NovelToon NovelToon
BENANG HAMPIR PUTUS

BENANG HAMPIR PUTUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Pengganti / CEO / Romantis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang Merah yang Terputus

Pagi itu, gedung pengadilan agama tampak begitu angkuh dengan pilar-pilar putihnya yang menjulang tinggi, seolah sengaja dibangun untuk mengerdilkan nyali siapa pun yang datang mencari keadilan. Aris dan Arini tiba dengan menggunakan transportasi umum. Pakaian mereka rapi namun sederhana, tanpa aksesori mewah yang biasanya melekat. Pemandangan ini sangat kontras saat mobil sedan mewah keluaran terbaru berhenti tepat di depan lobi, disusul oleh Ibu Sofia yang turun dengan langkah yang masih sangat berwibawa, dikawal oleh Pak Hermawan dan dua asisten pribadi yang sigap membukakan jalan.

​Ibu Sofia sempat menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap putra tunggalnya dengan pandangan yang sulit diartikan—ada kemarahan yang berkilat, namun di ceruk matanya, Aris bisa melihat secercah luka yang sangat dalam. Namun, begitu tatapannya beralih pada Arini, mata itu mendingin sekeras es, tajam dan menghakimi. Ia melewati mereka begitu saja tanpa sepatah kata pun, hanya aroma parfum mahalnya yang tertinggal di koridor yang berbau antiseptik dan debu itu, memberikan kesan dominasi yang menyesakkan.

​Di dalam ruang mediasi yang sempit dan berudara pengap, suasana terasa jauh lebih mencekam daripada suhu udara di luar. Sebuah meja oval panjang berbahan kayu kusam menjadi batas pemisah antara kedua belah pihak. Pak Hermawan mulai membuka pembicaraan dengan suara baritonnya yang formal dan monoton, menjabarkan poin-poin pelanggaran kontrak dengan bahasa hukum yang dingin. Ia menyebut tentang "manipulasi niat" dan "itikad buruk" yang dilakukan oleh Aris dan Arini selama setahun terakhir.

​"Oleh karena itu," Pak Hermawan menyesuaikan letak kacamatanya sambil menatap dokumen di depannya, "Klien kami menuntut pembatalan pernikahan ini secara total. Kami juga menuntut pengembalian seluruh dana yang telah dikeluarkan untuk melunasi hutang keluarga Nyonya Arini, ditambah bunga sebagai bentuk ganti rugi materiil atas penipuan ini."

​Arini tertunduk dalam, jemarinya meremas satu sama lain di bawah meja hingga memutih. Rasa malu itu kembali datang, mencekik lehernya. Namun, Aris tetap duduk tegak. Ia tidak terlihat gentar, bahkan tidak memotong ocehan Pak Hermawan yang berlangsung hampir tiga puluh menit. Ia hanya mendengarkan dengan tatapan kosong yang terarah pada satu titik di dinding kusam ruangan itu.

​"Sudah selesai, Pak Hermawan?" tanya Aris dengan nada suara yang sangat dingin setelah pengacara itu terdiam. Ia kemudian menoleh perlahan ke arah ibunya. "Ibu benar-benar ingin melakukan ini? Ibu ingin menghapus secara hukum status wanita yang telah menyelamatkan nyawa Ibu saat Ibu kolaps di taman tahun lalu? Ibu ingin menghancurkan satu-satunya orang yang tulus menyayangi Ibu tanpa pernah menanyakan berapa angka di rekening Ibu?"

​"Cukup, Aris! Jangan mencoba memanipulasiku dengan rasa kasihan!" Ibu Sofia menyela, suaranya bergetar hebat karena emosi yang tertahan. "Kasih sayang tidak akan pernah bisa dibangun di atas fondasi kebohongan. Kalian menipu aku dengan kontrak sampah itu! Kalian menjadikan aku bahan lelucon di belakang punggungku!"

​"Kontrak itu dibuat karena Ibu yang memaksa!" suara Aris mulai naik satu nada, memecah kesunyian ruang mediasi. "Ibu yang menciptakan lingkungan di mana cinta tidak dianggap valid kecuali jika itu menguntungkan perusahaan. Aku hanyalah produk dari didikan Ibu yang haus kekuasaan dan kontrol!"

​Ibu Sofia tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar menyakitkan. "Aku melakukan semuanya untuk masa depanmu, Aris! Untuk menjaga warisan Ayahmu agar tidak jatuh ke tangan orang yang salah!"

​"Warisan Ayah?" Aris tersenyum sinis, sebuah senyuman yang membuat Ibu Sofia seketika terdiam dan tampak waspada. Aris mengeluarkan sebuah map cokelat yang sudah tampak tua dan sedikit lecek dari tasnya. Ia menggeser map itu perlahan ke tengah meja, tepat di depan ibunya. "Mari kita bicara tentang warisan Ayah yang sebenarnya, Bu. Dan mari kita bicara tentang alasan kenapa Ayah benar-benar meninggal dua belas tahun lalu. Bukan narasi indah yang Ibu dongengkan padaku selama ini."

​Wajah Ibu Sofia seketika pucat pasi, seperti seluruh oksigen di ruangan itu baru saja diisap keluar. Ia menatap map itu seolah-olah benda itu adalah hantu yang baru saja bangkit dari kubur untuk menagih janji. Pak Hermawan mencoba meraih map tersebut, namun Aris menahannya dengan tangan yang kuat dan sorot mata yang mengancam.

​"Selama ini, Ibu mendidikku dengan narasi bahwa Ayah meninggal karena kelelahan bekerja demi membangun imperium Sofia Group. Ibu menjadikanku martir bagi perusahaan dengan dalih kehormatan Ayah," ucap Aris, suaranya kini melambat, setiap kata terasa seperti hantaman palu yang menghancurkan dinding kebohongan. "Tapi sebulan lalu, sebelum kita keluar dari rumah itu, aku menemukan catatan medis dan laporan audit internal yang Ibu sembunyikan di brankas lama kakek. Ayah tidak meninggal karena sakit jantung biasa, kan, Bu?"

​Arini menatap Aris dengan wajah bingung dan terkejut. Ini adalah informasi yang baru baginya. Aris terus melanjutkan, matanya mengunci mata ibunya yang mulai berkaca-kaca karena ketakutan.

​"Ayah meninggal karena depresi berat setelah mengetahui bahwa Ibu memanipulasi laporan keuangan untuk mendepak rekan bisnis setianya—paman kandungku sendiri, hanya agar Ibu bisa memegang kendali penuh. Ayah ingin keluar, ia ingin melaporkan semuanya, tapi Ibu mengancamnya dengan hak asuhku. Ibu bilang pada Ayah bahwa jika dia berani bicara, dia tidak akan pernah melihatku lagi. Ayah menyerah pada hidupnya karena Ibu mengubah rumah kita menjadi penjara bisnis yang dingin."

​Ruangan itu mendadak sunyi sesunyi kuburan. Ibu Sofia tampak seperti baru saja ditikam di ulu hati. Napasnya tersengal, tangannya yang mengenakan cincin berlian besar kini gemetar hebat hingga menjatuhkan tas kecilnya ke lantai.

​"Ibu menggunakan rasa bersalahku terhadap kematian Ayah untuk mengendalikan setiap langkah hidupku, termasuk pernikahanku dengan Arini," lanjut Aris dengan nada pedih yang menyayat. "Dan sekarang, Ibu ingin menghancurkan Arini dengan cara yang sama. Ibu ingin menghancurkan satu-satunya hal nyata yang aku miliki hanya karena Ibu tidak bisa mengendalikannya. Ibu menuduh kami menipu, padahal seluruh hidup Ibu adalah penipuan besar yang Ibu bungkus dengan nama 'kehormatan keluarga'."

​"Aris... hentikan... Ibu mohon..." bisik Ibu Sofia lirih, air mata mulai mengalir deras, merusak riasan wajahnya yang biasanya sempurna. Ia tampak rapuh, bukan lagi wanita besi yang ditakuti di dunia bisnis.

​"Aku punya semua buktinya di sini, Bu. Laporan audit, catatan medis, hingga surat pernyataan paman yang Ibu bungkam. Jika Ibu melanjutkan gugatan ini dan terus menekan Arini, aku tidak akan segan-segan membuka ini ke publik dan dewan komisaris. Ibu akan kehilangan perusahaan yang sangat Ibu cintai itu. Aku tidak butuh uang Ibu, aku tidak butuh warisan itu. Aku hanya butuh Ibu berhenti mengganggu hidup kami."

​Aris berdiri dari kursinya, ia merangkul bahu Arini yang masih terpaku karena terkejut mendengarkan rahasia gelap keluarga itu. "Keputusan ada di tangan Ibu. Apakah Ibu ingin mempertahankan ego Ibu dan kehilangan seluruh imperium ini, atau Ibu menerima bahwa putra Ibu sudah dewasa dan telah menemukan rumahnya sendiri di tempat yang paling sederhana sekalipun."

​Tanpa menunggu jawaban dari Pak Hermawan yang terpana atau ibunya yang masih terisak, Aris menuntun Arini keluar dari ruang mediasi. Di koridor pengadilan yang dingin dan berangin, Arini menghentikan langkah Aris.

​"Mas... kenapa kamu tidak pernah bilang soal itu padaku?" tanya Arini dengan suara yang nyaris hilang.

​Aris menghela napas panjang, ia memeluk Arini di tengah keramaian koridor, mengabaikan pandangan orang-orang yang lewat. "Karena aku tidak ingin menyakitimu dengan kenyataan betapa gelapnya keluargaku, Arini. Aku tidak ingin kamu merasa terbebani. Tapi aku harus melakukannya. Aku harus memutus benang merah yang selama ini mengikat leherku dan membuatku sesak."

​Mereka berjalan keluar menuju tempat parkir yang gersang, di mana taksi online pesanan mereka sudah menunggu di bawah terik matahari. Di belakang mereka, di dalam ruang mediasi yang pengap, Ibu Sofia terduduk lemas di kursinya, menyadari bahwa senjata paling mematikan yang ia miliki—rasa bersalah putranya—kini telah berbalik menghancurkan dirinya sendiri.

​Hari itu, untuk pertama kalinya, Aris dan Arini benar-benar merasa bebas. Bukan karena mereka menang secara hukum di pengadilan, tapi karena tidak ada lagi rahasia atau bayang-bayang yang berdiri di antara mereka dan dunia. Mereka melangkah maju, siap untuk benar-benar memulai hidup sebagai manusia bebas, bukan lagi sebagai aktor dalam sandiwara yang melelahkan.

1
deepey
kasihan aris
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Sebaiknya jarang terlalu berharap lebih Arini, kalo tidak sesuai ekspetasi, nanti km bakal jauh lebih sakit dari sekarang.
deepey: semoga benar-benar muncul harapan buat arini
total 1 replies
Serena Khanza
najis banget ketemu model laki kek aris.. kek nya nama aris dimana mana nyebelin ya😏 yang viral itu juga namanya aris, eh disini namanya aris juga 🙄😌
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Hunk
Dalem banget bagian ini… dialognya kerasa dingin tapi justru nusuk. Aris kelihatan realistis, tapi di saat yang sama kejam tanpa sadar. Sementara Arini posisinya bikin miris—dia jatuh cinta pada versi yang bahkan mungkin nggak pernah benar-benar ada. Konflik emosinya kerasa kuat dan relate, apalagi soal pernikahan yang cuma “kesepakatan”. Penasaran banget kelanjutannya bakal sejauh apa perasaan Arini bertahan atau malah hancur.
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Miris banget nasib Arini harus hidup dibawah keputusan orang lain, bahkan untuk mendapatkan hak nya sendiri, hak untuk bahagia aja engga bisa 🙃
Fra
Kasihan sekali kamu Arini, demi membantu keluarga juga lho ini ;(
Sedih
Serena Khanza
aku suka sama ceritanya , bener2 kehidupan pernikahan yang tanpa cinta tapi disini dikemas dengan cerita yang menurutku asik gitu buat di baca nya gak berat gak yang rumit gitu.. semangat terus thor 💪🏻
Serena Khanza
sejauh ini untuk di awal bab kerasa banget sih dua manusia yang menikah tanpa cinta, yg satu ingin sedikit aja ada perhatian/setidaknya kek aku disini loh ada gitu, sedangkan yang satu kek naif, sok gak butuh, sok gak peduli atau mungkin ada sesuatu nih..
Hunk
Bagus cerita nya tentang nikah kontrak.

Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.
Hunk: iya sama sama. Senang bisa membantu🙏
total 2 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Begini lah gambaran nyata kalo menikah tanpa perasaan
deepey
arini big hug for u
deepey
semangat berkarya ya kk 💪
Kaka's: trimakasih kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!