NovelToon NovelToon
Universe Network

Universe Network

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Zombie / Fantasi
Popularitas:638
Nilai: 5
Nama Author: Candra S

Beberapa bulan setelah Leon lulus dari SMA, gurunya menawarkan Leon untuk bekerja di villa sang guru. Setahun setelah itu, Leon berhasil menembus tahap pemurnian qi level satu, dan secara resmi dijadikan murid oleh sang guru. Pada malam peresmian murid, gurunya memberikan sebuah bola hitam misterius kepada Leon. Keesokan harinya, kehidupan Leon mulai berubah secara drastis!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelang Ikatan

"Owner perusahaan ini adalah aku, dan kamu menjalankan perusahaan sebagai presidennya. Kamu juga akan memiliki bagian 10%, dan 90% akan ada padaku. Tentu sebagai presiden perusahaan, kamu akan menerima gaji juga."

Leon mulai menjelaskan kepada Reynold dasar perusahaan yang rencananya dia bangun.

"Lalu Arini?"

"Hmm.... Sebenarnya aku tidak memikirkan gebetanmu sebelum kamu menceritakan dia tadi. Bisakah kamu memanggilnya kemari?"

Leon lanjut memberitahu pemilik yang sedang memasak. Untungnya dia baru menyelesaikan pesanan orang lain.

"Pak bos, kami pesan satu lagi. Jadi tiga porsi."

Reynold menghubungi Arini melalui ponselnya. Meyakinkannya bahwa dia tidak main-main, bahkan memulai videocall dan menunjukkan wajah Leon. Untungnya Arini sedang luang. Namun bertepatan dengan kedatangan Arini, pesanan mereka telah selesai dibuat.

"Karena sudah hampir jam 12, lebih baik kita makan dulu dan melanjutkan topik berat setelahnya."

"Oke."

"Tidak masalah bagiku."

Kemudian ketiganya menikmati nasi goreng kambing yang disajikan. Rasa masakan warung pinggir jalan tidak kalah dari sebuah restoran. Terkadang bahkan lebih baik, termasuk tempat ini.

Setelah menghabiskan piring mereka, Leon memberitahu Arini topik yang sebelumnya mereka bahas.

"Seperti yang tadi disampaikan Reynold, aku berniat memulai sebuah perusahaan bisnis dan properti, dengan Reynold sebagai presidennya."

Melihat Arini tetap mendengarkan dalam diam, Leon melanjutkan.

"Bukankah kamu di jurusan bisnis dan manajemen?"

"Lalu?"

"Aku ingin kamu membantu Reynold."

"Berapa dana perusahaan yang tersedia untuk memulai?" Tanya Arini.

"Belum saatnya. Pertama, aku ingin kalian berdua mengubah sejumlah uang menjadi aset properti seperti kost, kontrakan, atau yang lain. Berikan rincian terkait selama satu bulan dari sekarang. Jadikan itu sebagai proses belajar awal sebelum memulai perusahaan. Setelah perusahaan didirikan, kita akan mengalihkan aset tersebut menjadi aset perusahaan. Bagaimana kedengarannya?"

Reynold menatap Arini, yang disetujui dengan anggukan. Kemudian Leon melanjutkan.

"Selama satu bulan ini, aku mungkin akan sulit dihubungi. Uangnya akan aku serahkan kepada Reynold."

Kemudian Leon mentransfer 2 miliar kepada Reynold.

Melihat notifikasi muncul pada ponselnya, Reynold membelalakkan mata dan menunjukkan layar ponsel kepada Arini.

"Ini terdengar meyakinkan. Jika sejumlah ini saja dijadikan sebagai pembelajaran bagi kami berdua, sepertinya niatmu memulai perusahaan tidak main-main."

Arini menjadi semakin serius. Bahkan, mungkin saja ini merupakan bagian dari masa depannya.

"Jangan khawatir. Aku benar-benar serius."

Leon sendiri tahu bahwa keduanya sedang sibuk di semester kelima mereka. Kemungkinan besar, keduanya hanya memiliki waktu pada hari Minggu. Karena itulah dia menetapkan waktu selama satu bulan.

Leon tidak mengharapkan keuntungan apapun dari perusahaan yang akan didirikan. Tujuannya adalah dengan dalih memiliki sebuah perusahaan, Leon secara perlahan-lahan akan menunjukkan sejumlah uang kepada ibu dan adiknya, agar mereka dapat menjalani hidup dengan lebih tenang.

Sisa uang di dalam rekening Leon mulai menipis. Namun ditambah tabungan awal Leon, dia masih memiliki lebih dari dua ratus juta.

"Kamu terlalu lama kakak!"

Wilona memarahi Leon yang kembali ke rumah pada pukul dua.

"Maaf, sudah lama aku tidak bertemu dengan Reynold. Apa kalian sudah menunggu lama?"

"Semua barang sudah siap."

"Bagaimana kabar Reynold?" Tanya ibunya.

"Baik-baik saja ma."

"Sudah-sudah, ayo kita segera berangkat!"

Karena Leon berencana kembali ke villa gurunya pada Senin pagi, Leon mengajak semua orang pergi ke pemandian air panas dan menginap selama semalam di sana. Ibunya bahkan sengaja tidak membuka warung makan hari ini demi rencana tersebut.

"Akhirnya aku bisa berkultivasi penuh."

Leon duduk dalam posisi meditasi di dalam kamar penginapan setelah menghabiskan waktu keluarga.

Meditasi adalah proses menyelaraskan tubuh dan jiwa. Sementara posisi lotus duduk adalah posisi meditasi yang matang, Leon telah belajar bagaimana cara bermeditasi ketika berada dalam posisi tidur selama tiga hari terakhir di ruang tamu rumahnya. Namun prosesnya berjalan lambat dibandingkan dalam posisi lotus duduk. Karena itulah tingkat kultivasi Leon masih di tahap keempat.

"100 gram kristal mana seharusnya cukup."

Dalam tahap pemurnian qi, level 1-3 dianggap sebagai langkah awal, 4-6 menengah, dan 7-9 akhir. Pada langkah awal, Leon hanya memerlukan sekitar 100 gram kristal merah untuk meningkatkan level. Namun ketika dia berada di level 3, dia membutuhkan lebih dari 1000 gram untuk menembus.

Perubahan kemurnian qi dalam tubuh Leon juga mempengaruhi sirkulasi dan manipulasi Leon terhadap qi atau mana. Jika di level 1-3 Leon hanya dapat menyerap sekitar 10 gram kristal merah dalam 1 jam, saat ini Leon dapat menyerap sekitar 80 gram setiap jam. Tentu semua itu jika dilakukan dalam posisi lotus duduk.

Tok! Tok! Tok!

"Kak Leon..."

Sebelum jam biologis tubuhnya bekerja untuk membangunkan tubuh Leon, Leon mendengar ketukan pada pintu kamar. Dia menyalakan ponsel dan melihat layar, itu bahkan belum pukul lima pagi!

Berjalan menuju pintu, Leon melihat Elisa memasang ekspresi sedih.

"Maaf kak Leon, Wilona menyuruhku membangunkan kak Leon untuk melihat sunrise bersama."

"Tidak apa-apa, bocah itu memang selalu bertindak sesuka hati."

Leon mengusap rambut Elisa untuk menenangkannya. Keduanya sudah menjadi lebih dekat belakang ini. Namun Leon sudah memantapkan fokus terhadap banyak hal di planet Galea. Setelah fondasinya di planet Galea lebih mantap, maka dia dapat dengan tenang memikirkan hal-hal seperti hubungan percintaan.

"Tunggu sebentar sementara aku mencuci muka."

"Iya."

Setelah itu, keduanya berjalan keluar dan melihat Wilona berada di sebuah pondok bambu di kejauhan.

"Kak Leon, sini, sini!"

"Oh, ada warung yang buka. Ayo kesana dulu Elisa."

Mengabaikan adiknya, Leon membawa Elisa ke sebuah warung yang ada di sekitar. Dia membeli cemilan ringan dan minuman untuk dinikmati sambil melihat pemandangan.

"Kenapa minumanku seperti ini? Tapi minuman kalian berdua berbeda?"

"Bukankah badanmu akan menjadi lebih segar?"

"Tapi sangat asam. Dan di jam seperti ini...."

Elisa terkikik melihat pembalasan Leon terhadap Wilona. Karena mengganggu waktu tidurnya, Leon membelikan Wilona minuman rasa lemon dengan kandungan vitamin C 1000 miligram.

Sambil menikmati pemandangan, Leon memainkan sebuah gitar yang dia pinjam dari pemilik warung dan ketiganya bernyanyi bersama-sama.

"Sudah hampir jam 7. Aku akan membangunkan mama."

Wilona berdiri dan memberi tahu yang lain dia ingin kembali ke penginapan.

"Seharusnya sudah bangun bukan? Mama selalu bangun pagi lebih awal darimu."

"Oh ayolah kakak.... Kalau begitu aku ingin kembali ke penginapan dulu. Nikmati waktu kalian berdua."

Wilona mengedipkan matanya kepada Elisa dan meninggalkan keduanya.

Melihat Elisa yang menunduk malu, akhirnya Leon sadar tujuan adiknya itu. Adik yang baik.

"Mau nyanyi lagi?"

"Ayo kak Leon."

Leon memiliki suara yang cukup bagus, namun suara Elisa benar-benar merdu. Ditengah-tengah merdunya suara Elisa, Leon sesekali mengambil suara dua sehingga penampilan mereka sangat baik.

"Kapan kak Leon pulang ke rumah lagi?"

"Bulan depan aku akan pulang dan tinggal selama beberapa hari."

"Sungguh?"

"Sungguh."

Melihat anggukan Leon, Elisa tersenyum senang. Leon menjadi terpesona melihat senyuman tersebut.

Ketika mereka mengembalikan gitar ke warung sebelumnya, Leon melihat sebuah gelang tali yang berpasangan.

"Bos, aku beli ini."

Setelah membayar, Leon bertanya kepada Elisa.

"Mau memakainya bersama-sama?"

"Mau!"

Leon memasangkan gelang tali di tangan Elisa, kemudian Elisa juga membantu memasang gelang tali yang serupa di tangan Leon. Melihat Elisa sangat bahagia, Leon puas dengan apa yang telah dia lakukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!