NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.

Tes Terakhir Dimulai

Lampu darurat merah membuat seluruh ruangan tampak seperti dunia yang berbeda.

Bayangan panjang jatuh di lantai marmer.

Server utama berdengung pelan, satu-satunya suara mekanis yang masih hidup di tengah sistem yang baru saja dimatikan paksa.

Di layar besar, tulisan itu masih menyala.

FINAL TEST INITIALIZED

Aluna berdiri tanpa bergerak.

Kata-kata ayahnya di video tadi masih terngiang di kepalanya.

Hanya satu dari kalian yang pantas mewarisi semuanya.

Di sampingnya, Alvino menatap layar dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Bukan takut.

Bukan juga terkejut.

Lebih seperti seseorang yang akhirnya menemukan jawaban dari teka-teki panjang.

Arkan adalah orang pertama yang bereaksi.

Ia langsung menuju pintu ruang rapat dan mencoba membukanya.

Pintu tidak bergerak.

Ia mencoba lagi.

Tetap terkunci.

Arkan mengumpat pelan.

“Lockdown.”

Surya langsung membuka panel kontrol darurat di dekat meja.

Namun layar kecil di sana juga mati.

“Semua sistem keamanan diambil alih,” katanya tegang.

Aluna menatap layar besar lagi.

“Tes terakhir…”

Ia mengulang kalimat itu pelan.

Alvino tersenyum tipis.

“Sepertinya ayah kita benar-benar suka drama.”

Arkan menoleh tajam.

“Ini bukan permainan.”

“Justru ini permainan,” jawab Alvino santai. “Dan kita pemain utamanya.”

Surya mencoba menyalakan kembali terminal server.

Beberapa detik kemudian layar kecil menyala.

Namun yang muncul bukan sistem biasa.

Melainkan antarmuka baru.

Hitam.

Dengan satu simbol yang sama seperti sebelumnya.

Lingkaran dengan tiga garis bersilangan.

Aluna menatap simbol itu.

“Apa itu?”

Alvino menggeleng.

“Bukan bagian dari sistem asli.”

Arkan menyilangkan tangan.

“Berarti seseorang menanamkannya.”

Surya mengetik cepat.

“Kita akan segera tahu.”

Beberapa detik kemudian terminal menampilkan data baru.

ACCESS LEVEL: HEIR ONLY

Surya mengerutkan kening.

“Hanya pewaris yang bisa membuka ini.”

Aluna menatap layar.

“Coba.”

Surya mundur dari kursi.

“Ini bukan bagianku.”

Aluna maju.

Tangannya sedikit ragu sebelum menyentuh panel pemindai.

Lampu biru menyala.

Pemindaian berlangsung beberapa detik.

Kemudian layar berubah.

DNA VERIFIED — ALUNA PRATAMA

Antarmuka terbuka.

Namun sebelum Aluna sempat membaca isinya—

Sistem tiba-tiba berhenti.

Pesan baru muncul.

SECOND HEIR REQUIRED

Alvino tertawa kecil.

“Sepertinya mereka juga ingin aku ikut bermain.”

Ia berjalan santai ke depan.

Tanpa ragu ia meletakkan tangannya di pemindai kedua.

Lampu biru kembali menyala.

Beberapa detik kemudian—

DNA VERIFIED — ALVINO PRATAMA

Sistem akhirnya terbuka penuh.

Semua layar di ruangan langsung menyala sekaligus.

Peta digital besar muncul.

Bukan peta kota.

Bukan peta perusahaan.

Melainkan jaringan.

Jaringan yang jauh lebih besar.

Surya menatap layar dengan mata melebar.

“Ini…”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Arkan juga terlihat kaku.

“Jaringan Konsorsium.”

Namun bukan hanya cabang perusahaan yang terlihat.

Ada titik-titik merah di seluruh dunia.

Tokyo.

Dubai.

Zurich.

New York.

Semua terhubung.

Aluna menatap peta itu.

“Semua ini milik ayah?”

Alvino menggeleng pelan.

“Bukan.”

Ia menunjuk titik-titik merah.

“Ini milik generasi sebelum dia.”

Surya menoleh cepat.

“Maksudmu…”

“Ini jaringan asli Konsorsium.”

Ruangan menjadi hening.

Aluna merasa napasnya berat.

“Perusahaan ini hanya permukaan.”

“Benar,” kata Alvino.

Arkan menatap layar dengan ekspresi keras.

“Dan sekarang seseorang mencoba mengambil alih semuanya.”

Surya memperbesar salah satu titik merah.

Data baru muncul.

PROTOCOL: FINAL TEST

Di bawahnya ada dua kolom nama.

ALUNA PRATAMA

ALVINO PRATAMA

Dan sebuah hitungan waktu.

02:00:00

Dua jam.

Aluna menatap layar.

“Apa yang terjadi setelah dua jam?”

Surya membaca keterangan kecil di bawahnya.

Lalu wajahnya berubah.

“Ini…”

“Bicara,” kata Arkan tegas.

Surya menelan ludah.

“Jika salah satu dari kalian tidak menyelesaikan tes sebelum waktu habis… sistem akan memilih pewaris secara otomatis.”

“Bagaimana?” tanya Aluna.

Surya membaca lagi.

Lalu suaranya semakin pelan.

“Dengan menghapus akses pewaris lainnya… secara permanen.”

Ruangan langsung sunyi.

Aluna mengerti maksudnya.

Jika sistem memilih satu pewaris…

Maka yang lain akan kehilangan semua akses.

Semua kekuasaan.

Semua hak.

Dan mungkin lebih dari itu.

Alvino menghela napas pelan.

“Wow.”

Ia menatap layar dengan senyum kecil.

“Ayah benar-benar tidak bercanda.”

Arkan menatapnya tajam.

“Kau terlihat terlalu santai.”

“Aku hanya realistis.”

Aluna menatapnya.

“Kau mau bersaing?”

Alvino menatap balik.

Untuk pertama kalinya senyumnya memudar.

“Pertanyaannya bukan aku mau atau tidak.”

Ia menunjuk layar.

“Pertanyaannya adalah… apakah kita punya pilihan.”

Arkan melangkah maju.

“Kita bisa mematikan sistem.”

Surya langsung menggeleng.

“Tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Karena protokol ini berjalan di server terpisah.”

Ia menunjuk titik lain di peta.

“Lokasinya bukan di gedung ini.”

Aluna menatap layar.

“Dimana?”

Surya memperbesar peta.

Lokasi baru muncul.

Gedung tua di pusat kota.

Tempat yang tidak pernah Aluna perhatikan sebelumnya.

Namun Arkan langsung mengenalinya.

“Arsip lama keluarga.”

Alvino mengangguk.

“Tempat ayah menyimpan semua rahasia.”

Surya melihat hitungan waktu.

01:54:12

“Kalau kalian ingin menyelesaikan tes… kalian harus ke sana.”

Arkan langsung menuju pintu lagi.

“Pertama kita harus keluar dari sini.”

Seolah menjawab kalimat itu—

Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka sendiri.

Lampu lorong di luar masih gelap.

Namun cahaya merah darurat menyala sepanjang koridor.

Aluna menatap pintu itu.

“Sistem membiarkan kita pergi.”

Alvino tersenyum kecil.

“Karena permainan harus berjalan.”

Arkan menatap mereka berdua.

“Kalau ini benar-benar tes ayah kalian, berarti akan ada lebih banyak jebakan.”

Aluna mengangguk.

“Dan seseorang sudah mencoba mengambil alih sistem.”

Surya menambahkan pelan.

“Cemalia.”

Nama itu membuat suasana semakin berat.

Alvino berjalan menuju pintu.

“Kalau dia juga ikut bermain…”

Ia berhenti sejenak.

“…maka ini akan lebih menarik dari yang kuduga.”

Arkan tidak menyukai nada suaranya.

“Kau menikmati ini.”

“Aku menikmati kebenaran.”

Mereka akhirnya keluar dari ruang rapat.

Lorong kantor yang biasanya sibuk kini kosong.

Semua karyawan sudah pulang.

Hanya lampu darurat yang menyala.

Langkah mereka bergema di lantai marmer.

Surya berjalan cepat di belakang.

“Mobil ada di parkiran bawah.”

Arkan mengangguk.

“Cepat.”

Namun ketika mereka sampai di ujung lorong—

Lift utama tiba-tiba terbuka.

Semua orang langsung berhenti.

Dari dalam lift keluar satu orang.

Wanita.

Rambut hitam panjang.

Gaun merah gelap.

Langkahnya tenang, seolah ia sudah menunggu mereka sejak lama.

Arkan langsung menegang.

“Cemalia.”

Wanita itu tersenyum pelan.

“Sudah lama kita tidak bertemu.”

Matanya lalu beralih ke Aluna.

Senyumnya semakin lebar.

“Dan akhirnya… aku bertemu pewaris asli.”

Aluna menatapnya dingin.

“Kau mencoba mengambil alih sistem.”

Cemalia tertawa kecil.

“Tidak.”

Ia melangkah mendekat.

“Aku hanya mempercepat permainan.”

Alvino menyilangkan tangan.

“Menarik.”

Cemalia menatapnya.

“Jadi kau Alvino.”

“Aku merasa populer malam ini.”

Cemalia menatap dua bersaudara itu bergantian.

“Dua pewaris.”

Ia tersenyum misterius.

“Ayah kalian memang selalu suka membuat teka-teki.”

Arkan maju satu langkah.

“Kau tidak punya hak di sini.”

Cemalia menatapnya lembut.

“Oh, Arkan.”

Nada suaranya hampir seperti kenangan lama.

“Kau tahu aku selalu punya hak.”

Ia menoleh ke layar kecil di dinding lorong.

Hitungan waktu dari protokol tes muncul di sana juga.

01:48:37

Cemalia menatap angka itu.

“Waktu kalian tidak banyak.”

Aluna menyipitkan mata.

“Kau datang untuk menghentikan kami?”

Cemalia menggeleng pelan.

“Aku datang untuk memberi pilihan.”

“Pilihan apa?”

Cemalia menatap Aluna langsung.

“Jika kau menyerahkan akses pewaris kepadaku sekarang…”

Ia tersenyum tipis.

“…aku akan memastikan tidak ada yang mati dalam permainan ini.”

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

Aluna menatapnya tanpa berkedip.

“Kau mengancam?”

Cemalia menatap balik dengan tenang.

“Aku hanya menjelaskan aturan sebenarnya.”

Ia menunjuk layar waktu.

“Tes ayah kalian tidak pernah dirancang hanya untuk dua orang.”

Aluna merasakan sesuatu tidak beres.

“Apa maksudmu?”

Cemalia tersenyum.

“Karena selalu ada pemain ketiga.”

Semua orang terdiam.

Alvino menyipitkan mata.

“Dan pemain itu adalah…?”

Cemalia menatap mereka semua.

Senyumnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

“Aku.”

Hitungan waktu terus berjalan.

01:47:10

Dan permainan pewaris itu baru saja menjadi jauh lebih mematikan.

END BAB 26 🔥

1
Veline
Semangat Author untuk Karya nya 🔥🔥💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!