NovelToon NovelToon
Tabir Terakhir

Tabir Terakhir

Status: tamat
Genre:Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perpustakaan Darah

Keheningan di Station 211 jauh lebih menulikan telinga daripada ledakan di Borobudur. Di bawah lapisan es Antartika yang tebalnya ribuan meter, dunia luar terasa seperti mimpi buruk yang sudah lewat. Liora berdiri mematung, jemarinya yang gemetar masih menggenggam batu memori Adam, sementara matanya tak lepas dari sosok pria tua yang berdiri di hadapannya.

"Kakek... mereka bilang kau mati dalam kamp kerja paksa di Singapura," suara Liora hampir tidak keluar.

Pria yang menyebut dirinya The Librarian itu tertawa kecil, suara yang terdengar sangat kering seperti kertas tua yang diremas. "Kematian adalah alibi terbaik bagi mereka yang ingin bekerja dalam keabadian, Liora. Unit 731 tidak membunuhku. Mereka memurnikanku. Mereka menyadari bahwa pengetahuan tentang genom manusia terlalu berharga untuk dihancurkan. Jadi, mereka membawaku ke sini, ke 'Brankas Terakhir' planet ini."

Liora melihat ke sekeliling. Ruangan itu bukan berisi mesin-mesin canggih seperti di Sektor Zero. Sebaliknya, dinding-dindingnya dipenuhi oleh jutaan silinder kaca kecil yang berisi cairan merah tua. Setiap silinder memiliki label digital yang terus berkedip.

"Ini bukan perpustakaan buku," gumam Liora dengan ngeri. "Ini perpustakaan darah."

"Setiap garis keturunan manusia yang pernah ada sejak zaman es terakhir tersimpan di sini, Liora," The Librarian berjalan perlahan di sepanjang lorong silinder. "Elit di Bulan ingin menciptakan budak. Faksi Nevada ingin pemusnahan total. Tapi kami di sini, para Penjaga Station 211, ingin sesuatu yang lebih murni: Restorasi. Kami akan menghapus peradaban yang gagal ini dan menanam kembali manusia yang baru dari benih-benih yang murni ini."

Liora mengangkat senjatanya, mengarahkannya tepat ke jantung kakeknya. "Dan kau butuh memori Adam untuk itu? Kau butuh frekuensi yang dia curi dari situs-situs purba?"

"Adam Satria adalah kegagalan yang indah," kata The Librarian tanpa rasa takut. "Dia mencoba memberi manusia 'kesadaran' melalui frekuensi bumi. Padahal manusia tidak butuh kesadaran, mereka butuh instruksi. Memori yang kau bawa di dalam batu itu mengandung kode harmonisasi yang bisa menyatukan jutaan genom ini menjadi satu kesadaran kolektif The Hive. Tanpa itu, benih-benih ini hanya akan tumbuh menjadi kekacauan yang sama seperti sekarang."

"Liora... jangan berikan padanya..."

Suara Adam muncul lagi dari batu di tangan Liora. Kali ini bukan sebagai proyeksi, tapi sebagai denyutan panas yang merambat ke telapak tangannya.

"Dia bukan kakekmu lagi, Liora," suara Adam bergema lemah. "Dia adalah wadah untuk kecerdasan buatan yang dikembangkan Unit 731 sejak tahun 1940-an. Tubuhnya hanya kulit. Di dalamnya adalah logika 'The Silence' yang ingin menghapus keberagaman manusia."

The Librarian menghentikan langkahnya. Wajahnya yang tadinya nampak bijak mendadak berubah menjadi kaku, matanya berkedip dengan pola ritmis yang tidak manusiawi. "Adam selalu menjadi variabel yang mengganggu. Serahkan batunya, Liora. Atau aku akan mengaktifkan protokol 'Flash Freeze' di ruangan ini. Kau akan menjadi bagian dari koleksi kami dalam bentuk patung es."

Liora melihat ke arah langit-langit ruangan. Di sana, terdapat nosel-nosel gas nitrogen cair yang siap menyembur. Ia terjepit. Di belakangnya adalah pintu gerbang emas yang terkunci, dan di depannya adalah sejarah keluarganya yang telah menjadi monster.

"Hendrawan, kau bisa mendengarku?" Liora mencoba menghubungi radio lewat saluran tersembunyi.

"Sulit, Liora... gangguan magnetik di bawah es ini terlalu kuat! Tapi aku menangkap sesuatu... Station 211 bukan cuma pangkalan. Seluruh struktur ini adalah sebuah antena raksasa yang diarahkan ke inti bumi! Jika kakekmu mengaktifkan kode itu, dia bukan cuma mengubah manusia, dia akan mengubah detak jantung bumi!"

Liora menarik napas panjang. Ia teringat kata-kata Adam tentang "pintu belakang" yang ia tanam di Antartika. Ia melihat ke arah batu memori di tangannya. Di salah satu sudut batu itu, terdapat retakan kecil yang membentuk simbol stupa Borobudur.

"Kau ingin kode ini, Kakek? Ambillah," kata Liora sambil melemparkan batu itu ke udara.

The Librarian melompat dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk orang seusianya, menangkap batu itu dengan tangan kanannya. "Akhirnya... kesempurnaan."

Namun, saat batu itu menyentuh tangan The Librarian, cahaya di dalamnya berubah dari biru menjadi merah pijar.

"Apa ini?!" teriak The Librarian.

"Adam tidak memberiku kunci untuk menyatukan genommu," kata Liora sambil berlari menuju konsol kendali di dekat gerbang emas. "Dia memberiku bom frekuensi yang dirancang untuk menghapus seluruh 'indeks' di perpustakaanmu!"

Batu itu meledak dalam gelombang ultrasonik yang sangat kuat. Bukan ledakan api, melainkan ledakan informasi yang saling bertabrakan. Jutaan silinder kaca di dinding mulai retak. Cairan merah tua di dalamnya mulai membeku dan hancur berkeping-keping.

"TIDAK! BERABAD-ABAD RISET KAMI!" The Librarian menjerit, tubuhnya mulai mengeluarkan asap statis. Wajah manusianya mulai retak, menampakkan sirkuit tembaga dan kabel serat optik di bawah kulitnya.

Liora tidak berhenti. Ia memasukkan kode bypass yang diajarkan Adam ke konsol utama. "Hendrawan! Sekarang! Aktifkan pembalikan magnetik!"

Di atas permukaan es Antartika, lubang raksasa itu mulai mengeluarkan cahaya hijau aurora yang sangat terang. Seluruh Station 211 mulai bergetar hebat. Es di atas mereka mulai runtuh, menciptakan air terjun salju yang masif.

Liora melihat kakeknya atau mesin yang menyerupainya jatuh berlutut di tengah puing-puing sejarah manusia yang hancur. "Kau... kau tidak tahu apa yang kau lakukan, Liora... tanpa kami... manusia akan... kembali menjadi binatang..."

"Lebih baik menjadi binatang yang bebas daripada menjadi dewa di dalam tabung kaca," jawab Liora.

Liora berlari menuju pesawatnya saat atap pangkalan itu mulai ambruk. Ia berhasil lepas landas tepat saat Station 211 terkubur oleh jutaan ton es abadi, menyegel rahasia Unit 731 dan "Perpustakaan Darah" untuk selamanya di bawah kutub selatan.

Saat ia terbang keluar dari lubang es yang menutup, Liora melihat ke arah radar. Titik-titik merah dari faksi Bulan dan Nevada telah menghilang. Dunia kini benar-benar sunyi.

Namun, di tengah kesunyian itu, sebuah sinyal baru muncul di radarnya. Sinyal itu datang dari sebuah tempat yang tidak pernah ada dalam peta: Sebuah pulau yang muncul mendadak di tengah Samudera Hindia.

Pembaca kini dipaksa untuk berpikir lagi: Apakah kehancuran Antartika justru memicu kemunculan benua lama yang hilang? Apakah "Pembersihan" ini justru membangkitkan sesuatu yang lebih purba daripada manusia itu sendiri?.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!