Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:
**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**
Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.
Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.
Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: BERUANG GILA
Malam pertarungan tiba lebih cepat dari yang Ha-neul bayangkan.
Matahari baru saja tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat jingga di langit Kota Selatan, tapi di kawasan pasar ikan, kehidupan malam justru baru dimulai. Lampu-lampu minyak dinyalakan di sepanjang gang, pedagang kaki lima berjejer menjual makanan dan minuman, dan kerumunan orang mulai berdatangan ke arah bangunan tua di belakang pasar—Lingkaran Darah.
Ha-neul berdiri di depan losmen, berpamitan pada Soo-ah.
"Oppa, hati-hati." Soo-ah menggenggam tangan kakaknya. Matanya basah, tapi ia berusaha tegar.
"Pasti." Ha-neul tersenyum. "Kau jaga diri. Jangan buka pintu untuk siapa pun selain Oppa."
"Janji."
Ha-neul mengusap kepala adiknya sekali lagi, lalu berbalik dan melangkah pergi. Di belakangnya, Soo-ah berdiri di ambang pintu losmen, menatap hingga sosok kakaknya hilang di kerumunan malam.
---
Lingkaran Darah malam itu penuh sesak.
Sekitar dua ratus orang memadati tribun kayu yang berderit. Bau arak, keringat, dan darah lama bercampur jadi satu, menciptakan atmosfer khas dunia bawah tanah. Sorak-sorai sudah terdengar bahkan sebelum pertarungan dimulai—para penjudi memasang taruhan, berbicara keras, sesekali tertawa kasar.
Ha-neul masuk melalui pintu belakang, ditemani salah satu petugas arena. Ia dibawa ke ruang kecil di samping arena—ruang ganti petarung. Di sana, sudah ada beberapa orang duduk atau bersiap. Ada yang membalut luka, ada yang mengasah senjata, ada yang hanya duduk diam memejamkan mata.
"Kau Ha-neul?" Seorang pria bertubuh kekar dengan rompi kulit mendekatinya. "Aku yang akan mengatur pertarunganmu. Panggil saja Manajer Park."
Ha-neul mengangguk.
"Lawannya Goo Do-shik. Kau sudah dengar tentang dia?"
"Sedikit."
Manajer Park menghela napas. "Dia veteran. Sepuluh tahun di arena. Tubuhnya kuat, pukulannya mematikan. Kelemahannya? Lambat. Tapi satu pukulan dari dia bisa mengakhiri pertarungan dalam detik." Ia menatap Ha-neul serius. "Strategimu? Jangan kena pukul. Bertahan, buat dia lelah. Kau terlihat lincah, manfaatkan itu."
Ha-neul mengangguk lagi. "Ada aturan khusus?"
"Hanya satu: tidak boleh membunuh dengan sengaja. Kalau lawan menyerah, kau harus berhenti. Kalau tidak, kau didiskualifikasi dan tidak dapat uang."
"Paham."
Manajer Park menepuk pundaknya. "Semoga beruntung. Kau akan dipanggil dalam tiga pertarungan lagi."
---
Ha-neul duduk di sudut ruangan, memejamkan mata. Di sekelilingnya, suara-suara samar terdengar—derit tribun, teriakan penonton, benturan tubuh di arena. Tapi ia mencoba mengosongkan pikiran, fokus pada pernapasan.
"Gugup?" suara Hyeol-geon.
"Biasa."
"Bagus. Gugup itu wajar. Tapi jangan sampai mengganggu konsentrasi."
"Aku akan menang, Guru."
"Aku tahu."
---
"HA-NEUL! KANG HA-NEUL!"
Namanya dipanggil. Ha-neul membuka mata, berdiri. Ia melangkah keluar ruangan, melewati lorong sempit yang langsung menuju arena.
Sorak-sorai penonton menyambutnya—tapi bukan sorak dukungan. Lebih seperti sorak penasaran, melihat petarung baru yang akan dijadikan santapan Beruang Gila.
Di seberang arena, sesosok tubuh raksasa muncul.
Goo Do-shik. Beruang Gila.
Tingginya hampir dua meter, dengan tubuh penuh otot dan bekas luka di sekujur badan. Kepalanya plontos, wajahnya kasar dengan hidung bengkok—mungkin pernah patah berkali-kali. Di tangannya, ia membawa sepasang pisau besar—bukan pisau biasa, tapi lebih mirip golok pendek, berat dan mematikan.
Ia tersenyum melihat Ha-neul. Senyum predator.
"HAHAHA! Ini lawanku?" suaranya menggelegar, terdengar hingga ke tribun paling belakang. "Anak kurus ini? Apa kalian bercanda?"
Penonton tertawa. Beberapa berteriak, "Makan dia, Beruang!" "Jangan sampai tersisa!"
Ha-neul tetap diam. Ia melangkah ke tengah arena, berdiri sekitar sepuluh langkah dari Goo Do-shik. Di tangannya, hanya pedang kayu usang yang ia bawa dari klan dulu.
Goo Do-shik melihat pedang itu dan tertawa lebih keras. "Pedang kayu? Kau pikir ini mainan? Atau kau memang mau mati?"
"Saya mau bertarung." Suara Ha-neul tenang, tidak terpengaruh ejekan.
Manajer pertarungan—seorang pria bertubuh kurus dengan peluit di leher—masuk ke arena. "Aturan standar! Tidak boleh bunuh dengan sengaja! Tarung sampai salah satu menyerah atau tidak bisa bangun! Mulai!"
Peluit berbunyi.
Goo Do-shik langsung menyerang.
Ia bergerak lebih cepat dari yang diduga. Untuk ukuran tubuh sebesar itu, langkahnya masih cukup mengancam. Golok kanannya menyabet ke arah leher Ha-neul.
Ha-neul mundur cepat. Ujung golok hanya lewat beberapa senti dari wajahnya.
"Oh? Lumayan." Goo Do-shik tersenyum. Tapi ia tidak memberi waktu. Serangan kedua datang, kali dari samping. Ha-neul menghindar dengan memutar badan.
Penonton bersorak. Mereka suka melihat pertarungan sengit.
Goo Do-shik terus menekan. Pukulan demi pukulan, sabetan demi sabetan. Ha-neul hanya bisa menghindar, tidak sekali pun membalas. Ia bergerak seperti bayangan, selalu selisih sedikit dari serangan lawan.
"LARI TERUS, BOCAH! BERANI LAWAN LAH!" teriak seseorang dari tribun.
Tapi Ha-neul tidak peduli. Ia sedang mengamati.
Setiap gerakan Goo Do-shik ia rekam dalam kepala. Cara ia melangkah, cara ia mengayun, titik-titik lemah yang terbuka saat ia menyerang. Semua ia kumpulkan, menganalisis, mencari celah.
"Sekarang." suara Hyeol-geon.
Goo Do-shik menyerang lagi, kali dengan ayunan lebar dari atas ke bawah. Ha-neul tidak mundur. Ia melangkah maju—langkah kecil ke dalam jangkauan musuh. Tubuhnya memiring, menghindari golok yang jatuh, dan dalam gerakan yang sama, pedang kayunya menusuk.
Tepat di titik antara tulang rusuk kelima dan keenam. Titik akupuntur yang jika ditekan akan membuat otot perut kejang.
Goo Do-shik terkesiap. Tangannya yang memegang golok kehilangan tenaga. Ha-neul tidak berhenti. Ia terus bergerak, menusuk lagi—kali di lengan kanan, tepat di siku. Goo Do-shik menjerit, golok kanannya jatuh.
"SETAN!" raungnya.
Ia mencoba menyerang dengan tangan kiri, tapi Ha-neul sudah lebih dulu. Tusukan ketiga—di pangkal paha, tepat di titik saraf utama. Kaki Goo Do-shik lemas. Tubuh raksasa itu roboh berlutut.
Hening.
Semua orang terpaku. Tidak ada yang percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. Dalam hitungan detik, Beruang Gila—veteran sepuluh tahun—berlutut di hadapan bocah kurus dengan pedang kayu.
Goo Do-shik terengah-engah, berusaha bangkit. Tapi tubuhnya tidak mau bergerak. Otot-ototnya kejang, sakit luar biasa.
"AKU... AKU MENYERAH!" teriaknya akhirnya, suaranya serak.
Ha-neul mundur selangkah. Ia menurunkan pedang kayunya.
Manajer pertarungan berlari masuk. "Goo Do-shik menyerah! Pemenangnya... Kang Ha-neul!"
Sorak-sorai pecah. Tapi bukan sorak ejekan lagi—sorak kagum, tak percaya. Para penjudi yang kaya raya menggerutu, yang menang bersorak. Semua mata tertuju pada pemuda kurus di tengah arena.
Ha-neul tidak peduli. Ia menatap Goo Do-shik yang masih terkapar.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya.
Goo Do-shik menatapnya dengan ekspresi campur aduk—sakit, marah, tapi juga... kagum? "Kau... jurus apa itu?"
Ha-neul tidak menjawab. Ia berbalik, melangkah keluar arena.
Di belakangnya, sorak-sorai terus bergemuruh. Tapi yang ia pikirkan hanya satu: Soo-ah sedang menunggunya di losmen.
---
Di ruang ganti, Manajer Park menepuk pundaknya keras. "HEBAT! Kau luar biasa! Lihat ini!" Ia menyodorkan kantong kecil berisi koin. "Bonusmu. Seratus perak—lima kali lipat dari biasanya. Bos suka dengan pertarungan sensasional."
Ha-neul menerima kantong itu. Berat. Lebih dari cukup untuk membayar losmen sebulan.
"Besok kau bisa istirahat. Tapi kalau mau bertarung lagi, kabari aku." Manajer Park tersenyum lebar. "Kau akan jadi bintang, Ha-neul. Aku bisa merasakannya."
Ha-neul hanya mengangguk. Ia ingin segera pulang.
---
Saat ia keluar dari Lingkaran Darah, udara malam menyambutnya. Dingin, segar. Ia berjalan cepat melewati kerumunan, menyusuri gang-gang sempit menuju losmen.
Di kamar, Soo-ah belum tidur. Ia duduk di dipan, memeluk lutut, menunggu. Saat pintu terbuka, ia langsung melompat.
"OPPA!"
Ha-neul tersenyum lebar. Ia mengangkat kantong koin. "Oppa menang."
Soo-ah menangis. Ia memeluk kakaknya erat-erat. "Soo-ah takut banget..."
"Sudah, sudah. Oppa baik-baik saja."
Malam itu, mereka makan mie kuah hangat dari pedagang kaki lima, duduk di ambang pintu losmen, ditemani lampu minyak redup. Ha-neul menceritakan pertarungannya—dengan versi yang tidak terlalu menakutkan. Soo-ah mendengarkan dengan mata berbinar.
Di jari Ha-neul, cincin giok hitam berkilat samar, puas.
Perjalanan di Kota Selatan baru saja dimulai. Tapi satu langkah telah terlewati.