NovelToon NovelToon
I Love You, Mas Kades

I Love You, Mas Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Dua jam adalah waktu yang sangat lama untuk duduk di atas batang pohon yang keras, terutama bagi Mikayla yang tidak terbiasa dengan gigitan nyamuk kebun yang ganas. Namun, demi membuktikan pada Alvaro bahwa ia memiliki ketekunan, ia tetap bertahan. Kakinya yang jenjang sesekali menggaruk bekas gigitan serangga, matanya tetap tertuju pada pintu kayu kusam di gubuk Mbah Darmo.

Di kejauhan, ia masih bisa melihat Alvaro. Pria itu sudah selesai membantu memperbaiki jaring dan sekarang sedang duduk di pinggir dermaga kecil, memandangi aliran sungai sambil menghisap rokoknya dengan tenang. Ia tampak tidak peduli pada Mika, namun Mika tahu, mata elang itu sesekali melirik ke arahnya untuk memastikan apakah ia sudah menyerah atau belum.

KRIEEET...

Suara pintu kayu yang bergesekan dengan lantai terdengar nyaring. Mika dan teman-temannya sontak berdiri tegak. Seorang pria tua dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya keluar sambil memegang sebuah tongkat kayu. Wajahnya penuh kerutan, namun matanya yang sipit menyiratkan ketegasan yang tak terbantahkan. Itulah Mbah Darmo, sang penguasa spiritual sekaligus sesepuh para nelayan di Desa Asih.

"Permisi Mbah... saya Mikayla, mahasiswi KKN dari Universitas Perairan, dan ini teman-teman saya..." Mika mencoba memberikan senyum terbaiknya, namun senyum itu langsung luntur saat Mbah Darmo bahkan tidak memandangnya.

"Pergi. Saya tidak butuh sarjana kota yang cuma mau kotori sungai dengan alat-alat aneh," suara Mbah Darmo serak namun berat. Ia meludah ke samping, tanda penolakan yang sangat jelas.

"Tapi Mbah, kami ke sini untuk membantu—" sela Arga dengan nada kakunya.

"Membantu apa? Membantu membuat ikan-ikan saya takut? Ikan di sini punya cara hidupnya sendiri. Mereka tidak butuh baterai atau kabel-kabel plastik kalian!" Mbah Darmo hendak berbalik masuk dan menutup pintu.

Mika tidak mau membiarkan kesempatan ini hilang. Ia melangkah maju hingga berdiri di depan pintu, menghalangi langkah Mbah Darmo.

"Mbah! Maaf banget, tapi tolong dengerin penjelasan kami dulu baru nyimpulin. Ya, Mbah? Plisss..." suara Mika sedikit melunak, ia mencoba menurunkan egonya. "Ini buat kesejahteraan masyarakat di sini juga loh. Kami nggak mau ikan-ikan Mbah mati lagi kayak kemarin. Kami sayang sama sungai ini, sama seperti Mbah sayang sama warisan leluhur di sini."

Mbah Darmo berhenti. Ia menatap Mika dari atas ke bawah. "Kalian ini cuma tahu teori dari buku. Apa kalian tahu rasa air sungai ini saat musim hujan datang? Apa kalian tahu di mana tempat penunggu sungai ini tinggal?"

Mika terdiam. Ia baru saja akan membalas dengan penjelasan ilmiah mengenai kadar oksigen saat hujan, tapi sebuah suara rendah memotong dari arah belakang.

"Dia memang tidak tahu, Mbah. Makanya dia di sini untuk belajar dari Mbah."

Mika menoleh. Alvaro sudah berdiri di sana. Entah sejak kapan pria itu berjalan mendekat tanpa suara. Kali ini, ia tidak memakai jaket denimnya. Hanya kaos singlet yang menonjolkan bahu bidangnya, keringat tipis membasahi lehernya yang kecokelatan.

Campur Tangan Alvaro

Alvaro melangkah naik ke teras bambu yang sempit itu. Ia menunduk hormat pada Mbah Darmo—sebuah pemandangan yang membuat Mika sedikit terkesima. Ternyata si "Kades Dajjal" ini tahu cara bersikap sopan pada orang tua.

"Mbah, biarkan anak-anak ini bicara sebentar. Kalau penjelasan mereka tetap tidak masuk akal bagi Mbah, saya sendiri yang akan mengusir mereka dari sini," ucap Alvaro tenang namun penuh wibawa.

Mbah Darmo mendengus, tapi kemudian ia menggeser tubuhnya. "Masuk. Tapi jangan lama-lama. Saya tidak punya kopi untuk kalian."

Mika masuk dengan perasaan campur aduk. Ia senang karena diizinkan, tapi kesal karena harus "dibantu" oleh Alvaro. Di dalam gubuk yang remang-remang dan beraroma kemenyan serta kayu lapuk itu, Mika mulai membentangkan proposalnya di atas meja kayu kecil.

"Jadi begini Mbah..." Mika mulai menjelaskan. Kali ini ia membuang semua istilah ilmiah yang rumit. Ia menggunakan perumpamaan. "Alat kami ini ibarat 'jaring' yang menyaring penyakit di air. Ikan-ikan Mbah tetap bebas berenang, tapi air yang masuk ke keramba bakal lebih bersih."

Mbah Darmo hanya diam, matanya terpaku pada gambar rancangan filter yang ditunjukkan Mika.

"Alat ini akan kita pasang di tikungan sungai, Mbah. Di tempat yang paling deras arusnya," tambah Mika.

"Tikungan sungai?" Mbah Darmo tiba-tiba terkekeh sinis. "Kamu tahu tidak kenapa tikungan itu dalam? Karena di sana arusnya berputar. Alatmu itu akan hancur dalam semalam. Sungai ini tidak suka ditahan."

Mika melirik Alvaro, meminta bantuan, tapi Alvaro hanya menatapnya dengan pandangan 'katanya lo pinter, buktikan dong'.

"Saya sudah menghitung kekuatannya, Mbah. Kita akan menggunakan kayu ulin sebagai penyangga, bukan plastik. Kami menghargai alam di sini," Mika mencoba meyakinkan dengan suara yang mantap.

Mbah Darmo menatap Alvaro. "Alvaro, menurutmu bagaimana?"

Alvaro menyesap udara sejenak, lalu menatap Mika. "Dia keras kepala, Mbah. Sama seperti arus sungai kita. Biarkan dia mencoba. Kalau alatnya hancur, dia akan belajar bahwa ilmu kotanya tidak selalu bisa menaklukkan alam desa kita."

Perjanjian di Bawah Lampu Teplok

Akhirnya, setelah perdebatan panjang yang menguras energi, Mbah Darmo memberikan restu—meski dengan syarat yang sangat berat. Mika harus memasang alat itu sendiri dengan timnya, tanpa bantuan alat berat desa, dan harus selesai dalam dua hari.

Saat mereka keluar dari gubuk, matahari sudah hampir tenggelam sempurna. Langit berubah menjadi ungu tua yang cantik. Teman-teman Mika sudah berjalan lebih dulu menuju motor mereka yang terparkir di ujung jalan.

Mika masih berdiri di teras, membereskan berkas-berkasnya. Alvaro masih di sana, menyandar pada tiang bambu.

"Kenapa Bapak bantu saya tadi?" tanya Mika tanpa menoleh.

"Saya tidak membantu kamu," jawab Alvaro datar. "Saya membantu warga saya. Kalau programmu sukses, mereka untung. Kalau gagal, kamu dapat pelajaran berharga. Saya tidak rugi apa-apa."

Mika berbalik, menatap Alvaro yang kini diterangi cahaya lampu teplok dari dalam gubuk. Cahaya oranye itu membuat garis wajah Alvaro terlihat lebih lembut, namun tetap tegas. "Bapak itu... benar-benar nggak punya sisi manis ya? Semuanya harus soal untung-rugi?"

Alvaro menegakkan tubuhnya, melangkah mendekat hingga bayangannya yang besar menutupi tubuh Mika. "Manis itu untuk anak kecil, Mikayla. Di sini, yang kita butuhkan adalah ketegasan untuk bertahan hidup. Besok pagi, jangan lupa bawa perlengkapanmu. Saya akan mengawasi."

"Nggak perlu diawasin juga saya bisa!" balas Mika sengit.

"Oh ya?" Alvaro menyeringai, sebuah senyuman yang kali ini tidak terasa meremehkan, tapi lebih seperti tantangan yang nakal. Ia mengulurkan tangannya, tapi bukan untuk menjabat. Ia memetik sehelai daun kering yang tersangkut di rambut kuncir kuda Mika.

Jari Alvaro sempat bersentuhan dengan kulit leher Mika selama sepersekian detik. Mika mematung. Jantungnya berkhianat lagi, berdegup kencang seperti genderang perang.

"Besok jangan nyebur lagi. Saya malas mengeringkan jaket saya dua kali," ucap Alvaro pelan, suaranya kini terdengar sedikit lebih serak. Ia kemudian berjalan pergi, meninggalkan Mika yang berdiri terpaku dengan wajah yang terasa jauh lebih panas daripada suhu udara malam itu.

"Siti benar..." bisik Mika pada dirinya sendiri, tangannya memegang leher bekas sentuhan jari Alvaro. "Kades ini... benar-benar berbahaya buat kesehatan jantung gue."

Mika segera berlari menyusul teman-temannya, menyembunyikan wajahnya yang merona merah di balik kegelapan malam. Ia tidak tahu bahwa Alvaro, yang sudah berjalan menjauh, sempat melirik ke belakang dengan sebuah senyuman kecil yang tulus—senyuman yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya di Desa Asih.

Perang antara Mika dan Alvaro belum berakhir, tapi malam itu, batas antara benci dan sesuatu yang lain mulai perlahan-lahan mengabur di bawah langit Desa Asih.

1
Chusnul Chotimah
itulah klo lagi kasmaran,dunia terasa hampa tanpa hadirnya...cuit..cuittt.alvaro sama Mika mau melepas rindu,,reader boleh tutup telinga tapi tak boleh tutup mata
yulia annisa
lanjut kaaaanbthooor
Lola Maulia
🥰🥰🥰🥰
Chusnul Chotimah
lanjut Thor,,semangat ya💪.
Chusnul Chotimah
mulai sedikit tersepona ya Mik sama mas kades🥰😄
Chusnul Chotimah
semangat Mik,tunjukin kamu bisa.taklukkan hati penguasa desa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!