NovelToon NovelToon
Sabar Berujung Bahagia

Sabar Berujung Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Wanita Karir / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Janda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sherly

Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.

Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.

Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.

Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Obat Rindu di Sudut Balkon

Sudah sebulan aku bekerja di salon ini, dan ternyata kenyataannya tak semulus yang kubayangkan. Semua butuh proses yang panjang sampai terkadang aku merasa lelah sendiri.

Malam ini, aku duduk termenung di balkon atas karena tak bisa tidur. Sementara itu, Mbak Puji sudah terlelap nyenyak di atas kasur.

"Kamu kenapa, Yan?" tanya Mawar. Ia datang bersama Lala dan mendapati aku sedang murung sendirian.

"Aku nggak apa-apa, kok," jawabku singkat. Namun, aku tak bisa menyembunyikan wajahku yang sembab dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Kamu kesal ya gara-gara tadi kena marah Mami Rianti? Aku dulu juga pernah kok mengalami hal yang sama kayak kamu," ucap Mawar lembut sambil menepuk pelan punggungku.

Aku segera menggeleng. "Bukan itu yang buat aku murung, Kak. Aku cuma lagi rindu keluarga saja," selaku agar tidak terjadi kesalahpahaman.

"Oh, syukur deh. Kirain kamu langsung nggak betah di sini gara-gara habis kena marah," ucap Mawar sambil terkekeh kecil.

"Sebenarnya itu juga salahku sendiri, jadi wajar saja Kak Rianti marah," ujarku yang disambut anggukan setuju dari Mawar. Ia sepertinya memang tipe yang tidak tegaan melihat temannya bersedih.

"Sudah, jangan sedih lagi. Ada rokok nggak? Kalau nggak ada, pakai punyaku saja, atau minta sama Lala tuh," kata Mawar sambil melirik ke arah Lala yang sedang asyik menelepon.

Lala yang sedang sibuk mengobrol dengan kekasihnya mendadak salah tanggap. "Hah? Minta apa? Pacarku cuma satu, masa mau diminta juga!" balasnya asal.

Mawar spontan menyentil kepala Lala pelan. "Dasar o'on! Maksudnya itu minta rokokmu, Lala, bukan cowokmu! Lagian mana ada yang mau sama dia," ledek Mawar bercanda.

"Ada kok! Nyatanya ini aku mau," sahut Lala dengan polos sambil menunjuk dirinya sendiri, membuat suasana yang tadinya sedih mendadak jadi penuh tawa.

Lalu tawa kami pecah seketika mendengar jawaban polos Lala. Rasa sesak di dadaku perlahan memudar, tergantikan oleh kehangatan persahabatan mereka yang konyol.

"Nah, gitu dong senyum. Kalau sedih terus nanti cantiknya hilang, malah mirip hantu penunggu balkon," goda Mawar sembari menyulut rokoknya.

Lala akhirnya menutup telepon dan mendekat ke arah kami. Ia menyodorkan sebungkus rokok kepadaku. "Nih, ambil aja. Jangan nangis lagi, Yan. Kalau kamu pulang kampung gara-gara kangen, nanti siapa yang mau aku ajak rebutan remote TV?"

Aku mengambil sebatang dan menyulutnya, merasakan asap hangat masuk ke paru-paru. "Makasih ya, Kak Mawar, La. Aku cuma lagi merasa homesick aja. Biasanya jam segini aku lagi ngobrol sama Mamak di depan rumah."

"Wajar kok, Yan. Namanya juga merantau," sahut Mawar sambil menyandarkan punggung ke pagar balkon. "Dulu aku bulan pertama malah nangis setiap malam di bawah bantal. Tapi lama-lama, salon ini jadi rumah kedua. Orang-orang di sini, ya keluarga kita sekarang."

"Iya, Yan. Lagian ada kita yang selalu siap bikin pusing," timpal Lala sambil nyengir tanpa dosa. "Mami Rianti itu kalau marah emang mulutnya pedas, tapi hatinya baik. Besok juga dia udah biasa lagi, palingan kamu disuruh keramasin dia buat nebus kesalahan."

Aku terkekeh pelan. "Iya, aku tahu. Aku bakal berusaha lebih rajin lagi belajarnya."

Kami bertiga terdiam sejenak, menikmati angin malam yang berhembus pelan di balkon. Suara jangkrik dan kendaraan yang sesekali lewat di bawah menjadi musik latar obrolan kami. Di tengah kepulan asap rokok, aku menyadari bahwa meskipun jalanku di salon ini tidak mudah, aku tidak menjalaninya sendirian.

"Eh, udah jam satu malam nih. Besok Mami Rianti bisa ngamuk lagi kalau kita bangun kesiangan gara-gara ngerumpi di sini," ujar Mawar sambil mematikan puntung rokoknya di asbak.

"Ayo masuk, Yan. Tidur. Besok pagi kita tempur lagi sama hair dryer dan catokan," ajak Lala sambil merangkul bahuku.

Aku mengangguk, merasa sedikit lebih ringan. Kami bertiga pun beranjak meninggalkan balkon, masuk ke kamar masing-masing untuk menjemput mimpi, berharap hari esok akan membawa keceriaan yang lebih dari hari ini.

Malam itu aku melangkah masuk, mencoba menyusul Mbak Puji ke alam mimpi. Namun hasilnya nihil; mataku tetap terjaga dan kantuk tak kunjung datang. Pikiranku masih berkelana jauh ke rumah.

Akhirnya, aku menyambar kembali ponsel dan bungkus rokokku, lalu berjalan pelan ke sudut ruangan agar tidak mengganggu yang lain. Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku mencari kontak adikku di layar ponsel. Di tengah keheningan malam yang sunyi, hanya suaranya yang ingin kudengar saat ini untuk sekadar mengobati rasa rindu.

"Hallo, Mbak?" suara adikku terdengar di seberang sana, sedikit serak khas orang yang baru bangun tidur.

Mendengar sapaan singkat itu, tenggorokanku tiba-tiba terasa tercekat. Air mata yang sejak tadi kutahan hampir saja tumpah. Aku menarik napas panjang, mencoba menormalkan suaraku agar ia tidak curiga kalau kakaknya sedang tidak baik-baik saja di perantauan.

"Halo, Dek... Belum tidur? Atau Mbak bangunin kamu ya?" tanyaku pelan, sambil menyulut rokok yang sudah ada di jemariku. Asapnya mengepul, terbawa angin malam yang dingin.

"Udah tidur tadi, tapi HP bunyi terus ya aku angkat. Tumben Mbak telepon jam segini? Di sana jam berapa? Ada masalah ya?" tanyanya beruntun, nada suaranya berubah menjadi khawatir.

Aku terkekeh kecil, mencoba terdengar ceria meskipun mataku masih berkaca-kaca. "Nggak ada apa-apa, kok. Cuma tiba-tiba kangen aja. Mamak sama Bapak udah tidur ya?"

"Udah dari tadi, Mbak. Bapak tadi habis pulang dari sawah langsung istirahat. Mamak juga udah nyenyak," jawabnya. "Mbak benar nggak apa-apa? Suara Mbak kok kayak habis nangis?"

Pertanyaan polosnya itu hampir meruntuhkan pertahananku. Aku menatap langit malam dari balkon, mencoba mencari kekuatan di sana. "Nggak, ini cuma kena asap rokok aja tadi. Mbak cuma mau pesan, kamu jaga kesehatan ya di rumah. Bantu-bantu Mamak, jangan bandel."

Kami pun mengobrol cukup lama. Adikku bercerita tentang hal-hal sepele di rumah—tentang kucing kami yang baru beranak, hingga harga pupuk yang naik. Hal-hal sederhana yang justru membuat hatiku terasa jauh lebih tenang. Setidaknya, meski pekerjaanku di salon sedang sulit, aku tahu untuk siapa aku berjuang sekeras ini.

"Ya sudah, kamu lanjut tidur lagi ya. Maaf Mbak ganggu malam-malam," ucapku sebelum mengakhiri panggilan.

"Iya Mbak, semangat kerjanya ya. Jangan telat makan!" pesannya sebelum sambungan terputus.

Aku menurunkan ponsel dari telingaku dan menghela napas lega. Perasaan sesak yang tadi menghimpit kini terasa sedikit berkurang. Ternyata, benar kata orang, suara keluarga itu obat yang menenangkan hati ketika jauh

Baru saja aku mematikan ponsel dan menghela napas lega, tiba-tiba sosok Mawar muncul kembali di balkon. Langkah kakinya hampir tak terdengar, membuatku sedikit terkejut.

"Belum tidur juga, Yan? Katanya mau menyusul Mbak Puji ke alam mimpi," godanya sambil menyandarkan siku di pagar balkon, tepat di sampingku.

Aku tersenyum tipis sambil memasukkan ponsel ke saku celana. "Susah, Kak. Mataku nggak mau diajak kompromi. Habis telepon adik di rumah, malah jadi makin melek."

Mawar mengangguk paham, ia kemudian menyulut sebatang rokok lagi. "Gimana? Sudah mendingan perasaannya habis dengar suara orang rumah?"

"Sudah, Kak. Jauh lebih tenang," jawabku jujur. "Ternyata benar ya, kadang kita cuma butuh pengingat kenapa kita harus bertahan di sini."

Mawar terdiam sejenak, menatap kerlap-kerlip lampu kota di kejauhan. "Dunia kerja memang keras, Yan. Apalagi di salon seperti ini. Mami Rianti memang perfeksionis, tapi ilmu yang dia kasih itu mahal harganya. Kalau kamu lulus ujian mental dari dia, di tempat lain kamu bakal jadi 'orang'."

Kami pun tenggelam dalam obrolan yang lebih dalam malam itu. Mawar mulai bercerita tentang masa-masa sulitnya saat pertama kali merantau, jauh sebelum aku datang. Ia menceritakan betapa seringnya ia ingin menyerah dan pulang, namun ia memilih untuk bertahan demi masa depan yang lebih baik.

"Kita semua punya beban masing-masing, Yan. Ada yang kerja buat bayar hutang keluarga, ada yang buat sekolah adik, atau sekadar ingin membuktikan kalau kita bisa mandiri. Jadi, kalau besok kamu merasa lelah lagi, ingat saja percakapan sama adikmu tadi," ucap Mawar dengan nada yang lebih serius namun menenangkan.

Obrolan itu membuat pandanganku terhadap pekerjaan di salon mulai sedikit berubah. Aku menyadari bahwa Mawar, di balik sikap konyol dan santainya, adalah sosok kakak yang sangat dewasa.

"Makasih ya, Kak, sudah mau menemani mengobrol," ucapku tulus.

Mawar menepuk bahuku sekali lagi sebelum beranjak. "Sama-sama. Sudah, sekarang ayo masuk. Benar-benar harus tidur sekarang, atau besok tanganmu gemetaran pas pegang catokan karena kurang tidur."

Aku pun tertawa kecil dan mengangguk, kali ini benar-benar siap untuk beristirahat.

Bersambung...   

1
Ai_Li
aku mampir kak
WinnyLiam
👍🏻
Melsha: terimakasih
total 1 replies
Efan Taga
aku mampirrrr
Melsha: terimakasih udah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!