Min Ara wanita yang di jodohkan dengan Jeon Jason, lelaki tampan yang mempunyai kharisma kuat yang merupakan seorang putra tunggal dari keluarga Jeon.
Sebagai syarat lelaki itu mendapatkan seluruh hak warisnya, Jason harus menikah dengan Ara.
Ara mengira kehidupannya akan bahagia dengan menjadi istri Jeon Jason, tetapi semua itu hanya ada dalam angannya saja. Jason yang berstatus suaminya itu, tidak lebih dari seorang iblis yang selalu menyakiti hatinya.
Ara tidak bisa mengelak perasaannya yang mulai terjebak di dalam lingkaran yang di buat Jason, tetapi itu semua adalah sebuah kesalahan besar baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03| Permulaan
Ara menatap rumah mewah di hadapannya, ia baru saja sampai di rumah baru yang akan menjadi tempat tinggalnya bersama sang suami.
Jason sudah masuk lebih dahulu dan meninggalkannya, tanpa membantunya membawa barang-barangnya.
Ara tersenyum miris, ia menekan dadanya yang terasa sesak. Ara menarik kopernya dan tiba-tiba ada seseorang yang mengambil alih. Ara melihat seorang lelaki yang begitu tinggi di hadapannya.
“Saya Michael tangan kanan tuan Jason,” ujarnya membuat Ara tersenyum.
“Terima kasih,” ucap tulus Ara.
Mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Ara menatap isi rumah yang menjadi tempat tinggalnya dengan senyumannya. Desain rumah ini begitu cocok dengan seleranya. Saat Ara ingin mengelilingi isi rumah ini, Jason datang dengan tatapan dinginnya.
“Kau tidur di kamar bawah! Kau tidak boleh masuk ke dalam kamarku tanpa ada izin dariku. Ingat kau hanya berstatus istri, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya di sini. Ini adalah rumahku bukan rumahmu! Kau tidak boleh melarangku membawa siapa saja ke dalam rumah ini. Dan, kau tidak boleh membawa orang lain ke rumah ini tanpa seizinku,” ujar Jason tanpa menatap Ara sama sekali.
Ara hanya terdiam dan tersenyum kecil.
“Baik,” ucap Ara yang mengurungkan niatnya untuk mengelilingi rumah ini, ia memilih masuk ke dalam kamar saja.
Hatinya begitu lelah setelah seharian ini ia menahan semuanya. Ara ingin menangis di dalam kamarnya dengan keadaan sunyi tanpa ada seseorang yang mengetahuinya, itu akan membuat hatinya menjadi lebih tenang.
“Tuhan kenapa hatiku begitu sakit mendengarnya berkata seperti itu?” gumam Ara yang mulai menangis dalam kesunyian dengan lampu kamar yang sengaja ia matikan, sinar rembulan memberinya sedikit ketenangan dari jendela kamarnya.
“Apakah ini semua salah? Pernikahan ini salah? Jika benar bukalah hatinya untuk menerima kehadiranku di sini,” gumam lirih Ara sambil menekuk lututnya, ia menahan suara isaknya takut kedengaran.
Ara memejamkan matanya dan mulai beranjak dari duduknya. Ara melangkah ke jendela kamar dan menatap bulan yang memancarkan sinarnya di langit gelap.
“Aku sangat merindukanmu,” lirih Ara sambil menatap langit gelap, angin malam di biarkan menerpa wajah pedihnya dan rambutnya yang terurai.
...***...
Ara membuka matanya yang terasa berat itu, ia mendudukkan dirinya dan langsung bangkit dari ranjangnya.
Ia melangkah ke arah kamar mandi dan menatap wajahnya dengan mata bengkak di depan cermin. Ara memegang kedua matanya, ia melangkah ke arah shower ia menghidupkan air dingin dan berdiri di bawahnya. Ara tidak melepaskan baju yang di pakai, ia membiarkannya basah kuyub.
“Ini adalah awal dari kehidupan baruku,” gumam Ara sambil tersenyum menatap dirinya yang di guyur air pada cermin kamar mandi.
...***...
“Kau harus berangkat sendiri!” Kata Jason saat ia selesai dengan sarapannya, kepada Ara yang baru keluar dari kamar tamu.
Ara hanya menatap ke pergian Jason dengan tatapan sedih. Ia menatap menu makanan di atas meja, Ara tidak ingin makan. Perutnya tidak terbiasa untuk sarapan di pagi hari. Ara melangkah keluar rumah dan melihat mobil Jason sudah tidak ada di garasi.
“Nona saya antar,” ujar Michael yang tiba-tiba berada di depan Ara.
“Kau mengagetkanku saja!” kesal Ara membuat Michael menahan senyumannya.
“Mari nona,” ucap Michael sambil menunjukkan mobil mewah yang terpakir di halaman depan.
“Ini baru?” tanya Ara yang di balas anggukan dari Michael.
“Ini hadiah dari tuan Jeon untuk nona Ara,” jawab Michael membuat Ara terkejut, ia tidak suka dengan pemberian seperti ini.
ara tidak terbiasa mendapat hadiah mewah seperti ini, kecuali kalau ia di paksa oleh sang ayah untuk menerimanya.
“Aku naik taksi saja, kau tidak perlu mengantarku!” ujar Ara melangkah keluar dari gerbang dan mengabaikan panggilan Michael yang terus mengatakan ingin mengantarnya.
Beruntung, taksi melintas di hadapannya dan ia langsung masuk ke dalam taksi sebelum Michael sampai kepadanya.
“Perusahaan Jeon, Pak!” seru Ara sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
Wanita itu menatap jalanan sekitar, motornya rusak dan masih berada di bengkel. Ia sangat rindu dengan motor kesayangannya itu, motor yang memiliki banyak kenangan baginya dan seseorang yang sangat berarti di hidupnya.
Ara tersenyum mengingatnya, kenangan yang tak pernah bisa ia hilangkan dari ingatannya.
“Sudah sampai, nona,” ujar sang sopir membuat lamunan Ara terhenti.
Ara melihat ke depan ternyata ia sudah sampai di depan kantornya. Ara segera membayar ongkos taksi dan keluar dari taksi.
“Ara!” pekik Nara sahabat Ara yang pertama dan satu-satunya saat ia menginjakkan kakinya di kantor tempatnya bekerja saat ini.
Ara tersenyum melihat Nara yang juga baru datang dan menghampirinya. Nara langsung memeluk erat tubuh Ara dan Ara membalas pelukannya tak kalah erat.
“Kau sudah selesai mengambil cuti sakitnya?” tanya Ara yang mengetahui kalau Nara sedang mengambil cuti, karena kondisi kesehatannya menurun beberapa waktu itu.
Sekarang saja wajah Nara masih terlihat pucat. Ara sampai tidak tega melihatnya, Ara merangkul Nara untuk memasuki gedung kantor.
Banyak sekali yang menyapa Ara dan Nara, karena Ara di kenal sebagai perempuan yang humble dan selalu bersikap lembut kepada siapa pun.
“Kau pasti kabur dari rumah sakit ya?” Ara memicingkan matanya menatap Nara yang tersenyum. Ara mencubit gemas pipi tembam Nara.
“Kau tahu sendiri kan? aku paling tidak betah berada di rumah sakit lama-lama,” jelas Nara membuat Ara menggelengkan kepalanya.
Sahabatnya ini memang tidak pernah bersahabat dengan tempat yang bernama rumah sakit, Nara pasti akan kabur saat mendengar akan di bawa ke sana.
“Dasar kau ini! Kau belum sembuh dan harus di rawat,” kesal Ara.
“Aku tidak kenapa-napa, hanya saja masih lemas,” jujur Nara untuk meyakinkan Ara yang sedang menatapnya khawatir. Ara tersenyum kecil dan menepuk pelan pundak sahabatnya itu.
“Kenapa kau tidak istirahat di rumah?” tanya Ara dengan suara lembutnya.
“Aku sangat bosan di kamar terus-menerus dan aku juga sangat merindukanmu yang selalu mengkhawatirkanku,” ujar Nara dengan nada menggodanya, Ara mendengus mendengarnya, tapi tak lama kemudian Ara mengembangkan senyumnya dan tertawa.
Mereka melanjutkan langkahnya ke arah lift untuk menaiki lantai di maja mereka bekerja, mereka beda divisi dan beda lantai, jadi mereka berdua akan bersama jika jam istirahat atau pulang dari kantor. Ara dan Nara jalan sambil bercanda.
Ara menghentikan langkahnya saat melihat suaminya di gandeng mesra oleh seorang wanita dengan pakaian seksi.
Ara masih menatap lurus, Jason baru saja memasuki lift khusus untuk pemilik perusahaan, ia membawa serta perempuan yang di peluk pinggangnya sangat mesra itu.
Ara sempat melihat mata tajam Jason yang sempat meliriknya sekilas, ia melihat jelas senyum miring tercetak di wajah suaminya dan Jason semakin merapatkan tubuh wanita seksi itu kepadanya.
Ara merasakan dadanya kembali sesak, ia memejamkan kedua matanya.
“Ini baru permulaan untukmu.”
Bersambung...