Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Siang itu, pelataran parkir universitas ternama di Los Angeles yang biasanya dipenuhi tawa mahasiswa mendadak mencekam. Fharell baru saja menyelesaikan kelas makroekonomi terakhirnya dan hendak menuju mobil untuk menjemput Andreas Sunny di Pre-School, namun langkahnya terhenti.
Sesosok pria dengan setelan jas desainer yang tampak kusut bersandar di kap mobil Fharell. Itu Danesha Smith. Selama dua bulan terakhir, Danesha telah berubah menjadi bayangan yang mengerikan. Ia menyewa detektif, mengintai apartemen, bahkan mencoba menyuap pengasuh Sunny hanya untuk mendapatkan sehelai rambut atau bekas air liur balita itu demi tes DNA. Namun, sistem keamanan yang dipasang Fharell terlalu rapat. Danesha frustrasi, dan rasa frustrasi itu kini berubah menjadi delusi yang berbahaya.
"Masih sibuk bermain menjadi mahasiswa teladan, Rell?" Danesha menyapa dengan suara serak, matanya merah seolah tidak tidur berhari-hari.
Fharell menghentikan langkahnya, wajahnya mengeras. "Minggir dari mobilku, Danesha. Aku tidak punya waktu untuk meladeni kegilaanmu."
Danesha tertawa, tawa kering yang terdengar menyedihkan. Ia melangkah mendekat, memperkecil jarak hingga napasnya yang berbau kopi pahit terasa di wajah Fharell. "Kau bisa menyembunyikan dokumennya, kau bisa mengunci pintumu, tapi kau tidak bisa menghapus kenyataan. Aku tahu anak itu anakku, Rell."
Deg.
Jantung Fharell seolah berhenti berdetak sesaat. Darahnya berdesir hebat. Apa ini? Apa dia sudah tahu? Apa dia sudah menemukan catatan medis Sania yang asli? Apa dia tahu kalau anak yang dia telantarkan itu masih hidup? gumaman hati Fharell bergejolak hebat di balik dadanya yang sesak.
Namun, kalimat Danesha selanjutnya membuat Fharell tersentak ke realitas yang jauh lebih gila.
"Aku tahu sekarang kenapa Paroline begitu protektif," lanjut Danesha dengan senyum miring yang memuakkan. "Aku tahu Paro sangat mencintai anak kami. Dia wanita yang luar biasa, bukan? Dia tidak pernah menuntut pertanggung jawabanku, dia memilih menyembunyikan kehamilannya dariku selama bertahun-tahun hanya karena dia membenciku. Tapi darah lebih kental dari kebencian, Rell. Aku, Danesha Smith, bersumpah akan merebut putraku... dan juga Paro-ku kembali."
Deg.
Fharell terpaku. Otaknya sempat blank selama beberapa detik. Apa maksud si brengsek ini? Apa dia mengira Sunny adalah anaknya dan Paro?
Kesadaran itu menghantam Fharell seperti godam. Danesha tidak tahu soal Sania. Danesha tetap terjebak dalam obsesi narsisnya bahwa dialah satu-satunya pria yang pantas membuahi rahim Paroline. Pria itu mengira kehamilan Paro di masa lalu adalah hasil dari malam-malam liar mereka di SMA yang dia imajinasikan sendiri.
Emosi Fharell meledak. Seluruh ketenangan yang ia bangun selama berbulan-bulan runtuh dalam sekejap. Tanpa peringatan, tangan kanan Fharell melesat, memberikan bogem mentah tepat di rahang Danesha hingga pria itu tersungkur ke aspal.
"DASAR BRENGSEK!" raung Fharell. Suaranya menggelegar di area parkir, menarik perhatian puluhan mahasiswa yang langsung mengeluarkan ponsel untuk merekam.
Fharell menarik kerah baju Danesha, mengangkatnya paksa. "Kukira kau sudah sadar setelah perusahaan mu kuhancurkan, ternyata kau makin gila! Apa katamu? Anakmu dan Paro?!"
Fharell tertawa sinis, tawa yang penuh dengan penghinaan. "Hahaha! Bagaimana mungkin imajinasimu sampai sejauh itu, Smith? AKU YANG PERTAMA KALI MENYENTUH PARO! Aku pria pertama dan satu-satunya dalam hidupnya! Kau bahkan tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menyentuh ujung jarinya, dasar pecundang!"
Bugh!
Satu pukulan lagi mendarat di perut Danesha. Danesha terbatuk, darah mulai menetes dari sudut bibirnya, namun ia masih sempat menyeringai. "Kau bohong... kau hanya tamengnya..."
"TUTUP MULUTMU!" Fharell memberikan pukulan bertubi-tubi. Ia tidak lagi peduli pada citranya sebagai pewaris Desmon Group. Di matanya saat ini, Danesha bukan hanya rival bisnis, tapi monster yang mencoba mengklaim kesucian istrinya dan identitas anaknya dengan narasi yang menjijikkan.
Mahasiswa di sekitar berteriak, beberapa mencoba melerai namun takut melihat kemarahan Fharell yang seperti singa lapar. Video Fharell yang menghajar Danesha dengan brutal langsung terunggah ke media sosial dan menjadi viral dalam hitungan menit dengan judul: "Pewaris Desmon Group Mengamuk di Kampus!"
Berita itu sampai ke telinga Paroline melalui notifikasi berita utama di ponselnya saat ia sedang berada di supermarket. Jantungnya serasa copot saat melihat video suaminya yang biasanya lembut, kini terlihat seperti pembunuh yang sedang menghajar Danesha tanpa ampun di bawah guyuran sinar matahari.
"Fharell!" bisik Paro dengan wajah pucat pasi. Ia meninggalkan belanjaannya begitu saja dan memacu mobilnya menuju kantor polisi wilayah setempat, tempat Fharell dikabarkan dibawa untuk diamankan.
Sesampainya di sana, suasana sangat kacau. Wartawan sudah berkumpul di depan gedung. Paroline menerobos masuk dengan bantuan pengacara keluarga Desmon yang sudah tiba lebih dulu.
Di ruang interogasi sementara, ia melihat Fharell duduk dengan tangan terborgol ke meja. Buku jari suaminya pecah-pecah dan berlumuran darah, darah Danesha. Rambutnya berantakan, dan napasnya masih memburu. Begitu melihat Paroline masuk, tatapan tajam Fharell mendadak melunak, berubah menjadi rasa bersalah yang dalam.
"Sayang..." suara Fharell parau.
Paroline tidak marah. Ia langsung menghambur memeluk kepala Fharell, mengabaikan polisi yang mengawasi. "Kenapa, Rell? Kenapa kau melakukannya di tempat umum? Kau bisa menghancurkan masa depanmu!"
Fharell mendongak, matanya berkilat penuh amarah yang tersisa. "Dia sudah gila, Paro. Dia datang ke kampus dan mengklaim Sunny adalah anaknya darimu. Dia bilang kau menyembunyikan kehamilanmu darinya. Aku tidak bisa membiarkan kata-kata kotor itu keluar dari mulutnya lagi. Aku harus membungkamnya."
Paroline tertegun. Ia menutup mulutnya dengan tangan. Ia tidak menyangka delusi Danesha sudah sampai ke tahap seberbahaya itu. Danesha bukan lagi sekadar mencari bukti, dia sudah menciptakan kebenarannya sendiri yang sangat menjijikkan.
"Tapi sekarang kau ditahan, Fharell," isak Paro. "Dan video itu... semua orang melihatnya."
Fharell menggenggam tangan Paroline dengan tangannya yang terborgol, memberikan remasan lembut yang menenangkan. "Biarkan saja. Biar seluruh dunia tahu apa yang terjadi jika ada yang berani mengusik keluargaku. Aku tidak menyesal, Paro. Satu-satunya penyesalanku adalah aku tidak mematahkan lehernya sekalian tadi."
Di luar ruangan, pengacara sedang sibuk mengurus jaminan. Namun bagi Fharell, jeruji besi tidak ada artinya dibandingkan kehormatan istri dan anaknya. Sementara itu, Danesha dibawa ke rumah sakit dengan luka serius, namun di dalam hatinya, ia justru merasa menang. Ia berpikir kemarahan Fharell adalah bukti bahwa teorinya benar, bahwa Fharell takut karena Danesha telah menemukan kebenaran tentang Sunny.
Malam itu, Los Angeles digemparkan oleh skandal ini. Namun di dalam sel sementara, Fharell hanya memikirkan satu hal, Besok, saat aku keluar, aku akan memastikan Danesha Smith tidak akan pernah bisa bicara lagi.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰