NovelToon NovelToon
Putri Yang Dicuri Takdir

Putri Yang Dicuri Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Finda Pensiunawati

Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 – Hujan yang Menghapus Luka

Malam turun perlahan di Manhattan.

Lampu-lampu kota memantul di aspal basah, menciptakan bayangan panjang yang tampak sendu. Di sebuah halte bus tak jauh dari St. Helena Medical Center, Camille duduk sendirian.

Jam praktiknya telah lama berakhir.

Seragam medisnya masih melekat di tubuh, sedikit kusut, rambutnya tak lagi serapi biasanya. Ia memeluk tasnya erat, menatap kosong ke arah jalan.

Ia tidak tahu harus pulang ke mana.

Ke rumah megah yang terasa dingin?

Atau kembali ke rumah sakit dan menghadapi rasa bersalah yang semakin berat?

Angin malam bertiup pelan.

Camille menarik napas dalam.

Bayangan pertama kali Valeria datang ke kampus muncul di benaknya.

Gadis sederhana dengan senyum hangat.

Tatapan penuh semangat.

Tak pernah mencari perhatian, namun selalu mendapatkannya.

Camille ingat bagaimana ia menilai Valeria saat itu.

Gadis desa. Tidak akan bertahan lama.

Namun kenyataannya?

Valeria bukan hanya bertahan.

Ia bersinar.

Ia mengungguli semua orang—termasuk Camille.

Dan kini, ia terbaring di ICU.

Tertembak.

Darah yang mengalir di tangannya sore itu terasa nyata kembali.

Camille menutup mata.

“Aku tidak pernah ingin ini terjadi…” bisiknya pada malam.

Ia ingat setiap sindiran yang ia ucapkan.

Setiap tatapan sinis.

Setiap usaha menjatuhkan.

Jika waktu bisa diputar kembali, ia ingin menggantinya dengan satu hal saja—

Senyum tulus.

Tiba-tiba, kilat menyambar langit.

Hujan turun tanpa aba-aba.

Deras.

Cepat.

Membasahi jalan dan bangku halte dalam hitungan detik.

Camille tetap duduk.

Air hujan membasahi rambut dan wajahnya, menyatu dengan air mata yang tak lagi bisa ia bendung.

Ia tidak bergerak.

Seolah pantas dihukum oleh dinginnya malam.

Sebuah mobil sport hitam melintas pelan di jalan depan halte.

Lampu depannya menyinari sosok yang duduk basah kuyup di bawah papan iklan halte.

Mobil itu melambat.

Lalu berhenti.

Daniel.

Ia baru saja meninggalkan rumah sakit setelah memastikan kondisi Valeria stabil untuk malam itu. Pikirannya penuh, hatinya lelah.

Namun saat melihat Camille duduk sendirian di tengah hujan, sesuatu dalam dirinya tergerak.

Ia tahu hubungan mereka selama ini tak pernah hangat.

Ia tahu Camille sering menjadi sumber konflik bagi Valeria.

Namun malam itu, ia tidak melihat rival.

Ia melihat seorang gadis yang hancur.

Daniel membuka pintu mobil, berlari kecil mendekat meski hujan deras mengguyur.

“Camille!”

Camille tersentak, mengangkat wajahnya.

Daniel berdiri di depannya, jaketnya sudah basah.

“Kamu ngapain di sini? Hujannya deras sekali.”

Camille terdiam beberapa detik.

“Aku tidak tahu harus pergi ke mana,” jawabnya pelan.

Kalimat itu terdengar rapuh.

Daniel menghela napas panjang.

“Ayo masuk mobil. Kamu bisa sakit.”

“Aku pantas sakit,” gumamnya.

Daniel menatapnya serius. “Tidak ada seorang pun yang pantas menderita sendirian.”

Camille menatapnya.

Tatapan Daniel tidak menghakimi.

Tidak menyindir.

Hanya peduli.

Ia akhirnya berdiri perlahan.

Daniel membukakan pintu mobil untuknya.

Camille masuk tanpa berkata apa-apa.

Mobil kembali melaju pelan menembus hujan Manhattan yang semakin deras.

Di dalam mobil, hanya suara wiper yang bergerak ritmis dan napas keduanya yang terdengar.

Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing.

Daniel memandang jalan, namun pikirannya kembali pada kejadian siang itu.

Valeria yang terjatuh.

Darah.

Jeritan.

Ia menggenggam setir lebih erat.

Camille memandangi tetesan air di kaca jendela.

Refleksi wajahnya tampak berbeda malam ini.

Lebih lelah.

Lebih manusia.

“Daniel…” suaranya pelan, hampir tertelan suara hujan.

Daniel melirik sekilas. “Ya?”

Camille menelan ludah.

“Apa kamu membenciku?”

Pertanyaan itu keluar tiba-tiba.

Daniel terdiam sejenak.

“Aku marah,” jawabnya jujur. “Karena kamu sering menyakitinya.”

Camille menunduk.

“Tapi membenci?” Daniel menggeleng pelan. “Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena Valeria tidak pernah membencimu.”

Camille menatapnya cepat.

Daniel melanjutkan, “Dia pernah bilang padaku… kamu hanya seseorang yang terlalu takut kalah.”

Air mata kembali memenuhi mata Camille.

“Aku memang takut,” bisiknya. “Sejak kecil aku diajarkan bahwa aku harus menjadi nomor satu. Kalau tidak… aku tidak berharga.”

Daniel tak langsung menjawab.

Hujan masih turun deras.

“Aku iri padanya,” lanjut Camille dengan suara pecah. “Semua orang menyayanginya. Bahkan orang tuanya yang sederhana itu… mereka membelaku hari ini.”

Daniel menoleh cepat. “Mereka membelamu?”

Camille mengangguk. “Ayahnya… menghentikan ibuku saat hampir menamparku.”

Daniel terdiam, membayangkan Miguel yang lembut namun tegas itu.

Camille mengusap wajahnya.

“Aku tidak pernah dipeluk seperti itu sebelumnya,” katanya lirih. “Tidak pernah dibela.”

Mobil melambat di lampu merah.

Daniel memandangnya dengan tatapan yang lebih lembut.

“Kamu tidak sendirian, Camille.”

Ia menggeleng pelan. “Aku sudah terlalu banyak menyakiti.”

“Penyesalan adalah awal perubahan,” jawab Daniel.

Keheningan kembali menyelimuti mereka.

Hanya hujan dan cahaya lampu kota yang menjadi saksi.

Akhirnya, Camille menarik napas panjang.

“Kalau Valeria bangun nanti…” suaranya bergetar. “Aku ingin minta maaf.”

Daniel tersenyum tipis.

“Itu keputusan yang benar.”

Air mata Camille jatuh lagi, tapi kali ini terasa berbeda.

Bukan hanya kesedihan.

Ada kelegaan kecil.

“Terima kasih sudah berhenti tadi,” katanya pelan.

Daniel mengangkat bahu ringan. “Aku hanya tidak ingin melihat seseorang basah sendirian di halte.”

Camille menatapnya lama.

Untuk pertama kalinya, ia melihat Daniel bukan sebagai sekadar teman Valeria.

Melainkan seseorang yang tulus.

Mobil akhirnya berhenti di depan rumah Camille yang megah dan dingin.

Hujan mulai mereda.

Camille membuka pintu, lalu berhenti.

“Daniel?”

“Ya?”

“Aku benar-benar menyesal.”

Daniel mengangguk pelan. “Buktikan.”

Camille tersenyum tipis—senyum yang tulus, mungkin yang pertama sejak lama.

Ia turun dari mobil.

Daniel menatapnya berjalan masuk ke rumah besar itu, lalu menghela napas panjang sebelum melajukan mobil kembali ke rumah sakit.

Malam itu, di tengah hujan Manhattan, sesuatu berubah.

Iri mulai larut.

Dendam mulai memudar.

Dan di dalam ICU, monitor jantung Valeria berdetak sedikit lebih kuat—

Seolah hatinya tahu, di luar sana, satu jiwa telah memilih untuk berubah.

Namun takdir belum selesai menulis.

Karena ketika Valeria membuka mata nanti—

Ia tak hanya akan menghadapi luka di tubuhnya.

Tetapi juga kebenaran yang mulai mendekat perlahan.

1
Forta Wahyuni
jgn jd lelaki murahan ya alex, tegas jgn mudah luluh dan ksh celah. aq jijik klu lelakinya murahan, mau peluk2, cium2 or lbh dr itu n menyesal minta maaf n balikan lg. jgn mau valeria klu si alex model bgitu, hempaskan buang jauh krn lelaki bukan alex doank. kau seorang putri, jenius n mendekati sempurna, lelaki yg lbh dr alex bnyk n klu dia plin plan tinggalkan tdk ada kata beri kesempatan.
Finda Pensiunawati
love love 😍
Septriani Margaret
kk lanjut doang seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!