NovelToon NovelToon
Terjerat Sumpah Tuan Muda

Terjerat Sumpah Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Murni
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.

Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.

Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.

Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.

"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Surat Kaleng dan Belati di Balik Sutra

Pagi itu, Adhitama Estate diselimuti kabut tipis yang turun dari pegunungan di belakang mansion. Suasana terasa lebih dingin dari biasanya, seolah alam sedang memberi peringatan dini tentang badai yang akan datang.

Nala duduk di meja riasnya, menatap pantulan wajahnya sendiri. Wajah itu terlihat lebih segar berkat perawatan mahal dan makanan bergizi yang ia konsumsi seminggu terakhir. Namun, di balik mata cokelatnya yang bening, ada kecemasan yang bersembunyi.

Kata-kata Raga yang ia dengar kemarin sore terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

Aku tidak peduli kalau aku harus membunuh orang lagi.

Kalimat itu bukan gertakan kosong. Nala bisa merasakannya dari nada suara Raga yang bergetar menahan amarah. Suaminya adalah pria yang berbahaya. Pria yang memiliki tangan berlumuran darah demi melindungi apa yang ia miliki. Dan sekarang, Nala adalah "apa yang ia miliki" itu.

Nala mengambil sisir, merapikan rambutnya dengan gerakan lambat. Ia teringat janjinya pada diri sendiri. Ia tidak ingin menjadi beban. Ia tidak ingin menjadi alasan Raga kembali menjadi pembunuh.

Jika musuh mengincarnya sebagai titik lemah, maka Nala harus memusnahkan kelemahan itu.

"Selamat pagi, Nyonya."

Suara ketukan pintu yang diikuti sapaan sopan Pak Hadi menyadarkan Nala dari lamunannya.

"Masuk, Pak Hadi," jawab Nala.

Kepala pelayan tua itu masuk membawa nampan perak berisi sepucuk surat dengan amplop berwarna cokelat kusam. Tidak ada prangko, tidak ada nama pengirim. Hanya ada tulisan tangan kasar yang berbunyi: Untuk Luna.

"Apa ini, Pak Hadi?" tanya Nala heran.

"Seorang kurir mengantarkannya ke pos satpam depan sepuluh menit yang lalu," jelas Pak Hadi dengan wajah sedikit khawatir. "Protokol keamanan sudah memindainya. Tidak ada bahan peledak atau zat kimia berbahaya. Tapi karena ditujukan untuk 'Luna', saya pikir Nyonya harus melihatnya."

Jantung Nala berdesir. Luna. Nama samaran itu baru berumur dua hari. Hanya orang-orang di acara lelang dan Raga yang tahu bahwa Luna adalah Nala. Atau setidaknya, itulah yang ia pikirkan.

Nala mengambil amplop itu. Kertasnya terasa kasar di ujung jarinya. Ia merobek segelnya perlahan.

Di dalamnya, tidak ada surat panjang lebar. Hanya ada selembar foto polaroid tua yang warnanya sudah memudar.

Nala menahan napas saat melihat foto itu.

Itu adalah foto dirinya saat berusia tujuh tahun. Ia sedang duduk di lantai teras belakang rumah keluarga Aristha, mengenakan baju bekas Bella yang kebesaran, sedang makan nasi bungkus sendirian. Wajah kecilnya terlihat kotor dan menyedihkan.

Di balik foto itu, ada tulisan dengan tinta merah yang berantakan:

Kau bisa memakai gaun seharga satu miliar, tapi kau tetaplah tikus got yang memakan sisa makanan. Nikmati panggung sandiwaramu selagi bisa, Cinderella. Jam dua belas akan segera berdentang.

Tangan Nala gemetar hebat. Foto ini jatuh dari tangannya, melayang pelan ke lantai karpet.

Ini adalah teror.

Seseorang tahu masa lalunya. Seseorang tahu bahwa Luna yang diagung-agungkan media adalah Nala si anak buangan. Dan orang itu mengirim pesan ini langsung ke rumah Raga, menembus benteng pertahanan mereka.

"Nyonya?" Pak Hadi melangkah maju, wajahnya cemas melihat Nala yang memucat. "Apakah isinya berita buruk?"

Nala tidak sempat menjawab. Pintu kamar mandi terbuka. Raga keluar dengan kursi rodanya, rambutnya masih basah sehabis mandi. Ia langsung menangkap ketegangan di udara. Matanya yang tajam menyapu Nala yang gemetar dan secarik foto di lantai.

Dengan gerakan cepat, Raga meluncur mendekat. Ia memungut foto itu.

Rahang Raga mengeras seketika. Urat-urat di lehernya menonjol. Aura membunuh yang kemarin Nala rasakan dari balik pintu, kini terpancar jelas di hadapannya.

"Pak Hadi!" bentak Raga, suaranya menggelegar memenuhi kamar.

"Ya, Tuan!" Pak Hadi tersentak kaget.

"Siapa yang mengantar ini? Cari kurirnya! Tahan dia! Jangan biarkan dia keluar dari area komplek!" perintah Raga berapi-api.

"Sa-satpam sudah menahannya di pos depan, Tuan. Kurir itu bilang dia hanya dibayar oleh orang tak dikenal di jalan untuk mengantar paket ini," jawab Pak Hadi gugup.

"Orang tak dikenal..." Raga meremas foto itu hingga remuk. "Mereka bermain-main denganku. Mereka berani menyentuh teras rumahku."

Raga menoleh pada Nala. Kemarahan di wajahnya seketika berubah menjadi kekhawatiran saat melihat istrinya berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca.

"Nala," panggil Raga lembut. Ia meraih tangan Nala yang dingin. "Jangan takut. Ini hanya gertakan pengecut. Mereka tidak bisa menyentuhmu."

Nala menarik napas dalam-dalam. Ia menghapus air mata yang sempat menggenang di sudut matanya. Ia tidak boleh menangis. Menangis berarti membiarkan pengirim teror itu menang.

"Saya tahu siapa pengirimnya, Tuan," ucap Nala pelan namun tegas.

Raga menatap Nala. "Siapa?"

"Foto ini..." Nala menunjuk gumpalan kertas di tangan Raga. "Foto ini diambil oleh Bella dua belas tahun yang lalu. Dia memotret saya saat makan di lantai untuk dipamerkan ke teman-temannya sebagai lelucon. Dia bilang, 'Lihat, aku punya pengemis peliharaan di rumah'."

Mata Raga menyipit berbahaya. "Bella."

"Hanya dia yang punya foto ini. Dan tulisan tentang 'tikus got'... itu panggilan sayang dia untuk saya saat kami kecil," lanjut Nala. Suaranya mulai stabil. Rasa takutnya perlahan berubah menjadi rasa muak.

"Jadi kakakmu yang bodoh itu ingin bermain api," desis Raga. Ia melempar foto remuk itu ke tempat sampah. "Dia pikir dia bisa mengintimidasimu dengan kenangan masa lalu? Dia salah besar."

Raga memutar kursi rodanya menghadap Pak Hadi.

"Pak Hadi, hubungi kepala keamanan. Gandakan penjagaan di gerbang. Pasang kamera tambahan di setiap sudut buta taman. Dan kirim 'hadiah' balasan untuk keluarga Aristha. Pastikan semua kontrak kerjasama anak perusahaan mereka dengan vendor kita diputus hari ini juga. Buat mereka sibuk mengurus kebangkrutan sampai tidak sempat mengirim surat sampah seperti ini."

"Baik, Tuan. Segera saya laksanakan," Pak Hadi membungkuk dan bergegas pergi, menutup pintu kamar dengan hati-hati.

Setelah mereka berdua, Raga kembali menggenggam tangan Nala. Ia menarik gadis itu agar duduk di pangkuannya. Kali ini Nala tidak menolak. Ia butuh sandaran. Ia melingkarkan lengannya ke leher Raga, membenamkan wajahnya di bahu kokoh suaminya.

"Maafkan saya, Tuan," bisik Nala. "Masa lalu saya mengikuti saya sampai ke sini. Saya membawa masalah ke rumah Tuan."

"Jangan bicara bodoh," tegur Raga, tangannya mengusap punggung Nala dengan gerakan menenangkan. "Kau adalah istriku. Masa lalumu adalah masa laluku. Musuhmu adalah musuhku. Kita hadapi ini bersama, dan bagaimana dia tahu jika kamu adalah Luna? ."

Nala mengangkat wajahnya. Ia menatap mata Raga yang hitam pekat.

"Tuan, mungkin tuan tidak menyadari seorang pelukis memiliki ciri khasnya masing-masing saya menduga Bella tahu Luna itu saya karena Bella sering melihat saya melukis" ucap Nala serius. "Dan di sisi lain tuan saya tidak mau hanya dilindungi. Saya tidak mau hanya bersembunyi di balik punggung Tuan atau di dalam studio lukis. Tuan lihat sendiri, mereka bisa mengirim teror sampai ke kamar tidur kita. Saya butuh... saya butuh kemampuan untuk menjaga diri saya sendiri."

Raga terdiam. Ia melihat api kecil menyala di mata Nala. Api yang sama yang ia lihat saat Nala berdebat dengan Nyonya Ratna.

"Apa maksudmu?" tanya Raga.

"Ajari saya," pinta Nala. "Ajari saya cara membaca orang seperti Tuan. Ajari saya cara mengetahui kapan seseorang berbohong. Dan... kalau perlu, ajari saya cara menggunakan senjata."

Raga menggeleng tegas. "Tidak. Senjata terlalu berbahaya. Kau seniman, tanganmu untuk memegang kuas, bukan pistol."

"Kalau begitu beri saya perisai," desak Nala. "Saya sering sendirian saat Tuan kerja. Saya butuh seseorang yang bisa saya andalkan, selain Pak Hadi yang sudah tua."

Raga menatap Nala lama, menimbang-nimbang permintaan itu. Nala benar. Raga tidak bisa bersamanya dua puluh empat jam. Dan musuh mereka semakin nekat. Teror foto itu hanyalah permulaan. Berikutnya mungkin bangkai binatang, atau bahkan serangan fisik.

"Baiklah," Raga akhirnya mengangguk. "Aku tidak akan mengajarimu menembak, belum saatnya. Tapi aku setuju kau butuh bayangan pelindung."

Raga mengeluarkan ponselnya, menekan satu nomor panggilan cepat.

"Sera. Ke ruanganku sekarang."

Lima menit kemudian, pintu kamar diketuk.

Seorang wanita muda masuk. Usianya mungkin sebaya dengan Raga, sekitar dua puluh tujuh tahun. Tubuhnya tinggi tegap, namun ramping atletis. Rambutnya dipotong pendek model bob yang praktis. Ia mengenakan setelan jas hitam formal yang mirip dengan pakaian pengawal pria, namun tetap terlihat feminin dengan caranya sendiri.

Wajahnya dingin, tanpa ekspresi, dengan bekas luka sayatan tipis di dagu kanannya.

"Tuan Muda memanggil saya?" tanya wanita itu dengan suara datar dan efisien.

"Nala," kata Raga memperkenalkan. "Ini Seraphina. Panggil saja Sera. Dia adalah kepala keamanan wanita terbaik yang aku miliki. Dulu dia anggota pasukan khusus sebelum aku merekrutnya."

Nala menatap Sera dengan kagum. Wanita ini memancarkan aura kekuatan yang tenang. Berbeda dengan Bella yang berisik, Sera terlihat seperti air tenang yang menghanyutkan.

"Sera, ini Nala. Istriku," lanjut Raga.

Sera membungkuk hormat, namun matanya tetap waspada menatap Nala. "Selamat pagi, Nyonya."

"Mulai hari ini, tugasmu berubah," perintah Raga. "Kau bukan lagi menjaga perimeter luar. Kau menjadi banyangan Nala. Ke mana pun dia pergi, kau ikut. Bahkan ke kamar mandi kalau perlu. Pastikan tidak ada orang asing yang mendekatinya dalam radius dua meter tanpa izin."

"Siap, Tuan," jawab Sera tanpa ragu.

"Dan Sera," tambah Raga, suaranya memberat. "Nala bukan sekadar klien VIP. Nyawanya terikat dengan nyawaku. Jika dia terluka, kau tahu apa artinya."

"Saya mengerti, Tuan. Nyawa Nyonya adalah prioritas di atas nyawa saya sendiri," jawab Sera mantap.

Raga menoleh pada Nala. "Sera akan mengajarimu dasar-dasar pertahanan diri. Cara melepaskan diri dari cengkeraman, cara menggunakan pepper spray, dan cara mendeteksi bahaya. Itu yang kau minta, kan?"

Nala mengangguk semangat. "Terima kasih, Tuan."

"Jangan senang dulu," potong Raga. "Sera pelatih yang sadis. Jangan menangis padaku kalau badanmu biru-biru besok."

Nala turun dari pangkuan Raga. Ia berjalan mendekati Sera, lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

"Mohon bantuannya, Mbak Sera," ucap Nala ramah.

Sera menatap tangan Nala sejenak, sedikit terkejut. Biasanya klien orang kaya memperlakukannya seperti robot atau anjing penjaga, tidak pernah mengajak bersalaman.

Perlahan, Sera menyambut tangan Nala. Genggamannya kuat dan kasar, penuh kapalan, kontras dengan tangan Nala yang halus.

"Panggil Sera saja, Nyonya," ucap wanita itu, sudut bibirnya terangkat sedikit, sangat sedikit. "Saya akan pastikan tidak ada yang bisa menyentuh Anda."

Siang itu juga, pelajaran pertama dimulai. Bukan di studio lukis yang nyaman, melainkan di ruang olahraga di lantai dasar.

Nala mengenakan pakaian olahraga yang baru dibelikan Pak Hadi. Sera berdiri di hadapannya dengan tangan terlipat.

"Pelajaran pertama," ucap Sera tegas. "Kewaspadaan. Musuh tidak selalu datang membawa pisau. Kadang mereka datang membawa senyum dan hadiah."

Sera melempar sebuah botol air mineral ke arah Nala tanpa aba-aba.

Nala kaget, tapi refleksnya cukup bagus untuk menangkap botol itu dengan dua tangan.

"Bagus," puji Sera datar. "Tapi kalau itu tadi air keras, wajah Nyonya sudah hancur."

Nala merinding. "Apa yang harus saya lakukan?"

"Jangan tangkap. Hindari," jawab Sera. "Mulai sekarang, jangan terima barang apa pun dari orang yang tidak dikenal. Jangan biarkan orang asing menyentuh tubuh Nyonya. Jika ada yang mencurigakan, mundur ke belakang saya. Itu tugas saya menjadi tameng."

Nala mengangguk mengerti.

"Sekarang, saya akan ajarkan cara melepaskan diri jika tangan Nyonya ditarik paksa. Seperti yang mungkin dilakukan penculik."

Sera maju, mencengkeram pergelangan tangan Nala kuat-kuat. "Coba lepaskan."

Nala mencoba menarik tangannya sekuat tenaga, tapi cengkeraman Sera seperti besi. Ia panik, menarik-narik dengan sia-sia.

"Salah," kata Sera. "Jangan adu tenaga. Nyonya kalah tenaga. Gunakan sendi."

Sera mencontohkan gerakannya. "Putar pergelangan tangan ke arah jempol lawan. Itu titik terlemah cengkeraman manusia."

Nala mencobanya. Ia memutar tangannya ke arah jempol Sera, dan ajaibnya, cengkeraman itu terlepas dengan mudah.

"Lagi," perintah Sera.

Mereka berlatih selama dua jam penuh. Nala berkeringat, napasnya ngos-ngosan, dan pergelangan tangannya merah. Tapi ia tidak mengeluh. Ia justru merasa berdaya. Setiap kali ia berhasil melepaskan diri, ia membayangkan dirinya sedang melepaskan diri dari bayang-bayang keluarganya.

Di lantai atas, dari balkon ruang kerjanya yang menghadap ke taman dalam, Raga memperhatikan latihan itu. Ia duduk di kursi rodanya, memegang gelas berisi air putih.

Ada perasaan campur aduk di hatinya.

Ia bangga melihat Nala begitu gigih. Istrinya bukan bunga rumah kaca yang layu saat diterpa angin. Nala adalah rumput liar yang tangguh.

Namun di sisi lain, Raga merasa bersalah. Seharusnya Nala tidak perlu belajar semua ini. Seharusnya Nala cukup duduk manis melukis bunga dan minum teh. Karena Raga-lah, Nala harus belajar cara bertahan hidup dari serangan fisik.

"Maafkan aku, Nala," gumam Raga. "Aku menyeretmu ke dalam duniaku yang kotor."

Ponsel Raga bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Pesan yang berbeda dari teror foto tadi pagi. Ini pesan dari informan rahasianya.

Target bergerak. Tuan Bramantyo baru saja menghubungi lintah darat. Dia butuh uang cepat setelah kontrak diputus. Dia berencana menjual aset tanah di Bogor.

Raga tersenyum dingin. Aset tanah di Bogor itu adalah tempat pemakaman ibunya Nala. Bramantyo benar-benar tidak punya hati. Dia mau menjual makam istri sirinya sendiri demi uang.

Raga mengetik balasan dengan cepat.

Beli tanah itu. Atas nama Luna. Jangan sampai Bramantyo tahu. Dan pastikan harganya jatuh serendah mungkin.

Raga meletakkan ponselnya. Matanya kembali menatap Nala yang sedang tertawa kecil karena berhasil menjatuhkan Sera (yang jelas-jelas mengalah).

"Kau menyerangku dengan foto masa lalu, Bella," bisik Raga. "Maka aku akan mengambil masa lalu kalian sampai tidak ada yang tersisa."

Perang dingin telah dimulai. Dan Raga Adhitama baru saja memindahkan pion pertamanya di papan catur.

1
ren_iren
bagus ceritanya 🤗
Almahara Ara
keren bgt cerita nya... ga bertele tele... best thor
Risma Hye Chan
kalimatnya sngat indah perpaduan mkna kiasan dan sesungguhnya ak suka baca novel yg sprti ini kalimat ny tidak membosankan mksih kak
Bunga
lanjut Thor
ceritanya bagu😍
Hazard: bagus mbak bunga🤭
total 1 replies
Ayu Rahayu
lajuttt kak .Hem suka bgettt crityaa😢
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
Luar biasa
Bunga
semangat Thor
Bunga
salam kenal thor😍
Hazard: salam kenal🙏
total 1 replies
moon
karyanya menarik, suka dengan cerita yang taak bertele-tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!