Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.
Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikut Sakit Merasakannya
Semua orang tentu saja tercengang saat mengetahui siapa pemlik butik itu dan juga cewek yang ada di sana sedang berdiri dengan mata tajamnya.
Yurike dan Erina pun nampak tak percaya jika Valen serta Ale adalahh putri kembar Altezza juga Zurra yang selama ini di sembunyinkan identitasnya.
"Lo, nggak mungkin anak dari pengusaha terkenal itu. Lo pasti bohong!!!"
Erina yang tak terima masih bersikeras dengan kesombongannya dan tak mau mengakui jika Valen serta Ale adalah putri kembar dua orang yang di segani semua orang yang ada di negara mereka.
Valen menaikkan sebelah alisnya karena dia merasa Erina adalah gadis yang aneh yang tak pernah mau membuka matanya dengan apa yang ada di depannya saat ini.
"Heii, bocah, lebih baik lo akui aja kalau lo emang salah dan semua urusan selesai. Mungkin itu bisa meringankan hukuman yang bakal lo terima nanti,"
Arlo kini gantian berdiri di depan Valen karena dia geram dengan ulah Erina yang tak tahu malu itu.
Dia sudah geram ingin menghajar Erina dengan tangannya sendiri.
"Arlo, nggak usah kotori tangan lo dengan nghajar dia, bentar lagi dia juga di jemput pihak berwajib karena dia terbukti juga ngedarin serbuk putih yang bikin banyak orang lupa daratan. Dan dia juga terbukti jadi partner sebuah kelompok yang ngejebak banyak cewek buat di kirim ke dunia malam," ucap Dean mencegah Arlo yang tangannya sudah gatal.
Erina tercengang mendengar semua perkataan Dean tentang jati dirinya. Yurike yang baru saja tahu jika sang putri yang selalu dia manja dan turuti semua kemauannya malah melakukan hal yang seperti itu. Erina yang melihat sang mama nampak kecewa mencoba mendekati Yurike tapi Yurike memilih menjauh dari Erina.
Yurike nampak mulai memegang kepalanya dan menjambak rambutnya yang membuat semua orang saling tatap bingung dengan apa yang di lakukan oleh Yurika.
Valen memerhatikan kelakuan Yurike dan merasa aneh dengan apa yang di lakukan Yurike saat ini.
"Kamu memang keturunan orang itu, kamu memang bukan anakku. Aku menyesal sudah memungutmu dan mengambilmu dari orang itu!!!" teriak Yurike keras.
Erina kembali mematung mendengar perkataan Yurike yang mengatakan jika dia bukan anak Yurike dan Hartawan.
"Ap-apa maksud mama? Mama bohong 'kan?"
tanya Erina pada sang mama.
Yurike berhenti berteriak dan menatap tajam pada Erina, dia tiba tiba gelap mata dan mengambil vas yang ada di sana. Dia melemparkan Vas itu ke arah Erina tapi Valen menendang vas itu sampai pecah berkeping keping.
Pyarrrr....
Semua orang memekik ngeri melihat apa yang di lakukan Valen barusan. Mereka takut jika malah Valen yang akan terluka tapi tak sedikit juga yang kagum dengan Valen.
"Jangan mengotori butik adik gue sama kekonyolan kalian. Kalau lo mau habisi dia lebih baik lo bawa pergi dia dari sini dan lo bisa habisi dia di luar sana," ucap Valen datar.
Yurike luruh ke lantai begitu juga dengan Erina yang merasa ini semua adalah akhir dari semua dunianya selama ini. Tak lama banyak anggota kepolisian datang ke butik itu tapi anehnya tak ada satupun dari mereka yang bisa merekam semua kejadian itu. Ponsel mereka mati secara bersamaan dan saat semua sudah kembali normal serta Erina dan mamanya pergi ponsel mereka kembali nyala bersamaan.
Setelah keributan selesai, Valen naik ke atas untuk menemui Ale sang kembaran. Di sana Valen melihat Ale yang sudah berkutat di depan laptop kerjanya.
saja. Valen bernapas lega karena Ale sudah baik baik
"Kaki lo udah nggak apa apa?" tanya Valen membuyarkan fokus Ale pada laptop di depannya. Dahi Ale berkerut heran karena melihat Valen sang kakak ada di sana.
"Lah, kok lo di sini kak? Ada masalah? Atau ada perlu sama gue?" tanya Ale spontan.
Ctak...
"Aw...."
"Kenapa malah di jitak sih kak...."
Ale mengomeli Valen sambil mengusap keningnya yang baru saja di sentil oleh Valen. Bibir Ale sudah maju sesenti karena kesal dengan sang kakak yang sudah menyentil keningnya.
"Lagian lo juga ngapain sih masih aja ceroboh gitu? Terus itu tadi kalau Arlo nggak datang tepat waktu gimana?" omel Valen ganti.
Ale semakin memberengut mendengar omelan saudara kembarnya karena memang hari ini Ale akan mengeluarkan baju terbarunya dan untuk itu dia menata semuannya sendiri dan para karyawannya hanya membantunya untuk membereskan sisanya saja.
"Nggak ngapa ngapain, cuma beresin barang aja. Lagian gue juga nggak tahu kalau bakal ada kejadian kaya tadi." sahut Ale santai.
Dia kembali duduk di meja kerjanya dan fokus pada laptopnya kembali. Valen menghela napasnya panjang melihat tingkah Ale saat ini. Valen tahu Ale menyibukkan dirinya seperti ini karena Arlo tak jadi kuliah bersamanya jadi Ale menjadi lebih sibuk dan menghindari Arlo saat ini.
Valen dan Dean juga tak ingin ikut campur dengan masalah mereka berdua karena ereka sudah sama sama dewasanya. Jadi Valen dan Dean hanya mengawasi mereka berdua saja, karena bagi mereka itu adalah masa di mana hubungan Arlo dan Ale akan berkembang lebih jauh lagi.
"Baiklah, kalau lo udah baik baik aja gue mau berangkat ke kampus dulu sama kak Dean," pamit Valen pada Ale.
Ale mengangguk sekilas dan melanjutkan kembali pekerjaannya, tapi Valen yang sampai di ambang pintu pun berhenti dan mengatakan sesuatu pada Ale tanpa dia berbalik ke arah Ale.
"Kalau lo emang nggak mau ada jarak sama Arlo, lo bisa pindah ke kampus gue dan nerusin bareng Arlo. Gue nggak tahu apa yang ada di pikiran lo sampai lo menjauh dari Arlo. Tapi gue cuma ingetin lo jangan sampai lo nyesel kalau Arlo juga tiba tiba pergi dan menjauh dari lo. Jadi kalau kalian memang ada salah paham lebih segera bicarakan dari hati ke hati. Jangan sampai kejadian sama gue dulu juga kejadian sama lo dan Arlo."
Ale berhenti seketika, dia nampak terdiam di tempatnya. Sedangkan Valen sudah melanjutkan kembali langkahnya untuk menemui Dean yang sudah ada di parkiran mobil. Valen sengaja menyuruh Dean menunggu di sana agar dia bisa berbicara dengan Ale. Karena saat mereka sama sama di rumah Ale selalu mengurung diri di ruangan kerjanya sendiri dengan alasan dia fokus dengan semua design baju baju barunya.
"Udah?" tanya Dean sambil mengulurkan tangannya ke arah Valen.
Valen menyambutnya dengan senang hati dan senyum manis tersemat di wajah cantiknya saat ini.
"Hmmm, meskipun aku tahu dia akan menangis setelah ini, tapi ini semua demi kebaikan dia sendiri. Kadang aku juga ingin menempatkan diri sebagai kakak yang baik buat dia, mungkin bagi orang lain caraku akan sedikit keras. Tapi sifat dan watak Ale tak jauh beda denganku, jadi aku tahu harus mengatakan apa kepadanya." Jawab Valen.
Mereka kini sudah berada di dalam mobil untuk segera pergi ke kampus, karena panitia penyambutan mahasiswa baru sudah menerornya sejak tadi. Ya, meskipun itu hanya ponsel umum yang dia sebar nomernya tapi tetap saja Dean juga risih jika selalu seperti itu.
"Kita harus segera sampai di kampus," ucap Dean lagi.
Valen mengangguk dan segera Dean menambah kecepatan mobilnya agar mereka segera sampai di kampus.
*
*
Sementara itu, Arlo yang di tinggal pergi ke kampus masih bersandar di luar ruangan Ale. Dia juga mendengar Ale menangis sesenggukan dan tentu saja itu membuat Arlo juga merasakan kesedihan yang Ale rasakan. Dia bahkan juga mendengar apa yang di katakan oleh Valen meskipun dia sampai kapanpun juga tak akan melepaskan Ale begitu saja hanya karena jalan yang mereka tempuh saat ini berbeda.
Arlo melangkahkan kakinya ke dalam ruangan Ale dan melihat Ale menunduk ke bawah dengan wajah yang di tutupi kedua tanganya.
Di sana Arlo melihat badan Ale yang bergetar karena menangis, perlahan dia menghampiri Ale dan mengusap lembut kepala Ale.
"Jangan nangis, aku ikut sakit merasakannya..."
to be continued...