Oskar Biru Arkais sorang pemuda yang berusaha mencari arti cinta Sejati,
Dan Si Mahira Elona Luis si Gadis Tomboy yang Tak Pernah Percaya akan Adanya cinta Sejati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"harapan itu seperti sayap,makin tinggi kaku dibawanya terbang,maka makin sakit jika dia mendadak hilang".
DI RUANG BK SEKOLAH
Saat matahari mulai bersinar terang di langit pagi, Elona duduk dengan tenang di ruang BK sekolah. Ibu Rita – guru BK – sedang berdiri di depannya dengan ekspresi yang penuh kekhawatiran. Mereka baru saja menyelesaikan pemeriksaan kondisi Elona yang masih merasa sedikit lesu
“Kita sudah melakukan yang terbaik untukmu, Elona,” ujar Ibu Rita dengan suara lembut namun tegas. “Namun kamu harus lebih hati-hati lagi agar tidak ada yang terjadi padamu lagi. Kita tidak bisa membiarkan hal buruk terjadi pada orang yang tidak bersalah.”
Elona mengangguk dengan sopan. “Terima kasih atas perhatiannya, Bu. Saya akan lebih berhati-hati dan tidak akan menyalahkan siapapun sebelum mengetahui kebenaran yang sebenarnya.”
Setelah beberapa saat, Ibu Rita mengajak Elona untuk keluar dari ruangan BK dan kembali ke kelasnya. Namun sebelum mereka bisa pergi, suara yang akrab terdengar dari belakang. “Elona! Tunggu sebentar!”
Mereka berbalik dan melihat Biru yang sedang berlari dengan cepat menuju arah mereka. Dia membawa beberapa berkas dokumen dan ekspresi wajahnya yang sangat serius. “Ada sesuatu yang harus saya katakan padamu, Elona!” serunya dengan napas masih terengah-engah.
Elona mengerutkan kening dengan penuh kekhawatiran. “Apa ada masalah lagi, Pak Ketua?”
Biru mengangguk dengan cepat. “Saya baru saja mendapatkan informasi penting tentang siapa yang sebenarnya mengambil uang kas dan alat pramuka. Kita harus segera mencari tahu agar tidak ada lagi yang terluka!”
Sebelum mereka bisa melanjutkan pembicaraan, suara lonceng pelajaran pertama sudah terdengar. Mereka semua harus segera kembali ke kelas masing-masing. Namun sebelum pergi, Biru memberikan satu pesan terakhir pada Elona. “Jangan khawatir, Elona. Kita akan menemukan kebenaran dan memberikan keadilan yang layak bagimu!”
DI RUANGAN KELAS XI IPS 2
Kegiatan belajar mengajar di kelas sudah berjalan dengan lancar. Elona duduk di tempat duduknya dengan penuh perhatian mengikuti penjelasan guru tentang materi matematika. Namun, pikirannya sering terganggu dengan pemikiran tentang apa yang telah terjadi.
Tiba-tiba, pintu kelas terbuka dan masuklah Rekai dengan ekspresi yang sangat terkejut. “Permisi, Bu Guru,” katanya dengan suara sedikit bergetar. “Ada berita penting yang harus saya sampaikan pada teman sekelas saya, Elona.”
Guru kelas mengangguk dengan sopan. “Silakan saja, Rekai. Tapi pastikan tidak terlalu lama ya karena kita masih ada materi yang harus disampaikan.”
Rekai mendekat ke arah Elona dan membisikkan sesuatu di telinganya. Elona langsung menunjukkan ekspresi terkejut dan tidak percaya. “Bagaimana mungkin bisa seperti itu?” tanya dia dengan suara rendah.
Rekai mengangguk dengan penuh kesedihan. “aku juga tidak percaya pada awalnya, Elona. Tapi ini adalah kebenaran yang harus kita terima.”
Setelah beberapa saat berbicara, Elona kembali fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung. Namun, suasana di kelas sudah tidak lagi sama seperti sebelumnya. Ada sesuatu yang telah berubah dan membuat semua orang merasa harus lebih berhati-hati.
DI RUANGAN BK SEKOLAH SETELAH PELAJARAN
Setelah pelajaran berakhir, Elona segera pergi ke ruangan BK untuk menemui Ibu Rita. Dia ingin memberitahu tentang apa yang baru saja dia ketahui dan meminta nasihat tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.
“Ibu, saya baru saja mendapatkan informasi penting tentang siapa yang mengambil uang kas dan alat pramuka,” ujar Elona dengan suara yang penuh keyakinan. “Saya akan melakukan yang terbaik untuk membuktikan bahwa saya tidak bersalah dan mendapatkan keadilan yang layak!”
Ibu Rita mengangguk dengan senyum yang penuh penghargaan. “Kita harus bekerja sama untuk menemukan kebenaran, Elona. Jangan pernah menyerah sebelum mendapatkan apa yang kamu pantaskan!”
Setelah berbicara dengan Ibu Rita, Elona merasa sedikit lega. Namun dia juga tahu bahwa ini baru permulaan dari perjuangan panjang untuk mendapatkan keadilan dan kebahagiaan yang sebenarnya layak baginya.
Saat dia keluar dari ruangan BK, mata Elona melihat ke arah langit yang cerahdengan rasa harapan yang masih tetap ada di dalam hatinya. Dia tahu bahwa dia tidak sendirian dalam perjuangan ini dan ada orang-orang baik yang selalu siap membantunya. Dan dengan dukungan mereka, dia yakin bahwa suatu hari nanti akan datang keadilan yang sesungguhnya.