Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Suara dering ponsel memecah udara yang terasa terlalu rapat di antara mereka.
Tama tersentak, seolah baru sadar napasnya bercampur dengan napas Andita. Tangannya yang masih merangkul pinggang gadis itu perlahan melepas. Mata mereka bertemu sepersekian detik, penuh keterkejutan, kebingungan, dan sesuatu yang belum sempat diberi nama.
Ponsel itu terus berdering.
Tama berdeham, mundur satu langkah. Canggung. Sebelum cepat-cepat meraih ponsel di meja.
Nama yang tertera di layar membuat rahangnya mengeras.
Selina.
Andita langsung menunduk. Jantungnya masih berdegup keras, bukan karena hampir jatuh, tapi karena sentuhan tadi. Tanpa berkata apa-apa, ia menggeser tubuhnya yang terpentok meja.
"Halo," suara Tama berubah formal, sedikit kaku. "Iya."
Andita tak menunggu lebih lama. Ia membuka pintu ruang kerja, keluar dengan langkah yang terasa tak seimbang. Koridor rumah panjang itu terasa asing. Tangannya tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri.
"Apa barusan benar terjadi?"
Dita menggeleng. Lalu melanjutkan langkahnya menjauh.
****
Di dalam ruang kerja, suara Tama terdengar lebih lembut.
"Iya, aku baik-baik saja. Kamu di sana bagaimana? Masih sibuk?"
Suara perempuan di seberang terdengar samar tapi ceria. Selina tertawa, menceritakan kegiatannya di luar negeri. Tama mencoba menanggapi dengan normal, tapi pikirannya terpecah.
Bayangan wajah Andita yang membeku, napasnya yang gemetar, dan rasa hangat yang sempat ia rasakan... terus mengganggu.
"Aku kangen," suara Selina melembut.
Tama menutup mata sejenak. "Aku juga."
Tapi entah kenapa, kalimat itu terasa berat.
****
Keesokan Paginya. Dita melilitkan manset tensi dengan hati-hati. Tangannya stabil, profesional. Padahal di dalam dadanya, semalam masih bergaung.
"Tekanan darah normal ya, Bu Diana," kata Dita setelah mengukur tekanan darah majikannya pagi itu. "Setelah ini, kita bisa berjemur dulu baru sarapan."
Dita merapikan alat tensinya bu Diana mendengus pelan tanpa mengomel seperti biasa. "Hemm."
Ceklek!
Dita menoleh, begitupun bu Diana.
"Wah, tenang sekali pagi ini?" seru Tama yang tiba-tiba muncul membuka pintu kamar.
Andita refleks menegang, buru-buru berpaling.
"Mama enggak mau teriak apa gitu?" lanjut Tama, mencoba bercanda.
"Hih, kamu suka mama teriak-teriak, Tam?" sahut Bu Diana ketus, meski nadanya tak setajam biasanya. "Suka mamamu darah tinggi lagi?"
Tama tertawa kecil. "Enggaklah, Ma." tatapannya lalu berpaling pada Dita. "Gimana mama?"
Andita mencatat hasil tensi. Normal. "Tekanannya bagus, Tuan."
"Hm."
Andita bisa merasakan tatapan Tama sesekali mengarah padanya. Tapi ia tetap menunduk, fokus pada tugasnya. Tama pun bersikap seperti tak ada yang terjadi.
Itu justru membuat dada Andita terasa aneh.
****
"Bu, kita keliling kompleks sebentar? Sekalian jemur pagi," ajak Andita.
"Apa? Keliling komplek?"
"Iya, biar enggak bosan kalau jemur di halaman aja."
"Biar kamu bisa buang aku di pinggir jalan, gitu?" Bu Diana menyipit.
Andita tertawa kecil. "Kalau saya apa yang saya dapat, Bu? Bisa-bisa malah masuk penjara."
"Huh! Jadi kamu memang berencana membuangku?"
"Ish, tidaklah, Bu. Saya pikir, mungkin Bu Diana merasa bosan saja kalau hanya di rumah," balas Andita santai.
Bu Diana diam sejenak. Lalu berdecak. "Tidak usah jauh-jauh. Di halaman saja."
Andita tersenyum. Itu sudah kemajuan.
Mereka berhenti di dekat kolam koi. Ikan-ikan berenang pelan, sisiknya berkilau terkena matahari.
"Aku mau kasih makan ikan," kata Bu Diana tiba-tiba.
Andita menyerahkan wadah pakan. Bu Diana menaburkannya dengan tangan gemetar. Ikan-ikan bergerombol.
"Aneh," gumam Bu Diana. "Mereka tetap datang, meski cuma dikasih sedikit."
"Karena mereka lapar," jawab Andita.
"Apa tidak pernah dikasih makan?"
"Dikasih. Tapi, mereka akan tetap lapar. Mereka datang bergerombol, dan tidak semua mendapat makan yang cukup."
Bu Diana meliriknya. "Kenapa kamu betah sekali di sini? Padahal udah sering kumarahi."
Andita tersenyum tipis, matanya ikut memandang ikan di kolam.
"Jangan-jangan kamu beneran mengincar anak saya ya?"
"Apa saya terlihat begitu, Bu?"
"Iya, apa lagi? Anak saya tampan, punya finansial yang bagus. Siapa yang tak mau?"
"Hmmm, Bu Diana benar. Siapa yang tak mau?"
"Jadi kamu benar mengincar anakku?"
Dita tertawa pelan, "Bu Diana sekarang sudah banyak bicara."
"Kamu meledekku?"
"Enggak, Bu. Saya betah karena saya butuh uang, butuh pekerjaan untuk mengalihkan rasa sakit saya, dan... Di sini makanannya enak."
Bu Dewi mendekus. Lalu melirik kecil pada perawatnya, tangannya menabur pakan ke kolam.
"Kamu sakit apa emang?"
"Mmm, apa ya? Sebelum di sini saya bekerja di kampung. Gajinya tidak sebesar di sini, tapi lumayan. Saya lebih sering memperhatikan pasien, jadi... Pacar saya merasa kesepian, dan dia... Cari wanita lain untuk mengisi kesepian itu..."
Bu Diana memperhatikan, dalam hati, dia merasa iba juga. "Kasian juga anak ini."
"Dan buruknya lagi, wanita itu sepupu saya. Jadi, saya harus betah di sini, biar enggak perlu pulang kampung dan lihat mantan saya dan sepupu saya tiap hari, Bu."
Bu Diana mendengus. "Huh, kenapa pacarmu bisa sama sepupumu sih?"
"Sepertinya ... Saya memang kurang menarik sih, Bu," jawab Andita jujur.
"Kamu memang enggak menarik. Suka ngatur, dan menyebalkan."
Andita tertawa kecil. "Hehehe, iya, ya?"
Bu Diana menatapnya lama. "Jangan macam-macam sama Tama."
Andita terdiam sesaat, lalu tertawa ringan. "Bu, Tuan Tama pasti punya kriteria wanita idaman. Saya jelas tidak masuk."
"Hm. Itu benar," jawab Bu Diana cepat.
Andita mengangguk setuju.
Tapi ketika angin menyentuh wajahnya, ingatan tentang ciuman semalam muncul lagi. Hangat. Mendadak. Membingungkan.
Ia menggeleng pelan. "Itu cuma karena Tuan sedang stres," batinnya.
***
Malam bergulir dengan cepat, dapur lebih ramai. Mbak Sari sedang memotong buah, sementara Miko duduk sambil minum teh.
"Dita, keningnya masih sakit?" tanya Miko.
"Sudah enggak," jawab Andita.
"Tau enggak Dit? Tadi aku lihat ada bayangan putih di dekat jendela."
"Hus! Apa sih?" Sari menegur, "Enggak usah cerita yang horor-hororlah."
Miko terkekeh.
Tiba-tiba langkah kaki mendekat.
"Dita."
Suara itu membuat jantungnya melonjak.
Tama berdiri di ambang dapur. Wajahnya terlihat lelah.
"Tolong ke ruang kerja saya," katanya lalu berbalik lagi. Belum sempat melangkah, ia berbalik lagi, "Bawa alat tensi skalian."
Miko dan Sari saling melirik.
Andita menelan ludah. "Baik, Tuan."
Langkahnya terasa berat. Ia berhenti di depan pintu, menarik napas panjang, lalu mengetuk.
"Masuk."
Tama duduk di kursi, memijat pelipisnya. "Aku agak pusing, Dit."
Andita mendekat dengan profesional.
"Takutnya, ada hipertensi atau apa," keluh Tama lagi.
"Tangan, Tuan."
Dita memasang manset, memompa perlahan. Hening memenuhi ruangan.
"Normal, Tuan," katanya setelah selesai. "Tekanan darah bagus."
Tama menghela napas lega. "Syukurlah."
Ia menatap Andita. "Mama bagaimana hari ini?"
"Pagi tadi agak naik, malam ini saya cek ulang udah normal. Hari ini juga lebih banyak bicara."
"Marah-marah lagi enggak?"
"Tidak, Tuan. Kami malah banyak mengobrol."
"Oh, ya? Ngobrolin apa?"
"Banyak, Tuan. Mendiang bapak, masa muda, masa kecil tuan Tama..."
Tama tertawa pelan.
"...dan tentang ikan."
Hening kembali turun.
Tama menunduk sejenak, lalu berkata pelan, "Soal semalam."
Tangan Andita yang sedang merapikan alat berhenti sesaat.
"Aku minta maaf," lanjut Tama. "Aku sedang pusing. Stres. Jadi, bertindak di luar kendali."
Andita mengangguk kecil. "Saya mengerti, Tuan."
"Kamu… tidak memikirkannya, kan?"
Andita memaksakan senyum profesional. "Tidak, Tuan."
Tama tertawa kecil, tapi ada rasa getir di dalamnya. "Baguslah."
Andita diam. Walau ada sesuatu kecil yang terasa perih.
Tatapan mereka bertemu. Kali ini tanpa sentuhan. Tanpa impuls.
Hanya dua orang yang sama-sama menyadari batas.
Dita membungkuk kecil, tak ingin semakin canggung. "Kalau tidak ada lagi, saya izin kembali ke dapur."
Tama mengangguk.
***
Di bandara internasional, seorang wanita bergaun kuning keluar dari terminal kedatangan. Ia melepas kacamatanya dan menyibak rambut ke belakang.
"Akhirnya... Aku pulang... Tama... kamu pasti merindukan ku, kan?"
Ia menghirup udara dalam-dalam.
"aku pulang..."