Akibat sebuah kecelakaan, Alea—Ratu Mafia yang ditakuti dunia bawah—bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang siswi SMA yang cupu, norak, dan selalu menjadi sasaran perundungan.
Lebih buruk lagi, gadis itu bukan hanya dibenci di sekolah, tetapi juga ditolak oleh keluarganya sendiri. Penampilan lusuh dan tingkahnya yang dianggap memalukan membuatnya hidup tanpa suara, tanpa pembelaan.
Kini, jiwa dingin dan berbahaya milik Alea menempati tubuh yang selama ini diremehkan semua orang.
Sekolah yang dulu penuh ejekan mulai terasa tidak aman.
Keluarga yang dahulu membuangnya perlahan menghadapi perubahan yang tak bisa mereka kendalikan.
Akankah mereka menyesal telah membenci Alea?
Ataukah justru Alea yang tak lagi peduli untuk memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rs_31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arabella Kalandra Or Alea Adinata?
Alea membuka matanya perlahan, menyesuaikan sinar matahari yang masuk ke dalam matanya. Kepalanya terasa berat. Pandangannya masih sedikit buram. Dia mengedarkan pandangannya ke segala arah, sampai matanya tertuju pada selang infus yang menggantung di sisi tangannya.
Alis Alea langsung mengernyit.
“Ternyata gue di rumah sakit,” gumam Alea pelan.
Dadanya naik turun pelan. Ingatannya masih utuh. Balapan. Kecepatan. Tikungan terakhir.
“Pasti Damian yang bawa gue ke sini,” lanjutnya yakin, meski ada rasa aneh yang tiba-tiba muncul di dadanya.
Belum sempat Alea berpikir lebih jauh, pintu ruangan terbuka perlahan. Seorang wanita setengah sepuh masuk dan berjalan mendekatinya.
“Nona Ara,” ucap wanita itu.
“Akhirnya Anda sadar juga.”
Jantung Alea langsung berdegup lebih cepat.Dia menatap wanita itu tanpa berkedip. Otaknya langsung siaga.
Bingung? Dari mana datangnya wanita sepuh itu. Curiga siapa yang mengirim dia kerumah sakit, apakah salah satu musuhnya? lalu dimana Damian?
“Lo siapa?” tanya Alea dingin.
Wanita itu terdiam, menatap Alea dengan sorot mata dalam.
“Non Ara, apakah Non sudah lupa sama Bibi?” tanyanya pelan.
“Hah? Non Ara?” Alea refleks menegakkan tubuhnya sedikit.
“Apa maksud lo?”
Sejak kapan namanya jadi Ara? Perasaan kemarin semuanya masih normal. Dia masih di sirkuit. Masih balapan. Masih bersama Damian di sana.
“Iya,” suara wanita itu mulai panik, “apa Non Ara juga lupa siapa diri Non sendiri?”
Kepala Alea langsung berdenyut.
Ada rasa tidak nyaman yang menekan pelan di dadanya.
Alea terdiam, mencoba mencerna ucapan wanita itu. Situasi ini salah sangat salah. Tapi dia belum tahu di mana letak kesalahannya.
Wanita sepuh itu tiba-tiba menekan tombol merah di samping ranjang tanpa bicara lagi dengan Alea.
“Lo mau ngapain?” Alea langsung waspada. Tangannya sedikit menegang.
“Tunggu sebentar, Non. Dokter akan datang,” jawab wanita itu cepat.
Benar saja setelah wanita itu berbicara tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Seorang dokter pria masuk mengenakan jas putih berjalan mendekat kearah Alea.
“Nona Ara, apa yang Anda rasakan saat ini?” tanya dokter itu.
Alea tidak langsung menjawab.
Tatapannya menajam. Dia mengamati dokter itu dari ujung kepala sampai kaki, seolah mencari kebohongan.
“Dokter,” katanya akhirnya, suaranya dingin, “siapa Ara? Nama gue Alea Adinata. Bukan Ara.”
Dokter itu terdiam sejenak, lalu menggeleng tegas.
“Tapi nama kamu memang Ara,” jawabnya tenang. “Lebih tepatnya, Arabella Kalandra.”
Detik itu juga, jantung Alea seperti berhenti berdetak sesaat.
“Apa?” Alea membantah cepat.
“Bukan. Nama gue Alea Adinata.”
Alea terdiam.Kepalanya penuh dengan suara-suara dokter dan wanita sepuh itu yang mengatakan kalau dia bukan Alea tapi Ara.
Kenapa mereka semua begitu yakin? Apakah ada yang salah dengan otak Alea atau justru sebaliknya?
Dokter itu lalu menoleh ke arah wanita sepuh tadi.
“Bi, sepertinya Nona Ara mengalami amnesia akibat benturan keras di kepalanya,” jelasnya. “Itu sebabnya Nona Ara kehilangan ingatannya.”
Alea mengepalkan tangannya tanpa sadar.
Amnesia?
Dia menarik napas dalam, lalu menoleh ke arah wanita sepuh itu.
“Bi,” katanya pelan tapi tegas, “sebenarnya gue ini siapa?”
Wanita itu menatap Alea dengan mata berkaca-kaca.
“Nama Non itu Arabella Kalandra.”
“Arabella Kalandra?” ulang Alea pelan.
Dadanya terasa aneh. Bukan takut. Bukan juga panik. Tapi seperti ada sesuatu yang tersentuh.
Nama itu terdengar asing tapi kenapa kepalanya terasa berat saat mendengarnya?
“Sepertinya gue pernah denger nama itu,” gumam Alea dalam hati.
“Tapi di mana?”
Saat sedang berpikir tiba-tiba saja kepala Alea terasa berputar dengan keras. Rasa pusing itu datang mendadak, menekan kuat di kepalanya, membuat Alea refleks memegangi kepalanya dengan kedua tangan.
“Aww sakit,” erang Alea sambil menunduk.
Dokter dan pelayan yang berada di ruangan itu langsung bergerak cepat mendekatinya dengan wajah panik.
“Non Ara, Anda tidak apa-apa?” tanya pelayan itu yang bernama Bi Wati, dengan suara bergetar.
“Sakit, Bi,” jawab Alea lirih.
Napasnya mulai tidak beraturan.
Rasa sakit itu bukannya mereda, malah semakin menjadi.Kepalanya terasa seperti dipukul dari dalam. Seketika, potongan-potongan bayangan asing bermunculan di pikirannya.
Seorang gadis dengan seragam sekolah.Tatapan-tatapan merendahkan.Tawa ejekan. Dan terakhir bayangan tubuh yang terjatuh ke aspal dengan darah mengenang dimana-mana, saat
mobil yang melaju kencang menabrak tubuh Ara.
“Itu bukan ingatan gue,” gumam Alea pelan, suaranya hampir tak terdengar.
Tangannya semakin mencengkeram kepala.
“Kenapa ingatan Ara terus berputar di otak gue?” batinnya kacau.
“Sebenarnya ada apa ini?”
Karena tidak kuat menHan rasa sakit di kepalanya, membuat pandangan Alea mulai mengabur. Suara di sekitarnya terdengar samar, seperti menjauh.
Tubuhnya melemah.Dan sebelum sempat menahan diri, Alea terkulai tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit itu.
" Astaga Non Ara bangun,"