Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.
Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.
Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Keputusan
Pagi di Singapura terasa terlalu cerah untuk hari yang penuh perhitungan.
Alina berdiri di depan jendela suite hotelnya, memandangi kapal-kapal yang melintas di kejauhan. Laut tampak tenang, padahal ia tahu arus di bawahnya bisa begitu kuat dan tak terlihat.
Seperti Aurora.
Seperti dirinya.
Arsen keluar dari kamar mandi, merapikan kancing mansetnya. “Tim sudah siap untuk konferensi daring. Hartono Group ingin jawaban hari ini.”
Alina mengangguk pelan. Ia sudah menduga.
Pasar tidak pernah menunggu terlalu lama.
Di meja ruang duduk, laptop sudah menyala. Grafik saham Aurora masih menunjukkan penurunan. Beberapa aset mereka di Asia mulai dilepas diam-diam. Diam-diam—kata yang membuat Alina tersenyum tipis.
“Mereka mencoba menyelamatkan diri tanpa terlihat panik,” gumamnya.
“Dan kita?” tanya Arsen, duduk di seberangnya.
Alina menarik napas panjang. “Kita tidak menyerang. Kita memilih.”
Arsen mengangkat alis.
“Aset mana yang benar-benar strategis untuk Ardhana?” lanjut Alina. “Bukan untuk menjatuhkan mereka. Tapi untuk memperkuat kita.”
Rapat daring dimulai beberapa menit kemudian. Wajah-wajah serius memenuhi layar.
Direktur investasi memaparkan tiga aset utama Aurora yang berpotensi diambil alih: satu proyek energi terbarukan di Vietnam, jaringan logistik di Thailand, dan saham minoritas di perusahaan fintech regional.
“Jika kita bergerak cepat, kita bisa mendapatkannya dengan valuasi diskon hingga tiga puluh persen,” jelasnya.
Alina menyimak tanpa menyela.
Ia tahu angka-angka itu menggoda.
Namun keputusan hari ini bukan hanya soal keuntungan.
“Bagaimana dampaknya jika Aurora bangkit kembali?” tanyanya tiba-tiba.
Semua terdiam sejenak.
“Jika mereka pulih,” jawab salah satu analis, “mereka akan kehilangan posisi strategis di kawasan. Itu memperlemah daya saing mereka secara permanen.”
Arsen menatap Alina, mencoba membaca ekspresinya.
“Kita tidak perlu menghancurkan mereka,” katanya akhirnya. “Cukup membuat mereka tak lagi mampu menyerang.”
Kalimat itu seperti kesimpulan yang sudah lama ia pikirkan.
Rapat ditutup dengan satu keputusan: Ardhana akan mengajukan penawaran untuk proyek energi terbarukan dan saham fintech.
Bukan semua.
Cukup yang paling vital.
Sore harinya, berita tentang minat Ardhana pada aset Aurora mulai beredar di kalangan investor.
Tak lama, ponsel Alina bergetar.
Daniel.
Ia menatap layar beberapa detik sebelum menjawab.
“Saya mendengar Anda bergerak cepat,” suara Daniel terdengar lebih lelah dari sebelumnya.
“Pasar tidak menunggu,” jawab Alina tenang.
“Anda tahu jika proyek Vietnam itu jatuh ke tangan Anda, posisi kami di Asia Tenggara akan runtuh.”
Alina tidak langsung menjawab.
“Ini bukan personal,” lanjut Daniel. “Tapi Anda memaksa saya untuk bertahan dengan cara apa pun.”
“Kami tidak memaksa,” balas Alina dingin. “Anda yang menawarkan aliansi karena tidak mampu berdiri sendiri.”
Hening beberapa detik.
“Apa yang Anda inginkan sebenarnya, Alina?” tanya Daniel pelan.
Pertanyaan itu membuatnya terdiam.
Apa yang ia inginkan?
Balas dendam?
Keamanan?
Kendali?
“Aku ingin berhenti melihat keluargaku diperlakukan seperti pion,” jawabnya akhirnya. “Dan jika itu berarti memastikan Aurora tidak lagi punya kekuatan untuk mengancam, maka ya—aku akan mengambilnya.”
Suara di ujung sana terdengar menghela napas panjang.
“Kalau begitu, kita benar-benar berada di sisi berlawanan.”
“Sejak awal memang begitu.”
Telepon terputus.
Alina menurunkan ponselnya perlahan.
Arsen yang berdiri tak jauh darinya mendekat. “Tidak ada kompromi?”
“Tidak untuk yang satu ini.”
Arsen mengangguk. “Aku bersamamu.”
Ia menatap pria itu, merasakan sesuatu yang hangat di tengah ketegangan.
“Apakah kau pernah takut?” tanyanya tiba-tiba.
“Takut kehilangan perusahaan?” Arsen menggeleng. “Tidak.”
“Takut kehilangan aku?”
Arsen tersenyum samar. “Setiap hari.”
Jawaban itu begitu jujur hingga membuatnya terdiam.
“Aku juga,” akunya pelan.
Malamnya, undangan makan malam dari salah satu investor regional datang tanpa diduga.
Tempatnya tidak jauh dari hotel mereka, restoran mewah dengan pemandangan sungai.
Investor itu dikenal sebagai pihak netral, sering menjadi penentu arah dukungan pasar.
Di meja makan yang elegan, pria paruh baya itu tersenyum bijak.
“Saya mendengar Ardhana sedang memperluas sayap,” katanya.
“Kami hanya memanfaatkan peluang,” jawab Alina sopan.
Ia mengangguk pelan. “Aurora membuat banyak musuh dalam beberapa tahun terakhir.”
Alina memperhatikan nada bicaranya.
“Dan Anda?” tanyanya hati-hati.
“Saya tidak memihak. Saya memihak stabilitas.”
Arsen menyela, “Dan stabilitas menurut Anda?”
Investor itu menatap Alina dalam-dalam.
“Datang dari kepemimpinan yang tegas. Dan bersih.”
Kata terakhir itu menggantung.
Alina memahami maksudnya.
Pasar sedang mencari figur yang dapat dipercaya.
Jika ia bermain benar, Ardhana bukan hanya menang secara finansial.
Mereka bisa menjadi simbol perubahan.
Kembali ke hotel, Alina duduk di tepi ranjang, melepas sepatu hak tingginya.
“Semua orang menunggu kita membuat kesalahan,” katanya pelan.
Arsen duduk di sampingnya.
“Dan kita tidak akan memberikannya.”
Alina menoleh padanya.
“Bagaimana jika aku berubah menjadi seperti mereka?” tanyanya lirih. “Terlalu haus kendali. Terlalu dingin.”
Arsen mengangkat dagunya perlahan.
“Kalau kau seperti mereka, kau sudah menghancurkan Aurora tanpa berpikir dua kali.”
Alina terdiam.
“Perbedaanmu,” lanjut Arsen, “kau masih bertanya apakah yang kau lakukan benar.”
Keheningan itu terasa lebih lembut dari sebelumnya.
Ia menyandarkan kepalanya di bahu Arsen.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, ia merasa lelah.
Bukan secara fisik.
Tapi secara emosional.
“Setelah ini selesai,” katanya pelan, “aku ingin hidup tanpa terus waspada.”
Arsen tersenyum tipis. “Kita akan sampai di sana.”
“Benarkah?”
“Ya. Tapi mungkin bukan tanpa luka.”
Alina memejamkan mata.
Ia tahu ini belum puncaknya.
Aurora masih punya kartu terakhir.
Dan Daniel bukan tipe orang yang menyerah tanpa langkah penutup.
Namun kali ini, Alina tidak hanya memikirkan kemenangan.
Ia memikirkan masa depan.
Tentang perusahaan yang ia bangun bersama Arsen.
Tentang hubungan yang tumbuh di tengah kontrak yang dulu terasa dingin.
Di luar, lampu kota Singapura berkilauan seperti ribuan kemungkinan.
Dan di tengah semua ketidakpastian itu, Alina sadar satu hal—
Keputusan hari ini akan menentukan bukan hanya arah bisnis mereka.
Tapi juga siapa yang akan ia jadi setelah perang ini berakhir.
(BERSAMBUNG)