NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Mafia

Menyusui Bayi Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan rahasia / Ibu Pengganti / Mafia / Duda / Konflik etika
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Kedalaman Tanpa Suara

​Kesadaran kembali pada Aruna seperti air pasang yang dingin dan menyesakkan. Hal pertama yang ia rasakan bukan penglihatan, melainkan rasa hampa yang mengerikan di dadanya. Lengan yang biasanya mendekap kehangatan kecil Leonardo kini terasa ringan. Kosong.

​"Leo..." Suaranya hanya berupa bisikan pecah di tenggorokan yang kering.

​Aruna mencoba bangkit, namun kepalanya terasa seolah dihantam palu godam. Pandangannya kabur, berdenyut mengikuti detak jantungnya yang liar. Saat matanya mulai fokus, ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di ruang VIP yang mewah di Singapura. Ia berada di sebuah ruangan serba putih dengan dinding metalik yang melengkung. Tidak ada jendela, hanya pencahayaan neon pucat yang tertanam di langit-langit.

​Ia mencoba menggerakkan tangannya, dan suara gemerincing logam terdengar. Pergelangan tangan kirinya terborgol ke sisi tempat tidur medis. Namun, bukan borgol itu yang membuatnya terkesiap, melainkan rasa panas yang membara dari tanda melati di tangan tersebut. Tanda itu tidak lagi berwarna perak atau merah darah; warnanya kini hitam legam, seperti tinta yang merembes di bawah kulitnya.

​"Jangan banyak bergerak, Aruna. Kadar kortisolmu sedang berada di level berbahaya bagi sistem itu."

​Aruna menoleh dengan cepat. Di sudut ruangan, Silas Chen duduk di depan deretan monitor yang menampilkan grafik biometrik. Pria tua itu tidak lagi memakai kacamata emasnya. Wajahnya tampak pucat dan penuh ketakutan.

​"Di mana anakku?!" teriak Aruna, suaranya melengking penuh keputusasaan. "Di mana Leonardo?!"

​"Dia aman. Untuk saat ini," Silas berdiri, mendekati Aruna dengan langkah ragu. "Kita berada di fasilitas Deep-Blue. Tiga ratus meter di bawah permukaan Laut Cina Selatan. Ini adalah markas netral yang dimiliki oleh para pemegang saham The Consortium yang membangkang. Mereka tidak ingin Dante memiliki kuncinya, tapi mereka juga tidak ingin Enzo menghancurkan ekonomi dunia."

​"Aku tidak peduli tentang politik mafiamu! Berikan anakku!" Aruna meronta, borgol besi itu melukai kulitnya, namun ia seolah tidak merasakan sakit.

​"Tenanglah!" Silas membentak, suaranya bergetar. "Kau tidak mengerti? Tanpa isapan Leonardo, tanpa oksitosin yang kau hasilkan saat menyusuinya, tanda hitam di tanganmu itu akan menjadi racun. Adrian merancang fail-safe biologis. Jika 'Kunci' dipisahkan dari 'Stabilisator' lebih dari enam jam, sistem akan menganggap kau diculik dan akan menyuntikkan racun saraf melalui implan itu ke aliran darahmu. Kau akan mati dalam hitungan menit, Aruna!"

​Aruna terpaku. Nafasnya memburu. Ia menatap tanda hitam di tangannya. Rasa nyeri yang berdenyut itu kini mulai menyebar ke ketiak dan dadanya. "Enam jam? Sudah berapa lama aku pingsan?"

​"Empat jam lima puluh menit." Silas melihat jam tangannya. "Kau punya waktu satu jam sepuluh menit untuk memberikan nutrisi pada Leonardo, atau kau akan mati, dan data di dalam tubuhmu akan terhapus selamanya."

​Pintu geser ruangan itu terbuka dengan suara desisan udara. Dua pria berseragam taktis hitam masuk, diikuti oleh seorang pria yang sangat dikenali Aruna. Namun kali ini, dia tidak memakai jas. Dia memakai pakaian militer lengkap.

​"Marco?" Aruna terbelalak.

​Marco berdiri di depan Aruna. Wajahnya yang biasanya datar kini tampak dingin dan tanpa emosi. "Maafkan saya, Nona. Tapi kesetiaan saya selalu kepada keluarga Valerius secara keseluruhan, bukan hanya kepada Dante."

​"Kau... kau yang membawa kami ke sini?" Aruna merasa seolah dikhianati oleh dunia. "Kau yang menjaga kami selama setahun ini hanya untuk menyerahkan kami pada orang-orang ini?"

​"Saya menjaga 'Kunci' agar tetap utuh sampai masanya tiba, Nona. Tuan Dante terlalu lemah. Dia mulai mencintai Anda, dan cinta itu membuatnya tidak stabil. The Consortium butuh pemimpin yang objektif. Dan untuk itu, kami butuh data dari brankas ayah Anda."

​"Di mana Dante?" tanya Aruna, suaranya kini dingin seperti es.

​"Tuan Dante sedang berada di ruang interogasi di sayap utara. Dia keras kepala, tapi dia akan segera menyerah begitu dia melihat apa yang akan terjadi padamu jika kau tidak segera menyusui Leonardo."

​Marco memberi isyarat pada penjaga. Borgol Aruna dilepaskan. "Ikuti saya. Leonardo sudah menunggu. Dan ingat, setiap detik yang kau buang untuk meronta adalah detik yang membawa kau dan anak itu menuju kematian."

​Aruna dibawa menyusuri lorong-lorong metalik yang dingin. Di beberapa titik, ia bisa melihat melalui jendela kaca tebal air laut yang gelap dan pekat, di mana makhluk-makhluk laut dalam berenang melewati fasilitas bawah laut tersebut. Tempat ini adalah penjara yang sempurna. Tidak ada jalan keluar selain melalui peluncuran kapal selam atau kematian di kedalaman air yang menghancurkan.

​Mereka sampai di sebuah ruangan yang lebih besar, menyerupai kamar bayi yang mewah namun steril. Di tengah ruangan, Leonardo duduk di dalam boks bayi kaca. Begitu melihat Aruna masuk, Leonardo langsung berdiri, memegang pinggiran boks, dan mulai menangis keras. Suara tangisannya menggema di ruangan hampa itu, menyayat hati Aruna.

​"Leo! Sayang!" Aruna berlari menuju boks itu, namun Marco menahannya.

​"Duduk di sana," perintah Marco, menunjuk sebuah kursi di tengah ruangan yang dikelilingi oleh sensor pemindai. "Silas akan menghubungkan tanganmu ke sistem dekripsi. Begitu Leonardo mulai menyusu, kami akan mulai mengunduh data dari brankas ayahmu melalui tubuhmu."

​Aruna menatap Silas yang sedang menyiapkan kabel-kabel elektroda. "Kau akan menjadikanku kabel transmisi manusia?"

​"Ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawamu, Aruna," bisik Silas tanpa berani menatap matanya. "Isapan Leonardo akan membuka gerbang data itu. Begitu oksitosin membanjiri sistemmu, tanda hitam itu akan berubah kembali menjadi kunci yang bisa kami baca."

​Aruna tidak punya pilihan. Nyeri di lengannya kini sudah mencapai leher. Ia merasa mual dan pandangannya mulai menyempit. Ia duduk di kursi itu. Silas memasang elektroda pada tanda melati di tangannya.

​"Bawa anak itu padanya," perintah Marco.

​Penjaga mengangkat Leonardo dan menyerahkannya pada Aruna. Begitu Leonardo menyentuh kulit ibunya, tangisannya mereda menjadi isakan kecil yang memilukan. Aruna segera membuka pakaiannya, membiarkan bayinya mendapatkan apa yang sangat dibutuhkannya.

​Saat Leonardo mulai menyusu, sebuah sensasi aneh menjalar di seluruh tubuh Aruna. Bukan hanya rasa lega secara biologis, tapi ia merasa seolah ada ribuan jarum listrik yang mengalir dari tangannya, melewati jantungnya, dan keluar melalui dadanya menuju Leonardo.

​"Proses dekripsi dimulai," suara Silas terdengar bersemangat. "Kadar oksitosin stabil. Frekuensi jantung subjek selaras. Data mulai mengalir... 10%... 15%..."

​Di layar besar di dinding, ribuan baris kode digital, daftar transaksi perbankan, dan nama-nama akun rahasia mulai bermunculan. Ini adalah peta harta karun dunia bawah tanah yang selama ini dicari.

​Namun, di tengah proses itu, pintu ruangan meledak.

​BOOM!

​Asap dan api memenuhi ruangan. Aruna melindungi Leonardo dengan tubuhnya, meringkuk di kursi. Di tengah kekacauan, sosok pria muncul dari balik asap dengan dua senapan otomatis di tangannya.

​"DANTE!" teriak Aruna.

​Dante bergerak seperti iblis yang haus darah. Ia menembak dua penjaga Marco dalam hitungan detik. Marco mencoba meraih senjatanya, namun Dante lebih cepat. Sebuah peluru menyerempet bahu Marco, membuatnya jatuh tersungkur.

​"Ambil anak itu dan lari ke dermaga empat!" teriak Dante pada Aruna. Wajahnya penuh luka, pakaiannya bersimbah darah—entah darahnya sendiri atau darah penjaga yang ia bantai di sepanjang jalan.

​"Tapi kabel-kabel ini!" Aruna mencoba mencabut elektroda di tangannya, namun Silas Chen berteriak.

​"JANGAN! Jika kau memutusnya secara paksa sekarang, terjadi lonjakan data yang akan menghancurkan otakmu!" Silas mencoba menghalangi Dante. "Dante, biarkan prosesnya selesai! Dia akan mati jika kau menghentikannya sekarang!"

​Dante berhenti sejenak, senjatanya masih mengarah pada Silas. Ia menatap Aruna yang sedang mendekap Leonardo. Isapan Leonardo adalah satu-satunya hal yang menjaga Aruna tetap hidup di tengah aliran data yang mematikan itu.

​"Berapa lama lagi?" tanya Dante, suaranya parau.

​"Tiga menit! Hanya butuh tiga menit lagi untuk mengosongkan 'Kunci' itu selamanya!" Silas memohon. "Setelah itu, tanda itu akan hilang, Aruna akan bebas, dan data ini akan berada di server yang tidak bisa diakses siapapun tanpa kode dari kalian berdua!"

​Dante menatap pintu masuk. Suara sepatu bot tentara bayaran The Consortium terdengar mendekat. Mereka terkepung di kedalaman tiga ratus meter di bawah laut.

​"Marco," Dante memanggil tangan kanannya yang sedang memegangi bahunya yang berdarah. "Kau mengkhianatiku demi keluarga Valerius. Sekarang, buktikan kesetiaanmu. Tahan pintu itu selama tiga menit. Berikan Aruna waktu untuk melepaskan beban ini."

​Marco menatap Dante, lalu menatap Aruna dan Leonardo. Penyesalan tampak di matanya. Ia mengambil senapan cadangan yang terjatuh di lantai. "Tiga menit, Tuan. Itu adalah waktu yang cukup untuk seorang prajurit mati dengan terhormat."

​Marco berdiri di ambang pintu yang hancur, membelakangi mereka, dan mulai melepaskan tembakan ke arah lorong.

​Aruna memejamkan mata, memeluk Leonardo seerat mungkin. Ia merasakan energi di tangannya semakin kuat, semakin panas, sampai akhirnya... sebuah ledakan cahaya putih terasa meledak di dalam kepalanya.

​"Unduhan selesai. Kunci Fisik dinonaktifkan."

​Aruna terkulai lemas di kursi. Pergelangan tangannya kini bersih. Tanda melati yang ia miliki sejak lahir telah hilang sepenuhnya, meninggalkan kulit mulus seolah-olah tanda itu tidak pernah ada.

​"Aruna! Kau baik-baik saja?" Dante menangkap tubuhnya sebelum ia jatuh ke lantai.

​Aruna membuka matanya perlahan. Ia melihat tangannya. Kosong. Ia melihat Leonardo yang kini tertidur pulas dalam dekapannya, bibirnya masih basah oleh sisa susu.

​"Selesai..." bisik Aruna. "Ini sudah berakhir, Dante?"

​"Belum," Dante mengangkat Aruna dan Leonardo sekaligus. "Kita masih harus keluar dari dasar laut ini."

​Dante melihat ke arah pintu. Marco telah jatuh, tubuhnya dipenuhi lubang peluru, namun ia berhasil menahan musuh cukup lama. Silas Chen sudah menghilang melalui pintu rahasia di balik monitor.

​"Ayo, Aruna! Lari!"

​Dante membawa mereka menuju pod pelarian darurat. Di belakang mereka, fasilitas bawah laut mulai berguncang. Silas Chen rupanya telah mengaktifkan protokol penghancuran diri untuk memastikan tidak ada bukti yang tersisa.

​Mereka masuk ke dalam pod kecil berbentuk bulat. Dante segera menekan tombol peluncuran. Dengan sentakan hebat, pod itu melesat keluar dari fasilitas, menuju permukaan air yang jauh di atas.

​Di dalam pod yang sempit, di tengah kegelapan laut dalam, Aruna menangis sambil tertawa. Ia tidak lagi memegang rahasia dunia. Ia tidak lagi menjadi target biometrik. Ia hanya seorang ibu, memegang anaknya, di samping pria yang telah melintasi neraka untuk menjemputnya.

​"Kita akan ke mana, Dante?" tanya Aruna saat pod mereka mulai melihat cahaya rembulan dari permukaan air.

​Dante memeluk mereka berdua, mencium kening Aruna dengan lembut. "Ke tempat di mana kau tidak perlu menyusui dalam ketakutan lagi, Aruna. Ke tempat di mana kau hanya seorang istri, dan aku hanya seorang pria yang mencintaimu."

​Pod itu muncul ke permukaan dengan cipratan air yang besar. Di atas mereka, langit Singapura yang penuh bintang menyambut mereka. Namun, di kejauhan, sebuah kapal induk tanpa bendera sedang menunggu. Perang untuk kekuasaan mungkin telah berakhir bagi tubuh Aruna, tapi bagi keluarga Valerius, babak baru dalam dunia yang sudah mereka hancurkan baru saja dimulai.

1
adrina salsabila alkhadafi
sungguh novel yang bagus sekali,aku menantikan bab selanjutnya,jangan lama2 ya up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!