Rhea Celeste hanyalah mahasiswi jurusan pendidikan biasa yang malas, sampai sebuah panci listrik meledak dan merenggut nyawanya.
Saat membuka mata, ia terbangun di dunia fantasi sebagai Rhea Celeste lain.
Dia adalah seorang archmage berbakat dan guru sihir putra mahkota Kerajaan Sihir. Tanpa ingatan pemilik tubuh asli, Rhea harus berpura-pura kehilangan ingatan dan mencoba melanjutkan kariernya sebagai guru putra mahkota dengan baik untuk hidup damai.
Namun, kehidupan damainya hanyalah angan-angan setelah mengetahui identitas tersembunyi pemilik tubuh aslinya yang lain.
“Rhea-ku, sayang... Kenapa kau melupakanku? Kekasihmu?”
Seorang pria tampan dari kekaisaran suci mengaku sebagai kekasihnya dan menangis.
Sedangkan di sisi lain, muridnya yang keras kepala, merengek, mengajaknya tinggal.
“Guru! Ayo pulang! Buatkan aku kue ulang tahun!”
Lebih baik tidak ikut campur, atau kedua kekaisaran akan musnah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan bocah biasa
Istana Rosemaline, kediaman putra mahkota.
Diantar oleh John hingga pintu gerbang istana menggunakan kereta kuda, Rhea tak kuasa mendecak kagum melihat interior mewah Istana Rosemaline milik putra mahkota.
Dibandingkan Istana White Lotus, tempat para tamu kerajaan tinggal dan tempatnya tinggal saat ini, tempat inilah yang bisa Rhea katakan dengan lantang sebagai istana kerajaan fantasi yang dia bayangkan.
Belum melangkah satu jengkal dari sana pun, Rhea sudah mencium aroma semerbak bunga-bunga mahal yang menguras kantong uang untuk merawatnya.
“Tinggal di sini pasti membuatmu merasakan apa itu menjadi bangsawan sejati!” seru Rhea dengan mata berbinar, menoleh ke arah John untuk melihat persetujuannya.
John hampir kehilangan keseimbangan mendengarnya. Dengan tergagap, dia berkata, “Ta-tapi… bukannya Anda mengatakan istana ini terlalu merusak pemandangan dan norak sehingga Anda menolak usulan untuk tinggal di sana?”
“Benarkah aku mengatakan itu?” Rhea merasa tak percaya, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. “Oh, itu ‘aku’ yang dulu. Aku amnesia sekarang, anggap saja perkataanku dulu hanya omong kosong karena malu, oke?”
John mengangguk patuh, diam-diam menjaga jarak dari tangan Rhea yang mendekat.
Melihatnya bertingkah seperti ini membuat Rhea tersenyum kecut. Dia merasa ingin memukul Rhea Celeste yang asli hingga babak belur.
Apa sih yang dilakukan pemilik tubuh ini sebelumnya kepada para pria?
Tak berlama-lama, dia turun dari kereta kudanya dan disambut oleh kepala pelayan istana. Dengan kepala pelayan tua di depan dan dua ksatria gagah membawa pedang di sampingnya, Rhea entah kenapa sedikit gugup.
Rhea diarahkan ke belakang bangunan, melewati jalan memutar menuju sebuah taman luas dan rumah kaca besar yang dibangun di sampingnya.
Putra mahkota berada di ujung taman, menggelar karpet di rerumputan hijau. Rhea terkejut dengan metode pembelajaran luar ruangan itu, tidak seperti yang dia bayangkan.
Kiranya dia harus duduk di sebuah perpustakaan tua sendirian dengan putra mahkota selama berjam-jam, tetapi pelajaran sihir sepertinya lebih santai. Rhea merasa seperti sedang piknik.
Rhea mendekati putra mahkota, seorang bocah yang sekiranya berumur sepuluh tahunan, dengan rambut hitam legam dan mata ungu yang berkilau lebih indah daripada permata.
Kalau boleh Rhea berkata jujur, visualnya membuatnya berteriak kencang, mendesaknya untuk menculiknya dan memamerkannya kepada teman-temannya sambil berkata, “Ini putraku tercinta!”
Ketika Rhea masih melamun mengagumi visual muridnya yang menakjubkan, putra mahkota yang melihatnya datang memberinya salam terlebih dahulu, seolah tahu keinginan gurunya.
“Semoga Arcana selalu menyertaimu melalui suka dan duka!” teriak bocah itu.
Kemudian melanjutkan, “Nyonya Celeste yang terhormat, muridmu ini meminta bimbinganmu dalam mengarungi langkah menuju kebenaran Arcana, memohon persetujuannya dengan rendah hati!”
Seketika itu juga, lamunan Rhea hancur berkeping-keping. Ekspresi wajahnya menjadi kaku, senyumnya memudar.
“Eh… salam itu, kenapa terasa terlalu berlebihan?” Rhea tak kuasa menahan diri untuk bertanya dan langsung menyesalinya begitu terucap.
Dia seharusnya bertanya kepada orang lain, bukan kepada anak itu! Perkataannya terdengar seperti tidak puas dengan sapaannya yang sungguh-sungguh. Bagaimana jika memang seperti itu budaya di sini? Dan di sinilah dia, mengatakan itu berlebihan. Rhea ingin mengubur dirinya hidup-hidup.
“Ah?” Anak itu tampak terkejut. Lihatlah mata ungunya, berkaca-kaca seolah ingin menangis.
Rhea buru-buru mendekat, hendak meminta maaf sebelum mendengar sesuatu yang lebih mengejutkan.
“Bukankah Nyonya Celeste menyuruh saya menyapa dengan format ini terakhir kali? Ah, maaf, apakah ini berubah sekarang? Kalau begitu, murid ini dengan rendah hati meminta pengajaran,” ucap bocah itu dengan kepatuhan yang meyakinkan.
Rhea tercengang.
Rhea merasa pusing dengan kenyataan ini, ingin kembali ke Istana White Lotus dan melanjutkan tidurnya.
Sekalipun dia mengajar di dunia modern, seorang murid biasa pun tidak mungkin menyapa gurunya dengan kekaguman berlebihan seperti ini.
Apalagi ini—muridnya adalah putra mahkota! Orang kedua yang paling berkuasa di kerajaan setelah raja! Sekalipun Rhea baru di sini dan tidak begitu memahami hierarki Kerajaan Romanov, dia merasa salam ini sudah keterlaluan!
Rhea menarik napas panjang, berusaha tersenyum. Mengesampingkan salam aneh itu dan kenyataan pahit bahwa itu adalah sisa-sisa karma dari pemilik aslinya, Rhea fokus pada tujuannya kali ini.
“Yang Mulia, kita hapus tentang salam tidak penting itu dari pikiran kita, ada sesuatu yang ingin, aku, gurumu ini sampaikan.”
Putra mahkota melebarkan mata ungunya yang indah, terlihat terkejut akan sesuatu, tetapi dia tetap mengangguk, mendengarkan dengan patuh.
Uh, yah. Rhea sudah tahu kenapa bocah itu terkejut, tetapi tidak ingin memikirkannya terlalu dalam karena apa yang ingin diucapkannya kali ini bakal menjadi jawabannya.
“Gurumu ini tak sadarkan diri karena sakit selama tiga hari, tahukah kamu berita ini?” tanya Rhea lembut, mencoba mengetahui seberapa luas informasi yang diketahui bocah ini dari para pelayannya.
Putra mahkota itu mengangguk seolah tahu apa yang dia singgung dan menambahkan sesuatu hal yang mengejutkannya, “Ya, murid ini mendengar guru berhasil menembus batas sihir lingkaran ke-7 dan naik ke lingkaran ke-8. Karena energi sihir yang terlalu kuat untuk ditangani, guru pingsan karena kelelahan?”
Seolah takut ada sesuatu yang salah, bocah itu menambahkan sumber beritanya. “Begitu kata kepala pelayan.”
“Tunggu! Naik ke lingkaran ke-8?” Rhea tak kuasa menahan diri untuk berseru.
Karena tidak diberi tahu oleh dokter tua yang merawatnya, Rhea belum mengetahui alasan pingsannya pemilik tubuh aslinya.
Karena dia tak tahu cara menggunakan kekuatan sihirnya, melihat lingkarannya sendiri pun tak mungkin.
Melihat tatapan kagum putra mahkota menembus bagian tubuhnya, seolah melihat sesuatu dari dirinya, Rhea memiringkan kepalanya dan melihat tempat putra mahkota menatap, yaitu di bagian jantungnya berada.
Yah, meskipun dia tak melihat apa-apa. Hanya dadanya dan lehernya yang seputih salju.
“Guru memang jenius yang menakjubkan!” puji bocah itu, meninggikan suaranya.
Rhea tak merasa senang dengan pujian itu, malah merasa sedikit bersalah sekaligus takut.
“Sayangnya, kekuatan itu bakalan sia-sia karena gurumu ini kehilangan ingatannya.” Rhea mengatakan kebenaran itu seolah memuntahkan kotoran yang sudah lama dia tahan.
“Hah?” Putra mahkota terlihat tak memahami maksudnya.
“Yang Mulia, karena kehilangan ingatannya, saya, seorang arcmage lingkaran ke-8, menjadi orang yang tak mengetahui sihir sama sekali. Dengan kata lain, hanya orang biasa.”
“Tetapi jelas-jelas itu ada di sana?” Putra mahkota tampak bingung ketika menatapnya dan menunjuk bagian jantungnya berada.
Rhea merasa kata kehilangan ingatan terlalu membingungkan anak berusia sepuluh tahun dan mencoba menjelaskan dengan ringan.
“Kalau yang anda maksud lingkaran yang menandakan kekuatan arcmage, gurumu masih memilikinya. Sayangnya, kekuatan itu tidak bisa digunakan karena aku lupa cara menggunakannya.”
“Kehilangan ingatan itu bukan berarti kehilangan kekuatan lingkaran ke-8, tetapi lupa cara menggunakannya.”
Putra mahkota berkedip, terlihat berusaha mencerna perkataannya. Anak itu memang pintar. Saat itu juga dia memasang ekspresi terkejut, seolah baru sadar akan sesuatu yang lebih mengejutkan.
“Be-berarti guru… tidak ingat apa-apa? Bagaimana dengan pertemuan pertama kita? La-lalu format salam yang Anda buat? Lalu pengajaran tentang bersikap rendah hati? Apakah Anda ingat metode mengikat energi sihir dengan memuji Anda di bawah sinar bulan? Bagaimana dengan perjanjian Anda dengan Komandan Ksatria Louise pada minggu ini, haruskah saya sampaikan? Lalu tenta—mmp!”
Rhea merasa jantungnya hendak meledak. Dia menghentikan ocehan bocah cerewet itu dengan wajah pucat, merasa ingin menyeret roh pemilik tubuh ini kembali untuk memukulnya hingga babak belur.
Di samping amarahnya kepada pemilik aslinya, Rhea menyadari kenyataan yang mengejutkan. Bocah ini—putra mahkota ini… oh ya, muridnya ini—mengatakan hal-hal itu bukan karena kebodohan seorang bocah! Dia bersikap sarkastik! Dia sedang menyindirnya!
Muridnya ini sepertinya tidak sesederhana kelihatannya. Mengingat pertemuan pertama Rhea dengannya beberapa waktu yang lalu, dari salam yang mengguncang sanubari, pernyataan mengejutkan tentang naiknya lingkaran, wajah polosnya yang tampak tak tahu apa-apa, kemudian kata-kata mengejutkan tentang kelakuan pemilik aslinya…
Rhea tiba-tiba tersadar. Menoleh ke arah bocah itu, yang mata ungunya berbinar di bawah sinar matahari, dia merasakan ekspresi main-main di balik senyum polos itu.
“Yang Mulia, Anda tahu aku kehilangan ingatan sedari awal, kan?”
“Anda sedang bermain-main dengan gurumu ini. Apakah menyenangkan?”
Putra mahkota hanya tersenyum.