Yin Chen menemukan papan catur ajaib di hutan bambu—setiap gerakannya mempengaruhi dunia nyata. Saat kekuatan gelap mengancam keseimbangan alam, dia bertemu Lan Wei dari kelompok Pencari Kebenaran dan mengetahui bahwa pemain lawan adalah saudara kembarnya yang hilang, Yin Yang. Bersama mereka harus menyatukan kekuatan untuk mengakhiri permainan kuno yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: RAHASIA YANG TERSEMBUNYI DI MAKAM KUNO
Setelah meninggalkan kuil Tianlong yang sudah mereka kunjungi sebelumnya, Yin Chen dan Lan Wei melanjutkan perjalanan menuju lokasi makam kuno yang disebutkan dalam catatan leluhur. Makam tersebut terletak di bagian paling dalam dari hutan bambu Mengyou, di sebuah kawasan yang jarang ditempati manusia karena jalurnya yang sangat sulit dan penuh dengan rintangan alam.
Perjalanan memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan karena mereka harus melewati daerah rawa yang luas sebelum mencapai kawasan yang lebih tinggi. Udara di sekitar mereka terasa sangat lembap dengan sedikit kabut yang masih mengelilingi tanah basah. Mereka berjalan dengan hati-hati, menggunakan tongkat dan pedang untuk membersihkan jalan dari reruntuhan batu dan akar pohon yang menjulur ke atas permukaan tanah yang tidak rata.
Saat mereka memasuki sebuah lembah kecil yang dikelilingi oleh batu besar yang tertutup lumut hijau tua, mereka menemukan jejak yang jelas dari aktivitas manusia baru-baru ini. Beberapa cabang kayu yang dipotong dan beberapa bekas api unggun yang masih menyala dengan lembut menunjukkan bahwa ada orang lain yang telah melalui jalur ini tidak lama sebelum mereka tiba. Yin Chen bisa merasakan bahwa kalung di lehernya mulai sedikit bergetar dan memancarkan cahaya kebiruan yang lebih terang, seolah-olah memberikan petunjuk bahwa mereka semakin dekat dengan tujuan dan juga dengan bahaya yang mengintai.
Pada hari kedua perjalanan, mereka harus melewati sebuah kawasan yang dikenal dengan nama Padang Pasir Putih karena tanahnya yang penuh dengan pasir putih halus yang terbawa oleh angin dari wilayah pesisir jauh di kejauhan. Jalur di sini sangat sulit karena banyak batu yang tersebar dan membuat jalan menjadi tidak rata. Udara di sini terasa lebih panas dan kering, dengan sedikit kelembapan yang bisa dirasakan dari tanah yang mulai mengering setelah musim kemarau panjang.
Mereka berhenti di sebuah tempat terbuka yang dikelilingi oleh pepohonan besar dengan akar yang menjulang tinggi ke atas permukaan tanah. Di kejauhan bisa dilihat beberapa struktur batu yang kokoh dengan bagian yang tertutup lumut dan tanaman merambat ke permukaannya. Pagar kayu yang mengelilinginya sudah hampir hancur, namun beberapa bagian masih berdiri tegak seperti penjaga yang setia meskipun tugasnya sudah berakhir lama.
“Sangat megah,” bisik Lan Wei dengan mata yang terpana melihat keagungan struktur yang ada di depan mereka. “Saya tidak menyangka bahwa makam kuno seperti ini masih bisa bertahan dengan baik hingga saat ini.”
Yin Chen mengangguk dengan penuh rasa hormat. “Leluhur kita membangun tempat-tempat seperti ini bukan hanya sebagai rumah ibadah,” jelasnya. “Ini juga merupakan tempat untuk menyimpan pengetahuan dan kekuatan yang penting bagi kelangsungan hidup manusia. Saya merasa kita akan menemukan banyak hal yang berguna di sini.”
Mereka memasuki area halaman yang luas yang ditutupi oleh rerumputan tinggi dan beberapa reruntuhan pagar kayu yang sudah lapuk. Di tengah halaman tersebut terdapat sebuah kolam kecil yang hampir kering dengan beberapa bekas ikan batu yang bisa dilihat di dasar yang kering dan retak. Mereka berjalan melalui gerbang kayu yang hampir hancur dan memasuki area yang lebih dalam dengan hati-hati.
Di dalam ruangan utama yang gelap dan lembab, mereka menemukan banyak hal yang belum pernah mereka duga sebelumnya. Dindingnya dipenuhi dengan lukisan kuno yang menggambarkan berbagai adegan dari legenda Permainan Cermin. Beberapa lukisan menunjukkan manusia yang bermain dengan papan catur ajaib, makhluk-makhluk yang hidup berdampingan dengan manusia, serta adegan pertempuran besar antara kekuatan baik dan jahat yang telah terjadi jauh sebelum mereka lahir.
Lan Wei merasa ada sesuatu yang menarik perhatiannya di bagian belakang ruangan yang lebih gelap dan dalam. Dia mengambil lilin kecil dari kantong Yin Chen dan menyalakannya dengan hati-hati, menerangi area tersebut dengan cahaya yang lembut. Di sana mereka menemukan sebuah ruangan kecil yang tersembunyi di balik tirai kain tua yang sudah lapuk dan kusut. Pintu kayu kecil yang terkunci dengan kuat menunjukkan bahwa ruangan tersebut menyimpan sesuatu yang sangat penting.
“Kita harus melihat apa yang ada di dalamnya,” kata Lan Wei dengan suara penuh rasa ingin tahu. Dia membuka tirai kain dengan hati-hati, mengungkapkan pintu kayu kecil yang sudah terkunci dengan kuat oleh kunci besi yang berkarat dan tua. Yin Chen melihat kunci tersebut dengan cermat dan segera menemukan bahwa kuncinya sudah terlalu tua dan rapuh untuk dibuka dengan cara biasa.
Dia mengambil kalung dari lehernya dan menempatkannya di atas kunci besi yang berkarat. Cahaya kebiruan mulai menyebar dari biji kayu yang diukir dengan simbol kuno, membuat pintu tersebut sedikit terbuka tanpa perlu dipaksa. Ruangan kecil di dalamnya penuh dengan barang-barang kuno—buku-buku kulit yang masih utuh dengan tulisan tangan yang jelas, beberapa peralatan ajaib yang bentuknya tidak dikenal, dan sebuah meja kayu besar dengan ukiran simbol yang sama dengan yang ada pada kalung dan papan catur ajaib.
Di dinding ruangan tersebut terdapat tulisan kuno yang lebih jelas dan lengkap daripada yang pernah mereka lihat sebelumnya. Yin Chen mulai membacanya dengan perlahan, mengingat pelajaran dari neneknya tentang bahasa kuno yang hampir terlupakan. Tulisan tersebut bercerita tentang bagaimana Permainan Cermin diciptakan untuk menjaga keseimbangan alam semesta, bagaimana setiap gerakan pada papan memiliki konsekuensi di dunia nyata, dan bagaimana ada dua pemain yang akan muncul untuk mengendalikan bidak putih dan hitam.
Namun bagian terpenting dari tulisan tersebut adalah tentang bagaimana kedua pemain memiliki hubungan darah dan bagaimana mereka memiliki pilihan untuk mengubah jalan yang telah ditentukan jauh sebelum mereka lahir. “Kita memiliki pilihan untuk mengubah jalur yang telah ditentukan,” jelas Yin Chen dengan suara penuh fokus. “Ini adalah kunci untuk mengembalikan keseimbangan yang hilang.”
Setelah selesai membaca dan mencatat semua informasi yang mereka temukan, mereka keluar dari ruangan kecil tersebut dan melanjutkan penelusuran di sekitar kuil. Lan Wei merasa energi yang semakin kuat dari arah tengah kuil, seolah-olah ada sesuatu yang penting yang akan mereka temukan di sana. Mereka menemukan sebuah ruangan kecil yang tersembunyi di belakang tirai kain tua yang sudah lapuk dan kusut.
Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah kotak batu besar dengan ukiran simbol yang sama dengan yang ada pada kalung dan papan catur ajaib. Tanpa perlu dipaksa, tutup kotak tersebut mulai terbuka perlahan saat mereka mendekatinya, mengungkapkan sebuah buku kulit yang masih utuh dengan tulisan tangan yang jelas. Buku tersebut berisi catatan tentang cara mengendalikan Permainan Cermin, identitas pemain lain yang mengendalikan bidak hitam, serta cara untuk mengembalikan keseimbangan yang terganggu.
“Sekarang kita tahu bahwa kita tidak sendirian dalam perjalanan ini,” kata Yin Chen dengan suara penuh keyakinan. “Kita memiliki kekuatan yang lebih besar yang membimbing kita menuju tujuan yang telah ditentukan jauh sebelum kita lahir.”
Mereka keluar dari kuil dan melanjutkan perjalanan menuju wilayah yang lebih tinggi, melewati jalur yang semakin sulit dengan banyak batu yang tersebar dan pepohonan yang menjulang tinggi di atas mereka. Saat matahari mulai tenggelam memberikan warna keemasan pada langit yang semakin gelap, mereka merasa bahwa mereka tidak sendirian dalam perjalanan ini. Mereka tahu bahwa pilihan mereka untuk maju akan membawa mereka lebih dekat ke kebenaran yang mereka cari dan masa depan yang lebih baik bagi dunia yang mereka cintai.
Di kejauhan, suara angin yang bertiup lembut membawa mereka melalui perjalanan yang panjang, sementara cahaya dari papan catur ajaib masih terlihat bersinar jauh di belakang mereka—sebuah pengingat akan tugas yang berat yang mereka emban dan harapan yang harus mereka jaga untuk masa depan yang lebih baik. Mereka tahu bahwa perjalanan ini akan menguji batas kemampuan mereka dan mungkin membawa mereka pada kebenaran yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Namun mereka juga tahu bahwa mereka tidak punya pilihan lain selain maju, karena masa depan dunia yang mereka cintai bergantung pada kesuksesan perjalanan mereka.