalam. Pria itu kembali melanjutkan makan malamnya.
Jarum jam terus bergerak tanpa kenal ampun. Pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit. Keringat dingin mulai membasahi punggung Nadin. Napasnya terasa semakin pendek. Dia menggenggam gelas anggurnya sangat erat untuk menyembunyikan tangannya yang bergetar.
Lima menit menjelang pukul delapan. Udara di dalam penthouse itu terasa seolah mulai membeku. Nadin menatap jam dinding. Detik demi detik berlalu bagaikan tetesan air yang jatuh di ruang penyiksaan.
Apakah Bastian akan menepati janjinya? Apakah anak buah Bastian sedang bergerak menuju gudang bawah tanah itu sekarang? Bagaimana dengan Arya di rumah sakit? Berbagai skenario buruk meledak di dalam kepala Nadin.
Tepat pada pukul delapan malam, suara dentangan pelan dari jam dinding antik di sudut ruang tengah memecah keheningan. Satu. Dua. Tiga. Hingga delapan kali.
Nadin menahan napasnya. Waktu eksekusi telah tiba.
Satu menit berlalu. Tidak ada yang terjadi. Gilang masih menyesap anggur merahnya dengan tenang sambil membaca sesuatu di ponselnya.
Dua menit berlalu. Tiga menit. Lima menit.
Nadin mulai merasa bingung. Apakah program di dalam flashdisk itu gagal bekerja? Atau apakah Bastian sedang mengulur waktu?
Tepat pada pukul delapan lewat tujuh menit, ponsel khusus milik Gilang yang diletakkan di atas meja makan tiba-tiba berdering nyaring. Nada dering itu berbeda dari biasanya. Itu adalah nada dering khusus untuk saluran darurat perusahaan.
Perhatian Gilang langsung teralih. Pria itu meletakkan gelasnya dan mengambil ponsel tersebut. Dia menggeser tombol hijau di layar.
"Bicara," perintah Gilang singkat.
Nadin mencengkeram tepi meja marmer di bawah meja. Jantungnya berpacu sangat liar hingga telinganya berdenging. Dia menatap wajah Gilang lekat-lekat, memperhatikan setiap perubahan ekspresi yang akan terjadi.
Di seberang panggilan sana, terdengar suara seorang pria yang berbicara dengan nada sangat panik dan terburu-buru. Nadin tidak bisa mendengar isi percakapan itu, namun dia bisa melihat reaksi Gilang secara langsung.
Wajah Gilang yang tadinya tenang dan santai, mendadak membeku. Otot-otot di sekitar rahang pria itu menonjol keluar, mengeras bagaikan pahatan batu. Mata hitam yang biasanya memancarkan aura dominasi itu kini melebar sedikit, sebelum akhirnya menyipit menjadi tatapan paling mematikan yang pernah Nadin lihat seumur hidupnya.
Suhu di dalam ruang makan itu turun drastis. Udara terasa seperti ditarik paksa keluar dari ruangan. Gilang tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas laporan di telepon itu. Pria itu hanya mendengarkan dalam keheningan yang luar biasa mengerikan.
Tangan kanan Gilang yang memegang ponsel mencengkeram alat elektronik itu dengan kekuatan penuh, hingga buku-buku jarinya memutih pucat.
"Putuskan semua koneksi server utama ke jaringan luar sekarang juga," geram Gilang akhirnya. Suaranya terdengar sangat rendah, bergetar oleh amarah murni yang siap meledak. "Kunci seluruh akses gedung. Tidak ada satu pun lalat yang boleh keluar dari lantai enam puluh. Aku akan menghancurkan siapa pun yang bertanggung jawab atas ini."
Gilang mematikan panggilan itu sepihak. Pria itu meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dengan gerakan perlahan, gerakan yang sangat kontras dengan badai kemurkaan di dalam dirinya.
Selama beberapa detik, Gilang hanya duduk diam menatap meja marmer. Dadanya naik turun dengan cepat. Nadin tidak berani bergerak sedikit pun. Dia merasa seperti sedang duduk satu meja dengan seekor singa yang baru saja terluka parah dan siap mencabik-cabik apa saja di sekitarnya.
Lalu, perlahan-lahan, kepala Gilang menoleh. Mata hitam pekat itu bergerak mengunci sosok Nadin yang duduk kaku di sebelahnya.
Tatapan Gilang saat ini bukanlah tatapan seorang kekasih yang posesif. Itu adalah tatapan seorang algojo. Tatapan yang menguliti Nadin hingga ke dasar jiwanya. Pikiran Gilang yang sangat cerdas dan analitis bekerja dengan kecepatan kilat, menyusun setiap kepingan kejadian hari ini menjadi sebuah gambar utuh yang sangat menyakitkan baginya.
Gilang teringat pada pintu ruang kerjanya yang dikunci dari dalam. Dia teringat pada alasan Nadin yang terbata-bata tentang mencari pena cadangan. Dia teringat pada tubuh Nadin yang bergetar saat dia peluk, yang dia pikir adalah ketakutan karena teriakan kasarnya, padahal itu adalah ketakutan dari seorang pengkhianat yang tertangkap basah. Tidak ada orang lain di dalam ruang kerja itu siang tadi selain Nadin Kirana.
Gilang berdiri dari kursinya. Gerakan pria itu begitu tiba-tiba hingga kursi marmer yang berat itu terdorong ke belakang dengan suara decitan yang memekakkan telinga.
"Ternyata aku memelihara seekor ular berbisa di dalam ranjangku sendiri," desis Gilang. Suaranya tidak keras, namun kata-kata itu terasa seperti cambuk besi yang menghantam wajah Nadin.
Nadin memucat pasi. Kakinya gemetar hebat saat dia ikut berdiri, berniat memundurkan langkahnya untuk menjauh dari pria itu. "Gilang, dengarkan saya. Saya bisa menjelaskannya."
"Menjelaskan apa?" potong Gilang dingin. Pria itu melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka. Tubuhnya yang tinggi besar menciptakan bayangan gelap yang mengurung Nadin sepenuhnya. "Menjelaskan bagaimana kau memasukkan alat peretas ke dalam komputer pribadiku? Menjelaskan bagaimana kau menjual semua data rahasia perusahaanku kepada musuh terbesarku di belakang punggungku?"
"Anda yang memaksa saya melakukan ini!" teriak Nadin, suaranya pecah oleh keputusasaan dan ketakutan yang meluap. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya. Dia tidak bisa bersembunyi lagi. Semuanya sudah terbongkar. "Anda membohongi saya sejak awal! Anda yang menyekap ayah saya dan menyiksanya di gudang gelap itu! Anda yang membuat skenario utang sepuluh miliar ini agar Anda bisa menguasai saya seperti barang dagangan!"
Langkah Gilang terhenti seketika. Kemarahan di wajah pria itu beradu dengan raut keterkejutan yang sangat nyata. Alis tebal Gilang berkerut dalam.
"Menyekap ayahmu?" ulang Gilang. Nada suaranya berubah aneh, campuran antara kebingungan dan kemarahan yang semakin pekat. "Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan, Nadin?"
"Jangan berpura-pura lagi, Gilang! Bastian menunjukkan videonya kepada saya siang tadi," isak Nadin, mundur hingga punggungnya menabrak dinding dingin ruang makan. "Saya melihat Anda berdiri di depan ayah saya yang sedang dipukuli. Saya melihat Anda menyalakan rokok di dalam gudang penyiksaan itu. Bastian berjanji akan membebaskan ayah saya dan menyelamatkan Arya jika saya memberikan data itu kepadanya."
Mendengar nama Bastian disebut, kilat pemahaman menyambar mata hitam Gilang. Keterkejutan di wajah pria itu seketika lenyap, digantikan oleh tawa sinis yang sangat kelam dan mengerikan. Tawa itu menggema di dalam penthouse, membuat darah Nadin benar-benar membeku.
Gilang menggelengkan kepalanya pelan. Dia memandang Nadin dengan tatapan yang menyiratkan kekecewaan yang luar biasa dalam. Bukan kecewa karena data perusahaannya dicuri, melainkan kecewa karena wanita yang dia puja dengan segala obsesinya ternyata begitu mudah dimanipulasi oleh musuhnya.
"Kau sangat cerdas dalam membaca struktur bangunan, Nadin, tapi kau sangat bodoh dalam membaca karakter manusia," ucap Gilang dengan suara parau.
Gilang melangkah maju lagi, kali ini pria itu mengunci Nadin ke dinding dengan meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Nadin. Hawa panas kemurkaan dari tubuh Gilang terasa membakar kulit Nadin.
"Bastian Wirawan tidak peduli pada ayahmu, apalagi adikmu," desis Gilang tepat di depan wajah Nadin. "Bastian adalah dalang di balik utang sepuluh miliar ayahmu. Bastian yang menyuap ayahmu untuk mencuri uang perusahaan agar perusahaan properti kecil itu bangkrut, karena Bastian ingin mengakuisisi lahan mereka dengan harga murah. Aku memang mencari ayahmu, tapi untuk menginterogasinya, bukan menyekapnya. Video yang kau lihat itu adalah rekaman enam bulan yang lalu saat aku berhasil melacak ayahmu di markas rentenir sewaan Bastian."
Nadin melebarkan matanya. Napasnya tercekat di tenggorokan. Seluruh teori di kepalanya runtuh berkeping-keping. "Tidak. Itu tidak mungkin. Anda berbohong."
"Untuk apa aku berbohong padamu sekarang?" geram Gilang. Tangan kanan pria itu turun mencengkeram rahang Nadin dengan kuat, memaksa wanita itu menatap matanya yang dipenuhi amarah. "Kau menjualku pada bajingan itu karena sebuah kebohongan murahan. Dan kau tahu apa hal yang paling menyedihkan dari pengkhianatanmu ini, Nadin?"
Gilang mendekatkan bibirnya ke telinga Nadin. Suara pria itu kini berubah menjadi bisikan tajam yang merobek kewarasan Nadin.
"Sistem keamananku sudah mendeteksi unduhan ilegal itu sejak siang tadi. Aku tahu seseorang meretas komputerku dari dalam ruanganku sendiri," ungkap Gilang, menghancurkan sisa harapan Nadin. "Aku membiarkan proses unduhan itu selesai. Tapi aku telah mengubah enkripsi datanya. Data yang kau berikan pada Bastian bukanlah rahasia perusahaanku. Itu adalah virus pelacak yang saat ini sedang menghancurkan seluruh sistem keamanan Wirawan Group dari dalam."
Jantung Nadin seakan berhenti berdetak. Gilang tahu. Pria ini sudah tahu sejak awal. Gilang berada sepuluh langkah di depan mereka semua.
"Lalu... lalu bagaimana dengan kesepakatan pembebasan ayah saya?" Nadin bertanya dengan suara bergetar putus asa.
"Tidak akan ada pembebasan," jawab Gilang tanpa belas kasihan. Pria itu menatap lurus ke dalam mata Nadin yang kini dipenuhi teror murni. "Bastian baru saja menyadari bahwa dia masuk ke dalam perangkapku. Dia tidak akan membuang waktu dan tenaganya untuk menyelamatkan ayah seorang wanita yang kini tidak lagi berguna baginya. Ayahmu akan ditinggalkan mati di tangan para rentenir itu malam ini juga, dan itu semua terjadi karena kebodohanmu sendiri."
Nadin merasa lututnya kehilangan tulang. Dia merosot ke lantai, namun tangan kuat Gilang menahan tubuhnya agar tetap berdiri. Air mata mengalir deras dari mata Nadin, diiringi isakan penyesalan yang menghancurkan hatinya. Dia telah mengkhianati pria yang sebenarnya melindunginya, dan sebagai bayarannya, dia justru mengantarkan ayahnya sendiri menuju kematian di tangan Bastian Wirawan.
Di dalam ruang makan yang dingin itu, Gilang menatap wanita yang sedang menangis hancur di dalam pelukannya. Kemarahan di dada pria itu masih menyala terang, namun ada rasa sakit yang aneh menyertai kemarahan tersebut. Nadin telah merusak kepercayaannya, dan malam ini, Gilang bertekad untuk memberikan hukuman yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh wanita ini seumur hidupnya.