Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Keesokan harinya, langit Kota Golden Core cerah setelah hujan semalaman. Xiao Han mengendarai Mercedes hitam mengkilap milik Lin Qing—bukan karena dia meminjam, tapi karena Lin Qing sendiri yang menyuruhnya pakai mobil itu hari ini. “Kamu jemput pacarmu pakai mobil ini aja. Biar kelihatan rapi,” katanya pagi tadi sambil tersenyum tipis sebelum pergi ke meeting.
Xiao Han sebenarnya ragu. Mobil sekelas ini terlalu mencolok untuk halaman sekolah di pinggiran Kota Golden Core. Tapi dia sudah janji kemarin malam: jemput Hua Ling’er pulang sekolah, makan mie ayam di warung biasa, seperti dulu.
Pukul 15:45, Mercedes itu meluncur pelan memasuki halaman parkir SMA Negeri 7 Golden Core. Begitu mobil berhenti di dekat gerbang, suasana langsung berubah. Murid-murid yang baru selesai kelas berhenti berjalan, mata mereka tertuju ke mobil hitam itu seperti magnet.
“Eh, itu mobil siapa? Gila, Mercedes AMG ya?”
“Punya siapa tuh? Bapaknya taipan kali?”
“Wah, pasti jemput anak orang kaya deh.”
Xiao Han turun dari mobil, masih mengenakan seragam supir hitam rapi—kemeja putih lengan panjang digulung sampai siku, dasi longgar sedikit, celana bahan hitam, dan sepatu kulit mengkilap. Dia berdiri di samping pintu penumpang, menunggu Hua Ling’er keluar dari gerbang.
Hua Ling’er muncul beberapa menit kemudian, tas ransel di bahu, seragam SMA-nya masih rapi. Begitu melihat Xiao Han dan mobil di belakangnya, matanya melebar. Dia berjalan cepat mendekat, tapi langkahnya terhenti karena puluhan pasang mata sudah mengarah ke mereka.
“Kak Han… ini mobilnya Kak Qing ya?” bisiknya pelan, wajahnya merah karena malu sekaligus kaget.
“Iya. Dia suruh aku pakai ini hari ini. Maaf kalau terlalu mencolok.”
Belum sempat Hua Ling’er menjawab, segerombolan murid perempuan kelas 3 dan kelas 2 sudah mendekat. Mereka berbisik-bisik, tapi cukup keras untuk terdengar.
“Eh, itu pacarnya Hua Ling’er? Ganteng banget!”
“Serius? Kok bisa sih dia dapet cowok pake mobil segitunya?”
“Wah, iri deh. Aku juga mau dijemput gitu.”
Beberapa yang lebih berani malah mendekat langsung ke Xiao Han. Seorang gadis berponi dengan rok seragam yang digulung pendek tersenyum manis sambil memainkan rambut.
“Kak… ini pacarnya Ling’er ya? Boleh foto bareng nggak? Mobilnya keren banget!”
“Kak ganteng, kerja apa sih? Bisa kasih nomor nggak?”
Xiao Han tersenyum kaku, menggeleng pelan.
“Maaf, saya cuma jemput pacar saya. Nggak bisa foto atau kasih nomor.”
Gadis-gadis itu tertawa kecil, tapi tidak mundur. Yang lain ikut nimbrung.
“Kak, boleh dong naik mobilnya sekali aja? Cuma muter halaman sekolah!”
“Atau ajak aku jalan-jalan dong, Kak. Aku lebih cantik dari Ling’er kok~”
Hua Ling’er langsung maju, memegang lengan Xiao Han erat-erat. Wajahnya merah padam, campur antara malu dan kesal.
“Sudah! Dia pacarku. Kalian minggir dulu dong.”
Para gadis itu tertawa lagi, tapi akhirnya mundur sambil berbisik-bisik dan mengambil foto diam-diam dari jauh. Hua Ling’er buru-buru masuk ke jok penumpang, Xiao Han mengikuti dan menutup pintu.
Begitu mobil mulai melaju keluar halaman sekolah, Hua Ling’er menatap Xiao Han dengan mata besar.
“Kak… aku nggak nyangka bakal begini. Semua orang pada ngeliatin. Malu banget.”
Xiao Han menghela napas, tangannya memegang setir lebih erat.
“Maaf, Ling’er. Aku nggak mikir bakal segini hebohnya. Besok aku jemput pakai motor lagi aja.”
Hua Ling’er menggeleng pelan, lalu tersenyum kecil meski pipinya masih merah.
“Nggak apa-apa, Kak. Aku cuma… senang Kakak jemput. Tapi lain kali… mungkin mobil biasa aja ya? Aku nggak mau jadi bahan gosip sekolah.”
Xiao Han mengangguk, tersenyum tipis.
“Janji. Mulai besok motor lagi.”
Mobil meluncur pelan menuju warung mie ayam langganan mereka di pinggir jalan. Di dalam kabin yang hening, Hua Ling’er memandang profil Xiao Han dari samping—pria yang selalu berusaha melindunginya, meski dunia di sekitarnya semakin berubah.
Saat mobil berhenti di depan warung kecil yang sederhana, Hua Ling’er memegang tangan Xiao Han sebelum turun.
“Kak… terima kasih hari ini. Meski heboh, aku senang Kakak jemput.”
Xiao Han membalas genggaman itu, matanya lembut.
“Aku juga senang, Ling’er. Ayo makan mie ayam. Kayak dulu.”
Mereka turun dari mobil, meninggalkan Mercedes hitam yang mencolok di pinggir jalan, dan masuk ke warung kecil yang penuh aroma kaldu dan bawang goreng—kembali ke dunia mereka yang sederhana, meski hanya untuk sore ini.