Katarina Ayudia adalah siswi genius penerima beasiswa yang hidup sederhana, sementara Alarick Valerius adalah putra tunggal konglomerat sekaligus ketua geng motor yang ditakuti. Cinta mereka yang membara harus menghadapi tembok besar bernama Victoria Valerius, ibu Alarick, yang merancang fitnah keji untuk memisahkan mereka. Victoria mengancam masa depan Kate dan memanipulasi Alarick hingga pria itu percaya bahwa Kate adalah gadis oportunis yang telah mengkhianatinya dengan banyak pria.
Perpisahan pahit selama bertahun-tahun meninggalkan luka mendalam, Kate hidup dalam kemiskinan dan kerja keras demi bertahan hidup, sementara Alarick tumbuh menjadi CEO dingin yang menderita trauma psikologis berupa rasa mual hebat setiap kali menyentuh Kate karena bayangan fitnah masa lalu.
langsung baca aja dear😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumor Dan Realita
Tiga hari telah berlalu sejak malam yang mengubah segalanya. Kate berusaha keras menjaga topeng siswi teladannya tetap terpasang sempurna, meski memori tentang sentuhan kasar Alarick dan aroma hujan di jaket kulit cowok itu terus menghantui tidurnya.
Suasana kantin SMA Pelita siang itu sangat bising. Kate duduk di pojok perpustakaan—tempat pelariannya yang paling aman—tapi pembicaraan sekelompok siswi di meja sebelah tetap menembus pertahanannya.
"Eh, kalian dengar nggak? Alarick Valerius semalam tawuran lagi di batas kota. Katanya dia sendirian ngelawan lima orang dari sekolah kita!" seru salah satu siswi dengan mata berbinar.
"Gila, dia emang keren banget. Cowok bad boy paling mahal se-ibu kota. Sayangnya dia sekolah di Garuda, kalau di sini, gue pasti udah daftar jadi pacarnya," timpal yang lain.
Kate meremas pulpennya hingga buku jarinya memutih. Mahal? Keren? Mereka tidak tahu kalau cowok itu bisa bersikap sangat posesif dan berbahaya di dalam kamar seorang gadis yang memakai baju tidur Doraemon.
Meski berbeda sekolah, nama Alarick Valerius adalah legenda. Di SMA Pelita sendiri, ia memiliki musuh bebuyutan, bernama Bara Mahendra, kapten tim basket sekaligus anak kepala yayasan yang merasa otoritasnya terancam oleh eksistensi Alarick di jalanan.
"Kate? Kamu melamun?" suara lembut Bibi Sarah di telepon mengejutkannya. Kate memang sengaja menelepon bibinya setiap istirahat untuk menenangkan diri.
"Ah, nggak, Bi. Cuma lagi mikirin tugas," bohong Kate.
"Tadi ada kurir antar paket ke rumah. Katanya buat kamu. Kotaknya hitam, nggak ada nama pengirimnya. Bibi taruh di meja belajarmu, ya?"
Jantung Kate mencelos. Kotak hitam.
Sore harinya, Kate hampir lari menuju kamarnya. Di atas meja, sebuah kotak hitam elegan berlogo brand ternama tergeletak di sana. Dengan tangan gemetar, Kate membukanya.
Di dalamnya terdapat sebuah jaket varsity mahal berwarna hitam-putih dengan bordir inisial A.V di bagian dada, dan sebuah ponsel keluaran terbaru. Di bawahnya, ada secarik kertas dengan tulisan tangan yang berantakan namun tegas:
"Ponsel lo jelek malam itu. Dan pakai jaketnya, Lo milik gue sekarang, Kate. – A.V"
Kate terduduk di tempat tidurnya. Apa Alarick jatuh cinta padanya ? Apa mungkin dia terobsesi ?
Tiba-tiba, ponsel baru itu bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Alarick V: besok gue jemput depan gerbang sekolah lo sepulang sekolah. Jangan telat, atau gue yang jemput lo ke dalem.
Disekolah.
"Lo tahu nggak, Kate? Alarick itu kabarnya pernah nolak anak gubernur mentah-mentah. Katanya, "'Lo nggak masuk kriteria gue." Gila, sedingin apa sih itu orang? Penasaran banget gue sama cewek yang bisa bikin dia luluh," celoteh Maya, sahabat Kate, sambil mengunyah keripik di perpustakaan.
Kate hanya tersenyum kaku, tangannya sibuk membalik halaman buku kalkulus yang tidak satu pun rumusnya masuk ke otaknya. Dingin? Tidak tersentuh? Maya tidak tahu kalau semalam cowok dingin itu meringkuk di karpet kamar Kate, menyandarkan kepalanya di pangkuan Kate sambil mendengarkan gadis itu bercerita tentang mimpinya.
Sejak malam kejadian film itu, jendela balkon Kate tak pernah benar-benar terkunci.
Setiap jam Sembilan malam, setelah Bibi Sarah terlelap karena kelelahan bekerja, deru motor yang diredam akan berhenti di ujung gang. Tak lama, sosok jangkung dengan jaket kulit hitam akan memanjat pohon kamboja tua dan melompat masuk ke kamar Kate seolah itu adalah markas pribadinya.
Suara gesekan halus di jendela membuat jantung Kate berpacu. Alarick masuk dengan wajah yang lebih bersih dari biasanya, meski tetap ada kesan liar di matanya.
"Maya bilang kamu orang paling dingin sedunia hari ini," bisik Kate saat Alarick langsung menariknya ke dalam dekapan begitu kakinya menapak lantai.
"Gue emang dingin buat mereka, tapi nggak buat lo," gumam Alarick, suaranya serak dan rendah, mengirimkan getaran ke seluruh tubuh Kate.
Alarick membawa Kate ke tempat tidur, mendudukkannya di sana sementara ia berlutut di antara kedua kaki gadis itu. Tangan Alarick yang bertato dan kokoh mulai menjalar, mengusap leher Kate dengan posesif.
"Alarick, jangan... aku harus belajar buat ujian besok," tolak Kate lemah. Tangannya mencoba mendorong bahu lebar Alarick, namun seperti malam-malam sebelumnya, penolakan itu hanya berakhir menjadi cengkeraman pada kaus hitam cowok itu.
"Belajarnya nanti. Sekarang, gue kangen," balas Alarick sebelum membungkam bibir Kate.
Ciuman mereka selalu seperti itu, penuh tuntutan, panas, dan mendesak. Alarick mencumbunya seolah Kate adalah oksigen yang ia butuhkan untuk bertahan hidup di tengah kerasnya dunia motor dan tekanan keluarganya. Tangan Alarick merayap ke balik baju tidur Kate, menyentuh kulit lembut yang selalu membuatnya gila.
Kate mengerang pelan, kepalanya mendongak saat Alarick berpindah menciumi lehernya, meninggalkan tanda kemerahan yang harus Kate sembunyikan dengan concealer keesokan harinya. Meski gairah memuncak dan napas mereka saling memburu di bawah temaram lampu tidur, mereka punya satu garis merah yang tidak pernah dilanggar.
Alarick selalu berhenti tepat sebelum semuanya menjadi terlalu jauh. Ia tidak ingin menghancurkan Kate, ia terlalu menghargai gadis ini untuk melakukan hal yang tidak bisa ditarik kembali sebelum waktunya.
"Gue bisa gila kalau cuma begini terus tiap malam," bisik Alarick di sela napasnya yang berat, menyandarkan keningnya pada bahu Kate yang terbuka.
Kate mengelus rambut hitam Alarick, merasakan detak jantung cowok itu yang sama kencangnya dengan miliknya. "Kamu yang pilih buat ke sini terus, Al."
"Karena cuma di sini gue ngerasa pulang, Kate. Bukan di rumah yang kayak kuburan itu."
Di luar sana, dunia mengenal mereka sebagai siswi teladan dan ketua geng motor yang bermusuhan. Namun di kamar ini, dalam diam dan kegelapan, mereka hanyalah dua remaja yang saling terikat.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading😍