Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.
Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.
Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.
Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.
Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Yang Tidak Bisa Dibatalkan
Malam itu terasa sangat berat bagi Fariz.
Sebuah kenyataan yang kini sudah tidak bisa lagi ia pungkiri. Ditambah lagi, Sucipto dan Ratna yang kini lambat laun mulai sadar akan perubahan sikap putranya, membuat mereka harus bekerja ekstra untuk mengawasinya.
Kali ini Fariz berusaha untuk tidak terlalu lelap tertidur. Ia memasang telinga dengan tajam karena tidak mau kembali tertinggal shalat Subuh. Kedua matanya selalu terbuka dan tertutup ketika mendengar suara dari depan kamarnya, seperti sedang setengah tidur tapi tidak benar-benar tidur.
"Iz, bangun!"
Suara Ratna dari depan kamar. Bukan membuka jendela seperti biasa, tapi langsung membangunkan dari pintu.
Fariz terbangun dengan wajah masih mengantuk, menggosok kedua matanya, menatap Ratna yang berdiri di ambang pintu.
"Bantu Bapakmu beres-beres rumah." Ratna menarik perlahan tubuhnya dari atas kasur.
"Iya, Bu." Jawaban Fariz setengah sadar. Tapi matanya langsung mencari jam yang menempel di dinding.
Jam 4.30.
Masih terlalu pagi. Waktu Subuh belum masuk.
Fariz keluar dari kamar dengan langkah yang masih berat, matanya setengah terbuka, tubuhnya masih ingin kembali ke kasur. Tapi Ratna sudah menunggunya di luar, dan ia tahu kalau ia kembali tidur, ia tidak akan dibangunkan lagi.
Sucipto sudah ada di kamarnya, menarik beberapa kardus dari pojok, memisahkan barang-barang yang sudah tidak terpakai.
"Ayo, Iz. Mumpung masih pagi." Suaranya lebih keras dari biasanya untuk jam segini.
Fariz mendekat, berlutut di samping ayahnya, mulai membantu memisahkan barang. Tangannya bergerak otomatis, mengangkat ini, meletakkan itu, sementara pikirannya masih setengah tidur.
Waktu terus berjalan. Kardus demi kardus dibuka, dipilah, ditumpuk.
Lalu Fariz melihat jam lagi.
Jam 5.15.
Waktu Subuh sudah masuk.
Ia berhenti sebentar, menatap jendela yang mulai menunjukkan cahaya pagi samar. Lalu ia berdiri.
"Pak, aku ke kamar mandi dulu."
"Loh, ke mana?" Sucipto menoleh. "Mumpung masih pagi, bantuin Bapak dulu. Nanti juga bisa."
"Tapi, Pak. Sekarang waktunya..."
"Alah, ayo cepet. Udah keburu sibuk. Nanti aja setelah selesai."
Nada Sucipto naik sedikit. Bukan marah. Tapi tegas dengan cara yang tidak memberi ruang untuk dibantah.
Fariz berdiri di situ, kaki sudah setengah melangkah ke arah pintu. Tapi tubuhnya berhenti. Seperti ada yang menahannya dari belakang, sesuatu yang tidak terlihat tapi sangat nyata.
Rasa itu berkecamuk di dalam dada. Kecewa, marah, sedih, semuanya campur aduk. Tapi ia tidak tahu bagaimana mengungkapkannya karena yang ada di hadapannya bukan orang lain.
Mereka adalah orang tuanya sendiri.
Fariz mundur setengah langkah. Lalu berlutut kembali. Melanjutkan memilah barang.
Hingga matahari terbit, Fariz masih tetap berada di sisi Sucipto.
Wajahnya tertunduk layu. Sesekali melihat ke luar, ke jalan yang sudah mulai diterangi matahari. Dadanya terasa sesak, seperti ada yang menekan dari dalam dan tidak mau lepas.
"Nih, Ibu udah masakin nasi. Ayo makan dulu, Pak, Iz." Ratna menyiapkan semuanya di atas meja.
"Kebetulan sekali, Bapak juga udah lapar. Ayo, Iz." Sucipto menepuk pundaknya sebagai tanda untuk istirahat sebentar.
Fariz bangkit. Tapi kakinya tidak langsung ke meja makan. Ia berjalan ke arah kamar mandi.
"Iz, makan cepetan." Suara Sucipto dari belakang, bukan keras tapi jelas.
Fariz berhenti di tengah jalan. Napasnya tertahan sebentar.
"Maaf, Pak. Aku sudah tertinggal jauh untuk shalat Subuh."
Ia melanjutkan langkah ke kamar mandi. Menutup pintu. Membuka keran. Air dingin mengalir ke tangannya.
Dari luar, suara Ratna dan Sucipto terus memanggil. Tapi kali ini Fariz mencoba mengabaikan, terus menyelesaikan wudhu dengan tangan yang sedikit gemetar.
Ketika ia keluar dari kamar mandi, wajah basah, napas belum teratur, ia melihat Sucipto berdiri di depannya.
Tidak di meja makan. Tapi di tengah jalan antara kamar mandi dan kamar Fariz. Berdiri dengan tangan di pinggang, tubuhnya mengisi lebar koridor itu, matanya menatap Fariz dengan cara yang belum pernah Fariz lihat sebelumnya.
Bukan marah. Lebih seperti seseorang yang sedang memutuskan sesuatu yang berat.
"Kamu duduk di sini sekarang." Suaranya rendah. Tegas. Tidak berteriak. Justru karena itu lebih menakutkan.
Fariz berdiri di situ, kaki basah, tangan masih menetes air. Kamarnya ada di belakang Sucipto. Sajadah sudah terbentang di sana sejak tadi malam. Tapi untuk sampai ke sana, ia harus melewati ayahnya.
Dan ayahnya tidak bergerak.
Fariz menatap Sucipto. Sucipto menatap balik.
Hening beberapa detik yang terasa seperti beberapa menit.
Lalu Fariz menunduk. Berjalan ke meja makan. Duduk.
Sucipto mengikuti. Duduk di seberangnya. Ratna duduk di samping, wajahnya tidak setegang Sucipto tapi matanya juga tidak lepas dari Fariz.
Kali ini Fariz sadar.
Kedua orang tuanya sudah mulai melarang secara terang-terangan agar ia tidak mendirikan shalat. Dan Fariz, seperti biasa, seperti selalu, memilih untuk nurut. Ingin melawan, tapi sudah dari dulu ia selalu sulit memilih yang terbaik untuk dirinya.
Apalagi ketika yang menghalanginya adalah orang yang paling ia cintai.
Setelah selesai makan, keduanya kembali ke kamar Sucipto. Melanjutkan pekerjaan yang tadi tertunda.
"Kamu bawa ini ke belakang." Sucipto menunjuk tumpukan kardus di dekat pintu kamarnya.
Fariz mengangkat kardus itu perlahan, satu per satu, lalu menyimpannya di belakang rumah dekat pagar pembatas. Bolak-balik ia mengangkut, menyusunnya dengan rapi.
Sampai di kardus terakhir.
Kardus ini lebih ringan dari yang lain. Fariz menurunkannya dengan hati-hati, lalu membukanya untuk memastikan tidak ada yang pecah.
Di dalamnya ada beberapa baju lama, kain lusuh, dan di pojok bawah, sebuah kotak kecil berwarna hitam.
Fariz melirik ke belakang. Sucipto masih duduk di ambang pintu bersama Ratna, memisahkan barang-barang. Tidak melihat ke arahnya.
Ia mengeluarkan kotak hitam itu perlahan. Membukanya.
Di dalamnya ada sebuah keris kecil dengan sarung kayu yang sudah menghitam, dan selembar kertas lusuh yang dilipat rapi.
Fariz membuka lipatan kertas itu dengan hati-hati.
Tulisan tangan. Tinta yang sudah memudar di beberapa bagian. Dan di bawah tulisan itu, cap sidik jari dengan warna yang bukan tinta.
Darah.
Fariz membaca tulisan itu pelan, mata bergerak dari satu baris ke baris berikutnya.
"Aku siap mengabdi pada Sang Dewi, setiap perintahnya aku akan penuhi meski harus mengorbankan keluargaku, titahmu dan Sang Dewi akan menjadi petunjuk dalam hidupku."
Napasnya tertahan.
Ia membaca ulang. Memastikan ia tidak salah baca.
Meski harus mengorbankan keluargaku.
Di bawah cap darah sidik jari Sucipto, ada noda lain. Bukan darah. Bentuknya tidak jelas, seperti terbakar tapi tidak hangus sepenuhnya, warnanya kecokelatan kehijauan, dan kertas di sekitar noda itu sedikit berubah tekstur. Seperti dimakan sesuatu dari dalam.
Fariz tidak tahu apa itu. Tapi ia merasakan bahwa noda itu bukan sekadar noda.
Itu tanda bahwa perjanjian ini sudah diterima oleh sesuatu yang tidak terlihat.
"Fariz! Kenapa kamu kok lama sekali sih?!"
Suara Sucipto dari dalam rumah, keras, mulai tidak sabar.
Fariz langsung melipat kertas itu, memasukkannya kembali ke kotak bersama keris, lalu menyimpan kotak itu ke dalam saku celananya. Dadanya berdetak cepat. Tangannya gemetar sedikit saat ia menutup kardus dan menyusunnya kembali seperti tidak terjadi apa-apa.
Ia berjalan kembali ke dalam dengan langkah yang dijaga tetap biasa, meski di sakunya ada sesuatu yang terasa seperti bom waktu.
"Habis makan siang, kita rapikan kamarmu, Iz." Sucipto bicara sambil melirik ke arah Ratna. "Biar rumah kita kecil, tetep harus rapi."
Fariz terdiam sebentar.
Kamarnya.
Tempat ia menyimpan buku Kyai Salman. Lembar-lembar kertas yang Rahman berikan. Semua yang tidak boleh ditemukan oleh siapa pun, apalagi oleh ayahnya.
Ia mencoba tetap tenang, mengangguk pelan. "Baik, Pak."
Tapi di dalam dadanya, sesuatu mulai berputar cepat. Menghitung waktu. Menghitung pilihan.
Jam 11 siang, Ratna kembali menyuguhkan menu tadi pagi yang sudah dihangatkan.
Sucipto langsung duduk di atas kursi dan mengambil piring. "Habis makan, pokoknya kita harus segera rapikan kamar Fariz ya, Bu."
Ratna mengangguk. "Iya, Pak."
Fariz duduk dengan tenang. Atau setidaknya mencoba terlihat tenang.
Tapi tangannya gemetar sedikit saat mengambil sendok. Dadanya sesak dengan cara yang berbeda dari pagi tadi. Bukan karena ditahan shalat. Tapi karena ia tahu waktu sudah habis.
Kalau mereka masuk ke kamarnya, mereka akan menemukan buku Kyai Salman. Lembar-lembar kertas. Semua yang selama ini ia sembunyikan.
Dan kalau itu terjadi, semuanya selesai.
Fariz makan dalam diam. Setiap suapan terasa seperti menelan sesuatu yang keras. Sucipto dan Ratna terus bicara tentang barang mana yang mau dibuang, mana yang mau disimpan, tapi Fariz tidak mendengar.
Yang ia dengar hanya detak jantungnya sendiri yang semakin cepat.
Makan selesai.
Sucipto berdiri. "Ayo, sekarang kita rapikan kamarmu."
Fariz tidak bergerak dulu. Duduk di kursi itu beberapa detik lebih lama, tangan di pangkuan, merasakan kotak kecil di sakunya.
Lalu ia mengambil keputusan.
Ia berdiri. Mengeluarkan kotak hitam dari sakunya. Membukanya. Mengambil kertas perjanjian dan keris kecil. Lalu meletakkannya di atas meja, tepat di antara piring-piring yang sudah kosong.
Sucipto dan Ratna berhenti bergerak.
Mata mereka jatuh ke kertas itu. Ke keris itu. Lalu ke wajah Fariz.
Hening.
Ratna yang pertama bereaksi. Suaranya keluar gemetar, pelan, hampir seperti bisikan.
"Dari mana... dari mana kamu dapat itu?"
Bukan marah. Bukan menyalahkan. Hanya panik yang tidak bisa disembunyikan lagi.
Sucipto masih diam. Wajahnya berubah dengan cara yang sulit dibaca. Bukan kaget. Lebih seperti seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang ia takutkan terjadi, dan sekarang sedang menghitung apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Fariz menatap mereka berdua. Lalu ke kertas perjanjian di atas meja.
"Jadi ini semua karena perjanjian ini, kan?"
Suaranya tidak keras. Tidak menuduh. Hanya bertanya dengan cara seseorang yang sudah tahu jawabannya tapi tetap perlu mendengarnya diucapkan.
Ratna menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca.
Sucipto menarik napas panjang. Lalu duduk kembali. Perlahan. Seperti orang yang tahu ia tidak bisa lari lagi dari percakapan ini.
Dan untuk pertama kalinya sejak Fariz pulang dari pondok malam itu, rumah mereka benar-benar sunyi.
Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang bergerak.
Hanya kertas perjanjian itu yang tergeletak di atas meja, dengan cap darah yang sudah mengering dan noda aneh di bawahnya yang seperti tanda dari sesuatu yang tidak terlihat tapi sangat nyata.