Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.
Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Samudra Kabut dan Nyanyian Siren yang Terluka
Langkah kaki rombongan kecil itu meninggalkan jejak di atas tanah Desa Durja yang kian mengeras, seolah-olah bumi sedang perlahan kehilangan kelenturannya. Perjalanan menuju pesisir paling timur Benua Tengah memakan waktu tujuh hari perjalanan tanpa henti.
Selama itu pula, Ranu menyaksikan pemandangan yang menyayat hati: sungai-sungai kecil yang permukaannya mulai membeku menjadi kristal meski matahari bersinar terik, dan hutan-hutan yang dedaunannya tak lagi bergoyang ditiup angin karena telah berubah menjadi kaca hijau yang tajam.
Elara berjalan di paling depan, langkahnya ringan seolah ia tidak menginjak tanah. Kecapi di punggungnya sesekali mengeluarkan denting halus setiap kali ia melewati area dengan konsentrasi energi kehidupan yang tinggi.
Di belakangnya, Ranu berjalan dengan napas yang mulai teratur, sementara Lingga dan Nara menjaga sisi kiri dan kanan. Sastro, seperti biasa, berada di paling belakang, menyeret kereta kuda kecil yang kini lebih banyak berisi peralatan memasak dan beberapa karung beras yang masih tersisa sebelum sawah-sawah benar-benar membatu.
"Kita hampir sampai di Pelabuhan Ujung Dunia," ucap Elara tanpa menoleh. "Tapi jangan harap kalian akan menemukan kapal kayu besar dengan layar sutra di sana. Kapal yang bisa menembus Samudra Kabut bukanlah benda yang dibuat oleh tangan manusia biasa."
Benar saja, saat mereka tiba di pesisir, yang menyambut mereka bukanlah pelabuhan ramai dengan hiruk-pikuk pedagang. Yang ada hanyalah sebuah tebing curam yang menghadap ke lautan yang tertutup oleh kabut putih susu yang sangat tebal. Kabut itu tidak bergerak, ia diam dan pekat, menelan segala suara dan cahaya yang mencoba masuk ke dalamnya. Di bawah tebing, terdapat sebuah dermaga tua yang terbuat dari tulang paus purba. Di sana, tertambat sebuah perahu kecil yang tampak rapuh, terbuat dari kayu hitam yang legam dan tidak memantulkan cahaya.
"Perahu Bayangan," gumam Ranu saat melihat kapal itu. "Hanya kapal yang tidak memiliki eksistensi fisik penuh yang bisa berlayar di atas air yang tidak memiliki kepadatan."
"Den Ranu, Den yakin kita mau naik perahu itu? Kelihatannya kalau hamba bersin sedikit saja, kita semua bakal karam," keluh Sastro sambil menatap ngeri ke arah ombak yang tidak bersuara di bawah sana.
"Naiklah, Sastro. Di tempat ini, apa yang kau lihat bukan berarti apa yang kau dapatkan," jawab Ranu sambil melompat ringan ke atas dek perahu.
Begitu mereka semua berada di atas kapal, Elara duduk di haluan dan mulai memetik kecapinya. Melodi yang dihasilkan kali ini tidak merdu, melainkan terdengar seperti bisikan ribuan orang yang sedang berdoa. Perahu itu pun mulai bergerak sendiri, perlahan namun pasti memasuki kabut yang menyesakkan.
Di dalam Samudra Kabut, waktu seolah kehilangan maknanya. Langit dan laut menyatu dalam warna putih yang membosankan. Lingga mencoba menghunus pedangnya untuk menguji kepadatan kabut, namun bilah pedangnya justru menghilang sesaat saat menyentuh uap putih tersebut.
"Jangan gunakan senjata di sini, Pangeran," peringat Elara. "Kabut ini adalah sisa-sisa ingatan dari dewa-dewa yang gagal diciptakan. Mereka haus akan identitas. Jika kau menunjukkan kekuatanmu, mereka akan mencoba menarik sukmamu untuk mengisi kekosongan mereka."
Tiba-tiba, suasana yang sunyi itu pecah oleh sebuah nyanyian. Suara itu begitu indah, melebihi melodi apa pun yang pernah didengar Nara atau Lingga. Namun, bagi Ranu, suara itu terdengar seperti jeritan keputusasaan yang disamarkan.
"Siren," desis Nara sambil menutup telinganya. "Tapi kenapa nyanyiannya terdengar begitu pilu?"
"Karena mereka terluka," sahut Ranu. Matanya menatap ke arah samping kapal, di mana bayangan-bayangan bersayap mulai muncul dari dalam kabut. "Mereka bukan monster yang mencari mangsa, Nara. Mereka adalah korban dari proses pengkristalan ini. Lihatlah sayap mereka."
Saat beberapa sosok Siren mendekat, rombongan itu terperangah. Siren-siren itu, yang biasanya dikenal sebagai makhluk laut yang cantik dan mematikan, kini tampak mengerikan. Sebagian besar tubuh mereka, terutama sayap dan ekor mereka, telah berubah menjadi kristal bening yang kaku. Setiap kali mereka bergerak, kristal itu mengiris daging mereka sendiri, menciptakan luka yang mengeluarkan cahaya biru pucat.
Salah satu Siren, yang tampaknya adalah pemimpin mereka, mendarat di pinggiran perahu. Matanya yang keunguan menatap Ranu dengan penuh dendam sekaligus permohonan.
"Wira... Candra..." suara Siren itu terdengar parau. "Kau kembali saat dunia sudah tidak lagi memiliki tempat bagi kami yang hidup di celah-celah. Lihatlah apa yang hukummu lakukan pada kami! Kami tidak bisa bernapas, kami tidak bisa terbang, kami hanya menunggu waktu sampai kami menjadi patung di dasar samudra!"
Siren itu mencoba menyerang Ranu dengan cakarnya yang telah mengkristal, namun gerakannya sangat lambat dan menyakitkan. Ranu tidak menghindar. Ia justru menangkap tangan Siren itu dengan lembut.
"Ranu, apa yang kau lakukan?! Dia mencoba membunuhmu!" teriak Lingga.
"Diamlah, Lingga," ucap Ranu tenang.
Ranu menutup matanya. Meskipun ia tidak lagi memiliki energi dewa, Bintang Kedelapan dalam dirinya—yang lahir dari empati manusia—mulai berdenyut hangat di telapak tangannya. Ia mengalirkan kehangatan itu ke arah tangan Siren yang mengkristal.
Perlahan, keajaiban terjadi. Kristal yang menutupi kulit Siren itu mulai retak dan luruh menjadi debu cahaya. Luka-lukanya menutup, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Siren itu bisa menarik napas dengan lega.
Siren-siren lain yang melihat kejadian itu segera mengerumuni perahu, tidak lagi dengan niat menyerang, melainkan dengan harapan.
"Ranu, kau tidak bisa menyembuhkan mereka semua! Energi kehidupanmu akan terkuras habis sebelum kita sampai ke Benua Timur!" Elara memperingatkan dengan nada cemas.
"Aku tahu," jawab Ranu, wajahnya mulai pucat karena memaksakan niat manusianya bekerja melampaui batas fisik. "Tapi aku tidak bisa membiarkan mereka menderita hanya karena aku ingin menghemat tenaga. Sastro, berikan aku air kendi yang kau bawa!"
Sastro dengan sigap memberikan kendinya. Ranu membisikkan sesuatu ke arah air tersebut, lalu memercikkannya ke udara. Air itu tidak jatuh ke laut, melainkan berubah menjadi kabut tipis berwarna emas yang menyelimuti rombongan Siren tersebut. Meskipun tidak menyembuhkan mereka sepenuhnya, kabut itu melunakkan kristal di tubuh mereka, memberikan mereka waktu untuk bertahan hidup lebih lama.
Siren pemimpin itu menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan Ranu.
"Maafkan kekasaran kami, Sang Penyelamat yang Jatuh. Sebagai balasan atas kemurahan hatimu, kami akan membawa perahumu melewati arus bawah yang tidak diketahui oleh para utusan Lembah Hijau. Di sana, Samudra Kabut tidak akan bisa menyentuh ingatanmu."
Dengan bantuan para Siren yang berenang di sekeliling perahu, kecepatan mereka meningkat berkali-kali lipat. Kabut putih di sekeliling mereka perlahan mulai menipis, menampakkan pemandangan yang belum pernah dilihat oleh manusia Benua Tengah selama ribuan tahun.
Di cakrawala, langit tidak lagi biru atau hitam, melainkan berwarna indigo dengan dua buah bulan yang menggantung—satu berwarna perak dan satu lagi berwarna hijau zamrud. Mereka telah memasuki wilayah Benua Timur yang Hilang.
Namun, kedatangan mereka tidak disambut dengan hangat. Dari kejauhan, menara-menara pengawas yang terbuat dari karang hitam mulai memancarkan sinar merah yang menyapu permukaan laut.
"Itu adalah Penjaga Perbatasan Ras Naga Laut," ucap Elara dengan wajah tegang. "Mereka sangat membenci siapa pun yang memiliki bau dewa dari langit. Ranu, kau harus menyembunyikan identitasmu sekarang juga, atau kita akan ditembak jatuh sebelum kaki kita menyentuh pasir."
Ranu menatap ke arah menara-menara itu, lalu menatap telapak tangannya yang masih bergetar karena kelelahan. Ia menyadari bahwa di Benua Timur, nama "Wira Candra" bukanlah sebuah gelar kehormatan, melainkan sebuah kutukan.
"Lingga, Nara, bersiaplah," ucap Ranu sambil menarik tudung jubahnya. "Di sini, kita bukan pahlawan. Di sini, kita adalah buronan."
Perahu Bayangan meluncur cepat menuju daratan yang asing, di mana hutan-hutan tumbuh terbalik dari tebing dan air terjun mengalir ke atas menuju langit. Benua Timur yang Hilang bukan sekadar daratan, melainkan sebuah sisa dari dunia sebelum penciptaan yang menolak untuk tunduk pada hukum Sembilan Langit.
......................