Dunia telah berubah menjadi permainan maut.
Gerbang dimensi terbuka, monster meluap ke bumi, dan manusia terpilih membangkitkan kekuatan luar biasa yang disebut "Hunter". Namun, Kenzo tidak seberuntung itu. Dia hanyalah seorang Cleaner—pemulung mayat monster kelas rendah yang direndahkan dan dianggap sampah masyarakat.
Nasibnya berubah saat ia dikhianati dan dibiarkan mati di dalam Dungeon level tinggi oleh timnya sendiri. Di ambang maut, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem God Level Extraction Diaktifkan!]
[Target: Black Shadow Wolf (Grade A). Ekstraksi Berhasil!]
[Anda Mendapatkan Skill: Kecepatan Bayangan!]
Siapa sangka, pemulung yang dulunya diinjak-injak kini bisa mencuri bakat, kekuatan, hingga ingatan dari makhluk apa pun yang ia sentuh.
Satu per satu Hunter pengkhianat ia jatuhkan. Satu per satu monster penguasa ia jadikan batu loncatan. Dari pembersih sisa pertempuran, Kenzo bangkit menjadi predator puncak yang akan mengekstrak seluruh dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGEPUNGAN LANGIT DAN SINGGASANA ORBIT
Samudra Pasifik di bawah sana masih kelihatan kayak air mendidih yang tumpah, tapi Kenzo sudah nggak peduli. Fokusnya sekarang ada di atas. Sebelas kilometer rantai bayangan yang dia ciptakan dari inti bumi menegang hebat, nahan ratusan kapal perang Interstellar Council agar nggak kabur ke lubang cacing.
Kenzo berdiri di atas kepala Tiamat yang sekarang sudah ciut, lebih mirip anjing peliharaan yang abis dipukuli tuannya. Di sampingnya, Hana berdiri sambil berusaha ngatur napas. Rambut peraknya berantakan, dan keringat dingin ngalir dari dahi sampai ke lehernya.
"Guru... mereka mulai ngecas meriam ungu itu," lapor Hana. Matanya yang punya Void Perception berkilat ngeri. "Kalau itu ditembakin, atmosfer kita bakal bolong. Kita bakal mati konyol kena radiasi."
Kenzo cuma nyengir, yang bikin Hana merinding sekaligus kagum. "Mereka telat. Udah nggak ada waktu buat pemanasan."
Kenzo nengok ke arah Hana, merhatiin gimana baju tempur Hana yang robek di bagian bahu nampilin kulit putihnya yang sekarang kemerahan karena hawa panas. "Lo masih kuat, kan? Atau mau gue gendong sambil kita naik ke sana?"
Hana mukanya mendadak merah, entah karena panas atau karena godaan Kenzo. "G-guru! Dalam situasi kayak gini masih sempet sempetnya..."
"Gue cuma nanya. Lagian, pemandangan dari atas sana pasti lebih bagus kalau lo nggak pingsan," balas Kenzo santai. "Ayo. Pegangan yang kenceng. Gue nggak mau lo ketinggalan di awan."
Dengan satu entakan kaki yang bikin kepala Tiamat retak, Kenzo dan Hana melesat ke atas. Mereka nggak terbang pake sihir terbang biasa yang lambat. Mereka "berselancar" di sepanjang rantai bayangan itu dengan kecepatan yang bikin udara di sekitar mereka jadi api.
Dalam itungan detik, langit yang tadinya biru cerah berubah jadi item pekat yang penuh bintang. Sunyi. Mati. Tapi buat Kenzo yang udah setahun mendekam di Void, hampa udara ini rasanya kayak kamar tidur sendiri.
Di depan mereka, berdiri raksasa logam bernama The Arbitrator. Panjangnya lima puluh kilometer, bentuknya kayak cakram pemotong planet yang siap ngeratain Bumi.
Di Dalam Jembatan Komando Kepanikan Para 'Dewa'
"Dua objek organik terdeteksi naik lewat rantai!" teriak seorang operator alien bertangan empat. Mukanya yang mirip kadal berubah jadi pucat pasi. "Perisai energi Sektor 4 nggak bisa nahan mereka! Mereka... mereka nembus logam kita kayak nembus mentega!"
Panglima Armada mereka, seorang jenderal dari ras Aethelgard yang badannya terbuat dari kristal hidup, mukanya merah padam atau lebih tepatnya, kristalnya berpendar marah. "Mustahil! Itu cuma makhluk dari planet kelas rendah! Aktifkan unit Sun-Eaters! Giling mereka sampai jadi debu atom!"
Lyra, si pengamat yang tadinya sombong, cuma bisa duduk lemes di lantai jembatan komando. Bajunya udah berantakan, rambutnya acak adakan. Dia tau ini udah selesai. "Kalian bego... kalian bener-bener ngebangunin monster yang harusnya dibiarin tidur."
Kenzo mendarat di atas dek luar The Arbitrator dengan bunyi dentum yang nggak kedengeran (karena nggak ada udara), tapi getarannya bikin seluruh kapal itu goyang. Ratusan robot tempur raksasa, Sun-Eaters, keluar dari palka. Mereka bawa pedang laser yang bisa motong atom.
Hana narik busurnya, berdiri di samping Kenzo. Karena nggak ada oksigen, dia pake koneksi Mana dari Kenzo buat tetep napas.
"Hana, lo urus sampah sampah kaleng di kiri," perintah Kenzo lewat koneksi batin. "Gunakan frekuensi si Malphas. Bikin mereka ngerasa gimana rasanya dimakan sama kegelapan yang lebih tua dari ras mereka."
"Siap, Guru!" Hana narik tali busurnya. Tiap kali anak panahnya lepas, robot robot alien itu nggak meledak mereka malah kelipet ke dalem diri mereka sendiri, ketelan sama lubang hitam kecil yang diciptakan Hana.
Kenzo sendiri jalan santai ke arah pintu masuk utama. Unit Sun-Eater yang nyoba deket langsung dipotong-potong tanpa dia perlu nyentuh. Dia cuma gerakin jari, dan dimensi di depan dia robek, ngebawa robot robot itu ke tempat yang nggak bakal pernah mereka temuin jalan pulangnya.
kenzo sampe di gerbang utama palka. nggak niat buat ngetok pintu. Kenzo tempelin tangan gue ke logam dingin itu.
"[Skill: Shadow Integration]." ucap Kenzo.
Cairan item, pekat, dan bau kematian mulai keluar dari telapak tangan gue. Cairan itu merayap cepet banget, kayak virus yang lagi laper, nutupin seluruh badan kapal induk itu.
Kenzo ngerasain sirkuit komputernya, kabel energinya, sampe napas ketakutan para alien di dalemnya. Semuanya sekarang punya Kenzo.
Di dalem jembatan komando, lampu-lampu mendadak berubah jadi ungu gelap. Suara alarm yang tadinya bising mendadak mati, diganti sama suara napas berat yang menggema di seluruh speaker kapal.
"Kapal ini sekarang punya gue," suara Kenzo masuk ke otak tiap alien di sana. "Siapa pun yang berani gerak, bakal gue jadiin pupuk buat kebun bayangan gue."
Pintu jembatan komando meledak hancur. Kenzo masuk bareng Hana yang bajunya makin compang camping kena gesekan energi tadi. Kenzo ngeliat ke arah Panglima Kristal yang lagi gemeteran.
"Jadi ini yang namanya 'Dewa'?" Kenzo jalan deket, auranya begitu nekan sampe para prajurit elit alien di sana langsung muntah darah dan pingsan.
Kenzo nyengkeram leher si Panglima Kristal. "Bumi itu primitif, ya? Tapi liat sekarang, lo gemeteran di depan orang yang harusnya lo panen." ucap Kenzo.
Kenzo ngelirik Lyra yang masih duduk di lantai. Tatapan Kenzo turun ke arah kaki Lyra yang mulus tapi gemeteran, terus naik ke mukanya yang penuh air mata.
"Lyra, lo kelihatan jauh lebih cantik pas lo lagi ketakutan kayak gini," bisik Kenzo, bikin Lyra makin nunduk dalem. "Kasih tau gue koordinat markas besar Interstellar Council lo. Gue mau main ke sana. Gue bosen di Bumi, gue mau nyari hiburan yang lebih... menantang."
"Kenzo... kalau lo lakuin ini, perang galaksi nggak bakal bisa dihindari," Lyra bicara dengan suara gemetar.
"Bagus," jawab Kenzo pendek. Dia ngeremes leher si Panglima Kristal sampe kristalnya retak-retak. "Gue emang lagi butuh alasan buat ngebakar bintang bintang."
Satu jam kemudian, orang orang di Jakarta liat pemandangan yang nggak masuk akal. Kapal kapal perang alien yang tadinya mau nyerang, sekarang malah baris rapi di atas atmosfer. Bukan buat nyerang, tapi buat jaga jaga.
The Arbitrator sekarang punya bendera baru: lambang naga bayangan hitam emas.
Arka, Valeria, sama Freya berdiri di atap markas sambil melongo.
"Dia beneran bajak kapal luar angkasa..." gumam Arka sambil benerin kacamata yang retak. "Gila. Besok kita harus bikin paspor antar galaksi, ya?"
Di atas takhta sang Panglima, Kenzo duduk santai. Dia narik Hana buat duduk di pegangan takhtanya.
"Guru, dunia lagi nunggu pesan dari Anda," kata Hana sambil nyoba benerin sobekan di bajunya yang makin parah.
Kenzo natap Hana sebentar, matanya berkilat nakal. "Pesan ya? Bilang aja ke mereka... malam ini tidurnya yang nyenyak. Nggak bakal ada dewa atau monster yang berani nyentuh Bumi. Karena kalau mereka berani..."
Kenzo narik Hana lebih deket sampe Hana terduduk di pangkuannya. "...mereka harus ngelewatin gue dulu."
Hana mukanya merah padam, tapi dia nggak nolak. Dia tau, mulai detik ini, hidup mereka nggak bakal pernah sama lagi. Mereka bukan cuma Hunter mereka adalah pemilik langit.
Tapi jauh di tengah galaksi yang gelap, ada sesuatu yang lebih gede dari matahari mulai buka mata. Sesuatu yang ngerasa kalau salah satu mainannya baru aja dihancurin sama "naga kecil".
Kenzo natap ke luar jendela kapal induk, ke arah kegelapan ruang angkasa yang luas. Dia tau, ini baru pemanasan. Perjalanannya buat nundukin seluruh semesta baru aja dimulai.
"Ayo, Hana. Kita tunjukin ke bintang bintang itu... siapa sebenernya penguasa kegelapan."