Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.
Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Ujian yang Tidak Direncanakan
...— ✦ —...
Tiga hari setelah Xavier pulang, rumah Valerine mulai terasa seperti eksperimen yang belum ada kesimpulannya.
Kirana merasakannya di setiap sudut — di cara Seren memandangnya sedikit terlalu lama sebelum menjawab perintah sederhana, di cara staf dapur berbisik berhenti tiba-tiba saat ia masuk, di cara supir keluarga menjawab "baik, Nyonya" dengan nada yang masih belum sepenuhnya percaya bahwa "Nyonya" hari ini adalah Nyonya yang sama dengan dua minggu lalu.
Perubahan itu nyata bagi mereka. Dan nyata berarti mencurigakan.
Kirana tidak menyalahkan siapapun.
Gwyneth Valerine — Gwyneth yang asli, yang selama bertahun-tahun membangun reputasi sebagai wanita paling dingin di rumah ini — tidak berubah dalam semalam tanpa alasan. Dan orang-orang yang sudah lama hidup di bawah bayang-bayang temperamen wanita itu punya hak untuk waspada. Kepercayaan bukan sesuatu yang bisa diklaim, hanya sesuatu yang bisa dibangun — pelan, berulang, dengan konsistensi yang tidak bisa dipalsukan.
Kirana tahu itu. Ia yang menuliskan prinsip itu di bab dua puluh tiga novelnya, dalam mulut seorang karakter sampingan yang bijak.
Ironis sekali, menggunakannya sekarang untuk dirinya sendiri.
...✦ ✦ ✦...
Masalah pertama datang pada hari keempat, dalam bentuk yang paling tidak ia duga: sebuah undangan makan malam.
Amplop krem dengan tulisan tangan yang rapi — dari keluarga Hartono, tetangga sekaligus kolega lama Xavier dalam beberapa proyek bisnis. Makan malam Sabtu malam, tiga hari lagi. *Tidak resmi, hanya keluarga,* tulis undangan itu, yang dalam bahasa orang kaya berarti: cukup resmi untuk dinilai, cukup informal untuk semua orang berbicara jujur tentang apa yang mereka lihat.
Kirana meletakkan undangan itu di meja dan menatapnya seperti menatap bom yang belum diketahui cara kerjanya.
Keluarga Hartono. Ia mengingat-ingat — dalam novelnya, keluarga ini muncul di bab enam belas sebagai katalis dari sebuah konflik sosial yang memperburuk keadaan. Ny. Hartono adalah tipe wanita yang menyimpan setiap informasi dan mengeluarkannya di waktu yang paling efektif. Ia tidak jahat — hanya sangat, sangat mengamati.
Dan Ny. Hartono kenal Gwyneth Valerine dengan sangat baik.
"Kita pergi?" Xavier masuk ke ruang kerja, melihat undangan di meja.
"Aku sedang mempertimbangkan."
"Kita selalu pergi ke makan malam Hartono." Xavier mengambil amplop itu, melihatnya sebentar, meletakkannya kembali. "Menolak akan menimbulkan pertanyaan."
"Pergi juga akan menimbulkan pertanyaan," gumam Kirana setengah untuk dirinya sendiri.
Xavier menatapnya dengan sudut matanya. "Gwyneth."
"Kita pergi," kata Kirana akhirnya, karena ia tahu Xavier benar — dalam lingkaran sosial seperti ini, absen justru berbicara lebih keras dari hadir. "Tapi aku ingin membawa Amethysta."
Jeda singkat yang terasa cukup panjang.
"Biasanya Amethysta tidak ikut acara seperti ini," kata Xavier hati-hati.
"Aku tahu." Kirana menatapnya langsung. "Tapi aku ingin ia ikut."
Xavier tidak menjawab langsung. Ia berdiri di sana selama beberapa detik dengan ekspresi yang sedang menimbang sesuatu — dan Kirana membiarkannya menimbang, tidak mendorong, tidak menjelaskan lebih dari yang perlu.
"Baiklah," kata Xavier akhirnya. Singkat. Menerima.
...✦ ✦ ✦...
Masalah kedua datang di siang yang sama, dari arah yang lebih dekat.
Kirana sedang di taman — sudah menjadi kebiasaan barunya di sore hari, duduk di bangku dekat pohon pir yang Amethysta ceritakan, membaca jurnal Gwyneth yang masih ia pelajari bagian demi bagian untuk memahami konteks yang mungkin ia lewatkan — ketika Amethysta datang dengan langkah yang berbeda dari biasanya.
Tidak pelan dan hati-hati. Lebih cepat. Lebih terarah.
Dan di wajahnya ada ekspresi yang belum pernah Kirana lihat sejak ia masuk ke tubuh ini: marah.
"Mama."
Kirana menutup jurnalnya. "Ada apa?"
"Kak Seren bilang aku tidak boleh ikut makan malam Sabtu." Amethysta berdiri tegak, dagu sedikit terangkat — ada keberanian baru di sana yang mungkin lahir dari tiga hari terakhir, dari tiga hari di mana dunia tidak runtuh setiap kali ia berbicara. "Tapi Mama yang bilang aku boleh ikut, kan?"
Kirana menatap gadis kecil itu. Ada sesuatu yang menghangatkan dadanya melihat Amethysta berdiri seperti ini — tidak gemetar, tidak menyembunyikan matanya, tidak berbicara dengan suara yang hampir tidak bisa didengar. Ini masih gadis yang sama dengan yang berdiri di ambang pintu tiga hari lalu dengan tangan menggenggam ujung gaun, tapi ada sesuatu yang sedikit berbeda di kepala bahu kecil itu.
Tegak. Sedikit lebih tegak.
"Benar," kata Kirana. "Kamu ikut."
Amethysta mengangguk sekali, tajam, puas. Lalu berbalik untuk pergi.
"Amethysta."
Gadis kecil itu berhenti.
"Terima kasih sudah datang langsung bicara padaku." Kirana memilih kata-katanya. "Itu hal yang benar untuk dilakukan."
Amethysta tidak berbalik. Tapi Kirana melihat dari belakang bagaimana bahu kecil itu naik sedikit — tarikan napas yang ditahan, lalu dilepas pelan.
"Aku pergi dulu," bisiknya, dan melanjutkan langkahnya.
Kirana menatap punggung kecil itu sampai menghilang di balik pintu, dan berpikir bahwa ini — momen kecil yang tidak dramatis, tidak ada musik latar, tidak ada pelukan yang mengharukan — ini adalah salah satu hal paling penting yang pernah terjadi di taman ini.
Seorang anak yang belajar bahwa suaranya layak didengar.
...✦ ✦ ✦...
Malam itu Kirana tidak bisa tidur.
Bukan karena cemas — atau tidak hanya karena cemas. Ada sesuatu yang lebih rumit dari itu yang membuatnya berbaring dengan mata terbuka, menatap langit-langit putih yang sudah ia hafal setiap milimeternya.
Ia memikirkan novelnya. Bab-bab yang sudah ia tulis, alur yang sudah ia rancang, akhir yang sudah ia tentukan. Dalam versi aslinya, Gwyneth tidak berubah. Gwyneth tidak duduk di taman membaca jurnal lamanya, tidak membawa Amethysta makan malam, tidak duduk diam di perpustakaan dengan suaminya.
Gwyneth asli terus melakukan apa yang selalu ia lakukan, sampai di bab terakhir ketika Amethysta — yang sudah dewasa, yang sudah bertahun-tahun menyimpan luka — akhirnya tidak bisa lagi.
*Aku mengubah alurnya,* pikir Kirana. *Tapi seberapa jauh perubahan itu akan berdampak? Apakah cukup? Apakah terlambat — bahkan untuk versi yang sudah berubah ini?*
Trauma tidak hilang hanya karena sumbernya berhenti. Ia tahu itu. Tiga hari kebaikan tidak bisa menghapus tahun-tahun yang sudah terjadi sebelum ia masuk ke tubuh ini. Amethysta masih punya bekas-bekas yang tidak terlihat, luka-luka yang mungkin sudah terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan bubur jagung dan izin makan buah pir.
*Tapi itu bukan alasan untuk berhenti,* lanjut pikirannya. *Itu justru alasan untuk tidak berhenti.*
Pintu kamar terketuk pelan. Sangat pelan, hampir tidak terdengar.
Kirana bangkit, berjalan ke pintu, membukanya.
Amethysta berdiri di sana dalam piyama bintang-bintangnya, rambut sudah terlepas dari kepangan, wajahnya mengantuk tapi matanya terjaga. Di tangannya ada buku — buku tentang bintang-bintang yang Kirana lihat di raknya tiga hari lalu.
"Aku tidak bisa tidur," kata gadis kecil itu tanpa pembukaan.
"Aku juga," jawab Kirana jujur.
Amethysta menatapnya sebentar. Lalu, tanpa ditanya, ia mengangkat buku itu sedikit. "Mau kubacakan?"
Sesuatu di dalam dada Kirana bergerak dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata — dan ia sudah terbiasa menjelaskan segalanya dengan kata-kata.
"Ya," katanya, mundur selangkah. "Masuk."
Mereka duduk berdampingan di tepi ranjang — Kirana dengan punggung bersandar pada headboard, Amethysta di sampingnya dengan buku terbuka di pangkuan — dan gadis kecil itu mulai membaca dengan suara pelan yang berirama.
Tentang galaksi. Tentang nebula. Tentang bintang-bintang yang perlu jutaan tahun cahaya untuk cahayanya sampai ke mata kita, sehingga apa yang kita lihat di langit malam sebenarnya adalah masa lalu yang masih bersinar.
"Jadi," kata Amethysta di tengah bacaannya, tidak mengangkat matanya dari halaman, "bintang yang kita lihat mungkin sudah mati?"
"Mungkin," jawab Kirana.
"Tapi cahayanya masih ada."
"Masih ada."
Amethysta diam sejenak, memproses. Lalu melanjutkan membaca.
Kirana tidak bergerak. Ia duduk diam dan membiarkan suara pelan gadis kecil itu mengisi ruangan — kata-kata tentang alam semesta yang terlalu luas untuk dipahami sepenuhnya, tentang cahaya yang menempuh jarak yang tidak masuk akal hanya untuk sampai ke sepasang mata yang mau melihatnya.
Ketika Amethysta akhirnya berhenti membaca — bukan karena bukunya habis, tapi karena matanya mulai berat — ia menutup buku itu dengan hati-hati dan menatap ke depan.
"Mama," katanya pelan.
"Hm?"
"Kenapa Mama berbeda sekarang?"
Pertanyaan yang sudah Kirana tunggu. Pertanyaan yang tidak bisa ia jawab dengan benar tanpa membongkar semuanya, dan tidak bisa ia hindari tanpa kehilangan kepercayaan yang baru mulai tumbuh ini.
Kirana memilih jawabannya dengan sangat hati-hati.
"Karena aku menyadari," katanya pelan, "bahwa ada beberapa hal yang sudah aku lakukan dengan cara yang salah. Dan aku tidak mau terus melakukannya."
Amethysta tidak langsung menjawab. Ia menatap buku di tangannya — bintang-bintang di sampulnya memantulkan cahaya lampu kamar dengan cara yang lembut.
"Apakah Mama menyesal?" tanyanya akhirnya. Bukan dengan nada menuntut. Lebih seperti seseorang yang benar-benar ingin tahu, yang meletakkan pertanyaan itu dengan hati-hati di antara mereka seperti sesuatu yang rapuh.
Kirana memikirkan Gwyneth yang asli — wanita yang tidak pernah ia ciptakan untuk bisa menyesal, wanita yang ia tulis sebagai produk dari sistem yang rusak, dari luka yang tidak pernah disembuhkan yang kemudian ia teruskan. Lalu ia memikirkan dirinya sendiri — Kirana Seo, yang duduk di sini sekarang dalam tubuh itu, yang tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi tapi bisa memilih apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ya," kata Kirana. Dan itu adalah jawaban yang paling jujur yang bisa ia berikan, dari siapapun yang sebenarnya menjawab pertanyaan itu malam ini. "Mama menyesal."
Amethysta mengangguk kecil. Pelan. Ia tidak tersenyum, tidak memeluk, tidak melakukan gestur besar yang dramatis. Ia hanya mengangguk, seperti seseorang yang menerima sesuatu yang belum tentu ia percaya sepenuhnya, tapi memilih untuk tidak membuangnya dulu.
"Aku mengantuk," katanya kemudian.
"Tidur di sini saja malam ini," kata Kirana — impulsif, tanpa berpikir panjang, tapi tidak menyesalinya.
Amethysta menatapnya. Lama. Dengan mata ungu yang kini lebih berat dari kantuk tapi masih cukup terjaga untuk menilai.
Lalu ia berbaring, menarik selimut hingga dagu, dan memejamkan matanya.
Kirana mematikan lampu dan duduk dalam gelap, mendengarkan napas gadis kecil itu perlahan berubah menjadi ritme tidur yang teratur.
Di luar jendela, langit sudah mulai menunjukkan bintang-bintangnya. Orion ada di sana, seperti selalu ada, seperti yang dijanjikan.
*Satu lagi,* pikir Kirana. *Satu malam lagi yang berbeda dari yang seharusnya.*
*Cukup. Untuk sekarang, cukup.*
...✦ ✦ ✦...
...— Bersambung —...