SEQUEL JODOH SHAKIRA PERNIKAHAN KEDUA.
Kisah ARYA PRATAMA & RAKA BAGASKARA
Arya Pratama baru saja mengalami patah hati, di tengah kesedihannya dia mengalami kecelakaan beruntun yang menyebabkan pengendara lain meninggal dunia.
Kecelakaan itu pula membuatnya harus bertanggungjawab atas bocah kecil, anak dari korban kecelakaan.
"Rawat dia seperti anakmu sendiri, sayangi dia sepenuh hati, dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini," ucap seorang ibu meminta Arya menjaga putranya.
Secara tidak terduga Arya bertemu perempuan yang berhasil membuat dadanya berdebar, sayangnya perempuan itu istri orang. Eh secara tidak disangka-sangka Arya malah berjodoh sama janda.
"Jodoh ketemu di jalan."
Sementara Raka Bagaskara, dia juga sama-sama terjebak dalam situasi sulit, ia juga menyukai istri orang.
"Janda dan gadis terlalu biasa, tapi bini orang, luar biasa, Mak. Raka suka sama bini orang Makkk!"
Akankah Raka menemukan jodohnya? Atau malah berusaha menjadi perebut istri orang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 - boutique
Pemandangan di dapur begitu mendebarkan sekaligus memanjakan mata, Arya berdiri menyender ke kusen pintu memperhatikan pergerakan wanita yang sudah dia nikahi.
Tubuh tinggi, kulit putih seputih susu terekspos nyata di depannya. Andina yang hanya mengenakan baju crop memperlihatkan pinggang dan perut rampingnya dipadukan hotpants sepaha. Rambut panjangnya di delung asal menyisakan sedikit rambut di dekat telinga membuat leher jenjangnya terekspos.
Arya sampai menelan ludah sendiri mengerjap pelan memastikan lagi sosok yang sedang sibuk dengan panci.
"Gila, dia seterbuka ini?"
"Ekhem."
Andina menoleh. "Sudah bangun A, aku udah siapin sarapan buat kita dan aku juga udah siapin air hangat buat kamu mandi."
Andina seakan tidak mempermasalahkan penampilannya, dia kembali sibuk dengan aktivitasnya menuangkan sayur sup ke dalam mangkuk.
"Kamu gak salah pakai baju begini?" sindir Arya, bukan tidak suka hanya saja ini terlalu bahaya untuknya. Dia laki-laki normal, meski nikah paksa jika terus di suguhkan pemandangan menggiurkan gak akan menjamin dia bertahan lama. Terlebih Andina adalah istrinya, ada label halal yang bisa memperkuat dia untuk berbuat lebih.
Andina berbalik, mengernyit sambil memperhatikan penampilannya.
Dada Arya makin tidak karuan, apalagi perut ramping istrinya begitu menggoda meski ada bekas sayatan memudar dan tindik kecil di udel menambah indah pemandangannya. Tubuh Arya memanas, dadanya bergemuruh serta sesuatu mengeras dibalik celana. "Sial, godaan nyata di depan mata."
"Kenapa A? Ada yang salah sama baju aku? Ini kan di dalam rumah dan hanya ada kita berdua, menurutku biasa saja. Kalau ada Rizki aku juga gak akan berpakaian seperti ini, A."
Arya melongo, apa katanya? Penampilannya biasa? Biasa bagi Andina tapi petaka bagi Arya.
Pria itu mengatur nafasnya, dia cepat-cepat masuk ke kamar mandi namun sebelum menutup pintunya Arya berkata, "jangan berpenampilan seperti itu di depanku, imanku bisa tidak kuat menahan hasrat jika terus kamu suguhkan pemandangan menggiurkan, terlebih kamu istriku, halal bagiku menyentuhmu. Kamu terlalu sexy jika berpenampilan seperti itu."
Blugh.
Andina mematung, tangannya terulur memegang dada. "Apa penampilan ku membuatnya bergelora?" gumamnya menunduk memperhatikan lagi menampilkannya.
Namun, sudut bibirnya tersenyum merasa Arya tidak terang-terangan menolaknya.
*******
Yayasan Nurul Huda
Pagi ini Raka kembali ke rutinitas sehari-hari, menjadi guru di sekolah orangtuanya Arya. Sebenarnya menjadi guru hanya kerja sampingan saja, membagi ilmu yang dia punya kepada anak-anak lainnya.
"Raka." Bunda Nurul memanggilnya, Raka pun berhenti melangkah menoleh ke belakang.
"Ya Bun, ada yang bisa Raka bantu?"
"Bisa bunda minta tolong anterin Nisa ke boutique gak? Mobilnya di bengkel dan motornya sedang dipakai Appa. Kalau Arya ada urusan di luar, kamu tenang aja, gak berdua kok. Ada Syakir dan Rizki yang akan ikut kalian.
Raka menghela nafas lega, ia pikir berdua ternyata berempat. Kalau berdua dia tidak berani, takutnya Nisa di tuduh yang tidak-tidak karena berduaan sama dia. Semua orang tahunya Nisa anak rumahan dengan didikan agama kental.
"Boleh Bun, Raka juga udah gak ada jam ngajar."
********
Kontrakan Andina.
"A, aku izin keluar beli baju, semua bajuku kekecilan, kalau di pakai lagi kamu bisa marah nanti," ucap Andina sambil membereskan piring bekas makan mereka.
Yang dimaksud kekecilan oleh Andina bajunya kurang bahan semua, kebanyakan diatas lutut dan lengan pendek. Setelah sindiran tadi di dapur, Andina berinisiatif membeli baju layak dipakai. Minimal di bawah lutut dengan panjang lengan sampai sikut, ia juga sadar jika selama ini pakaian yang dia kenakan terlalu terbuka dan memperlihatkan lekuk tubuhnya, mungkin itu salah satu alasan mengapa ibu-ibu cemburu padanya serta alasan mata laki-laki jelalatan padanya.
"Hmm ya sudah, saya antar kamu."
*******
Mobil Arya menepi di salah satu toko baju, Andina sendiri yang meminta diantar ke boutique Zahra toko baju adiknya.
"Kamu yakin mau beli disini?" ada keraguan dalam hati, takutnya dia bertemu Galuh dan perasaanya terhadap Galuh belum hilang.
"Cuman disini toko baju terdekat dari kontrakan aku dan juga murah, A. Ada yang lebih murah dan itu di barak koleksi, sayangnya jarak dari kontrakan cukup jauh. Jadi aku memilih kesini saja." Andina siap membuka pintu mobil.
"Makasih udah nganterin aku, kamu gak perlu jemput aku. Kamu kan harus kerja juga, nanti pulangnya aku ngojek aja." Namun sebelum itu Andina mengulurkan tangannya, Arya paham dan dia memberikan tangannya.
Andina menyalami penuh hormat barulah dia keluar dari mobil Arya bertepatan dengan mobil Raka yang juga berhenti di sampingnya.
Arya mengenali mobil itu, mobil yang tidak sering Raka pakai tapi kali ini di pakai. Turunlah Nisa di susul Syakir dan Rizki.
"Mama." Rizki dan Syakir memanggil Andina, berlari menghampirinya.
"Hai, kalian kesini juga? Mama kira gak akan kesini, tahu gitu barengan aja tadi." Matanya beralih menatap Syakir yang sudah merentangkan kedua tangannya.
Raka juga turun pun dengan Arya yang juga ikut turun menghampiri putranya.
"Cakil cedih dilalang nenek, padahal Cakil mau cama papa dan mama." Bibir anak itu mengerucut manyun menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher Andina.
"Kita harus nurut sama nenek, Syakir. Kata nenek supaya kita punya adik makanya jangan ganggu papa dan mama," celetuk Rizki membuat mereka disana terbelalak kaget. Terutama Raka yang tidak tahu apapun.
"Eh tunggu, adik? Yang dimaksud bikin adik itu elo, Ar?" tunjuk Raka pada Arya.
"Hmmm."
"Om laka, cekalang aku punya mama loh, om laka pacti ili kalena om gak punya ictli."
Raka kembali terbelalak, sekarang dia menatap Syakir. "Enggak lah, om gak akan iri soalnya om udah punya calon istri, tapi apa Papa kamu udah punya istri?"
"Iya dong, ini ictli papa, cantik tan? Teluc ciapa calon ictli om?"
"Tuh tante kamu, Zahratunnisa, calon istri masa depan om."
Pengakuan Raka membuat Nisa berdebar, menunduk tersipu malu.
Namun setelahnya Raka terperangah sadar, lalu pandangannya beralih pada Arya. "Wah, lo buntingin anak orang Ar? Nikah gak bilang-bilang, jahat lo."
"Eh, enak aja. Jaga tuh mulut, gue gak pernah ya buntingin anak orang. Istri aja baru masa udah bunting aja, gue masih waras kali, Ka." elak Arya tidak terima.
"Artinya elu udah nikah, Arya Pratama."
"Ya, dadakan kemaren," jawab Arya lesu.
"Om kenal papa Arya?" tanya Rizki serius.
Raka sedikit menunduk menatap Rizki. "Iya, kenal, om Arya dan Om temenan."
"Berarti om juga tau dong orang yang papa Arya suka?" selidik Rizki curiga.
"Jelas tahulah, siapa yang gak tahu coba. Syakira dan Galuh!"
"Raka!" cegah Arya namun sayang sudah di dengar Andina.
Pandangan Arya tertuju pada Andina, tatapan wanita itu sulit ia artikan sampai dimana suara seseorang mengalihkan perhatian mereka.
"GALUH BERHENTI!"