Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.
Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.
Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.
Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Kematian tidak pernah datang dengan peringatan.
Bahkan ketika seseorang sudah berlari sekencang yang ia bisa, sudah berdoa dengan cara yang paling putus asa yang pernah ia lakukan, sudah melakukan semua yang bisa dilakukan dengan semua yang ia punya, kematian tetap datang dengan caranya sendiri, pada waktunya sendiri, tanpa peduli apakah seseorang sudah siap atau belum.
Elena tentu saja tidak siap. Tidak ada ibu yang siap untuk hal seperti ini.
Ia pulang dari rumah sakit pada dini hari dengan tangan yang kosong dan kepala yang terasa seperti kosong. Pak Darmo mengemudikan mobilnya dalam diam, sesekali melirik ke kaca spion dengan ekspresi seorang laki-laki yang tidak tahu harus berkata apa dan memilih untuk tidak berkata apapun. Bu Ratih duduk di sampingnya, menggenggam tangan Elena yang dingin selama seluruh perjalanan pulang tanpa melepaskannya sedetik pun.
Elena menatap keluar jendela. Kampung itu masih sepi. Rumah-rumah masih gelap, jalan masih sepi, pohon-pohon masih berdiri di tempat yang sama seperti kemarin dan hari sebelumnya dan hari sebelum itu lagi. Semuanya sama persis. Semuanya berjalan seperti tidak ada yang terjadi.
Padahal ada sesuatu yang sangat besar baru saja terjadi. Padahal ada lubang yang sangat dalam baru saja terbuka di dalam dada seorang perempuan yang duduk di kursi belakang mobil tua itu dengan mata yang tidak lagi bisa mengeluarkan air mata karena sudah habis.
Saat Elena sampai di rumahnya, ia melihat Evan masih terjaga.
Elena menemukannya duduk di sudut kasur dengan lutut ditekuk ke dada dan punggung menempel di dinding, persis seperti cara ia duduk ketika takut tapi berusaha terlihat tidak takut. Lampu kamar masih gelap. Di tangannya ada boneka kelinci butut milik Ara yang entah kapan ia ambil dari bawah bantal.
Ia menatap ibunya saat Elena masuk. Matanya langsung turun ke tangan ibunya yang kosong. Naik lagi ke wajah ibunya.
Dan anak tujuh tahun itu tahu, tanpa harus diberitahu, tanpa harus dijelaskan dengan kata-kata yang panjang dan hati-hati, ia tahu dari cara ibunya berdiri di ambang pintu dengan bahu yang sedikit membungkuk dan mata yang terlihat seperti seseorang yang baru saja melewati sesuatu yang sangat berat.
"Bu." Suaranya kecil. "Ara mana?"
Elena masuk ke dalam kamar. Duduk di sisi kasur di depan Evan. Menatap wajah anaknya, wajah yang sama dengan wajah Adrian di bagian dahi dan hidungnya, wajah yang selama tujuh tahun selalu berhasil membuat Elena tersenyum bahkan di hari-hari terburuknya.
Ia tidak tahu harus mulai dari mana. Tidak ada buku panduan untuk hal seperti ini. Tidak ada kalimat yang tepat untuk memberitahu anak tujuh tahun bahwa adik perempuannya tidak akan pernah pulang.
"Ara sudah tidak sakit lagi." Elena akhirnya berkata, dengan suara yang serak dan pelan. "Ara sudah tidak kesakitan."
Evan menatapnya lama. Anak-anak kadang lebih mengerti dari yang orang dewasa kira. Dan Evan, anak yang sudah satu tahun terlalu cepat belajar tentang kekecewaan, tentang penantian, tentang hal-hal yang dijanjikan tapi tidak pernah datang adalah anak yang mengerti lebih cepat dari kebanyakan anak lainnya.
Bibirnya bergetar. "Ara meninggal?"
Elena tidak menjawab dengan kata-kata. Ia membuka tangannya.
Dan Evan, anak yang selama ini selalu berusaha terlihat kuat di depan ibunya, anak yang menyimpan uang jajannya untuk adiknya yang sakit, anak yang bilang ibu jangan nangis malu dilihat Ara menghambur ke dalam pelukan ibunya dan menangis dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh anak kecil yang baru saja kehilangan sesuatu yang tidak ia mengerti cara hidupnya tanpa hal itu.
Elena memeluknya erat. Sangat erat. Satu tangannya menggenggam punggung Evan, satu tangannya memegang boneka kelinci butut yang masih ada di tangan anaknya, boneka yang berbau sampo murah dan keringat anak kecil, boneka yang bulunya botak karena terlalu sering dipeluk, boneka yang empat tahun menemani Ara ke mana pun ia pergi.
Mereka menangis bersama di kamar yang remang itu.
Siang itu berjalan dengan cara yang aneh.
Seperti waktu yang tidak lagi berjalan dengan ritme yang sama seperti sebelumnya. Ada hal-hal yang harus dilakukan urusan rumah sakit, urusan pemakaman, urusan yang tidak pernah Elena bayangkan harus ia urus sendirian pada usia sebelum empat puluh tahun. Bu Ratih membantunya mengurus sebagian besar hal-hal itu dengan diam-diam dan tanpa meminta imbalan apapun, dan Elena berterima kasih dengan cara yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata biasa.
Adrian mengirimkan uang dua jam setelah Elena menutup telepon malam itu.
Tidak ada pesan yang menyertai transferan itu. Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada kabar apakah ia akan datang atau tidak. Hanya angka yang masuk ke rekening Elena dengan keterangan kosong, seperti cara seseorang membayar tagihan, bukan cara seseorang yang baru saja kehilangan anaknya.
Elena menggunakan uang itu untuk semua yang perlu dibayar di rumah sakit.
Ara dimakamkan di pemakaman kampung di bawah pohon mangga besar di ujung jalan, pohon yang buahnya sering jatuh ke jalan dan dipungut oleh anak-anak yang lewat, pohon yang teduh di siang hari dan berbunyi saat angin bertiup malam hari.
Tempat yang baik, pikir Elena. Ara yang suka di luar ruangan pasti akan menyukainya.
Tetangga-tetangga datang. Beberapa membawa ucapan bela sungkawa, beberapa membawa doa, beberapa datang hanya untuk berdiri di pinggir dengan wajah yang sedih karena tidak tahu harus melakukan apa selain hadir. Elena menerima semuanya dengan kepala yang tegak dan mata yang tidak lagi bisa menangis di depan orang banyak, bukan karena ia tidak sedih, tapi karena air matanya seperti sudah pindah ke tempat yang lebih dalam, tempat yang tidak mudah dijangkau lagi dari luar.
Hari itu Adrian benar-benar tidak datang. Tidak ada telepon. Tidak ada pesan. Tidak ada penjelasan.
.
Bu Sari, tetangga yang beberapa hari lalu menolak meminjamkan dua puluh ribu rupiah dan menyebut Elena minta-minta datang dengan wajah yang terlihat menyesal dan membawa amplop berisi uang sebagai ucapan belasungkawa. Elena menerimanya dengan senyum yang tipis dan tidak berkata apapun. Karena tidak ada gunanya berkata apapun.
Evan berdiri di samping ibunya selama seluruh prosesi pemakaman itu, dengan tangan yang menggenggam tangan Elena erat-erat dan mata yang menatap ke depan dengan cara yang terlalu dewasa untuk anak tujuh tahun. Ia tidak menangis. Ia sudah menangis semalam suntuk dan mungkin air matanya juga sudah habis, seperti ibunya.
Di tangannya yang satu lagi ia pegang boneka kelinci butut itu.
Saat semua orang sudah pulang dan hanya tinggal mereka berdua di depan gundukan tanah merah yang masih baru, Evan jongkok dan meletakkan boneka kelinci itu di atas tanah dengan sangat hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang sangat berharga, seperti memastikan bahwa boneka itu tidak jatuh, tidak terbalik, tidak tidak nyaman.
"Biar Ara tidak kesepian," ia berkata pelan tanpa menoleh ke ibunya.
Elena menutup matanya. Lalu ia membuka matanya kembali dan menatap gundukan tanah itu, tanah merah yang di bawahnya ada tubuh kecil yang empat tahun lalu ia lahirkan dengan kesakitan yang paling membahagiakan yang pernah ia rasakan.
Ara. Maaf ibu tidak bisa melindungimu.
Tapi ibu janji orang yang bertanggung jawab atas ini tidak akan tidur nyenyak selamanya.