NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

BAB 21

SPEKTRUM CEMBURU DI NEGERI SINGA

​Udara di Bandara Changi, Singapura, terasa sejuk dan membawa aroma bunga anggrek yang segar, sangat kontras dengan hiruk pikuk Jakarta yang baru saja mereka tinggalkan. Adrian Aratama melangkah keluar dari gerbang kedatangan dengan setelan jas abu-abu charcoal tanpa dasi, memberikan kesan santai namun tetap dominan. Di belakangnya, Sarah tampak sibuk dengan dua ponsel di tangan, mengatur jadwal pertemuan dengan para investor Marina Bay Sands untuk studi banding proyek Green Oasis.

​Namun, fokus Adrian sama sekali bukan pada Sarah atau agenda prestisius di depannya. Matanya terpaku pada sosok wanita yang berjalan beberapa meter di depannya. Aisha Humaira tampak anggun dengan tunik panjang berwarna cokelat muda dan khimar senada.

​Namun, yang membuat rahang Adrian mengeras dan langkahnya melambat adalah sosok pria muda yang berjalan tepat di samping Aisha. Pria itu mengenakan kemeja flanel kotak-kotak, tampak sangat akrab, bahkan sesekali merangkul bahu Aisha untuk melindunginya dari kerumunan penumpang yang terburu-buru.

​"Sarah," suara Adrian rendah, nyaris seperti geraman.

​"Ya, Pak?" Sarah mendongak dari ponselnya.

​"Siapa pria itu? Mengapa dia ada di dalam manifes perjalanan kita? Aku hanya menyetujui Aisha dan tim teknis."

​Sarah melirik ke arah yang ditunjuk Adrian. "Oh, itu... Aisha bilang dia tidak bisa pergi dinas ke luar negeri tanpa pendamping, Pak. Dia menyebutnya 'mahram'. Saya pikir Anda sudah membaca catatan di lampiran emailnya."

​Adrian tidak mendengar penjelasan Sarah sepenuhnya. Darahnya terasa mendidih. Selama ini, ia harus berjuang mati-matian hanya untuk berdiri dalam jarak dua meter dari Aisha. Ia harus menahan diri untuk tidak menyentuh ujung jarinya. Dan sekarang, seorang pria yang tampak jauh lebih muda, lebih santai, dan terlihat sangat "nyambung" dengan Aisha, bisa dengan bebas menyentuh bahu wanita itu di depan matanya sendiri.

​Rasa cemburu itu datang tanpa permisi, menghancurkan sisa-sisa logika Adrian yang baru saja mulai ia tata.

​Sesi pertama studi banding berlangsung di sebuah galeri arsitektur futuristik di tengah kota. Adrian seharusnya mempresentasikan visi Green Oasis, namun pikirannya melayang setiap kali ia melihat pria muda itu—yang kemudian ia ketahui bernama Fikri—duduk di bangku belakang sambil sesekali mengambil foto Aisha yang sedang menjelaskan maket.

​Saat istirahat makan siang di sebuah restoran halal yang mewah menghadap pelabuhan, ketegangan itu memuncak.

​Adrian memilih meja yang berdekatan. Ia melihat Fikri menarikkan kursi untuk Aisha. Ia melihat Fikri mengambilkan sepotong tisu untuk menyeka noda kecil di lengan gamis Aisha. Dan yang paling menyakitkan, ia mendengar suara tawa Aisha—tawa kecil yang tulus—saat Fikri membisikkan sesuatu di telinganya.

​Dia tidak pernah tertawa seperti itu bersamaku, batin Adrian pahit. Ia menusuk potongan daging di piringnya dengan kekuatan yang berlebihan.

​"Pak Adrian, Anda baik-baik saja?" tanya salah satu investor Singapura yang duduk satu meja dengannya. "Anda tampak... tidak fokus pada tender kita."

​"Saya hanya sedang memikirkan 'gangguan' eksternal dalam struktur saya," jawab Adrian tanpa melepaskan pandangannya dari meja Aisha.

​Selesai makan, Adrian tidak bisa menahan diri lagi. Saat Aisha berdiri untuk menuju toilet dan Fikri sedang asyik dengan ponselnya, Adrian mencegat Aisha di koridor sepi menuju area wastafel.

​"Aisha," panggil Adrian. Suaranya dingin, namun ada getaran kemarahan yang tertahan.

​Aisha berhenti, tampak terkejut melihat Adrian yang biasanya sangat menjaga jarak kini berdiri begitu dekat. "Ya, Pak Adrian? Ada yang salah dengan data presentasi tadi?"

​"Lupakan soal data," desis Adrian. Ia mencondongkan tubuhnya, mengurung Aisha di antara dinding kayu restoran dan tubuhnya. "Siapa dia, Aisha? Apa ini alasanmu menolak hadiah dariku? Apa ini alasanmu menangis tempo hari karena tekanan keluarga? Apa dia pria pilihan ayahmu yang kau ceritakan itu?"

​Aisha menatap mata Adrian yang berkilat penuh amarah dan luka. Untuk sesaat, ia bingung, namun kemudian ia menyadari apa yang sedang terjadi.

​"Siapa yang Anda maksud, Pak?"

​"Pria itu! Yang sejak di bandara terus menempel padamu seperti bayangan. Yang berani merangkulmu di depan umum," Adrian menggerakkan tangannya dengan frustrasi. "Jika kau membawa kekasihmu dalam perjalanan dinas perusahaan, itu sangat tidak profesional, Aisha. Dan itu... itu sangat menyakitiku."

​Aisha tertegun. Kata terakhir Adrian—menyaktiku—terdengar begitu telanjang dan jujur. Pria berkuasa ini benar-benar sedang hancur hanya karena asumsi yang salah.

​Aisha menghela napas panjang. Ia menurunkan sedikit pandangannya, lalu terdengar suara tawa kecil dari balik cadarnya. Kali ini, tawa itu ditujukan untuk Adrian.

​"Kenapa kau tertawa?" tanya Adrian, merasa tersinggung.

​"Pak Adrian," Aisha mendongak, matanya kini memancarkan rasa geli yang lembut. "Pria yang Anda maksud... yang sejak tadi Anda pelototi dengan tatapan ingin membunuh itu... adalah Fikri. Adik kandung saya."

​Keheningan seketika menyelimuti koridor itu. Adrian merasa seolah-olah seluruh pasokan oksigen di dunia ini tiba-tiba ditarik paksa. Ia mematung, tangannya yang tadi menumpu di dinding perlahan merosot.

​"Adik?" ulang Adrian dengan suara yang mencicit.

​"Benar. Dia adik laki-laki saya yang paling bungsu. Dia baru saja menyelesaikan semester akhirnya di jurusan desain komunikasi visual," jelas Aisha. "Dia adalah mahram saya. Ayah tidak akan mengizinkan saya menginjakkan kaki di Singapura tanpa dia. Saya sudah memberitahu Sarah, dan biayanya pun sebagian saya tanggung sendiri agar tidak menyalahi aturan perusahaan."

​Adrian merasa ingin menghilang ke dalam lubang hitam di tengah galaksi. Rasa malu yang luar biasa menghujam egonya. Pria paling cerdas di industri properti baru saja mengamuk karena cemburu pada seorang mahasiswa yang ternyata adalah calon adik iparnya—jika ia beruntung.

​"Aku... aku tidak tahu," gumam Adrian, wajahnya yang biasanya pucat kini memerah hingga ke telinga.

​"Tentu saja Anda tidak tahu, karena Anda tidak bertanya. Anda langsung melompat pada kesimpulan yang... cukup dramatis," ucap Aisha. Ia melangkah satu langkah maju, membuat Adrian secara refleks mundur. "Apakah ini sisi dari Pak Adrian yang tidak pernah masuk dalam laporan laba-rugi? Sisi yang sangat emosional?"

​Adrian berdeham keras, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa martabatnya. "Aku hanya menjaga standar moral di timku, Aisha. Aku tidak ingin ada skandal dalam perjalanan dinas."

​"Skandal?" Aisha menggeleng pelan. "Tadi Anda bilang ini 'menyakiti' Anda. Seorang CEO tidak akan merasa sakit hanya karena masalah profesionalisme, Pak."

​Adrian terjebak. Ia tahu ia baru saja menyingkapkan rahasia hatinya terlalu lebar. Ia menatap ke arah lain, tidak sanggup menatap mata Aisha.

​"Lupakan apa yang kukatakan," ujar Adrian ketus, kembali ke mode defensifnya. "Bawa adikmu ke meja makan. Aku akan memesankan makanan penutup untuknya. Sebagai... sebagai tanda maaf karena aku hampir membatalkan kontraknya dalam pikiranku."

​Malam harinya, di dek observasi hotel Marina Bay Sands yang ikonik, Adrian berdiri menatap cakrawala Singapura yang berkilauan. Angin malam meniup rambutnya yang biasanya rapi.

​Aisha datang mendekat, kali ini ditemani Fikri yang tampak sedang asyik memakan es krim.

​"Pak Adrian," Fikri menyapa dengan ramah, tidak tahu bahwa beberapa jam lalu ia nyaris "dilenyapkan" secara mental oleh pria di depannya. "Terima kasih atas makan siangnya tadi. Restoran itu keren sekali!"

​Adrian memaksakan sebuah senyum kaku. "Sama-sama, Fikri. Senang kau bisa menemani kakakmu."

​"Kak Aisha memang kaku, Pak. Kalau tidak saya temani, mungkin dia hanya akan berada di kamar hotel sambil menghitung struktur jembatan," seloroh Fikri sambil tertawa.

​Aisha menyikut adiknya pelan. "Fikri, jangan bicara begitu."

​"Tidak apa-apa, Fikri. Aku setuju dengamu," sahut Adrian, kini merasa jauh lebih rileks. "Kakakmu memang arsitek yang sangat berdedikasi. Terkadang terlalu berdedikasi hingga lupa bahwa di sekitarnya ada orang yang... ingin mengenalnya lebih dekat."

​Kalimat terakhir itu membuat Aisha terdiam. Fikri yang peka segera menangkap suasana. "Wah, es krim saya habis. Saya mau cari minum dulu di sana ya. Kak, jangan lama-lama, anginnya dingin!"

​Setelah Fikri menjauh, suasana menjadi sangat intim di tengah ketinggian. Adrian menoleh ke arah Aisha.

​"Maafkan aku untuk yang tadi siang," ucap Adrian tulus. "Aku menyadari bahwa aku punya banyak hal yang harus diperbaiki. Termasuk rasa tidak amanku."

​Aisha menatap lampu-lampu kapal yang mengantre di selat. "Cemburu adalah tanda bahwa seseorang merasa memiliki sesuatu yang sebenarnya bukan miliknya, Pak Adrian."

​"Aku tahu," balas Adrian pelan. "Tapi aku sedang belajar untuk tidak sekadar ingin 'memilikimu'. Aku sedang belajar untuk 'menjagamu'. Dan ternyata, menjaga seseorang juga berarti menjaga hatiku sendiri agar tidak mudah meledak."

​Aisha menoleh, dan di bawah rembulan Singapura, Adrian bisa melihat sebuah pengakuan di mata Aisha—bahwa wanita itu tidak keberatan dijaga olehnya.

​"Perjalanan ini baru dimulai, Pak Adrian," bisik Aisha. "Bukan hanya perjalanan ke Singapura, tapi perjalanan untuk memahami apa yang sebenarnya kita cari di antara tumpukan baja dan doa."

​Adrian tersenyum. Malam itu, ia menyadari satu hal penting: badai cemburu yang baru saja lewat justru membersihkan udara di antara mereka. Ia tidak lagi melihat Aisha sebagai teka-teki yang harus dipecahkan, tapi sebagai sebuah perjalanan yang layak ia tempuh, sejauh apa pun itu, meski harus membawa satu "mahram" di setiap langkahnya.

1
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!