Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.
Dialog Intens Liam kepada Olive
"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 PERTAHANAN HATI DAN JALAN MENUJU KESEMBUHAN
Senin, 12 Mei 2025, Musim Semi
Pagi menyapa Monte Carlo dengan sisa-sisa gerimis yang membasahi jendela. Di kamar mewah Vera, Olivia Elenora Aurevyn terbangun dengan kelopak mata yang terasa berat dan membengkak. Wajah porselennya sembab, menandakan betapa semalam ia menangis sejadi-jadinya. Di sisi ranjang, Zee dan Vera masih terlelap, setia menemaninya melewati malam yang penuh badai emosi.
Dengan hati yang masih kacau, Olive perlahan turun dari ranjang. Ia menyibak sedikit tirai jendela, matanya langsung tertuju pada satu titik di luar sana. Dan benar saja, mobil Sport hitam Liam Maximilian Valerius masih terparkir rapi di depan gerbang. Itu berarti pria itu tidak beranjak sedikit pun dari posisinya sejak semalam.
Perasaan Olive campur aduk. Ada rasa kasihan yang menyelinap, namun juga rasa sakit hati yang belum sepenuhnya reda. Dengan langkah perlahan, Olive menuruni tangga. Rumah Vera yang besar terasa sepi, karena orang tua Vera memang sangat jarang di rumah akibat kesibukan bisnis mereka di luar kota.
Olive mempercepat langkahnya saat sampai di pintu utama. Napasnya terengah-engah karena berlarian menuruni tangga. Saat pintu terbuka, ia terkejut melihat Liam yang masih dalam posisi bersujud, bersandar pada pilar batu, dengan kepala menunduk. Tubuhnya basah kuyup, jaket jasnya menempel lepek di kulitnya, dan rambutnya meneteskan air sisa hujan.
"Liam!" panggil Olive, suaranya tercekat. Ia mendekat, tangannya gemetar saat menyentuh bahu pria itu. "Liam, bangun!"
Liam perlahan membuka matanya. Tatapan matanya merah dan sendu, penuh penyesalan. Begitu melihat Olive di depannya, tanpa aba-aba, Liam langsung bangkit dan memeluk Olive dengan erat. Tubuhnya yang dingin dan gemetar memeluk Olive dengan putus asa.
"Olive... Maafkan aku... Maafkan aku," bisik Liam, suaranya serak dan pecah. "Aku bersumpah demi nyawaku, aku tidak pernah menemui Thalia. Aku tidak mengkhianatimu. Aku bersumpah..."
Liam menjelaskan semuanya, dari mulai ia terus-menerus diganggu oleh Thalia hingga ia salah mengira panggilan Olive adalah gangguan dari wanita itu. Ia mencaci dirinya sendiri karena kebodohan dan kecerobohannya. Olive hanya bisa menangis di pelukan Liam, memukul-mukul dada bidang pria itu dengan kesal.
"Kau bodoh! Kau bodoh sekali, Liam!" isak Olive. "Kenapa kau tidak bilang?! Kenapa kau harus bersujud di sini semalaman?! Kau bisa sakit!"
Liam mengeratkan pelukannya. "Aku pantas mendapatkannya, Olive. Aku pantas dihukum. Aku sudah menyakitimu. Aku mohon... maafkan aku..."
Melihat penyesalan Liam yang begitu tulus, hati Olive sedikit melunak. Luka di hatinya masih terasa perih, namun ia tidak bisa membiarkan Liam terus-menerus tersiksa dalam kedinginan. "Masuk dulu, Liam. Kau bisa sakit."
Kegaduhan di depan pintu rupanya membangunkan Zee dan Vera. Mereka segera turun dan terkejut melihat Liam yang sudah basah kuyup dan tampak sangat menyedihkan.
"Ya Tuhan, Liam! Masuk cepat!" seru Vera dengan panik. Ia langsung menyuruh pelayan rumah untuk menyiapkan pakaian kering untuk Liam dan membuatkan air hangat.
Dengan cekatan, para pelayan menyiapkan semua kebutuhan Liam. Setelah mandi air hangat dan mengganti pakaian, Olive membawa semangkuk sup jahe hangat untuk Liam. "Minum ini, agar kau tidak masuk angin," kata Olive, suaranya masih terdengar dingin namun penuh perhatian.
Liam menatap Olive dengan tatapan penuh terima kasih.
Vera dan Zee yang merasa bahwa Liam dan Olive butuh waktu berdua, memutuskan untuk pergi kuliah. Sebelum berangkat, Vera berbalik ke arah Olive. "Olive, hari ini butik tidak perlu dibuka. Kau bisa menggunakan rumahku sampai semuanya jelas. Kami akan kembali nanti sore."
Liam mengangguk kepada Vera. "Terima kasih, Vera. Aku sangat berterima kasih."
Setelah kedua sahabatnya pergi, dan para pelayan juga meninggalkan area utama, rumah itu kembali hening. Hanya ada Olive dan Liam. Kesalahpahaman mulai mereda, namun keraguan masih membayangi hati Olive.
Liam mendekat, tatapan matanya penuh dengan hasrat dan kerinduan. Ia meraih wajah Olive, ibu jarinya mengusap pipi wanita itu dengan lembut. "Olive..."
Tanpa menunggu jawaban, Liam mencium bibir Olive dengan rasa lapar yang begitu dalam, seolah ingin melampiaskan semua penyesalan dan rindunya. Ciuman itu intens, penuh gairah, namun juga terasa memohon. Olive sempat memukul-mukul dada Liam, namun perlahan ia membalas ciuman itu, melepaskan semua emosi yang terpendam.
Liam mencoba mengendalikan gairahnya, ia melepaskan ciuman itu dengan berat hati. "Maafkan aku, Olive. Aku tidak bermaksud... "
"Liam," potong Olive, suaranya lembut namun tegas. "Aku ingin kejelasan. Jika kau benar-benar mencintaiku, aku mohon fokuslah pada hubungan kita. Jika suatu hari nanti kau berubah pikiran, jika kau berbalik mencintai Thalia atau wanita lain, aku rela melepaskanmu. Aku tidak akan memaksamu untuk tinggal bersamaku hanya karena Alex atau karena status."
Liam menatap Olive, sorot matanya tajam namun penuh cinta. "Apa yang kau katakan? Bagaimana bisa kau berpikir aku akan melepaskanmu? Kau adalah duniaku, Olive. Sejak pertama kali aku melihatmu, aku tahu kau adalah tujuanku."
Liam menghela napas, lalu melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia kembali menjatuhkan diri berlutut di depan Olive, namun kali ini bukan dalam posisi bersujud, melainkan dengan satu lutut di lantai. Ia meraih tangan Olive, menatapnya dengan tulus.
"Menikahlah denganku, Olive. Saat ini juga. Jika itu bisa membuatmu yakin akan perasaanku, aku akan segera menelepon penghulu dan saksi. Aku ingin kau menjadi istriku, menjadi nyonya Valerius, menjadi ibu dari anak-anakku, dan kita akan membesarkan Jagoan Kecil kita bersama. Aku mencintaimu, Olive. Lebih dari apa pun di dunia ini."
Air mata kembali membanjiri pipi Olive, namun kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan kebahagiaan yang meluap-luap. Liam, sang Iron Monarch yang dingin, kini meluluhkan hatinya dengan ketulusan yang tak terduga. Untuk pertama kalinya, Olive merasa sepenuhnya yakin.
Olive menarik Liam berdiri, lalu memeluknya dengan erat. "I Love You, Liam. Aku mencintaimu."
Liam merasakan seluruh beban di pundaknya terangkat. Ia membalas pelukan Olive, mencium pucuk kepala wanita itu dengan penuh cinta. "I Love You More, Olive. Aku sangat mencintaimu lebih dari yang bisa kau bayangkan."
Di tengah keheningan rumah mewah itu, di bawah langit Monte Carlo yang masih membasahi bumi, dua hati yang hampir retak kini kembali menyatu, mengikat janji cinta yang akan mereka perjuangkan bersama. Perjuangan Liam semalam, pengorbanannya yang rela basah kuyup demi kejelasan, akhirnya berbuah manis.
Kita pada pngen type cwo gini, Ade ❤️🤗😘
Mg Liam selamat & segera sehat kembali y ❤️🤗😘