NovelToon NovelToon
Menantu Kaisar Agung

Menantu Kaisar Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Harem / Mengubah Takdir
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao Ling'er

Ling Chen, pemuda cacat yang mati dalam kesepian, terbangun di dunia kultivasi sebagai pengawal rendahan di Kekaisaran Api Agung. Namun sebelum memahami takdir barunya, seorang putri kekaisaran tiba-tiba memilihnya sebagai suami di hadapan seluruh istana.

Di balik tubuh barunya tersembunyi Api Hitam kuno, kekuatan terlarang yang mampu mengguncang kekaisaran dan membakar langit. Terjebak dalam intrik politik, perebutan takhta, dan ambisi para pangeran, Ling Chen harus bangkit dari menantu yang diremehkan, menjadi penguasa yang ditakuti seluruh dunia.

Di dunia di mana kekuatan adalah hukum, ia akan membuktikan, yang hina hari ini, bisa menjadi Kaisar Agung esok hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Ling'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

Pagi di paviliun pribadi Yue Yan terasa seperti mimpi yang tak ingin berakhir. Sinar matahari pagi menyusup melalui jendela kristal berukir naga api, menciptakan pola cahaya jingga keemasan yang menari di lantai marmer merah. Tempat tidur besar berukir ombak dan api masih hangat dari malam sebelumnya. Ling Chen terbangun lebih dulu, napasnya pelan, matanya menatap dua wanita yang kini menjadi istri-istrinya.

Yue Yan berbaring di sisi kirinya, rambut hitam panjangnya terurai seperti sungai api yang tenang, kulitnya yang putih bercahaya samar di bawah sinar pagi. Payudaranya yang penuh naik turun pelan seiring napas tidurnya, pinggang rampingnya melengkung indah hingga ke pinggul yang lebar—tubuh yang selalu membuat Ling Chen merasa seperti pria paling beruntung di dunia dua alam. Di sisi kanan, Qing Lin meringkuk lebih dekat, tubuh sempurnanya yang seperti dibentuk dari mutiara laut terlihat lembut: kulit putih mulus tanpa cela, pinggang kecil yang bisa dipeluk dengan satu tangan, payudara kencang yang simetris, dan paha panjang mulus yang saling menempel dengan kaki Ling Chen. Rambutnya yang hitam legam tergerai di bantal, beberapa helai menempel di pipi merah mudanya karena hangatnya malam tadi.

Ling Chen tersenyum pelan, tangannya membelai rambut Yue Yan lalu turun ke pipi Qing Lin. Kedua wanita ini—satu dari api, satu dari air—telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Jantung Nirwana di dadanya berdenyut hangat, mengingatkan bahwa ikatan mereka bukan hanya fisik, tapi juga jiwa.

Yue Yan terbangun lebih dulu. Matanya yang tajam langsung melunak saat melihat suaminya. Dia menggeser tubuhnya lebih dekat, dada penuhnya menekan lengan Ling Chen, bibirnya menyentuh bibir suaminya dalam ciuman pagi yang lembut.

“Pagi, suamiku…” bisiknya serak, suaranya masih penuh sisa kenikmatan malam tadi. “Kau bangun lebih awal. Memikirkan apa?”

Ling Chen membalas ciuman itu, tangannya menyusuri punggung Yue Yan yang halus. “Memikirkan kalian berdua. Dan bagaimana aku bisa seberuntung ini.”

Qing Lin bergumam pelan, matanya terbuka perlahan. Wajahnya langsung memerah saat menyadari posisinya—telanjang di antara suami dan kakak istrinya. Tapi dia tak lagi malu seperti dulu. Malam tadi telah menghapus semua batas.

“Pagi… Kak Yue Yan… Suamiku…” katanya pelan, suaranya seperti riak air yang menenangkan. Dia menggeser tubuhnya, memeluk Ling Chen dari belakang, payudaranya yang lembut menempel di punggung suaminya.

Yue Yan tertawa kecil, menarik Qing Lin ke depan hingga ketiganya saling berhadapan. “Pagi, adik istriku. Kau terlihat semakin cantik setelah malam tadi.”

Qing Lin tersipu, tapi tangannya berani menyentuh pipi Yue Yan. “Kak Yue Yan juga… kau seperti api yang hangat. Aku… senang menjadi bagian dari ini.”

Mereka bertiga berpelukan lagi, tubuh saling menempel dalam kehangatan pagi. Tak ada kata-kata panjang—hanya sentuhan lembut, ciuman ringan, dan qi yang saling mengalir. Api merah Yue Yan, api jingga Ling Chen, dan air biru Qing Lin menyatu dalam harmoni kecil, membuat udara di kamar terasa lebih kaya energi.

Setelah beberapa saat, Yue Yan bangkit duluan, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. “Ayo mandi bersama. Hari ini ada pertemuan dengan ayah. Kita harus siap.”

Qing Lin mengangguk, berdiri dengan anggun. Tubuh sempurnanya terlihat jelas di bawah cahaya pagi: lekuk pinggang yang indah, perut rata dengan garis halus yang menggoda, dan kaki panjang yang proporsional. Yue Yan menarik tangannya, membawa Qing Lin ke kamar mandi pribadi yang luas—bak air panas dari mata air vulkanik yang dicampur esensi laut suci, uapnya mengepul harum.

Ling Chen mengikuti dari belakang, menikmati pemandangan dua istrinya yang berjalan berdampingan. Di dalam bak, air hangat menyambut tubuh mereka. Yue Yan duduk di pangkuan Ling Chen, punggungnya menempel di dada suaminya, sementara Qing Lin duduk di depan, kakinya menyentuh kaki Ling Chen.

Yue Yan menyandarkan kepala ke bahu Ling Chen, tangannya menyusuri lengan suaminya. “Chen’er… terima kasih telah membawa Qing Lin ke sini. Aku tak pernah membayangkan akan punya saudari seperti dia.”

Qing Lin tersenyum, tangannya menyentuh pipi Yue Yan. “Aku juga tak menyangka akan diterima begitu hangat. Kak Yue Yan… kau seperti kakak yang selalu kuinginkan.”

Mereka mandi bersama dalam keheningan yang nyaman, saling menyentuh dengan lembut—bukan untuk hasrat, tapi untuk keintiman. Jari Yue Yan menyusuri punggung Qing Lin, membersihkan sisa keringat malam tadi, sementara Qing Lin membilas rambut Yue Yan dengan air hangat. Ling Chen hanya memeluk mereka berdua, merasakan kebahagiaan yang tak pernah dia bayangkan di dunia lamanya yang penuh kesepian.

Setelah mandi, mereka bertiga berdandan bersama. Yue Yan membantu Qing Lin mengenakan jubah resmi kekaisaran—merah dengan aksen biru laut—sambil menjelaskan adat istiadat istana. Qing Lin mendengarkan dengan serius, sesekali tertawa kecil saat Yue Yan menggodanya tentang “adik istri yang terlalu cantik”.

Ling Chen mengenakan jubah Pangeran Api Laut Agung yang baru—hitam dengan sulaman api emas dan ombak biru. Saat melihat cermin, dia hampir tak mengenali dirinya sendiri: dari pengawal lumpuh yang mati di dunia lama, menjadi pria yang kini memiliki dua istri cantik, kekuatan tingkat tinggi, dan posisi tinggi di kekaisaran.

Saat mereka bertiga keluar paviliun menuju aula utama untuk sarapan bersama Kaisar, para pelayan membungkuk dalam-dalam. Bisik-bisik terdengar: “Pangeran Ling Chen… dengan dua istri cantik… kekaisaran benar-benar berubah.”

Di aula makan pribadi keluarga kekaisaran, Kaisar Huo Tian dan Ibu Suri sudah menunggu. Meja panjang dipenuhi hidangan api suci: sup phoenix muda, daging naga panggang, dan buah laut kristal dari lautan tetangga.

Kaisar menatap ketiganya dengan mata tajam tapi puas. “Duduklah. Malam tadi kalian pasti lelah setelah pernikahan.”

Yue Yan tersenyum, duduk di sisi ayahnya. “Ayah, kami baik-baik saja. Malah… lebih kuat dari sebelumnya.”

Qing Lin membungkuk hormat sebelum duduk. “Terima kasih atas restu Yang Mulia. Aku akan berusaha layak sebagai menantu.”

Kaisar mengangguk. “Kau sudah membuktikan diri di reruntuhan. Aura air dan api yang kau bawa… sangat langka. Kekaisaran butuh kekuatan seperti itu. Mulai hari ini, kau resmi menjadi Putri Air Laut Agung.”

Ibu Suri menambahkan dengan suara lembut. “Dan kau, Ling Chen, akan memimpin pasukan elit gabungan—Api dan Laut. Kita perlu persiapan menghadapi ancaman dari luar. Kabar terbaru… Kekaisaran Ilahi mulai bergerak lagi setelah kematian Tian Hao.”

Ling Chen mengangguk tegas. “Aku siap, Yang Mulia. Dengan Yue Yan dan Qing Lin di sisiku, kami akan lindungi kekaisaran.”

Sarapan berlangsung hangat. Kaisar bercerita tentang masa muda Yue Yan, Ibu Suri memberikan nasihat kepada Qing Lin tentang menyesuaikan diri dengan budaya api, dan Yue Yan sesekali menggoda suaminya dengan senyum nakal.

Setelah sarapan, ketiganya kembali ke paviliun untuk latihan pagi. Di halaman belakang yang luas, Ling Chen mengajarkan teknik Dewa Laut Abadi kepada Yue Yan, sementara Qing Lin membantu menyesuaikan qi api Yue Yan dengan airnya sendiri.

Yue Yan mengayunkan pedang api, menciptakan naga api merah. Ling Chen menambahkan trisula, membuat naga itu bercampur ombak jingga. Qing Lin menyentuhnya dengan pedang air, mengubah naga menjadi makhluk hybrid yang indah—naga ombak api yang bisa menyerang dan melindungi sekaligus.

“Indah sekali…” gumam Yue Yan, terpana. “Ini… kekuatan kita bertiga.”

Qing Lin tersenyum. “Ya. Kita bukan lagi terpisah. Kita satu.”

Sore itu, mereka bertiga duduk di tepi kolam api kecil di paviliun, kaki menyentuh air hangat. Yue Yan menyandarkan kepala di bahu Ling Chen, tangannya memegang tangan Qing Lin.

“Chen’er… apa rencanamu selanjutnya?” tanya Yue Yan pelan.

Ling Chen menatap langit jingga. “Pertama, kita kuatkan kekaisaran. Latih pasukan gabungan Api dan Laut. Kedua… kita cari tahu kenapa Huo Zhan masih punya dendam begitu besar. Dan ketiga… aku ingin kita bertiga punya waktu untuk… membangun keluarga.”

Qing Lin tersipu, tangannya menyentuh perutnya sendiri. “Anak… mungkin suatu hari.”

Yue Yan tertawa kecil. “Aku juga ingin. Bayangkan… anak kita akan punya darah api dan air. Mereka akan jadi generasi terkuat.”

Ling Chen memeluk keduanya erat. “Ya. Tapi dulu, kita harus pastikan dunia ini aman untuk mereka.”

Malam itu, mereka bertiga kembali ke kamar. Tak ada kata-kata banyak—hanya pelukan, ciuman, dan sentuhan yang penuh kasih. Tubuh Yue Yan yang hangat seperti api, tubuh Qing Lin yang lembut seperti air, dan tubuh Ling Chen yang kuat menjadi pusat harmoni. Mereka menyatu lagi, kali ini lebih lambat, lebih dalam, lebih penuh makna—seperti ritual kecil yang memperkuat ikatan mereka setiap hari.

Di luar paviliun, angin malam bertiup kencang. Di penjara istana, Huo Zhan duduk dalam kegelapan, tangannya memegang sebuah talisman hitam kecil yang disembunyikan. Matanya penuh dendam.

“Ling Chen… kau pikir kau menang? Tunggu saja. Saat talisman ini aktif… kekaisaran akan bergetar.”

Tapi di paviliun, ketiga hati itu tak tahu apa-apa. Mereka hanya saling memeluk, tertidur dalam kehangatan satu sama lain, siap menghadapi apa pun yang datang besok.

Hari-hari baru telah dimulai. Dan kali ini, Ling Chen tak lagi sendirian—dia punya dua istri yang mencintainya, kekuatan yang tak terkalahkan, dan masa depan yang penuh harapan.

1
Nanik S
Cukup menarik diawal
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ: hehehe, terimakasih 🙏
total 1 replies
Akagami
mantap
Akagami
Lanjit
Akagami
ok
Akagami
seru
Akagami
mantap
Akagami
Awal yang menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!