NovelToon NovelToon
The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Identitas Tersembunyi / Slice of Life / Persahabatan / TKP / Roh Supernatural
Popularitas:88
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.

Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Waktu ternyata bukan sekadar deretan angka di atas kalender bagi Sam. Waktu adalah siksaan yang bergerak lambat dalam keheningan abadi, sebuah tontonan pahit di mana ia hanya menjadi penonton yang tak diundang.

Tahun 1987 telah lama menguap ditelan zaman, berganti dengan hiruk-pikuk tahun 90-an yang penuh warna-warna mencolok seperti iklan neon di Myeongdong. Sam masih di sana, terpancang di lobi Hotel Emerald yang telah mengalami tiga kali renovasi besar-besaran. Ia menyaksikan bagaimana ubin marmer krem yang dulu sering ia injak—atau bayangkan menginjak—diganti dengan granit hitam mengilap yang memantulkan cahaya lampu kristal dengan sinis. Ia melihat televisi tabung besar yang cembung perlahan-lahan menipis menjadi layar plasma datar yang menempel di dinding bagaimana lukisan mahal. Setiap perubahan terasa seperti pisau tumpul yang mengikis sisa-sisa dunia yang pernah ia kenal.

Dunia di sekelilingnya berubah dengan kecepatan yang menyakitkan. Ia mengamati mode pakaian para tamu yang datang dan pergi. Bahu berbantalan lebar dan rambut tinggi yang disasak rapi berganti menjadi gaun mini dan sepatu bot, lalu bergeser lagi ke gaya grunge dengan celana jins robek dan kaus flanel. Hingga akhirnya, memasuki milenium baru, semua orang seolah-olah terpaku pada benda kecil bercahaya yang mereka genggam, jempol mereka menari-nari di atas kaca, wajah mereka disinari cahaya biru pucat yang membuat mereka terlihat seperti arwah lain—arwah yang hidup namun tak benar-benar hadir.

“Kenapa aku masih di sini?”

Gumaman itu keluar pada suatu malam di tahun 2010, terdengar nyaring di telinganya sendiri di tengah sepi lobi yang baru saja ditinggalkan resepsionis. Suaranya sendiri membuatnya terkejut. Bukan lagi suara cempreng khas anak sepuluh tahun, melainkan lebih berat, lebih dalam, bergema rendah di rongga dadanya yang hampa. Suara seorang pria. Tapi Sam terlalu sibuk memperhatikan dunia luar yang terus berputar, hingga ia hampir tidak pernah menyadari perubahan yang terjadi pada dirinya sendiri.

Hidupnya—jika itu bisa disebut hidup—terjebak dalam rutinitas yang absurd. Bangun dari duduk di kursi kulit yang ia tidak rasakan kelembutannya, berjalan menembus dinding baru yang dicat kelabu, duduk di atas kap mobil mewah yang terparkir tanpa pernah meninggalkan penyok, dan mendengarkan percakapan orang asing yang tak pernah bisa ia ajak bicara. Ia seperti sebuah rekaman video usang yang diputar berulang-ulang di lokasi yang sama, gambarnya semakin buram, suaranya semakin parau.

Baginya, setiap hari adalah hari yang identik. Tidak ada rasa lapar yang melilit perut, tidak ada rasa kantuk yang memberatkan kelopak mata. Hanya ada kekosongan yang kian menganga, sebuah kehausan akan… sesuatu. Apapun. Sentuhan. Pandangan. Pengakuan.

𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢? 𝘔𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘥𝘪 𝘭𝘰𝘣𝘪 𝘩𝘰𝘵𝘦𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶? pikirnya suatu kali, sambil menatap seorang anak kecil yang menangis karena es krimnya jatuh.

-🐥-

Malam itu, pada suatu hari di musim panas 2015, badai besar menghantam Seoul. Angin menderu-deru menggoyang pohon-pohon di taman yang sudah berganti desain. Petir menyambar-nyambar, membelah langit dengan cahaya putih menyilaukan yang sekejap menerangi segala sesuatu dengan bayangan tajam. Sam berdiri di dekat jendela tinggi, merasakan—atau membayangkan—gedoran angin yang seolah ingin menerobos kaca.

𝘉𝘳𝘢𝘢𝘬𝘬!

Petir menyambar terlalu dekat. Pasokan listrik Hotel Emerald berkedip-kedip seperti mata raksasa yang sekarat sebelum akhirnya padam total. Lobi yang biasanya terang benderang oleh lampu gantung megah, lampu sorot, dan lampu meja, seketika tenggelam dalam kegelapan pekat yang nyaris bisa dirabakan. Hanya cahaya sesaat dari luar, dari lampu jalan dan mobil yang lalu lalang, yang menyusup masuk memberi siluet.

Dalam gelap, Sam berjalan. Kaki-kakinya yang tidak bersuara melangkah menuju lorong panjang menuju ballroom. Di sana, di dinding, tergantung sebuah cermin besar. Bingkainya dari kayu mahoni berukir rumit, peninggalan dari era hotel ini pertama dibuka. Biasanya, Sam menghindari cermin. Itu adalah pengingat paling nyata akan ketiadaan dirinya.

Tapi malam ini, dalam kegelapan total, kaca itu menjadi berbeda. Tanpa cahaya dari belakang, cermin itu bukan lagi jendela ilusi, melainkan sebuah permukaan hitam legam, seperti kolam air yang sangat dalam dan tenang, atau seperti portal menuju ketiadaan yang lain.

Sam berhenti di depannya. Nafasnya—sebuah kebiasaan lama yang tanpa fungsi—terasa tertahan.

𝘒𝘪𝘭𝘢𝘵.

Cahaya putih menyilaukan menerobos jendela di ujung lorong, menyapu seluruh koridor dalam kilatan singkat yang tajam, membekukan setiap detail dalam terang yang kejam.

Dan di dalam permukaan kaca hitam itu, dalam kilatan yang mungkin hanya satu detik itu, Sam melihatnya.

Jantungnya seolah berhenti. Atau mungkin mulai berdetak untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun.

Bukan anak kecil berpipi tembam dengan rambut cepak dan kaos biru pesawat terbang yang kotor.

Sosok yang menatapnya balik adalah seorang pria muda. Seorang dewasa. Bahunya lebar dan tegap, membentang memenuhi frame bingkai. Tubuhnya lebih tinggi, lebih berisi. Wajahnya… wajahnya memiliki garis rahang yang tegas, hidung yang mancung, alis yang lebih gelap. Namun di balik struktur wajah yang maskulin itu, tersimpan sepasang mata yang sama. Mata hangat berwarna cokelat madu yang kini dipenuhi keheranan dan kengerian yang dalam. Yang paling mengejutkan adalah rambutnya. Rambut yang dulu hitam pendek, kini tumbuh lebih panjang, jatuh berantakan hingga menyentuh leher, dengan warna kemerahan seperti tembaga tua yang tertangkap cahaya.

Sam gemetar. Getaran itu aneh, berasal dari dalam dirinya yang tak seharusnya memiliki fisik.

“Tidak…”

Suara itu keluar, parau, asing. Suara pria di cermin itu ikut membuka mulut.

Dengan gerakan lambat, seperti takut akan memecahkan ilusi atau justru mengonfirmasi mimpi buruk ini, Sam mengangkat tangannya. Tangan yang terlihat di depannya adalah tangan besar, dengan jari-jari panjang dan tulang-tulang yang jelas terlihat di pergelangan. Tangannya sendiri—yang ia lihat langsung—masih terlihat agak samar, transparan di ujung jari. Tapi di cermin, pantulan tangan itu solid, nyata.

Ia mendekatkan tangannya ke kaca. Di cermin, pantulan tangan pria itu mendekat. Jarak menyempit. Satu inci. Sentimeter.

Ujung jarinya yang transparan menyentuh permukaan kaca yang dingin. Di dalam cermin, ujung jari pria itu menyentuh kaca dari sisi yang lain, seolah-olah mereka adalah dua makhluk yang terpisah oleh sebuah dimensi.

“Ini… Ini aku?” suaranya tercekat.

Sebuah isakan keras, kering, tanpa air mata, menyembur dari tenggorokannya. Suara itu penuh keputusasaan yang meledak. Horor yang ia rasakan lebih nyata, lebih menusuk, daripada fakta bahwa ia mati. Fakta bahwa ia tumbuh. Ia mengalami pendewasaan biologis, perkembangan otot dan tulang, perubahan suara dan wajah, tanpa pernah benar-benar menjalani hidup. Ia memiliki fisik seorang pria yang seharusnya sedang jatuh cinta untuk pertama kali, memulai karier, bergulat dengan pinjaman kuliah, atau sekadar minum soju bersama teman-teman. Namun di dalam, di tempat yang seharusnya menjadi jiwanya, tetaplah bocah sepuluh tahun yang bingung, yang hanya ingin pulang dan memeluk ibunya di taman belakang rumah.

Ia telah tumbuh dewasa dalam kesunyian total. Tanpa saksi. Tanpa sentuhan. Tanpa cinta atau kebencian yang menyertainya. Ia menjadi dewasa hanya untuk menyadari bahwa ia semakin jauh, semakin asing, dari dunia tempat ia seharusnya menjadi bagiannya.

Dengan wajah yang distorsi oleh emosi yang tak bisa diungkapkan air mata, Sam menempelkan dahinya ke kaca yang dingin. Di dalam cermin, pria berambut tembaga itu melakukan hal yang sama.

“Kenapa? Kenapa kau membiarkan aku menjadi seperti ini? Siapa… siapa aku sekarang?” desisnya, suara beratnya bergetar.

Tidak ada jawaban. Hanya gemuruh petir yang semakin menjauh dan rintik hujan yang mulai menderas di luar.

Sam berdiri di sana berjam-jam, terpaku, menunggu kilatan petir berikutnya yang mungkin takkan pernah datang, hanya untuk memastikan sekali lagi bahwa pria tampan dan menyedihkan di dalam cermin itu benar-benar dirinya—si hantu abadi, si bocah yang hilang, yang kini terperangkap dalam raga dewasa yang tak pernah ia minta.

Ia adalah Sam. Tapi juga bukan Sam. Ia adalah sesuatu yang terhenti, namun paradoxically terus bergerak maju. Dan dalam kesadaran pahit itu, untuk pertama kalinya sejak ‘kematiannya’, sebuah keinginan baru yang mengerikan muncul: keinginan untuk mengingat. Keinginan untuk tahu, sebelum wujud baranya ini pun menjadi bukti bisu dari sebuah kehidupan yang tak pernah ia jalani.

.

.

.

.

.

.

.

— Bersambung —

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!