NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ITEM SURGAWI

PEMBALASAN ITEM SURGAWI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RIAK DI KOLAM TENANG

Suasana Puncak Awan Putih pada hari kedua Turnamen Awan Berdarah tidak lagi sekadar meriah; ia telah berubah menjadi mencekam. Kabar tentang tumbangnya sepuluh murid faksi Lu di tangan "Tikus Lab" Paviliun Pengobatan telah menyebar ke setiap sudut penginapan murid dan tenda-tenda klan luar. Bagi banyak orang, Tian Feng bukan lagi sekadar pelayan yang beruntung, melainkan sebuah anomali yang harus dipecahkan.

Tian Feng sendiri duduk di bangku kayu panjang di area tunggu peserta, kepalanya bersandar pada pilar batu yang dingin. Jubah abu-abunya yang kemarin robek telah diganti dengan yang baru, namun wajahnya tetap pucat. Di tangannya, ia memegang sebuah apel merah yang hanya digigit sekali.

"Jangan hanya dilihat, Feng. Makanlah. Kau butuh nutrisi untuk menahan efek samping pil itu," suara Guru Lin terdengar pelan di sampingnya. Pria tua itu sedang sibuk menumbuk dedaunan pahit di dalam lesung kecil yang selalu ia bawa.

"Apel ini terasa seperti pasir, Guru," gumam Feng tanpa membuka mata. "Setiap kali saya menelan, meridian saya berteriak. Pil Pembalik Napas itu... sepertinya dia mulai menagih biaya sewa di dalam Dantian saya."

"Itu karena kau menyerap terlalu banyak energi kasar dari Lu Ba kemarin. Tubuhmu belum sanggup memurnikannya secepat itu," Guru Lin menyerahkan segelas cairan hijau kental. "Minum ini. Ini akan melumasi jalur Chi-mu sebelum pertandingan penyisihan kedua dimulai siang nanti."

Feng meminumnya dengan wajah meringis, lalu pandangannya beralih ke arah arena utama. Di sana, babak penyisihan untuk kategori Murid Inti Tingkat Menengah sedang berlangsung. Sorakan penonton meledak setiap kali ada pertukaran jurus yang spektakuler. Namun, perhatian Feng teralihkan oleh sosok di arena sebelah timur.

Di Arena Nomor Tujuh, seorang pemuda dengan jubah biru gelap tanpa lengan sedang berdiri dengan tenang. Di depannya, tiga penantang sudah tergeletak tak berdaya tanpa ada satu pun luka luar yang terlihat. Pemuda itu adalah Han Shuo, jenius dari Klan Han yang dikenal dengan teknik Sentuhan Es Abadi.

"Lihat dia, Feng," Guru Lin menunjuk dengan dagunya. "Itu adalah lawan yang sebenarnya. Klan Han tidak menggunakan kekuatan kasar seperti Lu Ba. Mereka menggunakan energi murni yang bisa membekukan Chi lawan dari dalam. Jika kau bertemu dengannya, teknik 'Kelinci Percobaan'-mu mungkin tidak akan bekerja dengan cara yang sama."

Feng mengamati Han Shuo. Pemuda itu bergerak sangat lambat, namun setiap langkahnya meninggalkan bekas embun beku di lantai arena. Lawannya saat ini, seorang murid dari Puncak Pedang yang terkenal dengan kecepatannya, mencoba menebas Han Shuo dari belakang. Namun, begitu pedang itu berada dalam jarak satu jengkal dari tubuh Han Shuo, bilah logamnya mendadak retak dan hancur berkeping-keping karena suhu dingin yang ekstrem.

"Dia tidak menggunakan armor energi," Feng bergumam, matanya menyipit. "Dia mengubah udara di sekitarnya menjadi jebakan kristal."

Mata Naga Pengintai: Aktif.

Dunia abu-abu kembali muncul di penglihatan Feng. Ia melihat aliran Chi Han Shuo sangat stabil, berbeda dengan murid-murid lain yang meledak-ledak. Energi Han Shuo mengalir seperti sungai bawah tanah yang tenang namun bertekanan sangat tinggi.

> "Peringatan Sistem: Target memiliki atribut Es tingkat tinggi. Efek Pil Pembalik Napas akan berkurang 30% jika terjadi kontak fisik langsung karena pembekuan jalur energi."

>

"Sialan," kutuk Feng dalam hati. "Satu lagi alasan untuk tidak tidur nyenyak."

Sementara itu, di tribun penonton yang eksklusif, Lu Chen tidak lagi duduk di samping ayahnya. Ia berdiri di balkon, dikelilingi oleh beberapa tetua faksi Lu yang wajahnya tampak sangat gelap. Kegagalan di Arena Sepuluh Serigala kemarin adalah tamparan keras bagi reputasi klan mereka.

"Siapa lawan Tian Feng di babak penyisihan siang ini?" tanya Lu Chen, suaranya dingin dan tajam seperti mata pisau.

"Seorang murid kiriman dari Sekte Lembah Angin, Tuan Muda," jawab salah satu pengawal dengan hormat. "Namanya Fan Wei. Dia ahli dalam teknik racun dan serangan jarak jauh. Kami sudah 'memastikan' dia tahu apa yang harus dilakukan jika bertemu dengan Tian Feng."

Lu Chen tersenyum tipis. "Bagus. Jika Feng bisa memantulkan serangan fisik, mari kita lihat bagaimana dia memantulkan gas beracun yang masuk ke paru-parunya."

Kembali ke area tunggu, suasana semakin ramai. Para murid dari berbagai klan mulai saling pamer kekuatan di luar arena. Ada pertengkaran kecil di dekat sumur air antara murid Puncak Disiplin dan murid dari klan luar tentang siapa yang paling pantas menduduki peringkat sepuluh besar.

Feng mencoba mengabaikan kebisingan itu, namun telinganya menangkap percakapan menarik dari sekelompok murid perempuan yang sedang membicarakan taruhan.

"Kalian tahu? Taruhan untuk kemenangan Tian Feng siang ini naik drastis!" ucap salah satu murid dengan antusias. "Banyak orang bertaruh dia akan mati karena kelelahan sebelum pertandingan dimulai. Bandar memberikan rasio satu banding sepuluh!"

Feng tiba-tiba membuka matanya sepenuhnya. "Satu banding sepuluh?"

Ia menoleh ke arah Guru Lin. "Guru, berapa sisa tabungan kita di Paviliun?"

Guru Lin menatap muridnya dengan curiga. "Sekitar lima ratus batu roh tingkat rendah. Kenapa? Kau mau lari?"

"Bukan lari," Feng nyengir, rasa sakit di dadanya mendadak terasa sedikit lebih ringan. "Tolong ambil semua uang itu, dan taruhkan semuanya untuk kemenangan saya siang ini. Jika mereka ingin saya menjadi bahan sirkus, setidaknya saya harus mendapatkan bayaran yang pantas."

"Kau gila, Feng! Jika kau kalah, kita tidak akan punya uang bahkan untuk membeli beras bulan depan!"

"Percayalah pada 'Kelinci Percobaan'mu ini, Guru. Saya tidak akan membiarkan lima ratus batu roh itu hilang begitu saja. Lagipula, Langit sudah menagih hutang karma pada saya, jadi setidaknya saya harus punya uang untuk membayar bunga duniawinya."

Guru Lin menggerutu panjang pendek, menyebut Feng sebagai murid paling tidak tahu diri di dunia, namun tangannya tetap bergerak mengambil kantong uang di balik jubahnya dan berjalan menuju meja bandar taruhan.

Siang hari pun tiba. Matahari berada tepat di atas kepala, membakar permukaan arena batu hingga mengeluarkan uap panas. Wasit memanggil nama peserta untuk penyisihan kedua.

"Arena Nomor Tiga: Tian Feng dari Paviliun Pengobatan melawan Fan Wei dari Sekte Lembah Angin!"

Feng bangkit berdiri, merapikan jubahnya, dan berjalan menuju arena. Di sisi lain, Fan Wei sudah menunggu. Pria itu bertubuh kurus, dengan kulit yang agak kehijauan dan jari-jari yang sangat panjang. Ia memegang sebuah kipas lipat dari tulang binatang yang mengeluarkan aroma aneh.

"Jadi kau adalah si pembuat keajaiban itu?" Fan Wei berbicara dengan nada meremehkan, mengipasi wajahnya dengan perlahan. "Lu Chen mungkin menganggapmu ancaman, tapi bagiku, kau hanyalah pasien yang butuh dikubur lebih awal."

Feng tidak menjawab. Ia merasakan Mata Naga Pengintai memberinya peringatan instan.

> "Deteksi Ancaman: Kabut racun saraf tingkat rendah terdeteksi dalam jarak dua meter dari target. Strategi: Gunakan pernapasan Tungku Kosong untuk menyaring udara."

>

Ting!

Lonceng pertandingan berbunyi.

Fan Wei tidak menunggu. Ia mengibaskan kipasnya, melepaskan gelombang kabut berwarna hijau pucat yang menyebar dengan cepat ke seluruh permukaan arena. Penonton di barisan depan segera menutup hidung mereka.

Feng segera menahan napas, mengaktifkan teknik pernapasan yang diajarkan Guru Lin. Namun, Fan Wei bukan hanya mengandalkan racun. Dari balik kabut, selusin jarum terbang melesat ke arah titik-titik vital Feng.

Satu jarum mengenai bahu kanan Feng. Ia sengaja tidak menghindar. Ia ingin melihat apakah teknik pembaliknya bisa menangani serangan proyektil kecil.

Kring!

Jarum itu memantul seolah mengenai lempengan baja. Namun, Feng merasakan sensasi panas yang berbeda. Jarum itu mengandung cairan asam yang mulai membakar jubahnya.

"Oho, jadi kau punya kulit keras?" Fan Wei tertawa sinis. Ia menutup kipasnya dan tiba-tiba menghilang ke dalam kabut racun buatannya sendiri. "Tapi bagaimana dengan paru-parumu?"

Feng berdiri di tengah kabut yang semakin pekat. Penglihatannya mulai kabur, namun ia tidak panik. Ia memusatkan pendengarannya. Di tengah riuh rendah suara penonton, ia mendengar gesekan kain yang sangat halus dari arah belakang.

Fan Wei muncul dari bayangan kabut, sebuah belati pendek yang dilumuri racun hitam mengarah ke punggung Feng.

"Mati kau!"

Feng tidak berbalik. Ia justru melakukan gerakan Langkah Bayangan Mabuk, tubuhnya terjatuh ke depan seolah-olah ia pingsan karena racun. Belati Fan Wei hanya menyayat udara kosong, namun karena momentumnya terlalu besar, Fan Wei kehilangan keseimbangan.

Pada saat itulah, Feng menggunakan sikunya untuk menghantam lantai arena dengan keras.

DUARR!

Hantaman itu bukan serangan fisik biasa. Feng melepaskan sedikit energi karma yang tersimpan di dalam meridiannya ke tanah. Gelombang kejut itu memantul kembali ke atas, tepat ke arah kaki Fan Wei.

Fan Wei terlempar ke udara. Kabut racunnya sendiri buyar terkena tekanan udara yang tiba-tiba. Feng bangkit berdiri, wajahnya masih tampak pucat namun matanya bersinar tajam.

"Kipasmu bagus," kata Feng pendek. "Tapi baunya sangat buruk."

Fan Wei yang masih di udara mencoba menstabilkan diri, namun ia baru menyadari bahwa saat ia menyentuh udara di sekitar Feng tadi, energi korosif dari Pil Pembalik Napas sudah merayap ke jari-jarinya.

"Tanganku... kenapa tanganku menghitam?!" Fan Wei berteriak histeris. Ia mendarat dengan tidak sempurna, jatuh terguling di lantai arena.

Feng tidak mengejar. Ia tahu racun yang dipantulkan kembali oleh tubuhnya jauh lebih mematikan daripada racun asli Fan Wei karena telah bercampur dengan energi karma.

"Wasit, saya rasa dia butuh bantuan medis secepatnya," ucap Feng sambil menunjuk Fan Wei yang kini mulai kejang-kejang ringan.

Wasit segera memeriksa kondisi Fan Wei dan langsung memberikan kemenangan pada Feng. Tim medis dari Puncak Utama berlari masuk ke arena, namun mereka semua ragu-ragu saat melihat warna hitam di tangan Fan Wei. Hanya Guru Lin yang berjalan santai masuk ke arena sambil membawa botol penawar.

"Jangan disentuh sembarangan! Ini adalah reaksi kimia yang kompleks!" teriak Guru Lin pada tim medis lain, sambil diam-diam memberikan jempol pada Feng.

Feng berjalan keluar arena, disambut oleh keheningan dari tribun faksi Lu. Mereka tidak menyangka taktik racun pun gagal. Namun, di kejauhan, Han Shuo dari Klan Han tampak mencatat sesuatu di sebuah gulungan kecil. Minatnya pada Feng mulai tumbuh.

Di dalam dadanya, liontin giok Feng kembali bergetar.

> "Hutang Karma: Lunas untuk babak ini. Bunga berikutnya: Akan ditagih saat kau melawan pengguna elemen es."

>

Feng mendesah berat. "Ternyata Surga benar-benar suka memberi bocoran yang menyebalkan."

Ia kembali ke area tunggu, menyadari bahwa meskipun ia baru melewati penyisihan kedua, daftar orang yang ingin membunuhnya telah bertambah panjang. Namun, dengan lima ribu batu roh hasil taruhan yang akan segera masuk ke kantongnya, Feng merasa setidaknya ia bisa membeli bantal yang lebih empuk untuk tidur malam ini.

Turnamen Awan Berdarah masih sangat panjang. Di arena-arena lain, para pendekar dari klan luar terus menunjukkan kekuatan yang mengerikan. Ada seorang gadis dari Sekte Pedang Langit yang mengalahkan lawannya hanya dengan tatapan mata, dan seorang pemuda dari Klan Zhao yang bisa memanggil api dari telapak tangannya.

Dunia ini penuh dengan monster, dan Tian Feng baru saja menyadari bahwa untuk menjadi pemalas yang tenang, ia harus menjadi monster yang paling ditakuti di antara mereka semua.

1
Raden Saleh
Bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!