Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16- Hujan
Langit di atas toko buku mendadak berubah warna jadi abu-abu pekat yang berat, persis kayak cucian kotor yang sudah terlalu lama lupa diperas. Angin sore yang tadinya bikin gerah, sekarang mulai nakal niup-niup papan nama kayu di depan toko sampai berbunyi kasar melawan engselnya.
Alea baru saja mau membereskan tumpukan novel di meja belakang ketika tiba-tiba langit seolah tumpah. Hujan turun begitu saja, tanpa aba-aba. Bukan tipe gerimis romantis yang bikin orang pengen pelukan, tapi hujan lebat yang brutal. Airnya menghantam kaca jendela dengan suara konstan yang memekakkan telinga, bikin jarak pandang ke seberang jalan saja jadi buram.
Di sudut favoritnya, Aksa masih duduk tenang. Buku tebal di pangkuannya sudah tertutup sejak tadi, tapi pria itu nggak ada tanda-tanda mau beranjak.
“Hujannya nggak kira-kira ya,” celetuk Alea sambil jalan ke arah konter. Suaranya agak keras, mencoba mengalahkan suara air yang menghantam atap.
Aksa menoleh pelan, seolah baru ditarik paksa dari lamunannya sendiri. “Sepertinya aku terjebak di sini sedikit lebih lama,” sahutnya dengan nada bariton yang tenang.
“Biasanya kan kamu lembur sampai jam sembilan malam, tumben hari ini sudah ada di sini sejak sore?” tanya Alea sambil menarik kursi tinggi ke balik kasir.
Aksa terkekeh pendek, suara tawanya rendah dan berat. “Pekerjaan hari ini bisa dikompromi. Aku pikir pulang jam enam sesekali itu bagus buat kesehatan mental, tapi sepertinya hujan punya pendapat berbeda.”
“Kesehatan mental?” Alea tersenyum tipis, memutar-mutar pulpen di jarinya. “Aku nggak nyangka seorang Aksa Pratama mikirin hal itu. Aku pikir duniamu cuma soal angka, target, dan rapat yang nggak ada habisnya.”
“Angka itu jujur, Alea. Tapi angka itu dingin,” jawab Aksa sambil menatap Alea lurus. “Kadang aku butuh sesuatu yang nggak perlu dihitung. Sesuatu yang, tenang. Kayak di sini.”
“Tapi di sini sepi, Aksa. Kenapa kamu malah betah?”
“Justru karena sepi,” jawab Aksa cepat. “Di luar sana, semua orang nuntut aku buat jadi 'pemenang'. Di kantor, aku harus punya semua jawaban. Tapi di sini? Aku boleh jadi orang yang nggak tahu apa-apa. Aku boleh cuma jadi orang yang baca buku tanpa diganggu telepon kantor. Kamu sendiri? Kenapa pilih jaga toko buku kecil ini?”
Alea terdiam sebentar, jemarinya mengusap permukaan meja kasir. “Karena buku nggak pernah nuntut aku buat cepat pulih. Mereka nggak pernah nanya, kapan kamu mulai ceria lagi?’. Mereka cuma diam, nunggu aku siap buat buka halamannya. Mereka jauh lebih jujur dari manusia yang cuma bilang ‘sabar ya’ tapi habis itu menghilang.”
Aksa mengangguk pelan, tatapannya melembut. “Jujur itu mahal sekarang, Alea. Sangat mahal. Dan di sini... rasanya boleh saja kalau kita mau kelihatan lelah tanpa harus merasa malu.”
“Kamu juga kelihatan capek banget kalau datang sore-sore begini,” balas Alea. “Kayak bawa beban seluruh dunia di pundak.”
“Kelihatan banget, ya?”Aksa meliriknya. “Mungkin karena cuma di sini aku nggak perlu pakai topeng bos yang tangguh. Kadang lembur sampai jam sembilan malam pun nggak bikin kerjaan selesai, cuma bikin dada makin sesak.”
“Lalu kenapa tetap kamu jalani kalau itu bikin sesak?”
Aksa menghela napas panjang.
“Karena berhenti itu lebih menakutkan, Alea. Ada banyak orang yang bergantung sama aku. Dan ada saat di mana aku berpikir, aku takut kalau aku berhenti, aku nggak tahu lagi jalan pulang ke diriku yang dulu. Kamu tahu rasanya terjebak dalam ekspektasi orang lain?”
Alea tersenyum pahit. “Tahu. Sangat tahu. Rasanya kayak lari di atas treadmill. Kamu capek banget, tapi kamu nggak pindah ke mana-mana.”
Aksa tertawa kecil, kali ini terdengar lebih lepas. “Analogi yang bagus. Treadmill. Persis kayak gitu rasanya. Makanya, kalau hujan kayak gini, aku malah bersyukur. Seolah dunia lagi ngasih alasan yang sah buat berhenti sebentar.”
“Tapi kalau berhentinya kelamaan, nanti orang nyariin,” goda Alea.
“Biarin aja. Sekali-kali mereka harus tahu kalau aku juga manusia, bukan mesin yang cuma bisa keluarin tanda tangan,” sahut Aksa santai.
”Buku apa yang menurutmu paling cocok buat orang yang lagi capek kayak aku?” tanya Aksa.
Alea berpikir sejenak, lalu menunjuk sebuah rak di pojok. “Mungkin buku puisi atau novel tanpa konflik berat. Sesuatu yang cuma cerita tentang jalan-jalan atau masak. Biar otakmu nggak mikir strategi terus.”
Aksa tersenyum. “Nanti aku cari. Makasih rekomendasinya.”
Percakapan itu terus mengalir, lebih lama dari biasanya. Mereka membahas hal-hal kecil, dari aroma kertas lama sampai kopi hitam yang menurut Aksa terlalu pahit tapi menurut Alea itulah seni hidup.
“Sudah agak reda,” ucap Aksa akhirnya sambil berdiri. Ia merapikan bukunya ke rak dengan sangat telaten. “Terima kasih buat sorenya, Alea. Jauh lebih mending daripada aku harus sendirian di kantor.”
Alea cuma mengangguk ramah. “Sampai bertemu besok, Aksa. Hati-hati di jalan.”
Begitu mobil Aksa melaju, Alea mulai mematikan lampu dan mengunci toko. Namun, saat ia merogoh tasnya untuk mengambil ponsel, jemarinya menyentuh sesuatu yang asing di saku luar tasnya, selembar kertas kecil yang terlipat rapi.
Alea membukanya di bawah temaram lampu jalan yang masih basah. Jantungnya mendadak berhenti berdetak saat membaca tulisan tangan yang sangat tegas itu:
“Jangan lewat gang samping taman malam ini. Seseorang nungguin kamu di sana sejak satu jam yang lalu pakai motor tanpa pelat nomor. Jalan lewat depan kantor polisi saja, aku bakal ikutin mobilku dari belakang sampai kamu masuk gerbang kost. Jangan nengok ke belakang, Alea. Fokus saja jalan terus. Percaya padaku kali ini.”
Darah Alea serasa membeku. Dia buru-buru menengok ke arah jalan raya. Di kejauhan, mobil hitam Aksa ternyata belum benar-benar pergi. Mobil itu berhenti di pinggir jalan dengan lampu hazard yang berkedip pelan, menunggunya bergerak.
Alea gemetar. Bagaimana Aksa bisa tahu ada orang yang nungguin dia di gang? Sejak kapan Aksa mulai mengawasinya sampai tahu sedetail itu? Dan yang paling bikin merinding...Aksa tahu persis lewat mana Alea biasa pulang ke kost.
Alea memaksakan kakinya untuk melangkah menuju jalan besar, sesuai instruksi di kertas itu. Setiap langkahnya terasa sangat berat. Saat ia melewati persimpangan gang samping taman, ia sempat melirik sekilas. Di kegelapan gang itu, memang ada siluet seseorang di atas motor yang menatap tajam ke arahnya.
Alea mempercepat langkahnya, hampir berlari. Di belakangnya, suara deru mesin mobil Aksa perlahan mengikuti, menjaga jarak yang sangat konsisten. Lampu mobil itu menerangi jalannya, memberikan rasa aman sekaligus ketakutan yang luar biasa di saat yang sama.
Siapa sebenarnya Aksa? Pelindung, atau justru orang yang paling patut ia takuti?