Di puncak Gunung Qingyun yang berkabut, gerbang Sekte Aliran Abadi telah miring dimakan rayap. Tidak ada teknik dewa, tidak ada tumpukan batu roh, tidak ada ribuan murid yang bersujud. Hanya ada Su Lang, pemuda biasa dengan tulang kultivasi rata-rata, dan sebuah plakat kayu tua warisan mendiang gurunya.
Su Lang memiliki sebuah "Sistem Pondasi Sekte". Benda itu tidak memberinya kekuatan instan. Sistem itu hanya sebuah panduan kaku yang menuntut keringat darah. Ingin beras? Cangkul tanah di belakang gunung. Ingin teknik pernapasan dasar? Perbaiki atap aula utama dengan tangan sendiri. Ingin menjadi kuat? Latih satu gerakan pedang sepuluh ribu kali di bawah air terjun musim dingin.
Ini bukan kisah tentang penaklukan dunia atau pembantaian musuh yang arogan. Ini adalah catatan harian seorang pemuda yang menolak membiarkan api sektenya padam membangun kembali kejayaan dari serpihan genting pecah satu napas , satu langkah satu hari pada satu waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2 tamu membawa dingin
Cahaya matahari pagi di Puncak Qingyun tidak membawa kehangatan. Sinar itu pucat, jatuh menimpa hamparan putih yang menyelimuti dunia, hanya berfungsi sebagai penerang bagi kehampaan yang membentang sejauh mata memandang.
Su Lang terbangun oleh sensasi kaku yang merambat dari ujung kaki hingga ke pangkal paha. Api di tungku telah lama mati, meninggalkan tumpukan abu kelabu yang membeku. Napasnya sendiri membentuk kabut tebal di udara, menggantung sejenak sebelum lenyap ditelan dinginnya ruangan.
Dia tidak segera bangkit. Bergerak berarti membiarkan udara dingin di luar selimut tipisnya menyerbu masuk, merobek sedikit kenyamanan yang tersisa. Dia berbaring diam, menatap langit-langit kayu yang kemarin baru saja ia perbaiki. Masih ada celah-celah kecil di sana, cahaya matahari menerobos masuk seperti jarum-jarum emas yang menusuk kegelapan aula.
Perutnya berbunyi. Suara itu terdengar sangat keras di ruangan yang sunyi, sebuah protes dari organ tubuh yang menuntut haknya. Nasi dari beras merah spiritual kemarin sudah habis dicerna, hanya menyisakan energi samar yang kini mulai pudar.
Su Lang menyingkirkan selimutnya. Udara dingin langsung menyergap, menusuk kulitnya melalui serat kain jubah yang kasar. Dia mengertakkan gigi, menahan getaran tubuhnya, lalu memaksakan kaki untuk menapak lantai kayu yang sedingin es.
Langkah pertamanya hari ini terasa berat. Sendi-sendinya berderit pelan.
Dia berjalan menuju ember air di sudut ruangan. Permukaan air di dalamnya telah berubah menjadi cermin es setebal jari. Su Lang mengambil gayung kayu, menghantamkannya pelan ke permukaan es itu.
Krak.
Pecahan es berhamburan. Dia menciduk air yang menusuk tulang itu, membasuh wajahnya tanpa ragu. Rasa dingin yang ekstrem menyengat kulit wajahnya, membekukan kantuk, memaksa matanya terbuka lebar. Ini adalah ritual pagi yang menyiksa, sekaligus satu-satunya cara untuk mengingatkan dirinya bahwa dia masih hidup. Dia belum menjadi mayat beku seperti serangga yang terjebak di musim dingin.
Saat dia mengeringkan wajah dengan lengan jubahnya, suara gesekan batu gerinda itu kembali bergema di dalam tengkoraknya.
[Sistem Pondasi Sekte mendeteksi hari baru.]
[Evaluasi Kondisi Fisik: Lemah. Nutrisi tidak mencukupi.]
[Misi Harian Tersedia.]
Panel transparan itu muncul, melayang diam di udara.
[Misi Harian: Jalan Menuju Gerbang]
Deskripsi: Jalur utama dari Aula Besar menuju Gerbang Sekte tertimbun salju setinggi lutut. Sebuah sekte tidak bisa menerima berkah langit jika jalannya tertutup.
Target: Bersihkan jalur sepanjang 300 meter hingga bersih dari salju.
Hadiah: 2 Ikat Kayu Bakar "Kayu Besi", 1 Poin Dedikasi.
Hukuman Gagal: Jalur tertutup permanen oleh es abadi, akses keluar masuk terputus.
Su Lang membaca tulisan itu tanpa ekspresi. Tiga ratus meter. Dalam kondisi normal, membersihkan salju sepanjang itu adalah pekerjaan berat. Dalam kondisinya yang kurang gizi dan tanpa energi spiritual, itu adalah siksaan.
Dia tidak mengeluh. Mengeluh tidak akan menyingkirkan salju itu.
Su Lang berjalan ke gudang peralatan. Dia menemukan sebuah sekop kayu tua dengan ujung besi yang sudah tumpul dan berkarat. Gagangnya terasa kasar di telapak tangan, penuh dengan serpihan kayu yang siap menusuk kulit. Dia merobek sedikit kain dari ujung jubah bawahnya, membebatkannya ke telapak tangan sebagai pelindung sederhana.
Dia melangkah keluar.
Dunia di luar Aula Besar adalah lautan putih yang menyilaukan. Halaman latihan, jalan setapak, taman batu, semuanya hilang di bawah selimut salju tebal. Hanya atap gerbang sekte di kejauhan yang menyembul, seperti nisan tua yang menandakan batas wilayah kekuasaannya yang menyedihkan.
Su Lang membenamkan sekopnya ke dalam tumpukan salju.
Srak.
Dia mengangkat beban putih itu, melemparkannya ke samping. Satu kali.
Srak.
Dua kali.
Gerakan itu sederhana, monoton, dan melelahkan. Setiap kali dia mengangkat sekop, otot punggungnya menegang, memprotes beban yang bertumpu padanya. Udara dingin membakar paru-parunya setiap kali dia menarik napas panjang.
Sepuluh meter pertama, keringat mulai membasahi punggungnya. Keringat itu berbahaya. Jika dia berhenti bekerja, keringat itu akan mendingin dan membunuhnya perlahan. Dia harus terus bergerak.
Lima puluh meter. Tangan Su Lang mulai terasa mati rasa. Bebatan kain di tangannya mulai basah, gesekan gagang sekop terasa semakin panas di kulit telapak tangannya. Dia tidak melihat ke belakang, juga tidak melihat ke depan. Dia hanya melihat ujung sekopnya. Masuk, angkat, lempar. Masuk, angkat, lempar.
Irama itu menjadi satu-satunya hal yang ada di kepalanya. Dia melupakan rasa lapar. Dia melupakan kesepian. Dia menyatu dengan pekerjaan itu.
Matahari mulai naik tinggi, sinarnya sedikit lebih terik, membuat butiran salju berkilauan menyakitkan mata.
Su Lang berhenti sejenak untuk menyeka keringat di dahi. Napasnya memburu, uap putih tebal keluar dari mulutnya seperti cerobong asap. Dia menegakkan punggung, mendengar bunyi kretek dari tulang belakangnya.
Saat itulah dia melihatnya.
Di ujung tangga batu yang menuju gerbang sekte, di tempat yang belum dia bersihkan, berdiri sesosok manusia.
Jantung Su Lang berdegup kencang, bukan karena lelah, melainkan karena kewaspadaan instan. Selama bertahun-tahun tinggal di gunung ini bersama mendiang gurunya, tamu adalah hal yang langka. Tamu di tengah musim dingin seperti ini lebih langka lagi.
Sosok itu melangkah naik. Salju yang menghalangi jalan Su Lang seolah tidak berarti baginya. Orang itu tidak berjalan di atas salju, melainkan melayang tipis di atasnya, meninggalkan jejak yang nyaris tak terlihat.
Seorang kultivator.
Su Lang mencengkeram gagang sekopnya lebih erat. Bukan sebagai senjata—sekop tumpul ini tidak akan berguna melawan seseorang yang memiliki Qi—melainkan sebagai sandaran agar lututnya yang gemetar tidak menyerah.
Sosok itu semakin dekat, wujudnya semakin jelas.
Itu adalah seorang wanita muda.
Dia mengenakan jubah putih bersih dengan sulaman benang perak di ujung lengan dan kerahnya, membentuk pola pedang yang melilit gunung. Jubah itu tipis, tidak wajar untuk cuaca sedingin ini, menandakan bahwa pemakainya memiliki perlindungan Qi yang kuat terhadap suhu ekstrem. Rambut hitamnya yang panjang diikat tinggi dengan tusuk konde giok hijau, membiarkan leher jenjangnya terekspos pada angin dingin tanpa sedikit pun menggigil.
Wajahnya cantik, dengan kecantikan yang tajam dan dingin. Kulitnya seputih porselen, bibirnya merah tipis, dan matanya setajam mata elang yang sedang memindai mangsa. Ada aura arogansi yang alami memancar darinya, bukan arogansi yang dibuat-buat, melainkan keyakinan mutlak dari seseorang yang tahu posisinya berada di atas.
Su Lang mengenali lambang di jubah wanita itu. Sekte Pedang Awan Beku. Salah satu sekte menengah yang menguasai wilayah utara pegunungan ini, ratusan mil jauhnya dari sini, namun pengaruhnya sangat besar.
Wanita itu berhenti sepuluh langkah dari Su Lang. Tatapannya menyapu halaman yang tertimbun salju, atap aula yang baru ditambal seadanya, dan akhirnya berhenti pada sosok Su Lang yang kotor, berkeringat, dan memegang sekop tua.
Tidak ada sapaan. Tidak ada senyum sopan santun.
"Aku mendengar Tetua Han meninggal," suaranya jernih, seperti denting es yang jatuh ke lantai batu, merdu sekaligus menusuk. "Jadi, desas-desus itu benar. Sekte Aliran Abadi benar-benar telah menjadi sarang tikus tanah."
Su Lang menatap wanita itu tenang. Dia tahu dia lemah, dia tahu dia miskin, tetapi dia adalah Ketua Sekte sekarang. Harga diri adalah satu-satunya harta yang tidak bisa diambil orang lain darinya.
"Guru telah berpulang tiga hari yang lalu," jawab Su Lang, suaranya serak namun stabil. Dia tidak membungkuk berlebihan, hanya mengangguk kecil sebagai tanda hormat sesama praktisi, meskipun dia tahu wanita itu tidak menganggapnya setara. "Maaf jika tempat ini tidak layak untuk menyambut tamu agung dari Sekte Pedang Awan Beku."
Wanita itu mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis. Dia melangkah maju, mendekat hingga Su Lang bisa mencium aroma tubuhnya—wangi bunga plum musim dingin yang bercampur dengan bau logam dingin pedang.
"Tamu? Aku bukan tamu," katanya datar. "Namaku Lin Xiaowan. Guruku, Tetua Ketiga Pedang Awan Beku, dulu pernah memiliki hutang budi kecil pada gurumu. Dia menyuruhku mampir untuk melihat apakah garis keturunan Aliran Abadi sudah punah atau belum."
Lin Xiaowan memutari Su Lang perlahan, matanya meneliti pemuda itu dari atas ke bawah. Tatapan itu seperti membedah, menelanjangi segala kekurangan Su Lang.
"Tulang kultivasi rata-rata. Tidak, bahkan di bawah rata-rata," gumamnya tanpa berusaha mengecilkan suara. "Usia dua puluh tahun, belum memasuki Qi Condensation. Meridian tersumbat lumpur duniawi. Kau... sia-sia."
Kata-kata itu tidak diucapkan dengan nada marah, hanya fakta. Fakta yang diucapkan dengan ketidakpedulian yang menyakitkan.
Su Lang tidak membantah. Dia kembali menancapkan sekopnya ke tanah, berdiri tegak. "Terima kasih atas penilaian Nona Lin. Jika tidak ada hal lain, saya harus kembali bekerja. Salju ini tidak akan menyingkir sendiri."
Alis indah Lin Xiaowan berkerut. Dia jelas tidak menyangka reaksi setenang ini. Biasanya, pria fana atau kultivator rendah akan gemetar ketakutan, atau marah karena dihina, atau mencoba menjilatnya karena kecantikannya. Su Lang tidak melakukan ketiganya. Pemuda itu hanya... lelah. Dan acuh tak acuh.
"Kau mengusirku?" tanya Lin Xiaowan, nada suaranya sedikit meninggi, mengandung ancaman halus.
"Saya tidak berani," jawab Su Lang sambil mulai menyekop salju lagi. Srak. "Nona bisa melihat sendiri. Tidak ada teh untuk disuguhkan, tidak ada kursi layak untuk diduduki. Membiarkan Nona berdiri di tengah salju adalah tindakan yang kurang ajar, jadi saya menyarankan Nona untuk tidak membuang waktu berharga Nona di tempat rongsokan ini."
Lin Xiaowan terdiam. Dia menatap punggung Su Lang yang kembali bekerja dengan ritme monoton. Ada sesuatu yang aneh pada pemuda ini. Dia jelas-jelas lemah, semut yang bisa dia remukkan dengan satu jentikan jari. Pakaiannya compang-camping, tubuhnya kurus kering. Jelas dia kelaparan.
Meskipun begitu, setiap gerakan sekopnya memiliki keteguhan yang aneh. Tidak ada keraguan. Tidak ada keputusasaan. Hanya penerimaan yang keras kepala.
Lin Xiaowan mendengus lagi, kali ini nada penghinaannya sedikit berkurang, digantikan oleh rasa penasaran yang bercampur kejengkelan. Dia merogoh lengan bajunya yang lebar, mengeluarkan sebuah botol porselen kecil berwarna putih susu.
Dengan gerakan santai, dia melemparkan botol itu ke arah Su Lang.
Su Lang, mendengar desingan angin, refleks melepaskan satu tangan dari sekop dan menangkap benda itu. Tangannya terasa panas menyentuh porselen yang dingin itu.
"Itu Pil Bening Embun," kata Lin Xiaowan, membalikkan badan, memunggungi Su Lang. "Itu bisa membersihkan sedikit kotoran di meridianmu. Anggap saja itu pembayaran hutang budi guruku pada gurumu yang sudah mati. Mulai sekarang, Sekte Pedang Awan Beku tidak berhutang apa pun pada Aliran Abadi."
Dia mulai berjalan menuruni tangga. Langkahnya ringan, seolah gravitasi tidak berlaku baginya.
"Satu hal lagi," Lin Xiaowan berhenti sejenak tanpa menoleh. "Sekte Besi Hitam di kaki gunung sudah mengincar tanah ini sejak lama. Mereka hanya takut pada reputasi masa lalu gurumu. Sekarang gurumu mati, dan pewarisnya hanyalah sampah yang belum bisa memadatkan Qi... umurmu di sini mungkin tidak akan sampai musim semi. Turunlah gunung, jadilah petani. Itu lebih baik daripada mati konyol demi sebuah plakat kayu."
Setelah mengucapkan kalimat terakhir itu, sosoknya melesat, menjadi bayangan putih yang dengan cepat menghilang di antara pepohonan pinus yang tertutup salju, meninggalkan aroma bunga plum yang perlahan pudar digantikan bau dingin salju.
Su Lang berdiri diam, menggenggam botol porselen di tangannya. Dia bisa merasakan sedikit fluktuasi energi spiritual dari dalam botol itu. Bagi Lin Xiaowan, ini mungkin hanya sampah atau uang receh yang diberikan pada pengemis. Bagi Su Lang, ini adalah harta karun yang bisa menyelamatkan nyawanya.
Dia tidak merasa terhina disuruh menjadi petani. Dia tidak marah disebut sampah. Kemarahan membutuhkan energi, dan dia tidak punya energi untuk diboroskan pada emosi yang tidak produktif.
Dia memasukkan botol itu ke dalam saku jubahnya yang paling dalam, memastikannya aman.
"Musim semi..." gumamnya pelan.
Masih ada tiga bulan menuju musim semi.
Dia kembali memegang sekop dengan kedua tangan. Masih ada seratus meter jalan yang harus dibersihkan. Ancaman Sekte Besi Hitam adalah masalah nanti. Masalah sekarang adalah menyelesaikan misi sistem sebelum matahari terbenam.
Srak.
Srak.
Su Lang bekerja seperti mesin. Matahari bergerak melintasi langit, bayang-bayang memanjang. Lengannya terasa seperti timah, kakinya serasa bukan miliknya lagi. Lapar kembali menyerang, kali ini lebih ganas, menggerogoti dinding perutnya.
Ketika dia akhirnya membersihkan tumpukan salju terakhir di depan gerbang sekte yang miring, langit sudah berwarna jingga kemerahan. Senja telah tiba.
Su Lang menjatuhkan sekopnya. Dia jatuh terduduk di atas batu tangga yang kini bersih. Napasnya terdengar seperti orang yang tercekik. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat, uap panas mengepul dari kepalanya.
Dia menatap jalan setapak yang kini terbuka. Garis hitam batu jalan membelah hamparan putih salju, sebuah luka yang dia buat dengan tangannya sendiri. Itu bukan jalan yang indah, masih ada sisa-sisa es di pinggirannya, tetapi itu adalah jalan. Jalan yang bisa dilalui.
Suara yang dinanti-nantikan itu akhirnya terdengar.
[Misi Harian Selesai: Jalan Menuju Gerbang.]
[Evaluasi Kerja: Gigih. Efisiensi rendah, Tekad tinggi.]
[Hadiah dikirim ke Penyimpanan Spasial Sementara.]
[Poin Dedikasi: 2/100]
Sebuah tumpukan kayu muncul di samping gerbang. Kayu itu berwarna gelap, kulitnya keras seperti besi. Kayu Besi. Jenis kayu yang terbakar sangat lama dan menghasilkan panas tinggi tanpa banyak asap. Ini adalah berkah bagi malam-malam musim dingin.
Su Lang tersenyum tipis. Bibirnya pecah-pecah dan berdarah.
Dia tidak langsung mengambil kayu itu. Dia merogoh saku, mengeluarkan botol pemberian Lin Xiaowan. Dia membuka sumbatnya. Aroma segar seperti hujan pagi langsung menyeruak keluar. Di dalamnya ada tiga butir pil berwarna biru pucat.
Pil Tingkat Satu. Barang biasa bagi sekte besar, barang mewah bagi kultivator liar, dan barang mustahil bagi Su Lang.
"Hutang budi lunas, ya?" bisiknya pada botol itu.
Dia tahu Lin Xiaowan memberikannya karena kasihan, bercampur dengan keinginan untuk memutuskan hubungan karma agar kultivasi wanita itu tidak terganggu oleh beban masa lalu. Wanita itu cantik, kuat, dan pragmatis. Tipe wanita yang akan melambung tinggi ke langit, meninggalkan orang-orang seperti Su Lang di tanah lumpur.
Su Lang menutup kembali botol itu. Dia belum akan meminumnya. Tubuhnya terlalu lemah saat ini; energi obat yang kuat bisa merusak meridiannya yang rapuh alih-alih memperbaikinya. Dia butuh makanan, istirahat, dan persiapan mental.
Dia memanggul tumpukan Kayu Besi itu di bahunya yang lecet. Bebannya berat, tapi terasa hangat.
Malam ini, dia akan tidur dengan api yang menyala terang. Malam ini, aula tidak akan sedingin kuburan.
Su Lang melangkah kembali naik menuju aula. Di kejauhan, lolongan serigala gunung terdengar bersahutan, menyambut datangnya kegelapan.
Satu hari lagi terlewati. Satu langkah kecil menjauh dari kematian.
Dan di dalam kegelapan hutan di bawah sana, sepasang mata merah mengawasi gerbang yang baru saja dibersihkan itu. Bukan mata hewan, melainkan mata manusia yang penuh keserakahan. Peringatan Lin Xiaowan bukan omong kosong. Burung pemakan bangkai sudah mulai berdatangan, mencium bau kematian dari sekte tua itu.
Su Lang tidak tahu dia sedang diawasi. Dan kalaupun dia tahu, dia tidak akan peduli. Dia hanya ingin menyalakan api.
Dia mendorong pintu aula, menutupnya rapat-rapat, mengunci dunia luar bersama segala bahayanya. Untuk saat ini, Puncak Qingyun adalah miliknya, dan miliknya seorang.
Nama: Su Lang
Identitas: Ketua Sekte Aliran Abadi
Kultivasi: Belum Ada (Fana)
Poin Dedikasi: 2
Inventaris: - Plakat Sekte (Rusak)
Sekop Kayu (Rusak Parah)
3 Butir Pil Bening Embun (Dari Lin Xiaowan)
2 Ikat Kayu Besi (Hadiah Misi)